Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Sisi Koin
Lantai teratas Markas Besar GDC adalah sebuah ruangan yang terisolasi dari dunia luar. Di sini, dinding-dindingnya tidak terbuat dari beton, melainkan dari panel kristal reaktif yang bisa berubah transparan atau menjadi gelap total sesuai dengan frekuensi jantung penghuninya. Ruangan ini dikenal sebagai The Sanctum, tempat di mana Valerius biasanya merenungkan strategi pertahanan global di bawah cahaya redup dari hologram peta bintang.
Silas melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah yang tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia merasa seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan. Di hadapannya, Valerius berdiri membelakangi pintu, menatap cakrawala Sektor Tujuh yang kini dipenuhi oleh kerlip lampu kota. Jubah emasnya tampak sedikit kusam di bawah pencahayaan ruangan yang minim.
"Duduklah, Silas," ujar Valerius tanpa menoleh. Suaranya terdengar berat, seolah olah ia baru saja memikul beban seluruh dunia di bahunya selama berhari-hari.
Silas duduk di kursi futuristik yang terasa terlalu empuk untuk situasi yang mencekam ini. Ia meletakkan buku catatan manualnya di atas meja kristal yang segera memindai benda tersebut dengan sinar laser ungu, mencari perangkat penyadap yang mungkin tersembunyi.
"Kau sangat gigih, Silas," lanjut Valerius, akhirnya berbalik. Ia melepaskan jubahnya dan meletakkannya di atas kursi kerja, memperlihatkan tubuhnya yang masih dibalut beberapa perban medis. "Pekerjaanmu di Divisi Investigasi selalu luar biasa. Tapi kali ini, kau melampaui batas yang sudah ditentukan oleh hukum kewarasan manusia."
Silas menatap mata Valerius mata seorang pahlawan yang dipuja jutaan orang, namun kini tampak dipenuhi oleh kecemasan yang mendalam. "Komandan, tugas saya adalah mencari kebenaran. Dan kebenaran yang saya temukan di Sektor Tujuh adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh satelit GDC mana pun. Anak itu... Arthur. Siapa dia?"
Valerius terdiam sejenak. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan biru bercahaya ke dalam dua gelas kristal. Ia memberikan salah satunya kepada Silas.
"Jika aku memberitahumu, kau tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan lamamu sebagai investigator yang skeptis," ujar Valerius sambil menyesap minumannya. "Kau akan menjadi bagian dari rahasia yang, jika bocor, akan menghancurkan fondasi peradaban kita dalam satu malam."
Silas menelan ludah. "Saya sudah tahu itu sejak kacamata sensorik saya meledak hanya karena dia 'berpikir' tentang saya. Saya tidak takut pada kebenaran, Komandan. Saya takut pada ketidaktahuan yang mematikan."
Valerius menghela napas panjang. Ia menekan sebuah tombol di mejanya, mengaktifkan mode enkripsi total yang menghalangi segala bentuk transmisi data keluar dari ruangan tersebut.
"Arthur bukan subjek eksperimen, bukan juga kerabatku," bisik Valerius. "Dia adalah entitas purba yang menggunakan tubuh manusia sebagai wadah. Apa yang kau lihat kemarin monster kelabang, retakan dimensi semuanya bukan aku yang menyelesaikan. Itu dia. Hanya dengan satu sentilan jari kecilnya."
Meskipun Silas sudah menduganya, mendengar konfirmasi itu langsung dari mulut pahlawan peringkat satu tetap membuatnya merasa seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh. "Satu sentilan? Monster level Calamity?"
"Ya," jawab Valerius pahit. "Aku hanyalah tameng humasnya. Dia ingin hidup sebagai bocah biasa. Dia ingin sekolah, dia ingin minum susu, dan dia tidak ingin ada siapa pun yang mengganggunya. Termasuk kau, Silas."
Valerius berjalan mendekati Silas, menatapnya dengan tatapan yang sangat serius. "Dia memberiku peringatan untuk menjagamu. Dia bilang, jika kau terus menyelidikinya, dia tidak akan menjamin keselamatan markas ini. Dan percaya padaku, Silas, dia tidak sedang menggertak. Aku sudah melihatnya menghapus kiamat seolah olah itu hanyalah noda debu di meja."
Silas merasa tangannya bergetar. Ia teringat kembali pada bayangan raksasa yang ia lihat di belakang tubuh Arthur pagi tadi. "Jadi... GDC sedang membangun kebohongan besar? Seluruh dunia memujamu sebagai penyelamat, padahal penyelamat yang sebenarnya adalah seorang anak kecil yang sedang belajar perkalian di sekolah dasar?"
"Dunia butuh simbol yang bisa mereka pahami," bela Valerius. "Mereka tidak akan bisa memproses keberadaan Arthur. Mereka akan takut, mereka akan mencoba mengendalikannya, dan itu adalah jalan pintas menuju kehancuran total. Itulah sebabnya aku membawamu ke sini. Aku butuh bantuanmu."
Silas mengernyitkan dahi. "Bantuan saya?"
"Hapus semua jejak tentang Arthur dari basis data pusat," perintah Valerius. "Gunakan wewenang mu untuk mengalihkan semua laporan anomali energi di Sektor Tujuh ke akun pribadiku. Jadilah 'pembersih' jejaknya. Jika ada investigasi lain dari dewan, kaulah yang harus menghentikan mereka sebelum mereka mencapai alamat apartemennya."
