NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Nadira menelan ludah dengan susah payah saat menyadari tatapan mengintimidasi dari pria di hadapannya. Ia mundur beberapa langkah hingga kakinya terpojok pada pagar ranjang milik Keano.

Arya yang melihat wanita yang ada di hadapannya sedang ketakutan tiba tiba tersenyum miring. " ternyata dia sangat penakut. Bahkan tidak berani menatapku. Tapi aku sangat penasaran siapa wanita ini sebenarnya." Gumam Arya dalam hati.

Nadira menatap Keano sekilas yang sedang tertidur. Keano tampak tenang di dalam ranjangnya.

" Jawab aku gadis, siapa namamu? Apa tugas mu di rumah ini? Apa kamu kekasih Kakakku?." Tanya Arya semakin penasaran dan semakin mendekati Nadira.

Nadira sekarang tahu jika pria di hadapannya adalah adik Mahesa. Ternyata pria itu mengira jika ia kekasih Mahesa, Nadira sangat terkejut.

" Nama saya Nadira, saya hanya seorang pengasuh di rumah ini!." Jawab Nadira tanpa menatap pria di hadapannya. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dia adalah istri Mahesa, karena ia menikah dengan Mahesa sebab di tuduh telah membunuh istrinya dan di nikahi karena hukuman untuknya.

Arya menaikkan sebelah alisnya, ia kembali terbayang bagaimana tatapan marah sekaligus khawatir dari kakaknya saat di kolam renang semalam terhadap wanita di hadapannya ini. Tidak mungkin dia hanya seorang pengasuh.

" Jangan bohong padaku, aku tahu kamu bukan sekedar pengasuh di rumah ini. Kakakku tidak pernah terlihat se marah itu padaku saat mendekati pelayan cantik di kediaman ini. Tapi kamu...aku melihat tatapan berbeda darinya padamu." Ucap Arya.

Nadira menggeleng cepat. " Saya hanya seorang pengasuh untuk tuan muda Keano, tidak lebih."

Arya tertawa getir. " Kalau kamu hanya seorang pengasuh, bagaimana bisa kakakku yang dingin itu membawamu keluar dari kolam renang dengan romantis? Apa kamu tahu kalau dia yang menggendong mu keluar dari sana? Aku rasa itu cukup untuk membuktikan bahwa kamu lebih dari seorang pengasuh!"

Deg

Nadira mematung, ia tak percaya jika Mahesa yang sudah menggendongnya keluar dari kolam. Terakhir kali ia ingat sebelum ia tidak sadarkan diri, pria asing di hadapannya ini yang sedang bersamanya di dalam kolam. Nadira pikir pria ini yang telah menyelamatkannya, tapi ternyata bukan, itu adalah Mahesa.

" Kenapa Mahesa melakukan itu padaku? Bukankah dia bilang kalau aku akan mati di dalam kolam sebagai hukuman?." Gumam Nadira dalam hati dengan penuh pertanyaan.

Arya yang melihat Nadira melamun seketika berdehem.

Nadira kaget dari lamunannya dan menatap sekilas ke arah pria di hadapannya.

" Apa kamu sudah ingat sekarang? Jadi katakan padaku apa hubungan mu dengan kakakku? Dan apa yang kamu lakukan di dalam kolam pada tengah malam seperti itu? Aku sangat penasaran. Apalagi saat melihat kamu keluar dari kamar kakakku pagi pagi begini membuat pikiranku kemana mana. Aku tahu kamu bukan pengasuh!." Ujar Arya tetap teguh dengan pendirian dan pertanyaan nya.

Nadira tak bisa menjawab semua pertanyaan pria di hadapannya. Ia gugup sekali, ia tak bisa menjelaskan semuanya. Rasanya ia terjebak di dalam ruangan bersama seseorang yang sedang mengintimidasi nya.

" Aku...aku..."

Arya tersenyum miring. " Kamu apa?."

" Aku ..."

Ditengah ketegangan, tiba tiba saja pintu kamar terbuka. Mata Nadira langsung menangkap sosok yang mampu membuatnya terdiam tak berkutik. Mahesa datang dan berdiri di ambang pintu.

Suasana menjadi hening, Nadira menunduk tak berani sementara Arya terlihat menatap ke arah Mahesa yang baru saja datang.

" Apa yang kalian berdua lakukan di sini?." Suara berat Mahesa mampu mengalihkan perhatian Arya dan Nadira.

Nadira menggeleng, " Kami tidak melakukan apa apa tuan, kami hanya mengobrol."

" Mengobrol... tentang apa?." Mahesa terlihat berjalan menghampiri Arya dan Nadira.

