NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Beberapa waktu kemudian, kelopak mata kecil Azzura mulai bergerak. Ia mengerjap pelan, wajahnya sedikit meringis seperti orang yang baru saja dipaksa bangun dari mimpi indah.

Tangannya yang semula memeluk erat tubuh Enzo perlahan mengendur. Namun bukan berarti langsung lepas, bocah itu justru masih menempel, hanya saja kini matanya mulai terbuka setengah.

“Om ganteng…” gumamnya serak, suaranya khas orang baru bangun tidur.

Enzo yang sejak tadi setengah terjebak dalam posisi “tidak boleh bergerak” itu langsung menunduk, menatap wajah kecil di pelukannya.

“Kamu sudah bangun,” ucapnya pelan.

Azzura mengangguk kecil, lalu menguap lebar tanpa peduli siapa yang sedang melihat. Mulutnya terbuka lebar, matanya menyipit, bahkan suaranya keluar seperti anak kucing malas.

Di sisi lain, Evelyn yang sedari tadi berdiri sambil mengawasi, akhirnya menghela napas lega.

“Syukurlah bangun juga,” gumamnya. “Kalau nggak, bisa-bisa aku disuruh nyuapin makan malam sekalian.”

Azzura menoleh ke arah Evelyn, matanya langsung berbinar. “Onty!” serunya riang, seolah tidak ingat kalau tadi sempat marah.

Ia langsung bangkit duduk, atau lebih tepatnya, berusaha bangkit tapi malah hampir menjatuhkan dirinya sendiri karena masih setengah mengantuk.

Refleks, Enzo menahan tubuh kecil itu. “Hati-hati,” ucapnya.

Azzura terkekeh kecil, sama sekali tidak merasa bersalah.

Evelyn menggelengkan kepala melihat tingkah keponakannya itu. Ia melangkah mendekat, lalu menyilangkan tangan di dada.

“Sudah bangun kan? Ayo pulang,” katanya tegas.

Azzura langsung memasang wajah kaget.

“Loh? Cepat amat?” protesnya.

“Kamu tadi sudah tidur lama,” jawab Evelyn. “Dan jadwal praktek onty juga sudah selesai. Jadi kita pulang sekarang.”

Azzura cemberut, cemberut level maksimal. Ia menoleh ke arah Enzo, lalu mendekat lagi sedikit, seolah mencari perlindungan.

“Om ganteng…” panggilnya manja.

Evelyn langsung menyipitkan mata. “Azzura…”

Namun bocah itu tidak peduli. Ia malah tersenyum manis ke arah Enzo, dengan gaya khasnya yang penuh percaya diri.

Evelyn meraih Azzura, dan menurunkannya dari atas ranjang.

“Om ganteng, Jula pulang dulu ya,” ucapnya sambil melambaikan tangan kecilnya. “Becok Jula kecini lagi jenguk om ganteng.”

“Tidak ada kesini-sini lagi!” Suara Evelyn langsung memotong dengan cepat dan tegas.

Matanya melotot, benar-benar melotot seperti ingin menghipnotis keponakannya agar langsung lupa arah ke rumah sakit ini. “Besok kamu di rumah sama nenek!” lanjutnya tanpa kompromi.

Azzura mengerucutkan bibirnya. Wajahnya berubah dari ceria menjadi kesal. “Huh! Onty cangat menyebalkan!” serunya dengan pengucapan khasnya yang sedikit pelo, sambil menghentakkan kaki kecilnya ke lantai.

Duk!

Duk!

Duk!

Suara hentakan itu tidak terlalu keras, tapi cukup dramatis untuk ukuran anak kecil.

Evelyn menghela napas panjang. “Yang menyebalkan itu kamu,” balasnya datar. “Baru kenal orang sudah nempel kayak perangko.”

“Aku nda nempel!” bantah Azzura cepat.

Evelyn langsung mengangkat alis. “Terus itu tadi apa? Pelukan 24 jam tanpa jeda?”

Azzura terdiam. Lalu dengan polosnya menjawab, “Itu… lagi istilahat.”

Evelyn hampir tersedak. Istirahat? Dari mana logikanya?!

Di atas ranjang, Enzo yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya mengeluarkan suara tawa kecil. Sangat pelan, tapi cukup jelas.

Evelyn langsung menoleh tajam ke arahnya.

“Jangan ketawa,” katanya.

“Kenapa?” tanya Enzo santai.

“Karena ini semua gara-gara kamu,” balas Evelyn tanpa ragu.

Enzo mengangkat alis sedikit. “Gara-gara aku?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kalau kamu nggak ngasih ‘pelukan premium gratis’, dia nggak bakal kayak gini.” jawab Evelyn cepat.

Azzura langsung mengangkat tangan.

“Aku mau lagi!” serunya tanpa dosa.

Evelyn menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Ya Tuhan…”

Enzo kembali tersenyum tipis, jelas menikmati situasi ini lebih dari yang seharusnya.

Evelyn akhirnya menarik tangan Azzura.

“Ayo pulang. Sekarang,” katanya tegas.

Azzura masih mencoba melawan sedikit, menoleh ke belakang berkali-kali ke arah Enzo.

“Om ganteng… nanti Jula datang lagi ya!” teriaknya.

“Tidak!” sahut Evelyn cepat.

“YA!” balas Azzura lebih keras.

“Tidak!”

