NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restoran "The Glass Garden"

Gisel mengunci diri di bilik toilet lantai 40 yang saking mewahnya sampai ada wangi bunga lavender dan musik instrumen klasik. Ia langsung melakukan video call ke Budi dengan tangan yang gemetar.

​Toilet Eksklusif Lantai 40 Pukul 16.30.

​Gisel berbisik histeris "Bang Budiii! Angkat dong! Darurat militer nih!"

​Budi muncul di layar dengan latar belakang gudang yang bising

"Aduuuh, sayangkuh Gisel! Kenapa sih? Ada tikus masuk ke meja sekertaris kamu? Atau si Bos Kulkas itu akhirnya meledak?"

​"Lebih parah, Bang! Si Bos... si Kulkas 1000 Pintu itu... ngajak aku makan malem! Sekarang! Katanya mau bahas 'Logistik Manusiawi' atau apalah itu bahasanya dia. Aku harus gimana, Bang?!"

Layar HP Budi bergoyang-goyang karena dia loncat kegirangan

"DEMI APA?! MAKAN MALEM?! OH MY GOD! sayangkuh, itu namanya kencan! Date, Say! Date! Akhirnya es kutub itu mencair gara-gara radiasi debu gudang kamu!"

"Kencan apanya?! Dia itu cuma mau interogasi aku biar aku nggak nulis kejelekan dia di blog lagi! Masalahnya, Bang... liat muka aku! Bedak udah luntur kena debu gudang tadi, rambut acak-acakan, mana bau solar masih nempel dikit lagi!"

"Tenang, Say! Deep breath! Dengerin instruksi Eyke. Pertama, kamu buka tas kamu, ada kan bedak compact yang Eyke selipin di sela-sela buku catatan kamu?"

​Gisel membongkar tas kanvasnya "Ada, Bang! Tapi ini warnanya keputihan nggak sih?"

"Udah, sikat aja! Biar muka kamu kelihatan glowing di bawah lampu restoran mahal. Terus, itu rambut! Jangan dikuncir kuda kayak mau balapan karung gitu. Lepasin! Sisir pake jari, bikin agak messy-messy manja gitu biar kelihatan 'wanita karier yang sibuk tapi tetap syantik'."

​Gisel mencoba merapikan rambutnya di depan cermin toilet "Bang, kalau dia nanya yang aneh-aneh gimana? Kalau dia tiba-tiba bahas soal kontrak lagi?"

​"Kalau dia bahas kerjaan, kamu dengerin aja sambil manggut-manggut cantik. Tapi kalau dia natap mata kamu kelamaan, kamu jangan malah melotot balik kayak mau ngajak berantem sopir truk! Kedipin dikit, sayangkuh! Biar dia tau kalau kamu itu 'Singa yang bisa jinak'."

​Gisel mendumel sambil memoles lipstik warna dusty "Gila ya... aku bener-bener ngerasa kayak mau masuk kandang harimau. Bang, kalau jam 9 malem aku nggak kasih kabar, laporin ke polisi ya! Bilang aku diculik robot ganteng!"

​"Gak mungkin sayangkuh! Palingan jam 9 kamu udah asyik makan steak sambil ketawa-ketiwi. Inget ya, say! Jaga image! Jangan pesen kerupuk atau minta tambahan sambal terasi kalau di restoran bintang lima!"

​"Iya, iya! Doain aku ya, Bang. Aku jalan dulu, si Bos udah nunggu di depan lift.

​"Semangat, Say! Show him who's the real Queen of the South! Muach!"

"Makasih ya bang', lo sahabat paling ngerti aku"

"Sama-sama say, call eike jika yey butuh sesuatu ok. Bye.. bye cantik" Budi mengakhiri video gisel terlebih dahulu.

Gisel menarik nafas pelan, "Gini amat ya nasib gue" menatap cermin yang memantulkan dirinya.

**

Adrian sedang berdiri menyandar di dinding marmer dekat lift eksekutif, matanya tertuju pada jam tangan Rolex-nya yang menunjukkan pukul 17.02. Saat pintu toilet besar di ujung lorong terbuka, ia mendongak dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan, Adrian Bramantyo kehilangan kata-kata.

