NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lanjutan

Kirana tidak langsung bangun.

Dia tetap berbaring, menatap langit-langit kamar yang kembali terasa biasa. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara. Hanya kipas angin yang berputar pelan, menggeser udara yang hangat.

Tapi di dalam dirinya

tidak sepenuhnya kembali seperti semula.

Matanya perlahan terpejam.

Kali ini tanpa perlawanan.

Tubuhnya akhirnya menyerah pada lelah yang sejak pagi dia tahan. Napasnya melambat, tenggelam dalam tidur yang dalam tanpa mimpi yang jelas, tanpa bayangan lampion, tanpa suara yang memanggil namanya.

Hanya gelap yang tenang.

Pagi datang tanpa peringatan.

Cahaya matahari masuk dari celah tirai, jatuh tipis di wajah Kirana. Dia mengernyit sedikit, lalu membuka mata perlahan.

Beberapa detik pertama

kosong.

Tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang berbeda.

Seperti hari biasa.

Dia duduk, mengusap wajahnya pelan. Tubuhnya terasa lebih ringan. Tidak sepenuhnya segar, tapi cukup untuk bergerak tanpa beban yang kemarin menekan.

Tangannya tanpa sadar menyentuh pergelangan.

Tidak berdenyut.

Tidak panas.

Hanya kulit biasa.

Kirana menatapnya sebentar.

Lalu menurunkan tangan itu.

Tidak berkata apa-apa.

Kantor terasa sama seperti biasanya.

Suara keyboard.

Telepon yang sesekali berdering.

Orang-orang yang berlalu lalang tanpa benar-benar memperhatikan satu sama lain.

Kirana duduk di mejanya.

Laptop terbuka.

File laporan Q3 kembali di depannya.

Angka. Grafik. Diagram.

Dan kali ini

dia bisa membacanya.

Memahaminya.

Tidak ada jarak aneh seperti kemarin.

Semua terasa… normal.

Terlalu normal.

Risa muncul dari samping, menjatuhkan dirinya ke kursi sebelah dengan ekspresi santai.

“Udah mendingan?” tanyanya.

Kirana mengangguk kecil. “Iya.”

Wei ikut bergabung beberapa detik kemudian, membawa dua gelas kopi.

“Satu buat lo,” katanya sambil meletakkan di meja Kirana.

Kirana menatap kopi itu sebentar, lalu mengangguk. “Thanks.”

Risa menyipitkan mata, memperhatikan Kirana lebih lama dari biasanya.

“Lo yakin cuma kurang tidur kemarin?” bukan di ganggu arwah ?.......

Nada suaranya setengah bercanda, setengah serius.

Kirana mengangkat bahu ringan. “kecapekan.”

Jawaban yang mudah.

Dan tidak sepenuhnya salah.

Wei duduk santai, bersandar ke kursinya.

“Yang penting sekarang lo nggak ilang lagi,” katanya.

Kirana tersenyum tipis.

Tidak menjawab.

Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak saat kata itu terdengar.

Ilang.

Dia menunduk sedikit.

Jemarinya mengetuk pelan meja.

Sekali.

Dua kali.

Refleks kecil.

Seolah mengingat ritme yang lain.

“Eh, ngomong-ngomong,” Risa tiba-tiba menyela, nadanya berubah lebih ringan, “kita lagi ngerencanain liburan musim panas tahun ini.”

Wei langsung mengangguk. “Iya, kita butuh keluar dari sini sebentar.”

Kirana mengangkat alis sedikit. “Liburan?”

Risa tersenyum lebar. “Yes. Bukan yang biasa. Yang beneran pergi. Jauh.”

Wei menambahkan, “Kita lagi mikir… mungkin ke luar kota. Atau bahkan luar negeri,jepang,Korea, Thailand kalau jadi.”

Kirana tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap mereka berdua.

Ada jeda kecil.

“Lo ikut,” lanjut Risa cepat. “Nggak ada alasan nolak.”

Nada itu setengah memaksa, tapi tidak serius.

Kirana tersenyum tipis.

“Belum tentu gue bisa,” katanya.

Wei mengangkat bahu. “Kerjaan bisa diatur.”

Risa mencondongkan badan sedikit. “Atau lo emang nggak mau?”

Pertanyaan itu ringan.

Tapi entah kenapa

terasa seperti menyentuh sesuatu yang lebih dalam.

Kirana diam sejenak.

Pikirannya tidak langsung ke pantai.

Tidak ke gunung.

Tidak ke itinerary.

Tapi ke sesuatu yang lain

lampion merah.

Udara hangat.

Dan suara yang tidak sepenuhnya hilang.

Tangannya bergerak sedikit di atas meja.

Refleks.

Seperti mencari sesuatu yang tidak ada.

Lalu dia menarik napas pelan.

