NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 9 : JAMUAN MAKAN MALAM YANG BERACUN

Malam berikutnya kembali membungkus kediaman megah keluarga Wijaya dengan atmosfer yang menyesakkan dada. Di ruang makan bernuansa klasik mewah yang didominasi warna emas dan marmer hitam, meja panjang berbahan kayu jati pilihan telah dipenuhi dengan berbagai hidangan makan malam yang disiapkan oleh para pelayan. Namun, kehangatan makanan itu sama sekali tidak mampu mencairkan hawa dingin permusuhan yang selalu menyelimuti rumah neraka tersebut.

Kalea Azzahra Putri Wijaya melangkah turun dari tangga lantai dua dengan keanggunan yang kokoh. Luka di dahinya tertutup sebagian oleh lilitan jilbab segiempat berwarna marun yang dipasang rapi dengan gaya modis masa kini. Ia mengenakan atasan tunik panjang longgar berwarna putih tulang yang dipadukan dengan celana kain hitam. Meskipun wajahnya masih menyisakan sisa pucat dari kejadian penyiraman jus kemarin siang, Kalea tetap terlihat sangat cantik, tegas, dan memancarkan wibawa alami seorang manajer hotel bintang lima yang pantang terlihat rapuh.

Di meja makan, Hermawan Wijaya, Sarah Wijaya, dan Fitri Amelia Wijaya sudah duduk di posisi mereka masing-masing. Di sebelah Fitri, duduk pula Fandi Achmad Mahendra yang mengenakan kemeja santai.

Begitu Kalea melangkah masuk ke ruang makan, sepasang mata Fandi langsung bergerak liar. Pria itu menelan ludah dengan kasar, matanya melirik licik dan mencuri pandang ke arah kecantikan Kalea yang berhijab marun. Di dalam otaknya, hasrat bejat yang sempat terpuaskan bersama Shinta semalam kembali bergejolak melihat ketegasan wajah adik iparnya itu. Namun, Kalea sama sekali tidak memedulikan pandangan menjijikkan tersebut. Ia menganggap Fandi tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak sengaja bernapas di ruangan yang sama dengannya.

Kalea menarik kursi di ujung meja yang agak jauh dari mereka, lalu mendudukkan tubuh mungilnya dengan tegap. "Selamat malam," ucap Kalea singkat dan dingin sebagai bentuk formalitas kesopanan terakhir yang tersisa di dalam dirinya.

Tidak ada satu pun yang menjawab salamnya. Sarah hanya mendengus sinis, sementara Hermawan tetap fokus memotong daging di piringnya dengan wajah kaku.

"Kita masih harus menunggu Shinta? Kenapa dia lama sekali turun?" tanya Fitri dengan nada ketus sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Aku lelah setelah seharian menangani operasi pasien jantung di rumah sakit, tidak punya waktu untuk menunggu anak manja itu."

"Sabar, Fitri. Shinta kan baru selesai membuat konten kecantikan tadi sore," sahut Sarah membela anak bungsu kesayangannya dengan senyuman lembut yang sangat berbanding terbalik saat menatap Kalea.

Beberapa menit setelah Kalea duduk diam, suara langkah kaki yang diseret terdengar dari arah koridor tangga. Shinta Kirana Wijaya akhirnya turun melangkah masuk ke ruang makan. Penampilannya malam itu sangat kontras dengan Kalea. Shinta mengenakan baju piyama tidur berbahan sutra tipis berwarna merah muda dengan potongan celana yang sangat pendek, sebatas paha atas yang bisa dibilang sangat seksi. Rambut hitamnya yang panjang sengaja digerai indah bergelombang melewati bahunya yang terbuka sebagian.

"Maaf ya semuanya, Shinta telat turun. Tadi sibuk editing video," ucap Shinta dengan suara yang dibuat manja, lalu menarik kursi tepat di hadapan Kalea.

Shinta melirik ke arah dahi Kalea yang masih diperban, lalu sebuah senyuman sinis yang dipenuhi ejekan langsung menghiasi bibir tipisnya. "Wah, Kak Kalea... jilbab marunmu bagus ya malam ini. Sengaja dipakai untuk menutupi perban dahi bocormu itu ya? Hahaha! Lagipula, tumben sekali malam ini wajahmu tidak berlumuran jus jeruk lagi seperti kemarin siang? Sial sekali ya pembantu hotel kita ini, di rumah digebukin Papa, di luar rumah disiram orang."