​Gisel melangkah keluar dengan canggung. Rambut hitamnya yang biasanya diikat asal-asalan kini terurai jatuh di bahunya, membingkai wajahnya yang sedikit lebih cerah karena bedak pemberian Budi. Jaket lapangan itu masih di sana, tapi entah kenapa, dengan rambut yang tergerai dan polesan lipstik berwarna dusty tipis, Gisel tidak lagi terlihat seperti "Singa Gudang" yang mau menerkam orang.

​Adrian terpaku. Tangannya yang hendak memasukkan ponsel ke saku jas tertahan di udara. Matanya menyisir penampilan Gisel dari atas ke bawah, berhenti agak lama di wajah Gisel yang tampak... sangat wanita.

​Gisel berhenti dua langkah di depan Adrian, wajahnya memerah karena malu

"Kenapa? Bapak mau ngetawain saya lagi? Mau bilang saya mirip gulali yang rambutnya kena angin puting beliung? Udah, nggak usah diliatin terus!"

​Adrian masih diam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya

"Gisella... kamu... kamu melepas ikatan rambutmu."

​Gisel mendumel sambil merapikan helaian rambut yang menutupi matanya

"Iya! Kata Bang Budi biar saya nggak kelihatan kayak mau balap karung! Bapak juga sih, ngajak makan malem dadakan banget. Saya nggak sempet ganti baju!"

​Adrian melangkah maju, berdiri sangat dekat sampai Gisel bisa mencium aroma parfum sandalwood dan blackpepper yang maskulin. "Jangan diikat lagi. Kamu terlihat... jauh lebih manusiawi seperti ini."

​Gisel jantungnya mendadak berdegup kencang, ia mendongak menatap mata Adrian

"Maksud Bapak, biasanya saya kayak siluman gitu?"

​Sudut bibirnya terangkat tipis, kali ini bukan senyum sinis, tapi senyum yang tulus

"Bukan. Biasanya kamu terlihat seperti tentara yang siap perang. Kali ini... kamu terlihat seperti seseorang yang saya ingin ajak bicara, bukan seseorang yang ingin saya beri perintah."

​Gisel salah tingkah, ia langsung menoleh ke arah pintu lift yang terbuka

"Udah ah! Liftnya udah buka! Ayo masuk, nanti keburu restoran-restoran mahal itu tutup gara-gara kelamaan liatin rambut saya!"

​Adrian terkekeh rendah suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di lantai 40. Ia mengikuti Gisel masuk ke dalam lift yang berdinding cermin. Di dalam lift yang sempit itu, bayangan mereka berdampingan terlihat sangat kontras Adrian yang serba hitam-putih dan tajam, dengan Gisel yang mengenakan jaket lapangan berwarna Navi dan berantakan namun cantik.

​Adrian menatap pantulan Gisel di cermin lift "Gisel"

​"Apa lagi, Pak?"

Mulai sekarang jangan panggil saya 'Pak'. Panggil saja 'Adrian'. Di luar kantor, saya bukan atasan kamu."

​serem matanya membelalak) "Hah?! Panggil 'Adrian' doang? Nanti kalau saya keterusan manggil Bapak 'Woy, Adrian' pas di gudang gimana? Nggak mau ah, serem!"

​"Dicoba saja. Anggap itu latihan untuk 'Logistik Manusiawi' yang kamu bangga-banggakan tadi."

Sejenak Gisel terdiam memikirkan sesuatu dia tidak ingin di atas angan sudah diberikan kebebasan memanggil nama bos kulkasnya itu.

"Kenapa Sel? " tanya Adrian

"Pak, gini ya saya nggak mau disebut tidak sopan jika memanggil bapak dengan sebutan nama langsung. Maka jika berkenan saya panggil Kak Adrian saja ya, biar kelihatan masih sopan gitu" ucap Gisel

Adrian mengerutkan dahinya "Kak Adrian? "

"Yah biar lebih manusiawi seperti kata bapak, daripada saya manggilnya beruang kutub kan horor lagi pak"

"Terserah kamu mau panggil saya apa jika kita hanya berdua, asalkan jangan ada embel-embel pak, perih telinga saya kamu panggil pak dengan suara cempreng mirip petasan banting" ucap Adrian

Gisel mendumel pelan "Dasar banyak protes, maunya dituruti mulu ni kulkas"

"Saya dengar Gisel"

"Iya pak" ucap Gisel, Adrian menatap tajam. "Ekh.. Kak Adrian maksudnya" ucap Gisel lalu memutar bola matanya dengan malas.

