Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eh!
Malam harinya, kegelapan menyelimuti seluruh area pos komando dengan begitu cepat. Di dalam barak wanita yang berukuran empat kali enam meter, sebuah lampu bohlam lima watt yang menggantung di langit-langit tripleks bergoyang pelan ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding.
Hazel duduk di tepi ranjang lipatnya yang keras, perlahan melepaskan kaos kakinya. Napasnya tertahan ketika melihat plester di tumitnya sudah bergeser, menyisakan kulit yang mengelupas dan memerah, bergesekan langsung dengan debu tanah merah yang sempat menyelinap ke dalam sepatunya, kulitnya yang putih bersih kini tampak dipenuhi bercak merah akibat gigitan nyamuk.
"Dokter Hazel, mau pakai minyak kayu putih saya? Ini manjur buat mengusir serangga malam di sini," tawar Suster Kinan yang duduk di ranjang seberang sembari meluruskan kakinya.
Hazel mendongak dan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa lelah, "Terima kasih banyak, Suster. Tapi saya sudah bawa losion anti-serangga," jawab Hazel halus, meskipun ia tahu losion mahal pemberian Ibunya itu sama sekali tidak mempan melawan keganasan serangga disini.
Malam semakin larut, di tengah keheningan malam itu. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh guntur yang memekakkan telinga dan detik berikutnya, atap seng barak wanita seperti dihujani ribuan batu kerikil. Hujan lebat turun dengan intensitas yang mengerikan, disertai angin kencang yang membuat dinding tripleks barak berderit ringkih.
Hazel tersentak duduk di atas ranjang lipatnya, jantungnya berdegup kencang. Dingin yang mencekam langsung menusuk hingga ke tulang, membuat selimut tipis yang dipakai Hazel terasa tidak berguna. Di sekelilingnya Suster Kinan dan yang lainnya masih terlelap, karena kelelahan setelah berjalan seharian.
Tess... Tess...
Hazel mendongak ketika merasakan sesuatu yang dingin menetes di dahinya, tepat di atas ranjangnya, air hujan mulai merembes melewati celah tripleks atap yang bocor. Hazel pasrah dan bergegas menggeser ranjang lipatnya yang berderit nyaring agar terhindar dari tetesan air.
Namun, usaha itu sia-sia. Angin malam yang berembus kencang membawa air hujan masuk melalui celah-celah ventilasi atas, membuat pakaian dan bantalnya terasa lembap.
Hazel melirik jam tangannya yang diletakkan di samping bantal, "Masih jam dua," gumam Hazel.
Melihat jam yang masih dua dini hari, keinginan untuk kembali tidur seketika menguap. Suasana yang mencekam, deru generator yang sesekali tersedat akibat basah, serta suara jangkrik yang tenggelam oleh gemuruh hujan membuat Hazel kian tersiksa.
.
Fajar akhirnya menyingsing, kabut tebal berwarna kelabu pun masih menggantung di langit dan menyelimuti area pos komando yang kini menjelma menjadi kubangan lumpur merah setelah diguyur hujan semalaman.
Hazel melangkah keluar barak dengan mata yang tampak sayu akibat sama sekali tidak bisa memejamkan mata sejak tengah malam, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum melakukan kegiatannya.
Setelah beberapa saat, Hazel dan beberapa tenaga medis pun segera pergi ke desa sekitar karena hari ini adalah hari pertama pelayanan kesehatan masyarakat mereka.
"Dokter Hazel nggak apa-apa?" tanya Dokter Tyas.
"Saya nggak apa-apa, Dok," jawab Hazel.
"Oh ya, di rombongan ini cuma Dokter Hazel perwakilan dari rumah sakit Ganendra, perwakilan yang lain ke desa lain," bisik Suster Kinan pada Suster Rara.
"Saya dengar mereka nggak mau satu grup sama Dokter Hazel," jawab Suster Rara pelan agar Hazel tidak mendengarnya.