Mendengar provokasi pertama yang keluar dari mulut Shinta, atmosfer di meja makan langsung memanas, dipenuhi ketegangan yang mengundang emosi.

Kalea meletakkan sendoknya di atas meja dengan suara dentingan yang cukup keras. Mata birunya berkilat tajam menatap lurus ke dalam manik mata adiknya. "Shinta, jaga mulutmu yang tidak pernah beradab itu. Jika kamu tidak tahu cara berbicara seperti manusia berpendidikan, lebih baik kamu diam dan kunyah saja makananmu. Kamar ini terlalu sempit untuk mendengar suara cengengesanmu yang tidak bermutu."

"Kalea! Jaga bicaramu pada adikmu!" bentak Sarah langsung menyela dengan wajah memerah murka. "Shinta cuma bercanda, kenapa kamu selalu sensi dan bersikap seperti singa kelaparan di meja makan ini?! Benar-benar tidak tahu diuntung!"

Di tengah perdebatan panas yang mulai menguras emosi itu, Fandi yang duduk di bawah meja mulai menjalankan aksi gilanya. Mengambil kesempatan dari kelengahan Fitri yang sedang sibuk mengambilkan lauk untuk Hermawan, Fandi menjulurkan kaki kanannya yang panjang di bawah meja makan marmer hitam tersebut. Kakinya merambat pelan ke arah posisi duduk Kalea, mencoba mencari-cari kaki mungil adik iparnya untuk digoda secara mesum.

Kalea yang sedang menahan amarah atas ucapan ibunya tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan kulit kaki asing yang kasar merayap di pergelangan kakinya di bawah meja. Begitu ia melirik ke bawah dan menyadari kaki Fandi sedang mencoba menggesek kakinya dengan gerakan menjijikkan, darah bar-bar di dalam diri Kalea langsung mendidih ke ubun-ubun kepala.

Tanpa membuang waktu sepeser pun untuk menegur secara halus, Kalea menarik kaki kanannya ke belakang, mengambil ancang-ancang yang kuat, lalu melayangkan sebuah tendangan yang sangat keras, telak, dan tanpa ampun tepat menghantam tulang kering kaki Fandi di bawah meja.

DUAAKKK!

"AAAGHHH!!! SAKIT!!!"

Fandi memekik histeris dengan suara melengking yang sangat nyaring. Hantaman tendangan kaki Kalea yang begitu bertenaga membuat tubuh jangkung Fandi kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Kursi makan mewah yang didudukinya bergeser drastis, membuat Fandi jatuh tersungkur dari kursi ke atas lantai marmer dengan posisi memegangi tulang kering kakinya yang langsung memar kebiruan. Ia mengaduh kesakitan dengan wajah yang memucat menahan perih.

Keributan tiba-tiba itu seketika membuat seluruh meja makan terkejut. Fitri yang duduk tepat di samping suaminya langsung terlonjak kaget melihat Fandi sudah terguling di lantai.

"Mas Fandi! Kamu kenapa, Mas?! Kenapa bisa jatuh dari kursi begini?!" tanya Fitri panik, langsung berlutut mencoba membantu suaminya berdiri.

Fandi yang kelicikannya tidak berbatas langsung memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan mukanya sekaligus menghancurkan Kalea kembali. Sambil meringis kesakitan dan berpura-pura menjadi korban yang lemah, ia menunjuk ke arah Kalea dengan tangan yang gemetar. "Fitri... Papa... Mama... Tolong Fandi... Kalea... Kalea keterlaluan! Tadi di bawah meja... dia sengaja menggoda kaki Mas menggunakan kakinya sendiri! Mas menolak dan mencoba menjauh, tapi dia malah menendang kaki Mas dengan sangat keras karena kesal tidak Mas layani! Dia wanita ular, Fitri!"

Mendengar fitnah keji yang keluar dari mulut suaminya, Fitri Amelia Wijaya langsung berdiri dengan napas yang memburu kesetanan. Matanya yang tajam menatap Kalea dengan kilatan amarah yang luar biasa meledak. Tanpa berpikir panjang lagi, Fitri meraih sebuah gelas kristal berisi air putih bekas yang baru saja ia minum setengah tadi dari atas meja.