**

Mobil sedan mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu gedung. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya terdengar petikan gitar jaz pelan dari pengeras suara mobil. Gisel duduk kaku, tangannya meremas tas kanvasnya kuat-kuat.

​Adrian menyetir sendiri sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia melirik Gisel yang sejak tadi hanya menatap kaca jendela, seolah-olah trotoar jalanan adalah pemandangan paling menarik di dunia.

​"Gisel. Kamu mendadak bisu? Biasanya dalam durasi sepuluh menit, kamu sudah mengeluarkan minimal lima komplain tentang sistem perusahaann"

​Gisel menoleh pelan, wajahnya masih agak merah "Ya... saya lagi loading ini! Bapak... eh, Anda... ah, tau ah! Susah banget lidah saya mau merubah panggilan!"

​"Coba saja. Kak Adrian. lebih tiga suku kata. Tidak sesulit menghitung 5.000 palet di gudang Surabaya, kan?"

​Gjsel mengambil napas panjang, lalu membuangnya kasar "Oke, oke! Em... Kak..Ad... Adri... an. Tuh! Puas?! Aduh, rasanya kayak lagi manggil hantu, merinding semua badan saya!"

​Adrian terkekeh rendah, suara tawanya yang bariton mengisi ruang kabin.

"Kenapa? Apa nama saya terdengar seperti mantra kutukan?"

​"Ya iya! Di telinga saya, nama Bapak maksud saya, nama Kak Adrian itu sinonim sama kata 'Lembur', 'Potong Gaji', sama 'Rapat Dadakan'! Jadi aneh banget manggil kayak temen biasa!"

​"Mungkin karena kamu terlalu sering melihat saya sebagai 'Bos Kulkas' di blog kamu. Padahal, saya juga makan nasi, bukan makan data digital."

​Gisel Mulai kembali ke sifat aslinya, sedikit mendumel "Habisnya kak Adrian itu kaku banget! Nyetir aja posisinya tegak banget kayak lagi upacara bendera. Santai dikit kek, Kak Ian!"

Ekh boleh ngga saya panggilnya Kak Ian saja?"

​Adrian sempat tertegun sejenak. Belum ada orang di dunia profesionalnya yang berani memanggilnya dengan nama panggilan sependek itu.

​"Kak Ian? Hm... kedengarannya seperti nama karakter di komik remaja. Tapi... ya, silakan. Jika itu membuatmu tidak gemetaran lagi."

​"Siapa yang gemetaran?! Saya cuma... kedinginan! AC mobil mewah ini emang beda ya, nusuknya sampe ke tulang!"

​Adria mengecilkan suhu AC tanpa diminta "Sudah lebih baik, tuan putri Gudang?"

​Gisel bmelenyap ke balik kursi, menahan senyum "Tuan Putri... pala kamu peyang Kak! Udah, jalan aja yang bener! Kita mau makan di mana sih? Jangan bilang ke tempat yang sendoknya ada lima macem ya, saya pusing pakenya!"

​"Kita ke tempat yang mungkin kamu sering kunjungi, tapi kursinya tidak membuat tulang punggungmu bergeser. Sabar sedikit, Kak Ian akan membawamu ke sana."

Gisel bergedik ngeri, mendengar suara Adrian yang biasanya dingin mendadak menjadi manja dan lembut untuk menarik perhatian lawan jenis.

"Ni Kulkas nggak lagi korsleting kan? sepertinya freonnya bermasalah" ucap Gisel lirih namun dapat didengar oleh Adrian, tanggapan Adrian tersenyum tipis mendengar ocehan Gisel.

**

Mobil berhenti di depan sebuah restoran fine dining dengan konsep glass house yang dikelilingi taman lampu. Begitu mesin mati, seorang petugas valet berlari mendekat, namun Adrian memberi isyarat tangan agar petugas itu menunggu.

