NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9. pasar ramai dan debat rasa kue.

Kami berlima berjalan keluar gerbang istana, suasana hati kami campur aduk namun penuh semangat. Di depan sana, Kota Kerajaan Cahaya tampak benar-benar hidup. Asap dapur mengepul ke udara, suara obrolan warga terdengar dari segala arah, dan jalanan yang tadinya sepi kini dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Tujuan pertama kami adalah Pasar Pusat, tempat terjadinya keributan soal kue. Valgus berjalan paling depan dengan langkah yang lebar dan berat, membuat orang-orang yang lewat otomatis menyingkir karena takut… namun saat melihat Valgus hanya tersenyum tipis dan tidak berniat menyakiti siapa pun, mereka mulai berani melirik dan membalas senyumannya.

“Konon keributannya hanya soal rasa kue,” gumam Valgus sambil menatap jalanan yang semakin ramai. “Namun jika dibiarkan, hal sepele bisa berubah menjadi perselisihan besar. Dulu dunia ini hanya mengikuti apa yang kau tulis, sehingga mereka menerima segala sesuatu apa adanya. Sekarang mereka memiliki selera sendiri, memiliki pendapat sendiri… nah, di situlah masalah mulai muncul.”

Liora berjalan di samping Leon, gaun putihnya berayun pelan tertiup angin sore. Ia tampak sangat cantik saat sinar matahari menyinari rambutnya. Sesekali ia menoleh ke arah Leon dan tersenyum kecil, membuat jantung pemuda itu berdebar kencang tak karuan. Ya ampun… apakah ini tandanya kisah cinta mulai berkembang? Penulisnya sendiri saja ikut terbawa perasaan!

“Kau tersenyum sendiri kenapa?” tanya Liora tiba-tiba dengan mata berbinar nakal. “Pasti sedang memikirkan hal-hal aneh ya?”

“Eh… tidak kok!” jawab Leon buru-buru, wajahnya terasa memanas. “Aku hanya… memikirkan seperti apa rasanya kue itu. Siapa tahu memang enak.”

Liora hanya tertawa kecil, suaranya yang lembut membuat hati Leon semakin luluh. Di belakang kami, Zarek berjalan sambil melambai-lambai ke segala arah layaknya seorang tokoh terkenal yang lewat, membuat para wanita di jalan berteriak-teriak kegirangan.

“LIHAT ITU! ITU ZAREK! KSATRIA TERTAMPAN DAN TERKUAT!”

“WOI ZAREK! NANTI MALAM MAKAN BERSAMA YUK!”

Zarek semakin sombong, dadanya dibusungkan hingga hampir terlihat meledak. “Lihat itu, Leon? Aku sangat populer. Memang pantaslah menjadi ksatria idaman.”

Akhirnya kami tiba di Pasar Pusat. Benar saja, keramaiannya luar biasa. Pasar ini sangat luas, dipenuhi deretan toko berwarna-warni, dan aroma rempah serta makanan yang lezat tercium menggelitik hidung. Namun di bagian tengah, tepatnya di depan toko kue terbesar, telah berkumpul kerumunan orang dengan suara teriakan yang saling bersahutan.

“Mana enaknya! Kuenya terlalu banyak gula! Rasanya terlalu manis sampai membuat batuk!” teriak seseorang.

“Kau tidak mengerti soal rasa! Ini resep asli dari Sang Penulis! Tidak boleh diubah!” bantah suara lain.

“Tapi kamilah yang membeli! Kamilah yang memakannya! Kami berhak meminta rasa lain! Kami sudah bebas sekarang!”

Kami masuk menerobos kerumunan. Di tengah sana, terlihat dua kelompok yang sedang berselisih pendapat. Di satu sisi, penjual kue seorang kakek yang tampak ramah namun wajahnya memerah karena marah berdiri di depan tumpukan kue tart besar yang berwarna keemasan dan berkilau. Di sisi lain, sekelompok warga yang tampak bersemangat dipimpin oleh seorang gadis muda yang terlihat cerdas, pemberani, dan… sangat cantik.

Gadis itu memiliki rambut yang dikepang dua, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, dan matanya terlihat tajam serta penuh semangat saat berbicara.

“Resep itu sudah kuno!” seru gadis itu dengan lantang. “Dunia sudah berubah, kami sudah bebas! Kenapa kue harus selalu manis saja? Kami ingin ada rasa keju, cokelat, asin, bahkan pedas sekalipun! Jika tidak mau membuatnya, kami akan membuatnya sendiri!”

