Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29-CKOD 29
Bella yang sudah selesai dengan hukuman berlututnya kembali ke dalam kamar. Tangannya masih menggenggam gulungan rambutnya yang di gunting oleh Rachel. Semakin hari, seperti keluarga ini benar-benar semakin berani melakukan apapun padanya.
'Kakak, cepatlah kembali!' batinnya.
Dan di luar, keadaan masih sangat ramai.
"Aku gak mau tahu, bagaimana bisa hanya karena di parkir, jadi begini?" tanya Rachel.
Karena biasanya dia memarkirnya di manapun belum pernah ada kejadian seperti itu.
Vivian tentu saja ikut bertanggung jawab akan masalah itu. Tapi, dia juga tidak punya mobil listrik, mana paham dia masalah itu.
"Rachel sayang, ini mungkin mesin mobilnya saja yang sedang bermasalah! tidak masalah. Yang penting kamu tidak apa-apa. Bagus hal itu terjadi saat kamu tidak berada di dalam mobil kan?" tanya Vivian.
Sebenarnya kalimat dari wanita paruh baya itu juga tidak sepenuhnya terkesan membela Rachel. Malah sedikit memberikan kesan kalau Rachel harusnya tidak memperpanjang masalah ini.
"Tapi Tante..."
"Rachel, kamu sendiri juga sudah lihat rekaman kamera pengawasnya. Tidak ada yang mendekati mobil kamu! secara tiba-tiba muncul asap. Kamu bisa jadikan kamera pengawas ini sebagai penjelasan pada orang tua kamu nanti. Oke!" bujuk Vivian lagi. Tentu saja dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada keluarga Kelana.
Rachel mendengus kesal.
"Biar aku yang antar kamu pulang!" kata Desy yang merangkul lengan Rachel.
"Baiklah" sahut Rachel yang juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena memang buktinya seperti itu, tidak ada yang mendekati mobilnya. Asap itu tiba-tiba saja muncul.
Sedangkan di dalam kamar, Rara yang sudah selesai menyaksikan pertunjukan yang cukup menarik. Ya, membuat Rachel kesal meskipun sedikit, tapi itu cukup menarik. Rara pergi ke kamar Bella untuk melihat bagaimana kondisi nonanya itu.
Rara membawakan makanan dan minuman untuk Bella. Sambil mengobati beberapa luka lama Bella, Rara menceritakan apa yang terjadi di luar tadi.
"Nona akan senang ketika melihat wajahnya yang merah karena marah. Tapi tidak bisa bicara apa-apa lagi karena memang tidak ada bukti!" kata Rara tersenyum.
Bella yang mendengar itu tersenyum tipis. Setidaknya beberapa hal akan sedikit berubah dengan adanya Rara dan Ted. Kalau tadi tidak ada mereka. Mungkin Bella akan benar-benar botak, dan suaminya hanya akan diam saja bahkan akan meremehkannya lagi. Bagi Leo, siksaan keluarganya padanya, asalkan dia masih hidup, itu tidak masalah.
Bella menghela nafas panjang.
"Kamu tidak makan?" tanya Bella.
"Nona saja, aku bawakan semua ini untuk nona. Oh ya, hari ini kasusnya sudah dapat persetujuan. Minggu depan adalah sidangnya. Mungkin nanti mereka akan mendapatkan pemberitahuan untuk sidangnya. Nona, mungkin satu minggu ini, keluarga ini akan melampiaskan kekesalan mereka padamu. Bisakah kamu..."
Bella menepuk punggung tangan Rara.
"Tidak masalah!" sela Bella, "aku sudah menjadi bulan-bulanan mereka setahun lebih. Hanya saya minggu, itu tidak akan membuatku mati...!"
"Nona" mata Rara berkaca-kaca, "jangan bilang begitu! tidakkah nona ingin membalas mereka. Setelah tuan bebas. Nona adalah adik satu-satunya tuan Bagas Abimanyu Prasetya, apa yang tidak bisa tuan berikan pada nona. Balas mereka, nona. Setiap luka di tubuh nona, setiap helai rambut yang jatuh, setiap air mata, darah dan keringat nona. Balas mereka!" Rara sampai menangis ketika mengatakan semua itu.