BYUURRR!

Untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, wajah Kalea kembali disiram dengan cairan. Air putih dingin itu membasahi wajah cantiknya dan langsung merembes ke balik jilbab marunnya yang rapi.

Kalea memejamkan mata birunya, membiarkan tetesan air mengalir melewati dagunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh hebat menahan badai emosi. Sisi tangguhnya menolak untuk menangis atau terlihat lemah di depan para iblis ini.

Kalea membuka matanya, berdiri dari kursi makan dengan gerakan yang sangat tegap hingga kursinya terdorong ke belakang. "Mbak Fitri! Kamu benar-benar dokter yang buta dan bodoh!" bentak Kalea dengan suara menggelegar, menunjuk tepat ke wajah kakaknya. "Kamu lebih percaya pada bualan suami bajinganmu yang bermata mesum ini daripada menyelidiki kebenarannya?! Laki-laki inilah yang dari kemarin mencoba melecehkanku di rumah ini! Buka matamu, Mbak Fitri! Suamimu itu sampah yang sedang berselingkuh di belakangmu!"

"DIAM KAMU, KALEA!!!" Fitri berteriak histeris, wajahnya memerah padam menahan malu dan amarah karena dituduh memiliki suami peselingkuh di depan orang tuanya. "Kamu yang sampah! Kamu iri melihat kebahagiaanku karena kamu cuma wanita tidak jelas yang numpang hidup di sini! Berani-beraninya kamu menuduh suamiku yang baik ini?!"

"CUKUP!!!" suara bariton Hermawan Wijaya menggema keras memotong perdebatan sengit itu, membuat suasana ruang makan mendadak mencekam sedingin es.

Hermawan berdiri dari kursinya dengan napas yang terengah-engah menahan amarah yang meluap. Matanya menatap Kalea dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam. Pria paruh baya itu melangkah cepat mendekati Kalea yang sedang berdiri di ujung meja.

"Kau benar-benar anak sialan yang tidak pernah berhenti memberontak dan membuat keributan di rumah ini, Kalea!" desis Hermawan dengan nada suara yang sangat dingin dan kejam. "Setiap hari ada saja ulahmu yang merusak kedamaian keluarga kita! Kamu berani melawan kakakmu, memukul kakak iparmu, dan membuatku malu?!"

Kalea tidak mundur satu inci pun meskipun ayahnya sudah berdiri tepat di depannya dengan wajah murka. Sifat tegas dan tangguhnya membuat ia menantang maut. "Aku memberontak karena aku tidak salah, Pa! Kenapa Papa selalu menutup mata atas semua kelakuan keji mereka padaku?! Kenapa hanya aku yang selalu disiksa dan dianggap kotor di rumah ini?!"

"Karena kau memang pembawa sial!" sahut Sarah dari meja makan dengan tawa mengejek yang penuh dengan penghinaan mutlak. "Darah kotor yang ada di tubuhmu itu yang membuatmu menjadi wanita bar-bar yang tidak tahu adat! Dasar anak haram tidak tahu diri!"

Mendengar kata "anak haram" keluar kembali dari mulut ibunya untuk kesekian kalinya sepanjang hidupnya, benteng kesabaran Kalea yang ia bangun selama 24 tahun ini akhirnya runtuh sepenuhnya. Air mata kemarahan menggenang di mata birunya yang indah, berkilat tajam memancarkan luka batin yang teramat sangat dalam.

"Mama! Papa!" teriak Kalea dengan suara parau yang menyayat hati, menatap kedua orang tuanya bergantian dengan pandangan penuh tuntutan. "Kenapa... Kenapa Anda selalu menyebutku anak haram sejak aku kecil?! Jawab aku malam ini! Apakah benar aku ini anak haram dari hubungan gelap, atau aku ini sebenarnya anak siapa?! Kenapa kalian berdua begitu membenci kehadiranku di dunia ini seolah-olah aku ini adalah kutukan bagi hidup kalian?!"

Suasana ruang makan seketika menjadi sangat sunyi membeku mendengar pertanyaan berani yang keluar dari mulut Kalea. Shinta dan Fitri langsung terdiam melongo, sementara wajah Sarah sempat memucat sedetik sebelum ia kembali memasang wajah angkuh, siap memberikan jawaban kejam yang akan menghancurkan jiwa Kalea.