Mengangkat pandangannya lagi.

“Ke mana?” tanyanya akhirnya.

Risa langsung tersenyum lebar. “Nah gitu dong.”

Wei terkekeh kecil. “Kita lagi shortlist beberapa tempat. Nanti kita kasih lihat.”

Kirana mengangguk pelan.

Seolah itu keputusan kecil.

Seolah itu hanya soal liburan biasa.

Tapi di dalam dirinya

ada sesuatu yang bergerak.

Halus.

Hampir tidak terasa.

Seperti sesuatu yang… menunggu.

Dan tanpa dia sadari

di sudut layar laptopnya yang gelap sesaat sebelum menyala kembali

refleksi itu muncul.

Sangat tipis.

Sangat cepat.

Seseorang berdiri di belakangnya.

Diam.

Tidak mengganggu.

Hanya… ada.Layar laptop menyala kembali.

Refleksi itu hilang seolah tidak pernah ada.

Kirana tidak bereaksi.

Matanya tetap pada layar angka, tabel, grafik yang bergerak masuk akal. Tapi jemarinya berhenti di atas keyboard. Satu detik. Dua. Lalu kembali mengetik.

Normal.

Setidaknya dari luar.

“Ini opsinya,” kata Wei, mendorong ponselnya ke tengah meja.

Risa langsung mendekat. “Gue vote pantai. Yang jauh. Yang sinyalnya jelek.”

Wei tertawa kecil. “Lo pengen kabur dari dunia, ya?”

“Justru itu,” jawab Risa ringan.

Kirana melirik sekilas. Foto-foto tempat muncul di layar laut biru, pasir pucat, langit yang terlalu luas. Tenang. Terbuka.

Berkebalikan dengan sesuatu di dalam dirinya.

“Lo gimana?” tanya Risa, menoleh.

Kirana menatap layar ponsel itu lebih lama.

Air.....

Cakrawala yang tidak punya batas.

Ada sesuatu yang… menarik.

Seperti tempat di mana suara bisa tenggelam.

Atau justru muncul lebih jelas.

“Pantai aja,” katanya pelan.

Wei mengangguk. “Oke. Berarti kita cari yang agak sepi.”

Risa langsung semangat. “Yes! Gue yang atur itinerary.”

Percakapan berlanjut ringan, cepat, penuh tawa kecil. Hal-hal teknis. Tanggal. Budget. Hotel.

Kirana ikut mendengar.

Sesekali menjawab.

Tapi ada bagian dari dirinya yang tetap diam.

Mengamati.

Sore datang lebih cepat dari yang dia sadari.

Kantor mulai sepi. Satu per satu orang pulang. Lampu sebagian dimatikan.

Risa sudah lebih dulu pergi.

Wei berdiri di samping meja Kirana. “Lo nggak pulang?”

“Sebentar lagi,” jawabnya.

Wei mengangguk. “Jangan lama-lama.”

Kirana hanya mengangguk balik.

Langkah kaki Wei menjauh.

Pintu tertutup.

Dan akhirnya

sunyi.

Kirana menatap layar.

File laporan masih terbuka.

Tapi dia tidak membaca.

Tangannya perlahan berhenti.

Lalu ,tanpa sadar ,menyentuh meja.

Ujung jari.

Pelan.

Seperti mengetuk sesuatu yang tidak terlihat,napasnya sedikit berubah.Dan di antara keheningan itu ,dia tidak memanggil.

Tidak bersuara.

Hanya… menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada apa-apa.

Hanya suara AC.

Lampu yang berdengung halus.

Kirana tersenyum kecil.

Tipis.

Seperti seseorang yang mengerti

bahwa tidak semua jawaban datang saat dipanggil.

Dia meraih tasnya.

Berdiri.

Mematikan laptop.

Layar menjadi hitam,dan di sana ,refleksi muncul lagi.lebih jelas dari sebelumnya.

Li Wei berdiri tepat di belakangnya.

Diam.....

Tatapannya tertuju padanya.

Tidak menakutkan.

Tidak juga mengejutkan.

Hanya… ada.

Kirana tidak langsung menoleh.

Dia menatap pantulan itu.

Beberapa detik.

Lalu, sangat pelan

ujung bibirnya terangkat.

Bukan karena terkejut.

Bukan karena ragu.

Tapi karena dia tahu.

dia tidak sendirian.

“Jangan ganggu pas rapat besok,” bisiknya pelan.

Hampir seperti bercanda.

Pantulan itu tidak menjawab.

Tapi ada sesuatu di sana

hampir seperti senyum yang tertahan.

Dan saat Kirana akhirnya menoleh

tidak ada siapa-siapa.

Seperti biasa.

Tapi langkahnya saat keluar kantor terasa berbeda.

Lebih ringan.

Lebih sadar.

Karena sekarang

dia tidak lagi menunggu untuk mengingat.