Air mata yang penuh dengan kebencian pada keluarga Alexander. Bukan hanya karena Bella adalah adik majikannya. Tapi karena keluarga ini tidak punya hati. Memangnya salah Bella apa? sampai mereka semua berbuat seenaknya, menghina, merendahkan, bahkan menyakiti fisik dan mentalnya.
Bella tersenyum. Mungkin memang harus seperti itu. Tadinya dia nyaris menyerah, pikirannya sudah mengarah ke arah, bagaimana kalau dia mengakhiri hidupnya saja. Satu tahun lebih lamanya, kakaknya amnesia, dia tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Satu tahun itu tidak sebentar, mungkin Rara benar. Dia harus membalasnya.
"Jadikan setiap rasa sakit nona sebagai motivasi. Ingat! jangan menyerah ya nona. Tinggal sebentar lagi! tuan akan membawa nona dari sini!" Rara benar-benar terisak.
Bella merentangkan tangannya memeluk Rara.
"Iya, ada kalian juga. Aku tidak akan apa-apa!"
Kalau di lihat dari posisinya sekarang. Malah jadi bukan seperti Rara yang sedang menenangkan Bella. Tapi Bella yang menenangkan Rara yang terisak.
Dan seperti yang di katakan oleh Rara. Keputusan untuk peninjauan kembali kasus kecelakaan yang terjadi satu tahun lebih yang lalu. Yang melibatkan Bagas Abimanyu Prasetya dan Lusi Alexander. Kasus itu benar-benar di buka. Bukti dari Miranda Julia, keterangan saksi bernama Miko dan bukti rekaman kamera pengawas di basemen klub malam, menjadi bukti kuat. Di duga, bahwa yang mengemudi mobil itu bukan Bagas Abimanyu Prasetya tapi Lusi Alexander sendiri.
Dan saat ini, pengacara Nicklas Caleb telah berada di kantor Bima Alexander untuk menyampaikan surat pemberitahuan tentang dibukanya kembali kasus itu. Sekaligus mengundang mereka untuk datang ke persidangan satu minggu lagi.
Begitu Bima Alexander membaca surat itu, tangannya terkepal. Bahkan bahunya terlibat naik turun dengan cepat.
"Apa-apaan ini?" pekiknya sambil melemparkan surat itu ke depan pengacara Nicklas dan juga timnya yang berjumlah dua orang di belakangnya.
Pengacara Nicklas masih tetap tenang. Dia masih duduk dengan sangat tenang, tidak terpengaruh dengan lemparan kertas yang sebenarnya merupakan perbuatan yang sangat tidak sopan itu.
Bahkan pengacara Nicklas tersenyum ke arah Bima Alexander.
"Seperti yang tertera pada surat itu tuan Bima Alexander. Satu minggu lagi, sidang kasus kecelakaan nona Lusi, maksud saya mendiang nona Lusi Alexander akan kembali di gelar. Kasus itu sudah di buka karena sudah mendapatkan persetujuan peninjauan kembali dari Mahkamah agung. Saya hanya mengikuti prosedurnya saja untuk menyampaikan hal ini pada tuan Bima Alexander selaku keluarga Lusi Alexander. Baiklah, saya akan permisi kalau begitu. Sampai bertemu satu minggu lagi di pengadilan!"
Baru setelah menjelaskan semuanya pada Bima Alexander yang terlihat geram. Pengacara Nicklas dan timnya berdiri. Karena jelas sekali terlihat rahang pria paruh baya itu mengeras. Tangannya juga terkepal sejak melemparkan surat itu tadi. Pengacara Nicklas tahu kalau Bima Alexander pasti sangat kesal.
Tapi mau bagaimana? dia jelas mengetahui siapa yang layak dipersalahkan dalam kasus ini.
"Selamat sore!"
Pengacara Nicklas tidak menunggu respon dari Bima Alexander. Dia keluar diikuti timnya satu persatu.
Dan begitu pintu tertutup. Bima Alexander mengambil sebuah vas bunga yang ada di atas meja dan membantingnya.
Prangg
Dari luar, pengacara Nicklas yang memang belum jauh tentu saja mendengar itu. Dia hanya melirik meremehkan.
'Aneh, dia yang salah. Dia juga yang marah' batinnya. Karena dia memang sudah tahu, orang yang memindahkan Bagas Abimanyu Prasetya ke kursi pengemudi adalah Bima Alexander.
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