Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Keluar
Langkah kaki seorang pria memakai jas hitam masuk ke sebuah ruangan. Langkahnya pelan namun tetap menciptakan suara detakan dari sepatunya yang mengkilap ketika menyentuh lantai.
"Ada kabar apa di sana?" Tanya seorang lelaki lain saat pria berjas hitam itu tiba di ruangan.
Pria berjas hitam itu berdiri di hadapan lelaki yang sedang duduk bersila di sofa empuk sambil menikmati secangkir anggur. Ia adalah tuan muda Aksara, sedangkan lelaki berjas hitam itu bernama Brian—orang kepercayaannya.
"Dia tampak baik-baik saja, Tuan. Beberapa hari yang lalu ia telah lulus sekolah dengan nilai yang sangat baik," jawab Brian.
Aksara tersenyum puas, kemudian meletakkan gelas anggur yang ada di tangannya di atas meja berwarna emas yang berada tepat di sebelahnya.
"Tapi..." Kali ini wajah Brian tampak sedikit serius.
"Tapi apa?" Aksara mendongak, keningnya mengkerut.
"Sepertinya ada yang mau bersaing dengan Anda, Tuan. Dan orang itu selangkah lebih maju," ucap Brian sambil sedikit tertawa.
Aksara menatap Brian dengan menyunggingkan senyum kecil, "Jangan coba bercanda denganku, Brian."
"Ada seorang juragan tua kaya yang hendak menikahinya."
Aksara sedikit tersentak dan memiringkan wajahnya dengan tatapan mendalam.
"Baru beberapa hari tidak kutugaskan kau kesana, ternyata sudah ada kecoa busuk yang mencoba mengganggu." Aksara mengerutkan kening lebih dalam, suaranya sedikit menegang.
"Iya, Tuan. Orang-orang desa ramai membicarakan hal ini."
"Urus semuanya secepat mungkin. Aku akan segera menikahinya."
"Baik, Tuan." Ucap Brian sedikit menunduk, kemudian meninggalkan ruangan Aksara.
Aksara berdiri di jendela kamar, menatap keluar dengan tatapan tajam.
"Lebih baik sekarang dari pada menunda-nunda. Hal semacam ini takutnya terjadi lagi dan menimbulkan hal yang tidak aku inginkan. Lagipula, usia Rara sekarang bukanlah usia anak kecil lagi."
———
Sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan, membuat para pekerja yang sedang membajak sawah serentak menghentikan aktivitas mereka sesaat dengan pandangan tertuju pada mobil itu, termasuk Pak Karim. Lelaki tua itu tetap bekerja meskipun kondisinya belum membaik.
Melihat kedatangan mobil mewah itu, jantung Pak Karim seketika berdetak kencang. Ia mencoba menenangkan diri dan melanjutkan pekerjaannya.
Turunlah beberapa pria berpakaian serba hitam. Mereka melihat kesana kemari seolah-olah sedang mencari seseorang.
"Di sini ada yang bernama Pak Karim?" Tanya salah seorang diantara mereka. Serentak tatapan para pekerja tertuju pada Pak Karim yang sedari tadi sudah tampak gemetar ketakutan.
"Kemari, Pak!" Panggil pria itu kembali.
Dengan tertatih-tatih, Pak Karim mendekat. "Jangan sakiti saya, Tuan," ucapnya sambil memohon.
"Kami bukan orang jahat, Pak. Kami orang suruhan Pak Selamet datang menjemput Bapak."
Pak Karim mengerutkan kening. "Pak Selamet? Sepertinya tidak asing didengar."
"Ayo ikut kami. Pak Selamet sudah menunggu di rumah."
"Saya membersihkan diri dulu, Pak. Kaki saya penuh lumpur."
"Tidak perlu. Lebih cepat lebih bagus."
Dengan perasaan ragu, Pak Karim mengikuti langkah pria berpakaian serba hitam itu, sesekali melihat ke arah pekerja lain yang tidak bisa berbuat apa-apa.
———
Mobil melaju melewati jalan desa yang berkelok-kelok, kemudian masuk ke dalam komplek rumah Pak Selamet yang megah namun tetap khas juragan desa. Setelah mobil berhenti di halaman depan, salah satu pria berpakaian hitam membuka pintu dan membimbing Pak Karim masuk.
Masih ragu dengan penampilannya dan kakinya yang masih kotor, Pak Karim sempat menghentikan langkah sejenak.
"Tidak apa-apa, Pak. Masuk saja." Pria berpakaian hitam itu menyakinkan seolah ia mengerti kegundahan hati Pak Karim.
Setelah melewati gerbang kayu besar dan melewati halaman dengan kolam kecil, mereka memasuki rumah. Udara dalam ruangan terasa sejuk dengan aroma kayu dan bunga dari vas yang ditempatkan di setiap sudut.
