Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
obsesi
Dengan wajah yang tampak masih sangat lelah, ia kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jasmine, seolah itu adalah satu-satunya tempat peraduan yang ia inginkan.
"Tuan... saya rasa saya harus pergi secepatnya dari sini," bisik Jasmine, suaranya bergetar hebat.
"Saya tidak bisa terus begini."
Aksa membuka satu matanya, menatap Jasmine dari bawah dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu mau pergi ke mana, hah?"
"Maaf Tuan, saya takut identitas saya terungkap. Jika Bara tahu, ini akan menjadi masalah besar bagi saya dan agensi," ucap Jasmine dengan nada putus asa.
"Kamu takut itu?" tanya Aksa datar.
"Iya, Tuan. Saya tidak ingin hidup saya hancur lagi."
Aksa menghela napas, jemarinya memainkan ujung kaos yang dikenakan Jasmine. "Tenang saja. Dia teman kepercayaanku. Dia tidak akan membocorkan ini pada siapa pun tanpa izinku."
Jasmine terdiam, namun rasa cemasnya tidak berkurang sedikit pun. Keheningan itu tiba-tiba pecah ketika Aksa melakukan gerakan yang sangat mendadak. Dengan satu sentakan pelan namun pasti, Aksa menarik bagian bawah baju Jasmine ke atas, menyingkap kulit perutnya yang putih dan halus.
Sebelum Jasmine sempat memproses apa yang terjadi, Aksa memiringkan wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat tepat di perut rata Jasmine.
"Lepaskan!" pekik Jasmine. Ia mencoba mendorong bahu Aksa dan menutupi kembali tubuhnya.
Namun, Aksa jauh lebih kuat. Ia segera menangkap kedua pergelangan tangan Jasmine dengan satu tangan, menguncinya di atas sofa sehingga Jasmine tidak bisa berkutik.
Aksa menatap lekat perut Jasmine yang naik-turun karena napas yang memburu.
"Perut kamu masih rata ya..." bisiknya dengan suara rendah membuat bulu kuduk Jasmine meremang.
"Dulu aku sangat ingin benihku tumbuh di sini, Jasmine," lanjut Aksa, jemarinya kini mengusap lembut kulit perut itu dengan gerakan melingkar.
"Dan sampai sekarang pun... aku masih sangat menginginkannya."
"Tuan... tolong lepaskan saya," ucap Jasmine.
Aksa tidak bergerak. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di sana, seolah menghirup aroma tubuh Jasmine yang selalu ia rindukan.
"Saya di sini bekerja, Tuan. Saya adalah asisten rumah tangga Anda, bukan mainan Anda," lanjut Jasmine lagi.
"Tolong hargai kontrak kerja kita. Jangan buat saya semakin membenci Anda."
Jasmine berusaha berdiri, namun suara Aksa yang berat dan penuh tuntutan menghentikan gerakannya. Pria itu masih bersandar di sofa, menatapnya dengan tatapan yang seolah hendak menelanjangi jiwanya.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Jasmine?" tanya Aksa.
"Saya tidak pernah mencintai Anda, Tuan."
Aksa tertegun sejenak. Ia terkekeh sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga. "Ah, benarkah? Jadi selama ini cinta saya bertepuk sebelah tangan rupanya. Begitu?"
Belum sempat Jasmine menjawab atau melangkah pergi, gerakan Aksa jauh lebih cepat dari kilat. Pria itu tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya dan menyambar bahu Jasmine. Dengan satu dorongan kuat namun terkendali, ia mendorong tubuh Jasmine ke atas sofa hingga wanita itu terbaring di bawah kungkungannya.
"Katakan..." bisik Aksa tepat di depan bibir Jasmine.
"Katakan kalau kamu mencintai saya, Jasmine!"
Jasmine memalingkan wajahnya, dadanya naik-turun karena napas yang sesak. "Lepaskan, Tuan... ini salah..."
"Tidak ada yang salah jika itu menyangkut milikku," desis Aksa, semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
"Katakan sekarang, atau aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini"
Jasmine mulai meronta hebat. Tubuhnya menggeliat di bawah kungkungan tubuh kekar Aksa.
"Lepaskan saya, Tuan! Tolong lepaskan!" seru Jasmine dengan suara bergetar, napasnya tersengal-sengal karena panik.