Dia tahu

dia sedang diingat.Langkah Kirana keluar dari gedung kantor terasa stabil.

Malam belum sepenuhnya turun. Langit masih menyimpan sisa biru yang memudar, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Orang-orang berjalan cepat, sibuk dengan urusan masing-masing.

Dunia tetap berjalan.

Normal.

Kirana berhenti sebentar di depan trotoar, menunggu lampu berubah. Tangannya menggenggam tali tasnya, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Ada jeda di dalam dirinya.

Bukan kosong.

Lebih seperti ruang yang sekarang… ditempati.

Lampu berubah hijau.

Dia melangkah.

Satu.

Dua

Lalu

aroma itu.

Tipis.

Hampir hilang kalau tidak diperhatikan.

Dupa.

Kirana berhenti di tengah langkah.

Orang di belakangnya sedikit menabrak bahunya. “Maaf,” kata seseorang cepat, lalu berlalu.

Tapi Kirana tidak bergerak.

Aroma itu masih ada.

Sangat samar.

Tapi cukup.

Dia menoleh pelan.

Mencari sumbernya.

Di antara toko-toko kecil, lampu neon, dan bayangan orang-orang yang lewat

tidak ada yang jelas.

Sampai matanya berhenti di satu titik.

Sebuah gang sempit di sisi jalan.

Gelap.

Hampir tidak terlihat.

Tidak ada papan nama.

Tidak ada lampu terang.

Hanya… ada.

Dan dari sana

aroma itu datang.

Kirana menatapnya lebih lama.

Ada sesuatu yang menarik.

Bukan kuat.

Bukan memaksa.

Tapi seperti panggilan yang tidak perlu suara.

Dia menarik napas pelan.

Logikanya tahu,dia seharusnya pulang.

Masuk ke kos.

Istirahat.

Besok kerja lagi.

Normal.

Tapi kakinya

tidak langsung bergerak ke arah itu.

Sebaliknya,dia melangkah ke gang.

Satu langkah.

Udara langsung berubah.

Lebih dingin.

Lebih sunyi.

Suara jalan utama meredam, seperti ditarik menjauh.

Kirana berhenti sebentar.

Menoleh ke belakang.

Jalan ramai masih terlihat.

Masih dekat.

Masih aman.

Lalu dia menoleh ke depan lagi.

Gang itu lebih panjang dari yang terlihat dari luar.

Dindingnya sempit.

Lantai sedikit lembap.

Dan di ujung

cahaya redup.

Merah.

Sangat tipis.

Jantung Kirana berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut.

Tapi karena pengenalan yang tidak dia minta.

Lampion.

Dia melangkah lagi.

Semakin dalam.

Setiap langkah membuat dunia di belakangnya terasa semakin jauh.

Aroma dupa semakin jelas sekarang.

Tidak menusuk.

Tapi menenangkan.

Seperti sesuatu yang sudah dia kenal terlalu lama.

Dan saat dia sampai di ujung gang

dia berhenti.

Di depannya

sebuah pintu kayu tua.

Sedikit terbuka.

Cahaya merah keluar dari dalam.

Diam.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Tapi

sesuatu menunggu.

Kirana berdiri di sana.

Tangannya sedikit terangkat

ragu.

Bukan karena takut masuk.

Tapi karena dia tahu

sekali dia melangkah ke dalam

ini tidak akan lagi jadi sekadar “kejadian aneh”.

Ini akan jadi pilihan.

Dan dia harus siap dengan apa pun setelahnya.

Napasnya dalam.

Lalu

dia mendorong pintu itu.

Pelan.

Suara kayu berderit halus.

Cahaya merah menyambutnya.

Dan saat dia melangkah masuk

dunia kembali berubah.

Lampion tergantung rapi di atas.

Udara hangat.

Lantai kayu.

Sunyi yang hidup.

Tempat itu.

Sama seperti sebelumnya.

Tapi kali ini

dia tidak bingung.

Tidak kaget.

Tidak menolak.

Dia hanya berdiri.

Menatap ke depan.

Dan seperti yang dia tahu akan terjadi

Li Wei sudah ada di sana.

Menunggunya.

Tidak bergerak.

Tidak memanggil.

Hanya… ada.

Kirana tidak langsung mendekat.

Dia hanya menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu

“Ini tempat kamu?” tanyanya pelan.

Li Wei menggeleng kecil.

“Ini tempat kamu datang.”

Jawaban itu menggantung.

Tidak sepenuhnya menjelaskan.

Tapi cukup.

Kirana mengangguk pelan.

Melangkah mendekat.

Tidak terburu.

Tidak ragu.

Dan di antara lampion yang bergoyang pelan

dua dunia kembali bertemu.

Bukan karena kebetulan.

Tapi karena dia memilih untuk datang.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!