Arya menghela nafas ringan kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap Nadira yang terlihat ketakutan saat Mahesa mendekat.

" Aku hanya melihat keponakan ku saja dan menanyakan keadaannya pada pengasuh ini kak, apa tidak boleh?." Ucap Arya memecah ketegangan. Ia kemudian menghampiri Keano yang masih tidur dan menciumnya. Kemudian ia berjalan ke arah pintu dan berniat untuk keluar dari sana. Ia tak ingin lama lama di dalam situasi menegangkan seperti itu. Ia tahu bagaimana sikap Mahesa.

Nadira masih menunduk, ia tak berani menatap Mahesa yang sudah berdiri di hadapannya.

" Arya! ke ruangan ku sekarang!." Mahesa bicara sambil menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Ia melihat Arya akan pergi jadi ia meminta Arya untuk menemuinya di dalam ruang kerjanya.

Mendengar ucapan Mahesa, Arya berhenti sejenak. Ia mengangguk pelan sebelum akhirnya benar benar pergi.

Sementara itu setelah kepergian Arya, Mahesa menutup pintu kamar Keano, ia kemudian kembali menghampiri Nadira dan melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

" Apa yang kamu bicarakan dengan adikku sampai pintu kamar harus di tutup?." Tanya Mahesa dengan suara datar kepada Nadira

Nadira menelan ludah dengan susah payah. " Pria itu... Dia adalah adik anda tuan. Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan nya. Dia ingin tahu siapa saya di rumah ini, saya katakan padanya kalau saya hanya seorang pengasuh."

Mahesa kembali menatap dingin ke arah Nadira. " Jawaban yang bagus!."

Deg

Nadira merasakan hatinya berdegup kencang saat Mahesa menepuk bahunya dengan pelan.

" Apa yang sedang terjadi?." Gumamnya dalam hati.

" Urus Keano dengan baik karena kamu sudah tahu posisimu di rumah ini."

Mahesa berlalu pergi dari kamar itu setelah berbicara.

Kini menyisakan Nadira yang masih mematung karna masih mencerna apa yang sedang terjadi. Baru semalam pria itu sangat marah padanya bahkan menginginkan kematiannya, tapi pagi ini pria itu bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan memintanya kembali merawat Keano dengan baik.

***

Di dalam ruang kerjanya, Mahesa sedang menatap pelayan muda dihadapan nya dengan tajam. Pelayan bernama Desi itu sedang berlutut dan memohon untuk dimaafkan.

Di sana juga ada Arya, serta ibunya yang sedang duduk di sofa.

Arya memandang ke arah Mahesa dengan penuh pertanyaan, Mahesa terlihat sangat marah pada pelayan wanita itu karena telah menjebak Nadira.

Sementara Diana terlihat melipat tangan di dada sambil menatap kesal ke arah Mahesa.

" Tuan tolong ampuni saya, saya hanya di suruh oleh nyonya besar. Saya melakukan pekerjaan saya hanya itu tuan. Saya masih ingin bekerja di rumah ini, saya harus menghidupi adik adik saya di rumah." Desi menangis sambil bersimpuh di kaki Mahesa.

" Aku sudah katakan pada kalian semua kalau dalam satu bulan ini tidak ada yang boleh menerima perintah apapun dan ibuku! Tapi kalian tidak mendengarkan ucapanku. Satu lagi, aku sudah katakan kalau kamu berbohong maka jangan pernah meminta ampunanku. Sekarang kamu di pecat, hari ini juga kamu harus pergi dari rumah ini. Kamu akan berjalan jongkok dari pintu rumah sampai ke pagar." Mahesa memasukkan tangannya ke dalam saku celana kemudian ia duduk dengan santai di kursinya setelah memberikan keputusan.

Desi menelan ludah dengan susah payah, jarak pintu utama sampai ke pagar seperti lapangan sepak bola, kakinya akan sangat sakit kalau melakukan itu.

" Tuan, saya mohon jangan menghukum saya. saya tidak sanggup melakukan itu." Desi kembali bersimpuh di hadapan Mahesa.

Namun Mahesa tak menghiraukannya, kemudian Desi merangkak ke arah Diana untuk meminta pertolongan. Tapi, Diana malah memalingkan wajah darinya.

Tak berselang lama seorang satpam yang baru di rekrut datang, ia menyeret keluar Desi dari ruangan itu.

Kini menyisakan tiga orang di dalam ruangan yang terlihat hening itu. Diana menarik nafas panjang setelah melihat tindakan Mahesa yang menurutnya sangat berlebihan.

