Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permaisuri Xinghuang
Bab 22
: Permaisuri Xinghuang
Ia dengan lembut mengangkat tangannya, ujung jari pria itu menyentuh sudut mata Su Ye Lan,
menghapus sisa air mata yang belum sempat ia sembunyikan.
Sentuhan itu begitu hati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh sesuatu yang rapuh—sesuatu
yang pernah hilang, lalu kembali secara tak terduga.
Dengan suara rendah, Yan Yuxing berkata perlahan,
"Longquan tidak beruntung kehilangan ibunya sejak kecil. Dan ayahnya yang buta saat itu,
bahkan tidak mampu melindunginya."
Ada jeda singkat.
Tatapannya menjadi jauh, tenggelam dalam kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
"Seandainya saja ibunya masih hidup…"
Suara itu semakin berat, hampir tak terdengar.
"Seandainya saja Shen Lanruo tidak pergi… aku tidak akan kehilangan penglihatanku karena
kesedihan. Dan Longquan… tidak perlu memikul beban yang bukan miliknya sejak usia begitu
kecil."
Setiap kata yang ia ucapkan seperti pisau—tidak hanya menusuk dirinya sendiri, tapi juga hati
Su Ye Lan.
Untuk sesaat, napasnya tertahan.
Kebenaran itu hampir saja terlepas dari bibirnya.
“Aku di sini… Yan Yuxing. Aku tidak pernah benar-benar pergi…”
Namun pada akhirnya, kata-kata itu tertelan kembali.
Ia belum siap.
Belum siap menghadapi pria ini.
Belum siap mengulang takdir yang pernah menghancurkannya.
Di kehidupan sebelumnya, sebagai Shen Lanruo, ia menyerahkan segalanya bahkan
nyawanya demi cinta.
Dan balasannya adalah kehancuran.
Sekarang, meskipun hatinya masih bergetar setiap kali pria ini mendekat, ia tidak berani
memastikan bahwa akhir cerita kali ini akan berbeda.
Memikirkan hal itu, ia menepis tangan yang masih berada di wajahnya.
Gerakan itu tidak keras, tapi cukup untuk menciptakan jarak di antara mereka.
Ia berdiri, berniat pergi.
Namun baru beberapa langkah, pandangannya tiba-tiba menggelap. Tubuhnya goyah seperti
kehilangan pijakan.
"Ah—"
Ia hampir jatuh.
Dalam sekejap, lengan kuat itu sudah kembali memeluknya.
"Ye Lan!"
Nada suara Yan Yuxing berubah, tegang, penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Apa yang terjadi padamu?"
Ia mencoba mendorongnya, tapi tenaga di tubuhnya hampir habis.
Tanpa memberinya kesempatan untuk menolak, Yan Yuxing langsung mengangkatnya ke dalam pelukan.
Tubuhnya terasa ringan… terlalu ringan.
"Kau…"
Wajah Su Ye Lan langsung memerah karena panik.
"Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"
Namun pria itu sama sekali tidak menggubris.
Ia melangkah keluar dari Istana Harmoni, membawa Su Ye Lan di depan banyak pelayan dan
kasim yang berdiri di sepanjang lorong.
Tatapan mereka tertuju pada satu hal,
wanita yang berada di pelukan Xinghuang.
"Diam."
Nada suaranya rendah, namun penuh peringatan.
"Kalau kau terus bergerak, kau akan jatuh."
Tangannya bahkan dengan ringan menepuk pinggulnya seolah menegaskan ancaman itu.
Su Ye Lan langsung membeku.
Marah… malu… tapi tak berdaya.
Matanya yang bulat menatapnya tajam, berkilat oleh emosi yang sulit dijelaskan.
"Kalau aku tidak salah ingat," katanya dengan nada dingin,
"bukankah selirmu tadi datang mencarimu? Mengapa kau malah datang ke sini… dan
menggangguku?"
Nada itu… jelas terdengar seperti kecemburuan.
Yan Yuxing tertawa pelan.
Tawa yang rendah, hangat… dan sangat berbahaya.
"Su Ye Lan… kau tahu tidak?"
Ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya.
"Suaramu sekarang… sangat terdengar seperti orang yang sedang cemburu."
Tubuh Su Ye Lan menegang.
Ia baru sadar… dirinya terlalu terbawa emosi.
Dengan kesal, ia mengangkat tangan dan memukul dada pria itu.
"Jangan mengada-ada!"
Namun pukulan itu tidak memiliki kekuatan sedikit pun.
Sebaliknya, justru membangkitkan kenangan.
Senyum di wajah Yan Yuxing perlahan berubah.
"Dulu…" katanya pelan,
"ketika Shen Lanruo marah padaku, dia juga seperti ini."
Langkah Su Ye Lan seolah terhenti, meskipun ia sedang digendong.
Wajahnya berubah.
Ia ingin menyangkal…
tapi justru semakin terasa jelas, ia sedang membuka dirinya tanpa sadar.
Ia menggigit bibir, memilih diam.
Karena apa pun yang ia katakan sekarang… hanya akan membuatnya semakin tenggelam.
Melihat itu, Yan Yuxing tidak memaksanya.
Ia hanya mengalihkan topik, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau belum makan malam, bukan?"
Su Ye Lan terdiam.
Jawabannya sudah jelas dari kondisi tubuhnya.
"Kau bahkan seorang tabib, tapi tidak tahu cara menjaga tubuhmu sendiri."
Nada suaranya terdengar ringan… tapi di dalamnya ada kemarahan yang tertahan.
"Kalau kau jatuh sakit, siapa yang akan merawat Longquan?"
Kata-kata itu membuat hati Su Ye Lan bergetar.
Ia tidak menjawab.
Tanpa sadar, tubuhnya perlahan melemah… dan akhirnya ia menyandarkan kepalanya di dada
pria itu.
Gerakan kecil.
Tapi cukup untuk membuat langkah Yan Yuxing sedikit melambat.
Matanya meredup.
Selama ini, sejak mereka bertemu kembali…
wanita ini selalu menjaga jarak darinya.
Namun sekarang…
untuk pertama kalinya… ia menyerah pada kelelahan di pelukannya.
Perasaan hangat yang lama hilang perlahan kembali memenuhi dadanya.
Di sepanjang lorong istana, para pelayan hanya bisa menunduk dalam diam.
Namun dalam hati mereka, satu hal sudah jelas:
Wanita ini bukan orang biasa.
Mungkin dialah satu-satunya yang bisa menggoyahkan hati Kaisar Xinghuang.
Sementara itu, di Istana Harpa Bertatahkan, suasana jauh dari kata tenang.
"Apa katamu?!"
Suara tajam memecah keheningan pagi.
Orang yang berdiri dengan wajah murka itu tak lain adalah Zhao Ruxi.
Tangannya mengepal erat, kukunya hampir menembus kulit.
"Kaisar Xinghuang… benar-benar melakukan itu di depan semua orang?"
Pelayan kepercayaannya, Qiulian, menunduk.
"Benar, Yang Mulia. Semua pelayan di Istana Harmoni melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Wajah Zhao Ruxi berubah pucat lalu memerah karena amarah.
Selama bertahun-tahun…
ia menunggu.
Menunggu pria itu kembali.
Menunggu kesempatan untuk kembali ke sisinya.
Namun begitu ia kembali,
yang ia lihat justru seorang wanita asing di pelukannya.
Dan bukan sekadar wanita biasa.
Wanita itu diperlakukan seperti dunia miliknya.
"Su Ye Lan…" gumamnya pelan, matanya menyipit.
Nama itu terasa asing namun ancaman yang dibawanya terasa sangat nyata.
Jika ini hanya permainan sesaat… ia masih bisa menunggu.
Namun jika Kaisar Xinghuang benar-benar jatuh hati…
Maka wanita itu—
harus disingkirkan.
"Selidiki dia."
Nada suaranya dingin, penuh tekad.
"Aku ingin tahu… siapa sebenarnya Su Ye Lan."