Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sesampai di rumah Laras langsung masuk kedalam kamar. Kata - kata dari Mila masih terngiang - giang di kepalanya. Laras ingin sendiri dan menyuruh bik Siti agar tak mengikutinya.
"Aku mau sendiri dulu, bik. Tolong jangan di ganggu." pinta Laras langsung masuk kekamar dan menutup pintunya rapat - rapat dan membiarkan bik Siti bengong melihat dirinya.
Laras melempar tasnya di sofa dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Bulir bening yang sedari tadi ia tahan muktamirin juga membasahi pipinya.
"Kenapa rasanya sesakit ini ya Allah." Laras menepuk dadanya yang terasa sesak. Tangisnya terdengar pilu menyayat hati. Kenyataan hidup yang harus ia jalani terlalu berat.
"Ternyata sesakit ini mencintai orang yang tak bisa di miliki. Apa aku tak boleh bahagia? Apa aku salah jatuh cinta? Apa aku salah berharap terlalu jauh?" lirih Laras di sela isaknya.
Meski di awal semuanya bisa ia terima tapi makin kesini ia telah jatuh dalam pesona Dafa. Meskipun Dafa sering berlaku kasar tapi ada kelembutan yang membuat pertahanannya goyah.
Setelah menumpahkan seluruh kesedihannya, Laras bangun dan buru - buru kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia tak mau Dafa melihatnya semacam ini.
Sementara itu Dafa yang baru saja sampai rumah bergegas menuju kamar mencari keberadaan istrinya. Saat masuk ke dalam kamar ia melihat Laras tengah menyisir rambutnya. Dafa mendekat dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang sambil menciumi wangi aroma sabun yang menguar dari tubuh istrinya.
"Kamu kenapa cemberut gitu?" tanya Dafa yang melihat Istrinya nampak tak semangat seperti biasanya.
"Kamu habis menangis ya?" tanya Dafa sambil mengangkat kepala Laras agar melihat ke arahnya. Dafa bisa melihat bagian bawah mata istrinya yang membengkak.
"Tidak, sayang." elak Laras sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Jangan bohong Laras, aku ini bukan orang bodoh yang gampang kamu bohongi. Apa yang terjadi?" tanya Dafa kesal.
"Ga ada apa - apa, sayang. Anggap saja ini tak pernah terlihat. Saya takut perhatian Anda membaut saya salah mengartikan." sahut Laras mencoba tersenyum meski yang nampak hanya seringai.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu? Maksudnya apa? jangan baut saya binggung." tanya Dafa menuntut penjelasan.
"Saya takut jatuh cinta sama Anda, sayang?" jawab Laras dengan suara sedikit bergetar.
"Kamu mencintai saya?" tanya Dafa sambil memandang mata Laras mencari kejujuran di sana, mata memang tak pernah bohong tapi mulut bisa berbohong.
"Mana boleh saya jatuh cinta sama Anda, sayang." ucap Laras berbohong karna jauh di lubuk hatinya benar - benar telah jatuh cinta pada Dafa.
"Kamu yakin ga cinta sama saya?" goda Dafa.
"Yakin tuan, karna memang itu yang seharusnya." Laras berusaha tetap tegar sebisanya.
"Kenapa kamu tidka jujur pada hatimu Laras. Aku yakin kamu mencintai aku." Dafa menarik tengkuk Laras dan mengulum bibir merah tanpa pewarna yang sudah menjadi candu baginya. Rasanya begitu manis membuat Dafa mau lagi dan lagi.
"Apa ini cukup?" tanya Dafa setelah pagutan mereka terlepas.
"Maafkan saya, sayang." ucap Laras sambil menetralkan nafasnya.
"Ayo jawab yang jujur? Apakah kamu mencintai saya?" bentak Dafa karna kesal.
"Saya benar - benar tidak mencintai Anda, sayang." Saat mengucapkan kata - kaya gitu sudut mata Laras memanas dan bulir bening itu kembali jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya terasa tak bertenaga. Dafa memeluk erat istrinya dan membiarkan istrinya menangis di dadanya. Setelah tangis Laras mereda, Dafa mengurai pelukanya dan menghapus sisa air mata yang masih tersisa di pipi Laras.
"Kenapa mesti berbohong Laras?" tanya Dafa lembut.
"Jika pun saya mencintai Anda tidak akan merubah apapun. Setelah anak ini lahir semua tugas saya selesai dan harus pergi sesuai perjanjian kita di awal." Laras kembali memeluk Dafa dan tantangan ingin melepaskannya.
"Jangan mikir yang aneh, jalanin aja apa yang sudah ada. Saya mandi dulu." Laras melepas pelukanya dan membiarkan Dafa masuk ke dalam kamar mandi.
Laras menarik nafas kasar dan menghembuskannya kembali. Rasanya sesak saat mengingat mencintai orang yang yang tak bisa dimiliki ternyata sesakit ini rasanya. Laras bergegas menyiapkan baju ganti untuk suaminya lalu duduk termenung di pinggir ranjang dengan pikiran melalang buana entah kemana.
...****************...
Assalamualaikum kk
Di tunggu saran dan masukannya serta jangan lupa supportnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