"Jawab saya dulu, Jasmine! Katakan kalau kamu masih mencintaiku!" bentak Aksa.
Jasmine justru mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia memalingkan wajah ke samping, enggan menatap mata elang Aksa yang berkilat penuh obsesi.
"Tetap diam, hah?" desis Aksa gelap.
Tanpa peringatan, Aksa menyambar dagu Jasmine dan memaksa wanita itu menghadapnya. Aksa seolah kehilangan akal sehatnya. Ia melumat bibir Jasmine dengan rakus, meluapkan segala kemarahan dan kerinduan yang telah ia pendam selama tiga tahun terakhir. Ciuman itu terasa kasar dan menuntut, seakan ingin menegaskan bahwa Jasmine masihlah miliknya.
Jasmine terus meronta-ronta di bawah kungkungan tubuh kekar Aksa. Tangannya yang terkunci berusaha melepaskan diri, kakinya menendang angin, dan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan Aksa. Namun, tenaga pria itu jauh lebih besar.
Perlahan, lumatan Aksa yang tadinya kasar mulai berubah. Intensitasnya menurun, gerakannya menjadi lebih dalam dan lembut.
Namun, Jasmine tidak merasakan kelembutan itu sebagai kasih sayang. Baginya, itu adalah jeratan yang menyesakkan.
"Mmph... Akh..."
Dunia Jasmine mulai berputar. Pasokan oksigen ke paru-parunya terputus. Wajahnya yang semula merah padam kini mulai pucat, dan dadanya terasa sesak luar biasa. Saat Jasmine mulai kehabisan napas, ia mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya.
Bugh! Bugh!
Kedua tangan Jasmine yang tadi terhimpit berhasil lepas dan langsung memukul dada bidang Aksa dengan keras.
Aksa tersentak. Ia segera melepaskan tautan bibir mereka, memberikan ruang bagi Jasmine untuk menghirup udara.
"Hah... hah... hah..."
Jasmine meraup oksigen dengan rakus, tubuhnya gemetar hebat di atas sofa. Matanya yang berkaca-kaca menatap Aksa dengan tatapan penuh luka dan kebencian.
Aksa terpaku menatap wajah Jasmine. Ada kilat penyesalan di matanya, namun egonya yang setinggi langit menolak untuk tunduk. Ia memperhatikan bibir Jasmine yang membengkak dan kemerahan akibat perbuatannya.
Dengan gerakan perlahan, Aksa mengulurkan tangannya. Ia menghapus sisa saliva di sudut bibir Jasmine menggunakan ibu jarinya.
"Jangan menangis begitu. Aku tidak menyukainya," ucap Aksa.
Ia menatap mata Jasmine yang berkaca-kaca untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya bangkit berdiri. Aksa merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, lalu tanpa sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Jasmine yang masih tergeletak lemas di atas sofa.
Brak!
Suara pintu kamar utama yang tertutup keras menggema di seluruh penjuru penthouse.
Jasmine masih terpaku di posisinya. Dadanya naik-turun, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Ia menyentuh bibirnya yang terasa perih dengan punggung tangan.
jasmine merasa jijik.
Ia merasa jijik pada Aksa yang memperlakukannya seperti barang, namun yang lebih menyakitkan adalah rasa jijik pada dirinya sendiri.
Jasmine segera bangkit dan berlari menuju wastafel dapur. Ia memutar keran air dengan kasar dan membasuh bibirnya berulang-ulang, seolah ingin menguliti kulitnya sendiri agar jejak Aksa benar-benar hilang dari sana.
Di dalam kamar utama yang remang-remang, Aksa menyugar rambutnya dengan kasar.
"Argh!"
Aksa memukul kusen jendela dengan tinjunya, menciptakan suara dentum yang meredam kesunyian kamar.
"Kenapa... kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri saat bersamanya?!" geram Aksa pada dirinya sendiri.
Selama tiga tahun ini, ia dikenal sebagai pria yang dingin, tak tersentuh, dan selalu memegang kendali penuh atas segala situasi. Namun, hanya dengan melihat Jasmine hanya dengan menghirup aroma tubuh wanita itu seluruh benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah runtuh seketika.
Ia membenci kenyataan bahwa ia masih sangat menginginkan Jasmine.
"Dia hanya asisten rumah tangga sekarang, Aksa! Sadarlah!" bisiknya pedih, mencoba mendoktrin otaknya sendiri.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....