"Kamu mau tahu kebenarannya, hah? Kebenarannya adalah kamu itu memang lahir dari wanita jalang yang—"

"SARAH, DIAM!!!"

Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimat kejamnya, Hermawan Wijaya langsung berteriak membentak istrinya dengan suara yang sangat menggelegar, menghentikan rahasia besar itu agar tidak terbongkar malam ini.

Detik berikutnya, Hermawan membalikkan tubuhnya kembali ke arah Kalea. Dengan gerakan yang sangat kasar, kasar, dan dipenuhi emosi yang meledak, tangan kanan Hermawan bergerak cepat mencengkeram rahang dan wajah cantik Kalea dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga membuat Kalea meringis kesakitan.

PLAK!

PLAK!

Dua tamparan keras dan bertubi-tubi mendarat di pipi kiri dan kanan Kalea dari tangan kekar Hermawan, membuat sisa air putih di wajahnya tepercik ke udara. Luka sobek di sudut bibir Kalea kembali terbuka, mengeluarkan tetesan darah segar yang mengalir melewati dagunya.

"Kau tidak berhak bertanya tentang hal itu di rumah ini, Kalea!" desis Hermawan dengan suara rendah yang sangat menakutkan, matanya melotot tajam menatap lurus ke dalam mata biru Kalea yang sedang bergetar hebat menahan sakit dan amarah. "Masuk ke kamarmu sekarang juga sebelum aku benar-benar mematahkan kedua kakimu agar kamu tidak bisa keluar dari rumah ini lagi! Pergi!"

Hermawan menghempaskan cengkeraman tangannya dari wajah Kalea dengan kasar hingga tubuh mungil wanita itu sempat terhuyung ke samping menabrak pinggiran meja makan.

Kalea memegangi sudut bibirnya yang berdarah, menatap ayahnya, ibunya, kakaknya, adiknya, dan kakak iparnya yang kini kembali tersenyum sinis penuh kemenangan di atas penderitaannya. Rasa benci, dendam, dan kemarahan yang luar biasa mendalam kini telah mengunci jiwa Kalea seutuhnya. Takdir hidupnya di rumah ini memang terbelenggu oleh kekejaman, namun malam ini ia bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan membalas setiap tetes darah dan air mata ini dengan cara yang paling menyakitkan bagi keluarga Wijaya.

Kalea membalikkan tubuhnya dengan tegap, mengabaikan rasa perih di wajah dan dahinya, langkah kaki Kalea Azzahra Putri tidak membawanya kembali ke dalam kamar yang pengap. Ia tidak sudi mengurung diri seperti seorang pecundang yang meratapi nasib di balik selimut. Dengan dada yang masih bergemuruh hebat dan sudut bibir yang meneteskan darah segar, ia memutar langkah menuju arah pintu kaca belakang rumah. Ia menyelinap keluar, membiarkan tubuh mungilnya disambut oleh angin malam kota Jakarta yang berembus dingin menusuk kulit.

Kalea berjalan menuju taman belakang, sebuah area sunyi yang berbatasan langsung dengan kolam renang berair jernih kebiruan. Di sana, suasana begitu sepi. Suara gemercik air dari pancuran kolam berpadu dengan deru angin malam, seolah ikut merasakan kepedihan yang sedang ia pikul.

Kalea berjalan ke tepian kolam renang berbahan marmer putih. Ia melepaskan sepatu selopnya, lalu mendudukkan diri di tepi kolam. Kedua kaki jenjangnya yang putih ia masukkan ke dalam air kolam renang yang dingin, membiarkan sensasi sejuk itu perlahan-lahan meredam rasa panas akibat tamparan sang ayah yang masih terasa membakar pipinya.

Kalea mendongakkan wajahnya yang basah oleh sisa air siraman Fitri dan air matanya sendiri. Matanya yang berwarna biru jernih menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang-bintang kecil yang bersinar temaram di balik awan tipis. Sebuah senyuman pahit, sangat pahit, terukir di sudut bibirnya yang sobek.

"Hei, bintang..." bisik Kalea dengan suara serak, parau, dan bergetar hebat memecah keheningan malam. "Kalian indah sekali di atas sana. Begitu bebas, begitu tenang, tanpa harus memikirkan bagaimana rasanya diinjak-injak oleh orang-orang yang seharusnya menyayangi kalian."

