NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

Pernyataan itu membuat Dewa tercengang. Apa maksudnya?

Menerima tawaran nikah kontrak tapi tidak mau nikah kontrak. Apa gadis ini sedang mempermainkannya, atau malah ingin menjebaknya.

Sebelum Dewa berasumsi macam-macam dengan pernyataannya, Rea lebih dulu menjelaskan, "Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...."

Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya. Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

Dewa masih bingung dengan permintaan Rea. Tidak mau nikah kontrak, tapi siap diceraikan kapan saja. Lalu apa bedanya.

"Sepengetahuan saya, nikah kontrak itu haram hukumnya. Saya tidak punya banyak pengetahuan soal agama, saya hanya tahu sedikit tentang itu. Karena itu saya hanya ingin mengurangi banyaknya dosa yang akan saya perbuat."

Dewa mulai paham ke mana maksud Rea.

"Lalu, bagaimana jika nanti lo menuntut macam-macam dalam pernikahan ini. Padahal gue tidak benar-benar serius menikahi lo. Gue hanya butuh status, dan gue tahu lo butuh duit. Yang gue inginkan hanya hubungan yang saling menguntungkan. Gue nggak mau benar-benar terikat dalam pernikahan."

"Bapak bisa percaya saya. Saya tidak akan menuntut selain apa yang Bapak janjikan."

Dewa menatap Rea. Menelisik jauh ke dalam sorot mata Rea. Mencari kejujuran yang gadis ini ungkapkan.

"Ok, deal!" Dewa mengulurkan tangan sebagai tanda mereka sepakat. Ia yakin gadis ini tak akan menipunya atau memanfaatkannya.

Rea menyambut uluran tangan Dewa dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Besok, gue berangkat ke Jakarta. Lo iku gue sekalian. Nanti gue atur apa aja yang harus lo lakuin."

"Besok?" Mata Rea membelalak. Mana bisa. Ia masih harus bekerja. Ia masih punya kontrak kerja. Kalau harus resign, itu butuh waktu paling tidak satu bulan. Mana mungkin ia bisa berangkat besok ke Jakarta.

"Maaf, Pak. Nggak bisa. Saya harus mengajukan surat pengunduran diri lebih dulu dan itu butuh waktu paling tidak satu bulan. Mana bisa saya ikut Bapak besok."

Dewa berpikir sejenak. "Itu gampanglah. Biar gue yang atur."

Rea bingung sendiri. Mau diatur bagaimana, orang surat resign-nya saja belum Rea buat. Tetap saja ia tak akan bisa pergi besok ke Jakarta.

Dewa mengabaikan kebingungan Rea. Ia terus melajukan mobilnya. Sebelum mengantar gadis itu pulang ke kosan, Dewa mengajak Rea untuk membeli makanan secara drive thru.

"Semua buat saya?" tanya Rea saat Dewa memberikan ayam goreng tepung yang terkenal itu.

"Iya."

"Tapi ini kebanyakan."

"Bisa lo bagi sama temen-temen di kos lo, atau dengan kucing-kucing liar di sana."

Kucing liar? Dapat ayam goreng mahal ini? Enak aja, kalau tulangnya boleh!

"Terima kasih, Pak."

"Tunggu!" sergah Dewa sebelum Rea turun dari mobil. "Nomor handphone lo."

"Oh ...." Rea meminta ponsel milik Dewa, lalu mengetikkan nomornya di sana. Menyimpannya dengan nama; Reana.

"Terima kasih, Pak," ujar Rea sekali lagi sebelum turun dari mobil.

Gadis itu masuk setelah memastikan mobil Dewa benar-benar pergi.

Dari rumah kos Rea, Dewa langsung balik ke hotel. Ia istirahat sebentar sebelum acara makan malam di rumah keluarga Galih.

"Lo serius sama ide lo ini?" tanya Luky yang menunggu Dewa bersiap.

Dewa menceritakan semua rencananya pada Luky. Pun mengatakan jika ia sudah menemukan gadis yang bersedia menikah dengannya.

"Ini langkah yang tepat. Gue yakin dengan pernikahan gue nanti, semua gosip-gosip itu akan mereda bahkan hilang dengan sendirinya."

Luky mengangguk setuju, karena sejak awal rencana ini memang sudah mereka pikirkan untuk menyelamatkan karir seorang Dewangga.

"Gue jadi penasaran sama cewek itu, yang mana sih, Wa?"

