Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Bagaimana rasanya hamil anak suami aku?" tanya Mila setelah keduanya saling tatap cukup lama.
"Dia itu juga suami aku nyonya, kita itu hanya punya satu suami yang sama." entah keberanian dari mana datangnya Laras bisa menjawab pertanyaan Mila dengan lantang dan membuat Mila makin meradang.
"Kau ini...." Mila menunjuk Laras lalu mengepalkan tanganya menahan emosi yang membuncah. Andai saja tak ada bibik di sana sudah pasti tangan Mila melayang manis di pipi Laras.
"Nyonya pasti ingin tau perlakuan tuan terhadap saya, selama saya hamil tuan sangat baik dan perhatian sama saya. Apa yang saya mau pasti akan tuan turuti." ujar Laras dengan senyum penuh kemenangan, ternyata begini rasanya membalas penghinaan orang lain.
"Dasar babu, jangan mimpi ketinggian nanti saat kamu bangun terasa sakit. Kamu tidak lupa dengan isi kertas perjanjian itu kan? hanya sampai menyusui setelah itu kamu akan di buang." kekeh Mila puas melihat wajah pucat Laras.
Perkataan Mila menambah luka si hati Laras. Ia sadar apa yang Mila katakan memang benar adanya. Perpisahan itu kelak pasti akan terjadi walaupun nanti bakal ada cinta di antara mereka.
Bik Siti yang tau nonanya tidak baik - baik saja langsung mengelus punggung Laras dengan sangat lembut berusaha menangkan nonanya.
Di tengah suana yang mencekam pintu ruangan kembali terbuka dan terdengar derap langkah kaki. Semua mata beralih melihat siapa yang datang.
"Mas." sapa Mila mendahului Laras.
"Mila." senyum Dafa yang tadi terukir indah di sudut bibirnya mendadak hilang berganti tatapan dingin yang menakutkan.
Niat hati hendak memeluk Dafa tapi lelaki itu memilih menghindar.
"Ngapain kamu kemari?" tanya Dafa sambil mendekat kepada Laras sebagai simbol jika ia lebih memilih Laras dari pada Mila.
"Ya mau ketemu kamulah, mas. Aku mau minta maaf, aku mengaku salah dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya kembali." rayu Mila terhadap Dafa dengan ekpresi sedih dan menyesal.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar." kekeh Dafa. " Tapi sayangnya aku sudah tak tertarik lagi. Sebaiknya kamu cepat keluar dari sini dan pulang ke rumah sebelum aku makin membenci kamu dan jangan sampai kamu menyesal nantinya." usir Dafa dengan tegas.
"Silahkan nyonya. " asisten Dafa membuka pintu dan mempersilahkan Mila keluar dari ruangan Dafa.
"Babu sialan, awas aja nanti kamu. Aku tidak akan menyerah, akan aku rebut apa yang seharusnya jadi milik aku. Jangan salahkan aku berbuat kasar, aku akan menyingkirkan kamu dari sisi mas Dafa dan juga calon bayi dalam kandungan kamu itu." bathin Mila sambil menatap Laras dengan tatapan kebencian baru pergi meninggalkan Dafa dan Laras.
"Kamu tidak kenapa - kenapa?" tanya Dafa nampak kwatir dengan istri sirinya itu.
"Ga apa - apa, tuan." jawab Laras dengan wajah lesu.
"Katanya kamu harus ganti panggilan, masa sama suami sendiri panggilanya tuan. Ga enak banget dengarnya."
"Biasa aja, tuan "
"Harus ganti pokoknya." tegas Dafa.
"Kalau saya harus panggilan tuan apa?" tanya Laras.
"Cinta, sayang, mas atau apalah yang penting jangan tuan."
"Kalau sayang gimana menurut tuan?" tanya Laras.
"Saya suka, itu lebih enak di dengar. Coba ulang saya mau dengar!" perintah Dafa.
"Sayang."
"Sekali lagi!"
"Sayang." Dafa langsung memeluk istrinya dan menciumnya saking bahagianya.
"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Dafa setelah pelukanya terurai.
"Ga ada, saya cuma mau pulang." ujar Laras lesu.
"Ya sudah kalau gitu kamu dan bik Siti duluan. Nanti saya nyusul." Dafa belum bisa memplubikasikan hubungannya dengan Laras. Nanti akan ada saatnya ia akan mengumumkan siapa Laras sebenarnya.
Rumah tangga yang di jalani Dafa dengan Laras agak rumit. Yang awalnya tanpa ada perasaan berubah jadi sebuah hubungan yang enggan untuk di pisahkan. Cinta tumbuh tanpa di undang, akankah cinta mereka bisa bersatu?
...****************...
Assalamualaikum kk
Di tunggu saran dan masukannya serta jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