NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PILIHAN

Arka tidak langsung pulang setelah pertemuan dengan Sera.

Dia berjalan sendirian di trotoar Menteng yang basah, membiarkan gerimis membasahi jaketnya, melewati toko-toko yang sudah mulai menutup lampu, melewati orang-orang yang bergegas pulang dengan payung-payung mereka—orang-orang yang, bagi Arka, tiba-tiba terlihat berbeda.

Setiap orang yang dia lewati punya jaringan kehidupan mereka sendiri—orang tua, sahabat, kekasih, anak-anak—jaringan yang rapuh, yang bisa berubah total hanya karena satu kebetulan kecil yang bergeser beberapa menit, beberapa langkah, satu keputusan yang tampak tidak penting.

Dan Sera benar. Tidak ada cara untuk tahu mana kebetulan yang penting, sampai sudah terlambat.

Sampai di apartemen, Arka duduk di lantai, bersandar ke dinding, menatap foto-foto pemandangan yang menghiasi ruangannya. Untuk pertama kalinya, dia memperhatikan sesuatu yang selama ini tidak dia sadari.

Foto-foto itu semua diambil di pagi atau sore hari—waktu-waktu ketika cahaya paling lembut, ketika bayangan paling panjang. Dia ingat sekarang, setiap kali memotret, dia selalu menunggu sampai tidak ada orang di frame. Menunggu sampai semuanya kosong.

Apakah aku sudah jadi seperti ini sejak dulu? Atau apakah ini... efek dari sesuatu yang sudah berubah, tanpa aku sadari?

Pikiran itu membuatnya merinding. Bagaimana jika perubahan-perubahan kecil sudah terjadi, jauh sebelum dia menyadari kekuatannya—riak-riak kecil dari sesuatu yang dia lakukan tanpa sengaja, di masa lalu yang lebih jauh, yang sudah membentuk dirinya menjadi orang yang sekarang, tanpa dia pernah tahu versi lain dari dirinya yang seharusnya ada?

Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak akan pernah punya jawaban.

Malam itu, ponselnya berbunyi. Pesan dari Nadia.

"Hei. Aku tau kamu lagi banyak pikiran. Aku nggak akan tanya macem-macem. Tapi aku cuma mau bilang—aku di sini. Kalau kamu butuh, telepon aja, jam berapa pun."

Arka menatap pesan itu lama. Sesuatu di dalam dadanya terasa hangat—dan dingin, pada saat yang sama.

Hangat, karena dia tahu Nadia tulus.

Dingin, karena dia baru menyadari sesuatu yang mengerikan: jika dia melakukan perjalanan waktu lagi—jika dia mengubah apa pun, sekecil apa pun—dia bisa kehilangan Nadia juga, seperti Damar. Tanpa peringatan. Tanpa kesempatan berpamitan. Hanya... lenyap. Diganti oleh dunia baru di mana Nadia tidak pernah jadi bagian dari hidupnya.

Untuk pertama kalinya, Arka merasakan sesuatu yang baru: bukan keinginan untuk mengubah masa lalu, tapi ketakutan—ketakutan untuk kehilangan kemampuan mengontrol apa yang akan dia kehilangan.

Dia mengetik balasan.

"Makasih, Nad. Beneran. Besok aku ke tempat kamu, ya? Aku pengen ngomong banyak hal. Pelan-pelan."

Balasan datang cepat. "Oke. Aku tunggu. Istirahat ya."

Arka meletakkan ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia merasa sedikit—hanya sedikit—lebih ringan.

Tapi malam itu juga, sesuatu yang lain terjadi—sesuatu yang tidak diundang, tidak direncanakan.

Arka tertidur di sofa, masih dengan baju yang dia pakai sepanjang hari, terlalu lelah untuk pindah ke kamar. Dalam tidurnya, dia bermimpi.

Dia bermimpi tentang Damar.

Bukan kenangan yang dia tahu—bukan kenangan dari "dunia lama" yang sekarang sudah tidak ada. Tapi sesuatu yang baru. Sesuatu yang terasa seperti... pesan.

Dalam mimpi itu, Arka berdiri di sebuah lapangan kosong, langit berwarna abu-abu yang tidak bisa dibedakan antara pagi atau senja. Di kejauhan, dia melihat sosok—seseorang yang berdiri membelakanginya, mengenakan jaket yang familiar, kacamata yang sering melorot.

"Damar?" panggil Arka, suaranya bergetar.

Sosok itu menoleh sedikit—cukup untuk Arka melihat separuh wajahnya, tersenyum, seperti biasa.

Tapi sosok itu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangan—seperti melambai, atau mungkin seperti memberi tanda untuk berhenti, Arka tidak bisa membedakannya—lalu berjalan menjauh, semakin jauh, sampai sosoknya larut ke dalam abu-abu langit, seperti tinta yang luntur di air.

Arka mencoba berlari mengejarnya, tapi kakinya tidak bisa bergerak, seperti terjebak di lumpur yang tak terlihat.

"Damar! Tunggu—aku bisa—aku bisa benerin ini—"

Sosok itu sudah hilang sepenuhnya. Dan di tempatnya, muncul satu kalimat—tidak terucap, tapi muncul begitu saja di kepala Arka, seperti pikiran yang bukan miliknya:

Nggak semua hal butuh dibenerin, Ka. Beberapa hal cuma butuh di ikhlaskan.

Arka terbangun dengan jantung berdebar kencang, napasnya terengah-engah, seperti baru selesai berlari.

Dia duduk di sofa, gelap masih menyelimuti ruangan, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang menembus jendela.

Air matanya mengalir—bukan tangis yang menyakitkan seperti biasanya, tapi sesuatu yang lebih lembut, lebih seperti pelepasan.

"Maaf, Dam," bisiknya ke ruangan kosong. "Maaf aku nggak pernah... nggak pernah sempat kenal kamu di dunia ini. Tapi makasih. Buat semua yang kita punya, di dunia yang... yang udah nggak ada."

Dia tidak tahu apakah mimpi itu nyata—apakah itu benar-benar "pesan" dari sesuatu, atau hanya cara otaknya sendiri memproses kehilangan yang tidak bisa dia proses dengan cara normal.

Tapi entah bagaimana, mimpi itu memberinya sesuatu yang dia butuhkan: izin.

Izin untuk berhenti. Izin untuk menerima bahwa ibunya hidup—dan itu, meski datang dengan harga yang menyakitkan, adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang tidak perlu dia "perbaiki" lebih jauh.

Esok paginya, Arka bangun dengan perasaan yang berbeda—lebih tenang, meski masih ada kesedihan yang mengendap di dasar dadanya, seperti sedimen yang tidak akan pernah benar-benar hilang, hanya mengendap, menjadi bagian dari dirinya.

Dia memutuskan satu hal.

Dia akan menemui ibunya.

Bukan ibunya di masa lalu—tapi ibunya di masa sekarang. Ibunya yang hidup, yang sekarang berusia lebih tua, yang tinggal di rumah yang sama, di kota yang sama, menjalani hidup yang—karena perubahan yang Arka buat—berlanjut, bertahun-tahun lebih lama dari yang seharusnya.

Dia belum pernah benar-benar mengunjunginya. Bukan karena tidak bisa—tapi karena dia takut. Takut bahwa melihat ibunya hidup, setelah enam belas tahun membayangkan dia tiada, akan terlalu berat untuk ditanggung.

Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi—setelah Damar, setelah Sera, setelah mimpi semalam—Arka tahu, dia harus melakukannya.

Dia harus melihat dengan matanya sendiri: bahwa yang dia selamatkan, nyata. Dan bahwa itu cukup.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!