Kalea mengangkat tangan kanannya, menyeka tetesan darah di sudut bibirnya dan air mata di pipinya dengan kasar. Sifat tangguhnya menolak untuk larut dalam kerapuhan terlalu lama. Ia kembali menatap bintang di atas sana, melanjutkan kalimatnya dengan nada yang beralih menjadi ketat penuh tuntutan pada takdir.

"Kenapa hidupku harus seberengsek ini, hah?" tanya Kalea lirih pada hamparan bintang, dadanya kembali sesak. "Sejak kecil, aku selalu dicaci sebagai anak haram. Darah kotor, pembawa sial... kata-kata itu sudah seperti makanan sehari-hariku. Malam ini, aku hanya ingin tahu kebenaran tentang siapa diriku, tapi Papa justru mencengkeram wajahku dan menamparku sampai seperti ini. Apakah menanyakan status kelahiran sendiri adalah sebuah dosa besar di dunia ini? Kenapa mereka ketakutan setengah mati saat aku menuntut penjelasan?"

Kalea terdiam sejenak, membiarkan kakinya mengayun perlahan di dalam air kolam, membuat pantulan cahaya bintang di permukaan air beriak hancur—persis seperti kondisi hatinya saat ini. "Kalian tahu? Aku lelah. Aku sangat lelah berpura-pura menjadi wanita baja di depan semua orang. Tapi aku bersumpah pada kalian, demi mata biruku yang mereka benci ini, aku tidak akan pernah membiarkan keluarga Wijaya melihatku bertekuk lutut memohon ampun. Suatu hari nanti, aku yang akan membelenggu takdir mereka ke dalam lubang kehancuran yang paling dalam!"

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Keheningan malam dan monolog pedih Kalea mendadak terpecah oleh getaran keras dari ponsel pintar di dalam saku tuniknya. Kalea tersentak kecil, lalu merogoh saku pakaiannya. Layar ponsel menampilkan deretan nomor asing yang tidak dikenal tanpa nama.

Kalea mendengus kesal, langsung menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut. "Malam-malam begini siapa yang menelpon? Kurang kerjaan sekali," gerutunya dengan nada ketus.

Namun, hanya berselang lima detik, ponselnya kembali bergetar hebat dari nomor yang sama. Kalea kembali menolaknya dengan cepat. Tepat pada panggilan ketiga yang berdering panjang dan sangat mengganggu ketenangannya di tepi kolam, kesabaran bar-bar Kalea akhirnya habis. Ia menggeser tombol hijau dengan kasar lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

"Heh! Siapa ini?! Punya sopan santun tidak, sih?! Ini sudah jam berapa?! Jangan mengganggu malam orang lain kalau kamu cuma mau iseng atau kurang kerjaan!" bentak Kalea dengan suara lantang dan sangat ketus, mengabaikan rasa perih di sudut bibirnya yang kembali berdenyut akibat berteriak.

Suasana di seberang telepon sempat hening selama dua detik, sebelum akhirnya sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, kaku, dan penuh wibawa terdengar membalas ucapannya dengan nada sarkastik yang sangat familiar.

"Mulutmu tetap saja tidak pernah disekolahkan ya, Nona Manajer Bar-bar. Sangat berani berteriak seperti itu kepada orang yang memegang masa depan karirmu."

DEG!

Kalea membelalakkan mata birunya sempurna saat mengenali suara tersebut. "Dokter Sombong?! Raditya Evan Baskara?!" tanya Kalea memastikan dengan nada yang tidak kalah ketus, meskipun di dalam hatinya ia sempat terkejut dari mana pria itu bisa mendapatkan nomor ponselnya secepat ini—ia lupa kalau Bi Minah sudah memberikan nomornya di parkiran siang tadi.

Di seberang telepon, Raditya yang sedang duduk di balik meja kerja mewahnya di lantai dua rumah Baskara mendengus sinis. "Bagus kalau kamu masih ingat nama saya, Nona Mata Biru. Jadi saya tidak perlu membuang waktu untuk memperkenalkan diri kembali."

"Mau apa Anda menelpon saya tengah malam begini, Dokter Radit?!" ketus Kalea sambil menghentakkan kakinya di dalam air kolam dengan kesal. "Urusan ganti rugi kaca mobil Anda bukankah besok malam jam tujuh di ruangan Anda? Kenapa sekarang malah meneror saya lewat telepon?!"