“YA!”

“AZZURA!”

“Onty galak!”

Perdebatan itu berlanjut bahkan sampai mereka hampir keluar dari pintu.

Sementara itu, Enzo hanya duduk di atas ranjang, memperhatikan pemandangan tersebut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ruangan itu terasa hidup ketika ada mereka berdua.

Saat pintu hampir tertutup, Azzura masih sempat melambaikan tangan kecilnya.

“Dadah om ganteng!”

Lalu pintu pun tertutup kembali. Dan sejenak ruangan itu kembali sunyi. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda.

Enzo menatap ke arah pintu beberapa saat, lalu menghela napas pelan. Tangannya yang tadi terbiasa menahan beban kecil itu kini terasa… kosong.

Ia bersandar kembali, menatap langit-langit kamar. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Mereka berisik, tapi menggemaskan” gumamnya.

Namun anehnya, Ia tidak terlihat terganggu. Justru… seperti menunggu kapan keributan itu datang lagi.

Selang beberapa saat setelah Evelyn dan Azzura pergi, suasana kamar rawat kembali sunyi.

Tidak ada lagi suara ocehan polos, tidak ada lagi perdebatan kecil yang tidak penting, dan yang paling terasa tidak ada lagi sosok yang membuat ruangan itu menjadi hidup.

Enzo masih berada di atas ranjang, bersandar santai dengan satu tangan di belakang kepala. Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.

Beberapa menit berlalu....

Ceklek.

Pintu terbuka, dan seorang pria masuk dengan langkah tenang. Joe, tangan kanan yang selalu setia mengikuti Enzo kemanapun ia pergi, datang menemuinya.

“Tuan, saya bawakan makanan untuk anda,” ucap Joe sopan, sambil meletakkan kotak makanan di atas meja kecil.

“Makan saja, aku tadi sudah makan,” jawab Enzo santai, bahkan tanpa menoleh.

Joe berhenti. “Anda makan makanan rumah sakit? Bukannya anda tidak suka makanan di rumah sakit ini” tanyanya, jelas tidak percaya. Matanya melihat ke arah meja, melihat tempat makan yang sudah kosong.

Enzo akhirnya menoleh. “Yang ini berbeda, rasanya sangat enak. Apalagi yang menyuapi dia" jawabnya sambil senyum-senyum sendiri.

Joe menyipitkan mata. Berbeda? Sejak kapan makanan rumah sakit bisa “berbeda”?

Joe melihat sesuatu yang langka. Bosnya itu tersenyum aneh

Lalu ia menghela napas kecil. “Makanannya jadi enak… atau yang nyuapin yang bikin enak?” gumam Joe dalam hati.

Namun tentu saja, ia tidak cukup berani untuk mengucapkannya keras-keras.

Ia hanya mengangguk pelan, mencoba bersikap profesional meskipun dalam hati sudah menyusun kesimpulan besar. Bosnya saat ini sedang tidak normal. Lebih tepatnya lagi kasmaran.

Joe berdeham kecil, mencoba kembali ke tujuan awalnya. “Kapan anda keluar dari rumah sakit, Tuan?” tanyanya. “Markas sangat membutuhkan anda.”

Kali ini Enzo tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap langit-langit. Namun kini, bayangan yang muncul bukan rencana, bukan strategi, bukan musuh. Melainkan, seorang wanita yang suka memutar bola mata.

“Tiga hari lagi, aku masih betah di sini” jawab Enzo akhirnya.

Joe membeku, bosnya saat ini sangat bersahabat dengan rumah sakit, semenjak bertemu dengan dokter Evelyn.

Joe perlahan menoleh, menatap tuannya dengan ekspresi datar yang penuh kecurigaan. “Apa ini ada hubungannya dengan dokter itu?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi. “Makanya anda betah di rumah sakit?”

“Kau sudah tahu, ngapain tanya, Joe,” ucap Enzo akhirnya, cuek.

Joe menutup matanya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Dunia memang sedang tidak baik-baik saja…” gumamnya lirih.

Seorang mafia yang ditakuti banyak orang, yang biasanya dingin, kejam, dan penuh perhitungan. Sekarang betah di rumah sakit hanya karena seorang dokter.

1
Atik Marwati
🧐🧐🧐🧐🧐 bakal seru nich
letslalaviena
KAKKK SUMPAH BAGUSS BGTTT, CINTA BGT SAMA ALUR DAN PENULISAN KATA NYAAA🥹♥️

SEMANGATT TERUSS KAKK UP NYAA!! HEHEE DITUNGGUUU🤍🤍🤍🤍
Atik Marwati
enzo datang🥰🥰🥰
ikeds
uhh tengkyu double upnya😍😍 love sekebon
Atik Marwati
enzo......
ikeds
dan akupun menunggu dan berdoa agar keajaiban terjadi sehingga author cepet double up🤭😍
Atik Marwati
selamat
Atik Marwati
eve sama jula selamat
Iqomah Fahma Ernasanti
bagus.....
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...
Mita Paramita
akhirnya penyelamat datang 🔥🔥🔥
Atik Marwati
enzo
Mita Paramita
om ganteng tolongin jula 🤣🤣🤣
Atik Marwati
kebakaran....
Atik Marwati
ketemu om danteng pasti seru🤣🤣🤣
Atik Marwati
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Atik Marwati
karena itu Evelyn joe
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!