​Adrian turun lebih dulu, merapikan jasnya sejenak, lalu melangkah memutari kap mobil menuju pintu penumpang.

​Depan Restoran "The Glass Garden"

​KLAK.

​Adrian membukakan pintu mobil untuk Gisel. Ia berdiri tegak, satu tangannya menahan pintu, sementara tangan lainnya seolah mempersilakan Gisel keluar.

​Gisel membeku di kursi penumpang, matanya melotot "Bapak—maksudnya, Kak Ian... Kamu ngapain? Pintu mobil saya nggak rusak kok, bisa buka sendiri!"

​Adrian enatap Gisel datar tapi ada binar geli di matanya "Ini namanya etika, Tuan Putri. Di luar kantor, saya yang melayani sekretaris saya. Sekarang, turunlah sebelum petugas valet itu mengira saya sedang menculik kamu."

​Gisel turun dengan gerakan kaku, Adrian menutup pintu dan berjalan menuju pintu restoran. Gisel mengikuti dari belakang.

​Petugas Restoran membungkuk hormat, wajahnya tampak bingung melihat kontras antara Adrian yang elegan dan Gisel yang membawa tas kanvas kumal

"Selamat malam, Pak Adrian. Meja reservasi Bapak di sudut taman sudah siap."

"Terima kasih." Adrian secara alami menaruh telapak tangannya di punggung bawah Gisel tidak menyentuh, hanya memberi arah dan menuntunnya masuk.

​Gisel berbisik histeris sambil jalan merapat

"Kak Ian! Lepasin tangannya! Orang-orang ngeliatin kita kayak lagi liat pertunjukan sirkus! Aku ngerasa kayak lampion terbang di sini!"

"Biarkan saja. Mereka hanya heran melihat saya akhirnya membawa 'manusia' ke sini, bukan tumpukan dokumen. Dan berhentilah menunduk, Gisel, Kamu adalah satu-satunya orang yang berani menggebrak meja saya. Masa takut sama pelayan restoran?"

​Begitu mereka sampai di meja, seorang pelayan menarikkan kursi untuk Gisel. Gisel duduk dengan sangat hati-hati, seolah kursi itu terbuat dari kristal yang gampang pecah. Di atas meja, sudah tersedia tiga jenis garpu dan dua jenis pisau.

​Gisel melihat peralatan makan, lalu menoleh ke Adrian dengan wajah pucat

"Kak Ian... ini garpu banyak bener buat apaan? Mau makan atau mau bongkar mesin truk? Saya cuma punya dua tangan, nggak butuh senjata sebanyak ini!"

​Adrian duduk di depannya, melipat serbet dengan tenang

"Tenanglah. Gunakan saja yang paling luar untuk makanan pembuka. Lagipula, kalau kamu bingung, kamu boleh pakai tangan kosong. Saya tidak akan memotong gajimu karena etika makan yang buruk."

​Gisel mendumel sambil memegang sendok kecil "Bohong! Nanti besok pasti ada pasal baru di kontrak: 'Sekretaris dilarang makan pake tangan'. Bapak-- eh, kak Ian —itu emang hobi banget ya bikin aku ngerasa jadi rakyat jelata di negara orang?"

​Adrian menatap Gisel lekat-lekat, suaranya melunak "Justru sebaliknya. Saya membawa kamu ke sini karena saya ingin melihat kamu di tempat yang tenang. Di gudang, suaramu kalah oleh mesin. Di kantor, suaramu kalah oleh prosedur. Di sini... saya ingin mendengar apa yang sebenarnya kamu pikirkan tentang saya."

​Gisel terdiam. Ia menatap mug kucing galaknya yang ternyata diam-diam ia bawa masuk ke dalam tas kanvas dan kini ia taruh di samping gelas kristal restoran yang mewah. Kontras yang sempurna.

​"Mau denger yang jujur atau yang bikin Bapak—eh, kak Ian—seneng?"

"Yang paling menyakitkan pun, saya akan dengar."

"Sudahlah lupakan, bisa membuat energi saya habis buat ngomong jujur ke bapak,, ekh maksudnya saya Kak Ian"

Adrian menggeleng pelan sudut bibirnya tertarik tipis, kenyamanan di dekat Gisel saat ini belum disadarinya.

to be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!