Pak Karim berdiri khawatir di ruang tamu, menatap lantai kayu yang mengkilap sambil menggosok-gosok tangan yang masih sedikit berlumuran lumpur.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang kuat dari arah belakang ruangan. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun dengan rambut sedikit memutih muncul, mengenakan baju batik berwarna merah tua yang rapi. Ia adalah Pak Selamet—wajahnya tampak hangat namun penuh kekuasaan.
"Pak Karim, akhirnya kita bertemu lagi," ucap Pak Selamet dengan senyum hangat, lalu mengajak Pak Karim duduk di kursi rotan yang empuk. "Maaf saya mengirim orang datang menjemput secara mendadak. Saya ingin berbicara dengan Anda tentang sesuatu yang penting."
Pak Karim masih terlihat tertegun. "Maaf Pak Selamet, saya sedikit lupa kapan kita pernah bertemu."
Pak Selamet mengangguk perlahan. "Sudah lama memang, Pak. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi desa Bapak dan tinggal disana untuk beberapa waktu karena ada urusan dan Bapak pernah menolong anak saya yang waktu itu hampir tenggelam di sungai desa." Pak Selamet mengambil secangkir teh hangat yang disajikan oleh pembantunya dan menyerahkannya ke tangan Pak Karim. "Saya tidak pernah melupakan kebaikan Bapak saat itu."
Pak Karim mengerutkan kening, mencoba mengingat masa lalu. "Ya Tuhan, Pak... sekarang saya ingat. Saat itu ada anak kecil yang teriak meminta tolong saat saya sedang menangkap ikan dipinggiran sungai."
"Betul sekali," sambung Pak Selamet. "Kini anak itu sudah sukses dengan bisnis pertanian dan perdagangan, serta beberapa bisnis lain di kota. Saya tidak akan lupa untuk membalas budi Bapak. Baru-baru ini saya tahu kalau kondisi Pak Karim tidak terlalu baik, dan bahkan ada masalah yang akan menghadang keluarga Bapak. Saya rasa, ini saat yang tepat."
Pak Karim tertunduk lesu. Bayangan wajah Rara melintas di pikirannya.
"Bapak punya seorang anak perempuan yang baru saja lulus sekolah bukan?" Tanya Pak Selamet perlahan. "Namun sekarang ada seorang juragan tua kaya yang ingin menikahinya dengan dalih membantu kondisi perekonomian keluarga Bapak."
Hati Pak Karim terasa seperti tertusuk. "Itu benar, Pak. Mereka datang beberapa hari yang lalu dan menawarkan bantuan besar kalau anak saya mau menikah dengannya. Saya bingung, karena saya tidak ingin memaksakan anak saya tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Saya sadar, saya tidak akan menang melawan mereka yang ber-uang."
Pak Selamet menghela napas perlahan. "Saya tahu siapa orang itu. Pak Bejo, dia merupakan bawahan saya. Baru diberi sedikit kepercayaan, si tua bangka itu sudah berulah." Pak Selamet merasa geram.
"Tapi jangan khawatir, Pak Karim. Saya akan membantu Bapak dan keluarga. Ada seorang pemuda baik yang sangat mengagumi anak Pak Karim sejak lama. Dia tidak ingin melihat anak Bapak terjebak dalam pernikahan yang tidak diinginkan."
Pak Karim menatap Pak Selamet dengan mata penuh harap. "Siapa pemuda itu, Pak?"
"Anak saya—Aksara," jawab Pak Selamet dengan senyum. "Ya! Sudah lama Aksara mengagumi anak Bapak karena kebaikannya, ketulusannya dan tekadnya dalam belajar. Saya ingin Bapak bisa mempertimbangkan untuk bertemu dengan Aksara, agar Bapak tahu bahwa dia benar-benar ingin mempersunting anak Bapak secara baik-baik."
Mata Pak Karim mulai berkaca-kaca. Setelah sekian lama hidup dalam kesusahan dan khawatir tentang masa depan anaknya, tiba-tiba ada harapan yang muncul. Ia menggenggam cangkir teh dengan erat. "Saya bersedia, Pak Selamet. Saya hanya ingin melihat anak saya bahagia."
"Baiklah," ucap Pak Selamet sambil menepuk bahu Pak Karim dengan lembut. "Kita akan mengatur pertemuan sebentar lagi. Sekarang, mari kita makan dulu. Saya. sudah menyediakan makanan khas desa yang pasti Bapak kenal."
Sambil mengikuti Pak Selamet ke arah ruang makan, hati Pak Karim yang selama ini penuh beban mulai terasa lebih ringan. Mungkin saja jalan keluar terbaik bagi keluarganya ada di depan mata.
"Lebih baik saya menikahkan anak saya dengan anak Pak Selamet daripada menikahkan dengan lelaki tua bangka yang arogan itu. Memang pilihan yang berat, tapi kalau tidak menikahkan Rara dengan anak Pak Selamet, maka Juragan Bejo pasti akan terus memaksa. Lagipula, keluarga Pak Selamet jelas orang yang sangat baik dan rendah hati. Anggap saja keputusan saya ini sebagai penyelamat hidup putri saya sendiri."