“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Pagi, Pak Putra, resepsionis memberikan amplop ini pada saya untuk disampaikan pada Bapak. Ada kiriman dari Bapak Khale.” Agnes, sekretaris Putra menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat di atas meja kerja Putra.
Mengerutkan dahinya, Putra membuka amplop itu perlahan, rasanya sudah lama ia tak mendengar nama menyebalkan itu.
Terdapat dua lembar kertas di dalam amplop. Lembar pertama adalah cek bernilai 1 Milyar rupiah. Sedangkan lembar kedua adalah kertas putih betuliskan “Uang ini untuk mengganti rugi seluruh biaya yang telah Anda keluarkan untuk keluarga saya.”
Tertanda, Khale.
Memukul meja kerjanya, seketika Putra merasa sedang dipermainkan. Ia menduga selama ini Syafira pergi bersama Khale. Menurutnya, mereka berdua telah bersekongkol untuk kembali bersama, dengan memberikan skenario kaburnya Syafira.
“Baik, aku ikuti permainan kalian,” ujarnya sadis.
Mengeluarkan ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.
Sementara itu, karena seringnya Khale berada di apartemen kembar hingga malam hari, Khanza dan Khayra menjadi lebih memilih ditidurkan olehnya dari pada oleh sang bunda, seperti malam ini.
“Om, waktu itu Om bilang kalau Khanza anak Om. Memang Om siapa?” Khayra tiba-tiba menanyakan hal yang tak disangka oleh Khale.
Tampak kebingungan menjawabnya, Khale bergumam. “Ehm, bukan apa-apa, Sayang. Om sudah lupa.”
“Ah, tapi aku ingat Om bilang begitu,” eyel Khayra.
“Om mau tidak jadi ayah Khayra dan Khanza? Kata Bunda ayah kami sudah meninggal,” timpal Khanza membuat Khale tersedak, padahal tak sedang makan maupun minum.
Membelai lembut kening kembar, Khale berganti menanyakan hal yang sama pada mereka. “Memang kalau Om Khale jadi ayah kalian, mau?”
“Ehm.” Syafira berdehem membuka lebar pintu kamar yang setengah tertutup, mengingatkan mereka untuk segera tidur karena sudah malam.
***
“Syaf, apa boleh aku menemuimu di rumah? 3 baju milik kembar tertinggal di rumah bude. Kalau boleh, aku ingin mengembalikannya sekaligus menemuimu untuk yang terakhir kalinya, sebentar saja.”
Pagi ini setelah kembar berangkat sekolah, Syafira menerima sebuah panggilan dari Darma dan baru ia sadari bahwa baju kembar memang tertinggal di rumah Bu Tatik.
“Tidak usah repot-repot, Dar. Kamu berikan saja untuk anak tetangga seusia mereka,” jawab Syafira.
“Tidak repot, Syaf, kebetulan aku sedang di Jakarta. Aku baru saja mengantarkan keripik ke salah satu toko pelangganku di ibukota. Tapi, kalau kamu keberatan tak apa-apa, aku langsung pulang saja.”
Ucapan Darma membuat bunda kembar itu tak tega menolak. Orang sebaik Darma tak ingin dibuatnya sakit hati. Ia tak mau Darma berpikir dirinya menjauh setelah mengetahui pernyataan cinta Darma padanya. Bagaimana pun, Darma banyak membantunya selama di kampung, ia ingin tetap berhubungan baik dengan lelaki itu.
Memberikan alamat sebuah taman tak jauh dari apartemennya, Syafira membuat janji dengan Darma akan bertemu sebentar lagi, karena kebetulan posisi Darma tak jauh dari sana.
Syafira pun keluar menuju taman dengan tetap dipantau dan dijaga oleh anak buah Khale, tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Darma. Sesuai titah Khale untuk meminta anak buahnya menjaga dengan ketat Syafira baik di dalam maupun di luar apartemen. Cepat atau lambat, anak buah Putra pasti bisa menemukan tempat tinggal barunya.
Hingga saat mereka bertemu, Darma tampak sedikit canggung. Tanpa basa-basi ia memberikan sebuah paper bag berisi baju-baju kembar yang tertinggal. Ia juga menyampaikan permintaan maafnya pada Syafira jika ungkapan perasaannya kala itu membuat wanita di hadapannya tak nyaman.
Tersenyum sembari menerima paper bag, Syafira meyakinkan Darma bahwa ia tak masalah setelah mengetahui perasaan Darma. Ia justru senang karena Darma bisa jujur karena ia berharap setelah ini teman sekolahnya itu akan menemukan cinta sejatinya. “Pokoknya kita harus tetap berteman baik ya, Dar. Kalau kamu mau menikah, jangan lupa undang aku.”
Dari jawaban Syafira, Darma sudah paham apa maksudnya, bahwa Syafira menolaknya karena tak memiliki perasaan yang sama.
Tak ingin dirinya terlihat lemah, Darma pamit. “Terima kasih sudah mau menemuiku, Syaf. Terima kasih sudah memahami perasaanku. Jaga diri baik-baik, ya. Aku harus segera pulang, pekerjaanku menumpuk. Salam untuk kembar.”
Membalikkan badannya, Darma menghembuskan nafas panjang.
Hingga beberapa hari setelah pertemuan mereka kala itu, Darma yang tak benar-benar pulang ke kampung, tengah menyelesaikan perasaannya. Ia sengaja mencari penginapan di Jakarta. Setiap hari ia mengunjungi apartemen Syafira, bukan untuk bertemu melainkan hanya untuk bisa melihat bidadarinya dari luar. Hanya melihat dari bangunan tempat Syafira tinggal, Darma berharap ikhlasnya benar-benar bisa sempurna.
“Saat kembali ke rumah nanti, perasaanku padamu harus benar-benar sudah hilang, Syaf.”
Tanpa ia sadari, setiap kunjungannya terpantau oleh seseorang.
***
“Apa? Kamu yakin tidak salah lihat?” Khale terkejut saat mendengar laporan dari Benny yang menemuinya di ruang kerjanya.
"Aku curiga mereka saling kenal," tutur Benny.
Mengepalkan tangannya, raut wajah ayah kembar itu terlihat kaku. Apa yang disampaikan Benny, pernah pula disampaikan oleh anak buahnya. Artinya, kejadiannya tak hanya sekali tapi berulang. Terbukti saat itu anak buah Khale melihatnya, sekarang Benny juga melihatnya. Keduanya melaporkan hal yang sama.
"Khal, mau ke mana?" Pertanyaan Benny pun tak digubris oleh Khale yang berlalu pergi meninggalkannya.
Menuju mobilnya, Khale menginjak gas menuju bakery Karina.
Hingga setibanya di sana, mantan kekasihnya itu sangat menyambutnya dengan penuh suka cita, begitu pun dengan Aura yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
Saat Aura berlari ke arahnya dan ingin memeluk, Khale dengan lembut menyingkapnya.
“Khal, apa-apan sih kamu? Aura hanya rindu.” Karina tampak tak suka dengan sikap Khale.
Tak menanggapinya, Khale langsung menyelonong masuk ke ruang kerja Karina, tak peduli dengan pertanyaan wanita sebayanya itu.
Mencari-cari sesuatu, Khale tetap diam.
Hingga ia menemukan beberapa lembar foto yang membuatnya naik darah.
...****************...
thor double up donk 🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️