"Yang tiap pagi bersihin kamar."

Luky sedikit memeras otak untuk mengingat pegawai yang dimaksud Dewa. "Yakin lo mau nikah sama seorang housekeeper?"

"Gue nggak liat latar belakangnya. Gue cuma liat di mau apa enggak kerja bareng gue."

"Asal lo nggak jatuh cinta aja, Wa."

Dewa langsung melempar sisir tepat di kepala Luky.

"Aduh!" pekik Luky memegangi kepalanya.

"Gue jatuh cinta juga liat-liat siapa ceweknya."

"Ok ... ok ...."

Dewa sudah siap. Ia langsung keluar kamar hotel diikuti Luky. Supir dari Galih sudah stand by di lobi hotel menunggu keduanya.

Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di rumah keluarga Galih. Sebuah rumah mewah nan megah bergaya arsitektur vila Bali. Begitu masuk, aura rumah Galih ini mengingatkan pada suasana-suasana vila di Bali. Ornamen dan furniturnya pun katanya di datangkan dari Bali langsung. Banyak patung dan lukisan-lukisan kuno.

"Selamat datang di rumah kami," sambut Paramitha—istri Galih.

Di sampingnya berdiri gadis muda nantik. Menurut tebakan Luky pastilah ini anak tunggal Galih yang sering dibicarakan.

"Kenalkan, ini anak kami. Clara," ujar Paramitha.

Dewa menjabat tangan Clara. Disambut hangat oleh Clara. Bergantian dengan Luky.

"Mari masuk, papanya masih dalam perjalanan. Kita tunggu di dalam saja, ya." Dengan ramah, Paramitha mengajak Dewa dan Luky untuk menunggu di dalam.

Rupanya sudah banyak yang datang. Dewa dan Luky termasuk yang sedikit terlambat.

"Aku seneng banget lo Kak, waktu tahu Kak Dewa jadi brand Ambassadornya produk kami," ujar Clara. Gadis itu memang supel. Mudah sekali akrab dengan siapa saja.

"Sudah lama aku ngefans sama Kak Dewa, cuma baru sekarang bisa ketemu," sambung gadis itu.

"Udah semester berapa?" Dewa bertanya balik. Menyesuaikan diri dengan Clara.

"Udah semester empat, Kak."

"Oh, ambil jurusan apa?"

"Manajemen Bisnis."

"Wah, cocok itu. Kamu kan penerus bisnis skin care keluarga kamu."

"Nah itu dia, padahal aku sebenernya pengen banget jadi artis kayak Kak Dewa."

"Kenapa nggak nyoba?"

"Masih belom PD banget, Kak. Tapi, kalau aku dimentorin sama Kak Dewa aku mau banget."

"Jangan sama gue, cari aja mentor yang benar-benar profesional, biar bakat kamu beneran ke asah."

Clara sedikit kecewa karena penolakan Dewa, tapi ia tak pantang menyerah. Kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia terus menempel pada Dewa, berbicara banyak hal terutama kelebihannya untuk membuat Dewa terkesan.

"Katanya Kak Dewa mau balik ke Jakarta besok, ya?"

"Hemm." Dewa mengangguk.

"Padahal aku masih pengen banget lo deket sama Kak Dewa gini. By the way, kalau aku ke Jakarta boleh nggak aku ketemu Kak Dewa?"

"Boleh aja kalau gue lagi nggak sibuk."

"Makasih, ya. Pokoknya aku akan tagih janji Kak Dewa kalau aku ke Jakarta nanti."

Dewa hanya tersenyum datar. Semua demi menghormati orang tua Clara.

"Clara!" panggil Paramitha.

"Iya, Ma."

"Sini bentar, deh."

"Bentar ya, Kak."

Usai Clara pergi, Luky langsung mendekati Dewa. Sejak gadis itu menempel pada Dewa, Luky langsung tahu diri dan memberi ruang untuk mereka berdua bicara.

"Gimana, Wa, hasil mancing lo hari ini. Kayaknya dapat ikan gede," goda Luky.

"Tapi ati-ati, Wa. Jangan sampai lo buat skandal baru. Masalah kemaren aja belom kelar."

Dewa tak menggubris. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Luky keluar. Di sana ia mengambil rokok dari saku jasnya. Menyulutnya sembari duduk di teras belakang rumah sang konglomerat.

"Udah lama?"

Suara itu membuat Dewa mengalihkan perhatiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!