NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26–Harapan

Tidak tahu sekarang langit berwarna apa, Chandra tetap diam menatap pintu UGD, menunggu kepastian yang tentunya ia harapkan. Di sampingnya ada kedua sahabatnya yang menemani. Tak selang lama, Surya, Pertiw dan Baskara datang bersamaan dengan nafas yang begitu tak tertata. Mereka semua menatap kearah Chandra. Baskara menghampiri Chandra dan berkata bahwa ibunya akan baik-baik saja.

Tapi Surya dan Pertiwi hanya diam tak mengatakan hal apapun, mereka berdua hanya menatap Chandra sejenak dengan tatapan rasa bersalah lau menunduh seolah mereka tahu kesalahan mereka yang padahal tak di ketahui oleh Chandra maupun Baskara.

“Yah…apa Ibu punya riwayat sakit?” tanya Chandra pendek “Apa memang Ayah tahu kalau Ibu sakit?” lanjutnya dengan mata sayu.

Surya menunduk dan diam seperti patung.

Chandra berganti menoleh kearah Pertiwi “Ma…apa Ibu punya riwayat sakit? Apa Mama tahu kalau Ibu punya riwayat sakit?”

Begitu pula dengan Pertiwi hanya menunduk dan mematung atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Chandra.

“Kenapa?” tanya Chandra kembali “Kenapa kalian merahasiakannya? Apa ini permintaan Ibu?”

Mereka berdua tetap diam.

“Kenapa kalian diam saja?” tanyanya berulang lalu mengambil nafas “KENAPA KALIAN MERAHASIAKANYA?”

Ruangan menggema oleh suara Chandra sejenak lalu ruangan sunyi kembali. Baskara melihat kearah kedua orang tuanya yang mematung, lalu melihat kearah Chandra kembali.

Baskara ingin berucap tapi sayangnya ucapannya, di hentikan oleh dokter dan perawat yang keluar dari ruang UGD. Sontak mereka semua berlari menuju sang dokter dengan tergesa-gesa menunggu jawaban yang diinginkan.

“Bagaimana…keadaan….saudara saya dok?” Tanya Surya terbata.

Dokter diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dua kali.

DEG

Chandra berlari kedalam UGD, ia melihat Ibunya terlentang di ranjang rawat. Terlihat pucat, kaku dan dingin. Ia melihatnya dengan mata yang melotot seakan tak percaya hari ini akan tiba. Ia meraba wajah Ibunya dengan nafas yang semakin tergesa.

“Hah…hah…hah…hah” nafasnya semakin tak terkendali.

Alera menghampirinya lalu menepuk pundak kanannya “Chand…”

“Hah…hah…hah”

Sekali lag Alera berkata “Chand…”

Chandra melepaskan kedua tangannya dari wajah Ibunya, di ganti meraba kedua dadanya sendiri “Hah…hah…hah”

Di depan matanya Ibunya terdiam kaku diatas ranjang. Dada nya terasa sesak, terasa panas, dan pikirannya tak terkontrol. Nafasnya semakin liar. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri terjatuh di antara lantai-lantai UGD.

Alera berteriak sekencang-kencangnya “CHAND…”

Mereka semua masih berada di luar langsung masuk kedalam ruangan. Dokter dengan cepat memerintah seseorang untuk membawa Chandra untuk di bawa di ruang perawatan. Alera dan Arka membuntuti perawat yang membawa Chandra. Baskara tetap di ruangan UGD dengan nafas yang tak terkontrol juga seakan tak kuasa menahan emosi yang datang terlalu tiba-tiba.

Sedangkan Surya dan Pertiwi hanya dapat diam melihat kearah Mandira yang kaku dan Chandra yang lemas. Keduanya merasa bersalah kepada Chandra, tapi memang ini lah permintaan dari saudaranya.

Keduanya menghampiri Mandira “Kak…apa kakak puas pergi lalu meninggalkan luka padanya?” ucap Surya pelan “Apakah kakak puas memberi kami rasa bersalah yang tak terukur ini?”

“Apa kalian berdua pantas menyalahkan orang yang sudah pergi?” Sela Baskara “Sungguh kalian berdua telah mengecewakanku, aku harap kalian tak menyesali perbuatan kalian” ungkapnya sebelum dia pergi menuju ruangan Chandra di rawat.

Mereka berdua diam tak menjawab apa-apa, namun setelah Baskara keluar dari ruangan UGD, Pertiwi sudah tak kuasa menahan tangisnya, ia menangis sejadi-jadinya. Bahkan lututnya sekarangpun tak kuat menahan untuk tak jatuh ke lantai. Ruangan tersebut seakan horor oleh tangis Pertiwi. Sedangkan Surya, dia membelakangi badan kaku kakaknya maupun istrinya dengan tangis. Air matanya jatuh perlahan lalu tak lama semakin deras.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!