Hazel menarik napas panjang, mengabaikan bisik-bisik di belakang punggungnya, ia sudah terlalu biasa menjadi objek gunjingan. Di rumah sakit pun, Hazel sering mendengar bisikan-bisikan yang menyakitkan, namun ia tidak mau memperpanjangnya dan hanya diam.
Mereka pun kembali menyusuri rute yang sama seperti kemarin. Namun, akibat hujan badai semalam, medan yang mereka lalui berubah menjadi mimpi buruk. Tanah liat yang semula padat kini menjelma menjadi bubur lumpur merah yang licin dan lengket, setiap kali Hazel melangkah, lumpur itu seolah mengisap alas sepatunya dan menuntut tenaga dua kali lipat hanya untuk mengangkat kaki.
Luka lecet di kedua tumitnya yang kemarin sempat ia plester kini mulai bergesekan lagi, rasa perih kembali menusuk setiap kali ia bertumpu pada kaki kanan dan membuat langkahnya semakin lama semakin tertinggal di belakang.
"Dok, hati-hati!" seru Sersan Baim dari barisan paling depan, tangan kekarnya cekatan membantu Dokter Tyas dan Suster Kinan melewati tumpukan tanah gembur yang runtuh dari lereng bukit.
Hazel menatap nanar rintangan di depannya, sebuah batang pohon tumbang yang melintang tepat di atas jalur berlumpur, diapit oleh tebing tanah di sisi kanan dan jurang curam bersemak di sisi kiri. Rekan-rekannya berhasil melompati batang pohon itu dengan bantuan Sersan Baim dan kini mereka sudah berjalan beberapa meter di depan, larut dalam obrolan tanpa menoleh ke belakang.
Hazel mencoba melangkah secara mandiri, ia menapakkan kaki kirinya ke atas batang pohon yang basah dan berlumut. Namun, tepat saat ia hendak mengayunkan kaki kanannya, sol sepatunya yang licin kehilangan cengkeraman.
"Eh!" seru Hazel.
Hazel kehilangan keseimbangan, tubuhnya limbung ke arah kiri dan ia jatuh tersungkur ke atas gundukan tanah basah. Beruntung, ia tidak merosot ke dalam jurang, namun lengan kanannya kini telah berlumur lumpur merah. Telapak tangannya menghantam kerikil tajam, hingga tangganya terluka dan berdar*h.
Suara jatuhnya Hazel cukup keras hingga membuat Sersan Baim menoleh, "Dokter Hazel! anda tidak apa-apa?" Sersan Baim bergegas berlari kembali ke belakang.
"Iya, saya tidak apa-apa, Sersan," jawab Hazel.
Hazel menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di sudut matanya, ia tidak ingin menangis di tempat ini. Dengan sisa tenaga dan dibantu oleh tarikan tangan Sersan Baim, Hazel bangkit berdiri dan mengibas-ngibaskan lumpur seadanya dari celana kargonya.
"Mari lanjutkan perjalanan," ucap Hazel.
"Dokter Hazel beneran nggak apa-apa? Atau kita berhenti dulu?" tanya Suster Kinan.
"Saya nggak apa-apa, Suster. Lebih baik kita lanjutkan perjalanannya," ucap Hazel.
Sersan Baim menatap telapak tangan Hazel yang berdar*h, "Tangan Dokter terluka, biar saya bawakan tasnya," ucap Sersan Baim.
"Tidak perlu, Sersan. Saya masih bisa membawanya sendiri," tolak Hazel halus.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya tiba di balai desa yang sudah dipadati oleh warga setempat, mulai dari ibu-ibu yang menggendong balita, hingga lansia yang batuk-batuk kecil akibat cuaca ekstrem belakangan ini.
Kegiatan pelayanan kesehatan langsung dimulai tanpa jeda, Hazel segera mencuci tangannya yang terluka di pancuran air, menempelkan plester baru secara terburu-buru lalu memakai sarung tangan lateks, ia segera duduk di salah satu meja kayu yang disediakan dan mulai memeriksa satu per satu warga yang mengantre.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak