⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab
Banyu belum pernah melihat Siska dalam kondisi sehancur ini. Dilanda rasa khawatir, ia segera memapah wanita itu untuk duduk di kursi lorong rumah sakit dan bertanya dengan penuh perhatian, "Kamu tidak apa-apa?"
Siska sama sekali tidak menjawab pertanyaan Banyu. Ia hanya menatap kosong ke depan sambil bergumam lirih, "Melati... Melati akan direbut olehnya!"
Awalnya, Banyu mengira Siska hanya mencemaskan kondisi penyakit putrinya. Ia pun tersenyum menghibur, "Kan aku sudah bilang, aku bisa menyembuhkan penyakit Melati. Kamu tidak perlu khawatir lagi!"
"Ini bukan tentang penyakit Melati, tapi soal Rendi!" Siska mendongak, menatap Banyu dengan sepasang mata yang merah dan sembab. "Apa kamu tidak dengar ancamannya tadi? Dia akan merebut hak asuh Melati, membawanya pergi, dan menyiksanya!"
Banyu merasa Siska terlalu paranoid. Ia mencoba menenangkan dengan logika, "Kau terlalu banyak berpikir. Rendi memang ayah biologisnya, tapi kau ibunya. Kondisi finansial dan latar belakangmu jauh lebih baik darinya, apalagi kau ini pejabat pemerintahan. Yah, meskipun aku tidak terlalu paham hukum, usaha Rendi untuk merebut hak asuh rasanya sangat mustahil, kan?"
Siska menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbisik lirih, "Masalah di baliknya sangat rumit, kau tidak akan mengerti. Intinya... kalau Rendi benar-benar berniat merebut hak asuh Melati, dia pasti akan berhasil."
Dibuat bingung oleh ucapan Siska yang terpotong-potong dan penuh teka-teki, Banyu tak kuasa menahan rasa frustrasinya. "Memangnya hal rumit apa sih?! Beri tahu aku! Kalau kau tidak bilang, bagaimana aku bisa membantumu?!"
"Hal ini... aku benar-benar belum bisa memberitahumu sekarang." Siska bangkit berdiri dan menatap Banyu dengan tatapan dingin. "Tindakanmu menghajar Rendi tadi benar-benar terlalu impulsif. Pria itu licik dan sanggup melakukan hal serendah apa pun. Melati adalah separuh nyawaku. Kalau sampai Rendi berhasil merebutnya... aku... aku lebih baik mati!"
Nada bicara Siska yang mendadak dingin dan menjaga jarak itu membuat Banyu merasa tersinggung dan terluka. Terutama fakta bahwa wanita itu bersikeras menyembunyikan 'kartu as' apa yang dimiliki Rendi hingga bisa merebut hak asuh tersebut. Sikap ini membuat Banyu merasa bahwa Siska belum benar-benar menganggapnya sebagai orang kepercayaannya. Ditambah lagi, teguran Siska yang menganggapnya impulsif dan terlalu ikut campur membuat Banyu merasa tidak dihargai.
Namun, bagaimanapun juga, Siska adalah wanita yang dicintainya. Apalagi saat Banyu terluka di Amerika, wanita ini telah merawatnya dengan sepenuh hati. Meski hubungan mereka belum melewati batas akhir, Banyu sudah menganggap Siska sebagai miliknya. Melihat Siska begitu putus asa dan bersedih, Banyu tak tega melontarkan kata-kata kasar. Ia hanya menarik napas panjang dan berkata tegas, "Baiklah. Karena keributan ini aku yang memulainya, aku akan bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikannya! Tugasmu sekarang hanya merawat Melati dengan baik! Jangan lupa minta dokter memeriksanya lagi. Kalau kondisinya memburuk, segera beritahu aku!"
Setelah melontarkan kata-kata itu, Banyu berbalik dan melangkah lebar menuju lift, meninggalkan Siska dengan punggung yang memancarkan kekecewaan yang berat. Siska bisa merasakan amarah dan rasa frustrasi dari nada bicara pria itu. Saat itulah ia baru tersadar, bahwa dalam kepanikan dan kesedihannya, ia telah salah bicara dan melukai perasaan Banyu.
Siska nyaris saja berlari mengejar Banyu untuk menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud marah padanya. Namun, pikirannya saat ini sedang sangat kacau. Ia tidak punya energi untuk menjelaskan situasinya sekarang. Memaksakan diri untuk tetap tenang, Siska segera menelepon seseorang untuk membantunya mencari pengacara sengketa hak asuh anak yang paling tangguh. Setelah itu, ia bergegas mencari Profesor Zuhdi, dokter utama Melati, dan memintanya untuk melakukan pemeriksaan ulang. Meski ada sedikit kesalahpahaman dengan Banyu, Siska tetap menaruh kepercayaan penuh padanya. Ia sangat berharap kondisi Melati benar-benar membaik dalam waktu dekat seperti yang dijanjikan pria itu.