" Mahesa! Apa kamu sadar yang telah kamu lakukan? Lagi lagi kamu membela pem..."

" Cukup ma! Jangan bicara lagi. Mama sudah tahu bagaimana Nayla sangat menyayangi piyama itu tapi mama malah memberikannya pada Nadira yang tidak tahu apa apa. Mama seharusnya berpikir apa yang sudah mama lakukan." Terlihat Mahesa menatap dingin ke arah ibunya.

" Mahesa! Kamu sudah keterlaluan. Kamu berani memarahi mama demi wanita sialan itu? Dimana hatimu Mahesa? Apa hatimu juga sudah di curi olehnya? Aku ini ibumu, kamu tidak pantas memarahi ibumu hanya karena masalah sepele seperti itu. Mama melakukan nya untuk kebaikanmu dan juga Keano. Jangan lupakan siapa wanita itu sebenarnya Mahesa!." Teriak Diana ke arah putranya dengan marah.

Arya hanya menyaksikan pertengkaran di antara ibu dan kakaknya itu.

Mahesa menarik nafas panjang. Ibunya benar benar tidak memikirkan Keano. Ia tidak menyangka jika ibunya akan melakukan hal sejauh ini untuk memfitnah Nadira. Padahal ibunya tahu sendiri bagaimana Nadira menjaga Keano, Nadira adalah satu satunya orang yang bisa menenangkan Keano di dalam rumah itu. Tapi ibunya malah memfitnah Nadira dan berharap Nadira akan menghilang dari dunia ini. Mahesa tidak menyangka jika ibunya sama sekali tidak memikirkan nasib Keano jika Nadira mati dalam kolam malam itu.

" Ma, setelah Nadira di hukum atas tindakan mama yang memfitnahnya apakah kita akan bebas? Apakah Keano akan baik baik saja tanpa Nadira? Apakah mama bisa menenangkan Keano seperti Nadira? Lalu, jika Keano tidak bisa ditenangkan apa yang akan kita lakukan?. Ini bukan masalah sepele ma, ini menyangkut Keano juga. Harusnya mama bisa berpikir lebih jernih sebelum melakukan sesuatu. Aku tidak melakukan pembelaan pada Nadira atas kehendak ku sendiri ma, tapi ini demi Keano."

Diana terdiam setelah mendengar ucapan Mahesa, Diana tahu jika Keano memang sangat menyukai Nadira. Hanya Nadira yang bisa menenangkannya. Tapi Diana tidak terima jika Nadira dekat dengan cucunya dan juga putranya. Walau bagaimanapun dimatanya Nadira hanyalah seorang pembunuh, dan seorang pembunuh harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

" Tunggu! Aku masih tidak mengerti. Apa seseorang bisa menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi?." Tanya Arya yang semakin penasaran. Sedari tadi pembahasan mereka hanya tentang Nadira, gadis pengasuh itu.

" Nanti akan mama jelaskan!." Ujar Diana pada Arya yang duduk di sampingnya.

" Tidak perlu menjelaskan apapun, tidak ada yang akan dijelaskan padanya ma. Hari ini Mahesa sudah membuat keputusan. Mama akan tinggal di mansion lama."

Deg

Diana menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar keputusan Mahesa. Putranya benar benar akan memindahkan nya ke mansion lama milik keluarga. Walaupun mansion nya juga tak kalah mewah dari rumah yang sekarang, tapi Diana tidak mau di sana sendirian bersama pelayan. Diana ingin bersama cucu dan putranya.

" Mahesa, apa yang kamu katakan? Kamu tega mengusir mama dari rumah ini?." Ucap Diana sambil menitikkan air mata.

Sementara Arya mencoba menenangkan Ibunya, ia tak mau mengambil tindakan karena ia belum tahu cerita sebenarnya.

" Arya! antar mama ke mansion hari ini, di sana ada beberapa pelayan yang akan bersama mama. Mama akan bisa kembali ke kediaman ini kalau mama sudah mengetahui dimana kesalahannya!."

Mahesa meninggalkan ruangan kerjanya dan memilih mengabaikan teriakan sang ibu yang memanggil namanya. Ia rasa ini adalah hukuman yang tepat untuk Ibunya. Mahesa tidak mengusir ibunya tapi hanya memberikan pelajaran agar ibunya bisa berpikir dengan jernih.

Sementara itu di dalam ruangan, Arya terlihat menenangkan ibunya yang sedang menangis. Arya tak menyangka jika kepulangannya akan di sambut dengan pertengkaran antara ibu dan kakaknya seperti ini. Dan juga gadis bernama Nadira yang membuatnya sangat penasaran.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!