"Saya tidak sedang menerormu, Nona," jawab Radit tenang namun penuh penekanan yang mutlak. "Ada perubahan rencana. Besok pagi jam sepuluh tepat, kamu harus menemui saya di Cafe Luminia yang berada di seberang rumah sakit saya. Kita bahas urusan ganti rugi seratus delapan puluh juta rupiahmu itu di sana, bukan di ruangan kerja saya."

Kalea mengernyitkan dahinya, langsung menolak dengan tegas. "Tidak bisa! Jam sepuluh pagi besok saya harus berada di Hotel Grand Luminance! Saya sudah ambil izin sakit hari ini, besok saya harus bekerja memimpin rapat koordinasi staf! Saya tidak punya waktu untuk meladeni jadwal acak Anda, Dokter Sombong!"

"Saya tidak sedang memberikan penawaran atau meminta persetujuanmu, Kalea Azzahra Putri Wijaya," potong Radit dengan suara dingin yang mendadak terdengar sangat mengintimidasi, menyebut nama lengkap Kalea yang ia dapatkan dari berkas rekam medis IGD siang tadi. "Dengar baik-baik. Jika besok pagi jam sepuluh tepat batang hidungmu tidak menampakkan diri di meja nomor empat Cafe Luminia, maka tepat jam sepuluh lewat lima belas menit, surat laporan resmi atas tindakan perusakan barang mewah dengan sengaja beserta bukti rekaman CCTV parkiran akan langsung tiba di meja kepolisian sektor Jakarta Pusat. Dan saya pastikan, media massa akan sangat tertarik mendengar berita tentang seorang General Manager hotel bintang lima yang terancam hukuman penjara karena melempar sepatu ke mobil Direktur Utama."

Mendengar ancaman mutlak dan sangat terencana dari mulut Radit, Kalea seketika terbungkam. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Wajah cantiknya memerah padam karena menahan amarah yang luar biasa. Laki-laki di seberang telepon ini benar-benar ular berbisa yang tahu persis di mana titik kelemahannya berada.

Kalea menggigit bibir bawahnya yang sobek hingga rasa perih kembali menyengat, mencoba menahan makian kasar yang sudah berada di ujung lidahnya. "Anda... Anda benar-benar pria yang sangat licik dan kejam, Dokter Radit!" desis Kalea dengan suara rendah yang bergetar penuh kemarahan.

Radit terkekeh sangat tipis di seberang telepon, sebuah kekehan sarkastik yang memperlihatkan lesung pipi menawannya meskipun tidak bisa dilihat oleh Kalea. "Terima kasih atas pujiannya, Nona. Saya menganggap itu sebagai bentuk kecerdasan saya dalam berbisnis. Jadi, bagaimana keputusanmu? Datang atau bersiap memakai baju tahanan?"

Kalea menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai emosinya yang berada di ambang batas demi menyelamatkan karir dan harga dirinya dari kehancuran hukum. "Baik! Saya akan datang besok jam sepuluh tepat di kafe itu! Puas Anda, Dokter Sombong?!" bentak Kalea akhirnya, mengalah pada ancaman tersebut.

"Keputusan yang sangat bijaksana, Nona Mata Biru," jawab Radit dengan nada suara yang kembali datar dan kaku. "Jangan terlambat satu menit pun, karena saya tidak suka menunggu orang yang tidak disiplin. Sampai bertemu besok pagi."

Klik.

Sambungan telepon langsung diputus sepihak oleh Raditya Evan Baskara, meninggalkan suara tut-tut yang pendek di telinga Kalea.

Kalea menurunkan ponselnya dari telinga, menatap layar yang sudah menggelap itu dengan pandangan mata biru yang dipenuhi oleh kilatan amarah dan dendam yang membara. "Awas saja kamu ya, Raditya Evan Baskara! Besok pagi, kita lihat siapa yang akan memegang kendali atas permainan gila ini!" umpat Kalea murka.

Ia langsung mengangkat kedua kakinya dari dalam air kolam renang yang dingin, memakai kembali sepatunya, lalu melangkah tegap masuk ke dalam rumah menuju kamarnya dengan tekad yang semakin membatu untuk menghadapi sang Direktur Utama keesokan paginya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!