Zarek yang melihat gadis itu langsung terdiam, mulutnya ternganga, dan matanya tak berkedip menatap ke arahnya. Kesombongannya lenyap seketika, ia berhenti pamer, dan berdiri kaku layaknya patung.

“Eh… siapa itu?” bisik Zarek pelan kepada Leon, suaranya berubah menjadi lembut dan sangat berbeda dari biasanya. “Cantik sekali… dan juga pemberani. Terlihat tegas namun tetap menarik.”

Leon tersenyum dalam hati. Nah, inilah pasangan yang cocok untuk Zarek! Gadis yang mampu membuat ksatria terkuat ini luluh lantak.

“Namanya Sari,” bisik Leon membalas. “Dulu aku hanya menuliskannya sebagai ‘gadis cerdas yang gemar memasak’, namun kini ia tumbuh menjadi pemimpin kelompok warga yang menginginkan perubahan. Ia cerdas, tegas, dan tidak takut pada siapa pun.”

Zarek menatap Sari dengan pandangan kagum yang berubah menjadi… yah, jelas-jelas jatuh cinta pada pandangan pertama.

Valgus melangkah maju selangkah, suaranya yang berat dan bergema seketika membuat semua orang terdiam dan menoleh ke arahnya. “Kalian berselisih hanya karena soal kue? Tidakkah ada masalah yang lebih besar?”

Kakek penjual kue langsung menunduk memberi hormat saat melihat kami, apalagi saat matanya tertuju pada Leon. “Tu… Tuan Penulis! Syukurlah kalian datang! Ini semua salah mereka! Mereka ingin mengubah resep suci yang Tuan tulis sendiri! Dulu Tuan menulis...‘Kue Emas Pasar Pusat adalah yang paling lezat, paling manis, dan paling sempurna’. Sekarang mereka menganggap rasanya tidak enak!”

Sari melangkah maju selangkah, tidak merasa takut sedikit pun meski berhadapan dengan Valgus, Putri Liora, dan Leon sekaligus. Ia menatap mata Leon dengan tegas.

“Tuan Penulis, jika begitu Tuan sendiri yang menilainya. Memang benar dulu rasanya enak, namun selera setiap orang bisa berubah. Sekarang kami memiliki selera masing-masing. Kami menginginkan kue yang bervariasi, sesuai dengan keinginan kami. Bukankah Tuan sendiri yang memberikan kami kebebasan?”

Leon menatap Sari, kemudian menatap kakek penjual kue, lalu melihat kue emas yang memang terlihat lezat namun tampak sangat manis.

Ia memahami posisi keduanya. Sang kakek memegang teguh tradisi dan warisan, sedangkan Sari dan warga lain menginginkan perubahan dan kebebasan. Keduanya memiliki alasan yang sama-sama benar.

Liora melangkah ke depan dengan senyum yang menenangkan. “Kakek, Sari… dengarkanlah kami. Memang benar resep aslinya hanya satu dan rasanya sangat lezat. Namun dunia kini telah berubah. Kebebasan bukan hanya berarti boleh berbicara atau pergi ke mana saja, namun juga berhak menentukan apa yang kami makan dan apa yang kami sukai.”

Liora kemudian menoleh ke arah Leon, memberikan isyarat agar ia menyampaikan pendapatnya. Leon mengangguk dan melangkah maju.

“Kakek,” ucapnya dengan suara lembut namun tegas. “Resep asli itu tetaplah istimewa dan harus dijaga. Tidak perlu dihapus, tidak perlu diubah. Itu adalah warisan kita. Namun… mengapa tidak dikembangkan? Mengapa tidak dibuat varian baru? Kue Emas Asli tetap ada bagi mereka yang menyukai rasa manis, sedangkan Kue Emas Kreasi bisa dibuat bagi yang menginginkan rasa lain. Kakek tetap menjaga resep aslinya, sedangkan Sari dan teman-temannya boleh menciptakan rasa baru di tempat yang berdekatan. Dengan begitu keduanya senang, dan keduanya sama-sama laku dijual.”

Sang kakek berpikir sejenak, lalu raut wajahnya berubah menjadi lega. “Oh… jadi begini caranya? Tidak harus dihilangkan? Hanya ditambah? Wah… ide yang sangat bagus. Aku kira mereka ingin menghapus warisan ini.”

Leon kemudian menoleh ke arah Sari yang tampak sangat gembira. “Dan Sari… ingatlah, kebebasan bukan berarti boleh bertindak sembarangan. Kalian boleh membuat rasa apa saja, namun hargailah juga apa yang sudah ada. Jika ada yang menyukai rasa manis, biarkan mereka membeli kue aslinya. Kalian ciptakan yang baru untuk mereka yang menginginkan perbedaan. Bisa kan?”