Silas terdiam cukup lama. Ia adalah seorang investigator yang menjunjung tinggi fakta. Meminta dirinya untuk menjadi pembohong profesional adalah penghinaan bagi kariernya. Namun, ia juga sadar akan bahaya yang sedang mengintai. Ia ingat pria di bawah pohon pagi tadi sang Inquisitor yang auranya begitu jahat hingga hampir membekukan darahnya.
"Jika saya melakukan ini," ujar Silas pelan. "Itu bukan demi reputasi Anda, Komandan. Itu demi memastikan bahwa 'sesuatu' di dalam diri bocah itu tidak terbangun dalam kemarahan yang bisa menghapus kita semua."
"Itu lebih dari cukup bagiku," sahut Valerius.
Sementara itu, di sebuah apartemen kecil yang jauh dari kemewahan The Sanctum, Arthur sedang sibuk menghadapi tantangan yang jauh lebih berat: mengemas tas untuk wisata edukasi minggu depan.
Clara, sang pengasuh, mondar-mandir di ruang tamu sambil memegang daftar perlengkapan. "Arthur! Kau sudah memasukkan jaket cadanganmu? Sektor Empat sangat berangin karena dekat dengan pantai! Dan jangan lupa botol minum mu!"
Arthur mendesah lesu. Ia duduk di atas lantai, menatap tas ransel kuningnya yang sudah penuh sesak dengan barang-barang yang menurutnya tidak berguna. "Kak, kita hanya pergi selama satu hari, bukan mau pindah rumah. Aku tidak butuh tiga pasang kaus kaki."
"Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di sana!" balas Clara sambil memasukkan sekantong roti isi ke dalam tas Arthur. "Sektor Empat baru saja dilanda serangan monster beberapa hari lalu. Meskipun pahlawan Valerius sudah membersihkannya, udaranya mungkin masih mengandung partikel berbahaya. Kau harus tetap hangat agar tidak sakit."
Arthur hanya bisa pasrah. Ia membiarkan Clara memperlakukannya seperti bayi yang lemah. Namun, di dalam hatinya, ia sedang memikirkan hal lain. Indranya menangkap sebuah fluktuasi energi yang ganjil dari arah Sektor Empat. Sepertinya Jembatan yang sedang dibangun para Architects mulai memancarkan resonansi yang mencapai daratan.
Jaraknya terlalu jauh dari lokasi wisata kami seharusnya, pikir Arthur. Tapi sisa-sisa energi di sana mungkin akan memicu sensor GDC. Jika aku tidak hati-hati, kunjunganku ke sana akan menjadi bencana investigasi berikutnya.
Arthur berjalan menuju jendela, menatap bulan yang mulai naik. Ia bisa merasakan bahwa Silas dan Valerius baru saja mencapai kesepakatan. Tekanan di atmosfer Sektor Tujuh sedikit mengendur, pertanda bahwa perburuan terhadap dirinya untuk sementara waktu telah dihentikan oleh otoritas lokal.
"Setidaknya satu tikus sudah diam," gumam Arthur.
Namun, ketenangannya kembali terusik saat sebuah getaran frekuensi tinggi merambat melalui lantai apartemennya. Itu bukan gempa bumi, melainkan sebuah sinyal komunikasi tingkat galaksi yang hanya bisa didengar oleh entitas setingkat Sovereign.
"Sovereign... Jembatan telah mencapai fase kedua. Pembersih telah dikirim. Jangan biarkan planet kecil ini menghalangi takdirmu."
Suara itu bergema di dalam kepala Arthur, membuat telinganya berdenging sesaat. Ia meremas pinggiran jendela, meninggalkan bekas jari yang dalam di atas logam aluminium tersebut.
"Mereka benar-benar tidak sabar," bisik Arthur dengan nada yang sangat dingin. "Mereka pikir tubuh kecil ini adalah kelemahanku? Mereka akan segera menyadari bahwa wadah ini hanyalah pembatas agar aku tidak meledakkan mereka semua sekaligus."
Arthur berbalik dan melihat Clara yang sedang asyik menonton berita di televisi berita tentang persiapan pesta rakyat untuk merayakan kemenangan Valerius. Senyum di wajah Clara adalah alasan Arthur masih mau menahan amarahnya.
"Kak," panggil Arthur pelan.
"Ya, Arthur?" sahut Clara tanpa menoleh dari televisi.
"Minggu depan, saat aku pergi ke Sektor Empat... kau jangan keluar dari apartemen, ya. Belilah makanan instan yang banyak untuk satu minggu," ujar Arthur dengan nada polos namun penuh penekanan.
Clara tertawa kecil. "Kenapa? Kau takut aku diculik monster saat kau tidak ada? Jangan khawatir, pahlawan Valerius pasti akan menjaga kita semua."
Arthur tidak membalas. Ia hanya menatap kotak susu stroberinya yang tersisa di atas meja. Valerius tidak akan bisa menjagamu kali ini, Clara, batin Arthur. Tapi aku akan memastikan bahwa apa pun yang turun dari Jembatan itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota ini.
Malam itu, Silas pulang ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia membuka laci mejanya, mengambil buku catatan manualnya, dan menulis satu baris kalimat terakhir sebelum membakar buku tersebut di perapian.
"Dunia ini adalah panggung sandiwara, dan kita semua hanyalah penonton di depan seorang sutradara berusia tujuh tahun."
Asap hitam membubung dari perapian Silas, membawa pergi rahasia terbesar umat manusia ke dalam kegelapan malam. Di luar sana, di Samudra Pasifik, air laut mulai mendidih tanpa api, menciptakan pusaran raksasa yang seolah olah ingin menelan seluruh langit. Jembatan itu hampir selesai.