---
Sementara itu, Banyu telah meninggalkan rumah sakit anak dan mengemudikan mobilnya langsung menuju firma hukum paling bergengsi di Bandung Firma Hukum Libra.
Banyu yang sekarang bukanlah pemuda ingusan yang gegabah. Ia paham betul prinsip bahwa setiap tindakan harus dilandasi strategi yang matang. Karena Rendi berniat merebut hak asuh Melati, Banyu harus mencari tahu dari kacamata hukum: kondisi fatal seperti apa yang bisa membuat pihak yang sudah pasti memenangkan hak asuh, mendadak kehilangan kualifikasi atas hak tersebut.
Sebagai firma hukum ternama di provinsi, jangankan menyewa, sekadar berkonsultasi saja membutuhkan janji temu. Tentu saja, Banyu yang datang mendadak langsung dicegat oleh resepsionis di lobi. Namun, ketika Banyu mengeluarkan sebuah amplop tebal yang menggelembung, masalah "janji temu" itu langsung lenyap tertiup angin. Salah satu mitra utama firma tersebut, Pengacara Wira, turun tangan melayaninya secara pribadi. Sang pengacara melayani setiap pertanyaan Banyu dengan sangat detail dan sabar, menjelaskan seluk-beluk hukum terkait parameter penentuan hak asuh anak.
Karena Pengacara Wira menunjukkan 'etika profesional' yang sangat baik, Banyu tentu tahu cara membalas budi. Memanfaatkan momen saat tak ada orang lain, Banyu secara diam-diam menyelipkan amplop tebal kedua ke atas meja sang pengacara.
Tanpa ekspresi sedikit pun, Pengacara Wira dengan elegan menyapu amplop itu ke dalam laci mejanya, tak lupa meraba ketebalannya secara halus. Setelah itu, senyum di wajah sang pengacara menjadi semakin lebar dan hangat. Saat Banyu bertanya secara spesifik bagaimana cara menggagalkan seseorang dalam memenangkan hak asuh, Pengacara Wira membeberkan beberapa strategi jitu: buktikan pihak tersebut tak mampu membiayai anak secara finansial, buktikan pihak tersebut memiliki cacat mental atau gangguan jiwa, atau buktikan pihak tersebut kehilangan kapabilitas fisik untuk mengurus dan merawat anak.
Keluar dari ruangan Pengacara Wira, Banyu merasa seperti baru mendapat pencerahan dari langit. Ia sudah menyusun rencana matang di kepalanya tentang bagaimana cara menghancurkan ambisi Rendi untuk memperebutkan hak asuh. Banyu melangkah keluar dari firma hukum dengan penuh percaya diri. Menatap awan putih yang berarak di langit biru, ia bergumam dingin, "Aku ini pria yang selalu berani berbuat dan berani bertanggung jawab. Rendi si bajingan itu berani bermimpi merebut hak asuh? Hmph... mari kita lihat apakah dia masih punya 'kualifikasi' untuk melakukannya!"
---
Keesokan harinya, Banyu langsung melacak keberadaan Rendi. Hal ini sama sekali tidak sulit. Bajingan itu memiliki jabatan sebagai Manajer Umum di Perusahaan Dagang Untung dan biasanya datang ke kantor setiap hari. Banyu hanya perlu mengintai di depan gedung perusahaan selama setengah jam sebelum melihat mobil Rendi tiba untuk bekerja.
Tahap selanjutnya jauh lebih mudah. Bagi Banyu, membuntuti Rendi adalah permainan anak-anak. Entah pria itu mengemudi atau berjalan kaki, tak ada satu pun gerak-geriknya yang luput dari pengawasan Banyu. Dalam beberapa hari pengintaian, Banyu sudah hafal betul pola rutinitas harian Rendi. Pria itu biasanya tiba di kantor pukul setengah sepuluh pagi dan pergi saat jam makan siang. Sore harinya, ia akan sibuk mengurus urusan pribadinya: bertemu klien, atau bermain golf dengan teman-temannya.
Namun, selama dua hari terakhir, ada jadwal tambahan dalam rutinitas Rendi: mendatangi sebuah firma hukum! Ini mengonfirmasi bahwa bajingan itu benar-benar sedang mempersiapkan gugatan untuk menyeret Siska ke meja hijau. Tampaknya Rendi juga mendapat angin segar dan jaminan dari pengacaranya. Setiap kali keluar dari firma hukum itu, wajahnya selalu memancarkan aura angkuh dan kepuasan, seolah kemenangan atas hak asuh sudah berada dalam genggamannya. Sayangnya, Rendi sama sekali tidak menyadari satu hal: semakin ia merasa di atas angin, semakin dekat pula hari di mana hidupnya akan hancur lebur.
"Nah, waktunya untuk beraksi!" Duduk di balik kemudi mobil pikapnya, Banyu menatap sosok Rendi yang sedang tersenyum sombong di kejauhan. Keputusannya sudah bulat.