Sari tersenyum lebar, terlihat sangat manis saat tersenyum. “Bisa sekali, Tuan Penulis! Ide yang sangat cerdas! Terima kasih banyak!”

Zarek yang sedari tadi hanya terdiam dan melamun tiba-tiba menyela, berdiri tepat di depan Sari sambil menggaruk kepalanya dengan rasa malu sikap yang sangat berbeda dari kebiasaannya yang sombong.

“Ehm… eh… Halo… Namaku Zarek… Ksatria Terkuat… eh maksudku… aku Zarek… bolehkah kita berkenalan? Gadis yang cerdas dan pemberani sepertimu… jarang ditemukan lho…”

Sari menatap Zarek dari atas hingga bawah, lalu tersenyum menggoda. “Jadi inikah Ksatria Terkuat yang sering pamer itu ya? Baiklah, kalau begitu nanti kau harus membantu kami mengaduk adonan kue baru ya? Kami butuh tenaga yang kuat.”

Zarek langsung mengangguk dengan antusias hingga kepalanya nyaris terlepas. “SIAP! MEMBANTU MENGADUK ADONAN ATAU APA SAJA! AKU SIAP! MULAI SEKARANG AKU MENJADI PENJAGA TOKO KUE BARU!”

Kami semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Zarek yang langsung patuh dan tunduk kepada Sari. Sang pendekar yang biasa berhadapan dengan naga dan penjahat, kini rela menjadi pembantu mengaduk tepung demi gadis yang baru dikenalnya selama lima menit.

Valgus menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. “Dasar anak muda. Mudah sekali hatinya tergoyahkan.”

Masalah kue pun selesai dengan damai dan manis. Pasar menjadi semakin ramai dan meriah, kini terdapat dua toko kue: satu yang mempertahankan resep tradisional, dan satu lagi yang menyajikan kreasi baru. Warga pun merasa senang karena memiliki banyak pilihan.

Namun tugas kami belum selesai. Matahari mulai terbenam di ufuk barat.

“Baiklah, satu masalah sudah selesai,” kata Leon sambil menutup buku catatannya yang kini penuh dengan tulisan peristiwa hari ini. “Besok pagi kita berangkat ke wilayah Selatan untuk menemui Pak Tani Joko dan pengikutnya. Itu adalah masalah yang jauh lebih besar, dan di sana… aku merasa akan ada kejadian yang membuat kita semakin terkejut.”

Liora menatap Leon dengan mata yang berbinar diterangi cahaya senja. Ia melangkah mendekat sedikit, suaranya sangat pelan hingga hanya Leon yang bisa mendengarnya.

“Leon… terima kasih ya. Kau sungguh hebat, kau tahu. Bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang adil dan membuat semua orang merasa senang. Aku semakin… semakin mengagumimu.”

Jantung Leon terasa hampir meledak. Wajahnya memerah, dan ia hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya.

“Ah… itu hal biasa saja. Aku hanya… mengutarakan apa yang menurutku benar.”

Liora tertawa kecil, lalu merangkul lengan Leon dengan lembut dan berjalan bersamanya kembali menuju istana untuk beristirahat.

Di belakang kami, Zarek masih asyik mengobrol dan tertawa bersama Sari, sepertinya ia tidak berniat pulang malam itu. Valgus berjalan di belakang sambil mengawasi kami dengan tatapan yang lembut, seolah ia sudah mengetahui bahwa kisah kami semua baru saja memasuki babak yang paling indah.

Malam itu, di dunia yang dulu pernah kacau namun kini menjadi tempat yang penuh kejutan dan kebahagiaan, bintang-bintang bersinar sangat terang, seolah ikut merayakan kebebasan dan kegembiraan seluruh makhluk di bawahnya.

Dan jauh di wilayah Selatan, di tengah hamparan ladang padi yang luas, Pak Tani Joko menatap bintang yang sama sambil tersenyum penuh tekad.

“Tunggulah… Tuan Penulis… besok kita akan membicarakan soal keadilan dan kenyang. Dan aku memiliki banyak gagasan yang pasti akan membuatmu terkejut…”

1
Sarah
Nah, lebih baik tentang masa mempelajari ilmu gaib dan sihir itu ditunjukkan, gimana asal-muasalnya dia tahu tentang hal itu, prosesnya gimana, pas dia masukin leon ke dunia ceritanya itu gimana... soalnya kalau gak ada flashback kerasa kurang aja dan sulit dibayangkan. Aku berharap author mempertimbangkan saranku ini.
Sarah
Ughh, dalem banget lagi pertanyaannya...
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!