NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

POV ARUNA

Setelah berkutat selama beberapa jam dengan tablet dan ketikan yang super cepat, laporan hasil rapat operasional tadi akhirnya selesai juga. Aku menghembuskan napas lega, merapikan lembaran kertas itu ke dalam map biru, lalu berdiri untuk meminta izin pada Pak Adrian. Bos diktator itu cuma mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Dingin banget.

Aku melangkah keluar, menyusuri koridor lantai direksi menuju ruangan Pak Gavin. Berbeda dengan Pak Gavin yang hobi mendobrak pintu ruangan orang lain tanpa permisi, aku tentu saja tahu sopan santun. Aku mengetuk pintu kayu di depanku dengan sopan sampai terdengar sahutan dari dalam.

"Masuk," suara Pak Gavin terdengar dari dalam.

Aku membuka pintu dan melangkah masuk, lalu menyerahkan map biru itu ke atas mejanya. "Ini laporan hasil rapat operasional yang tadi, Pak Gavin."

Pak Gavin menghentikan aktivitasnya, mengambil map tersebut, dan membolak-balik halamannya sekilas. Senyum puas terukir di wajah ramahnya.

"Wah, rapi banget. Ternyata bener kata Adrian, hasil kerja lo jauh lebih rapi dan detail daripada Ariana," puji Pak Gavin tulus yang langsung membuat hatiku sedikit melambung lega. Berarti kerja keras belajarku ini tidak sia-sia.

Tapi, kesenanganku tidak bertahan lama. Pak Gavin tiba-tiba menutup map itu dengan bunyi yang cukup keras, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya menyipit jenaka, menatapku dengan binar penuh gosip yang persis sama seperti tatapan Mbak Dian tadi siang.

"Tapi, Aruna... gue mau nanya deh," ujar Pak Gavin, nadanya mendadak berubah menjadi kelewat santai. "Tadi pas rapat... kenapa lo bisa bengong parah sampai segitunya sambil ngeliatin wajah Adrian? Lo... suka ya sama bos lo sendiri?"

Deg.

Wajahku seketika terasa seperti disembur api. Panas banget! Jantungku berdegup kencang karena syok digoda se-frontal itu oleh seorang manajer operasional.

"E-eh? Nggak, Pak! mana mungkin saya suka sama Pak Adrian!" bantahku gelagapan, berusaha memundurkan langkah untuk menyembunyikan wajahku yang pasti sudah sewarna kepiting rebus.

Melihat energiku yang panik setengah mati, Pak Gavin justru tertawa renyah. Dia bersandar ke kursinya, lalu tiba-tiba berdehem kecil dan memasang wajah serius yang tidak sinkron dengan kalimat selanjutnya.

"FYI aja nih, Na," kata Pak Gavin santai, seolah-olah sedang membicarakan cuaca. "Adrian itu usianya sudah tiga puluh lima tahun. Dan sampai sekarang, dia belum menikah sama sekali. Bahkan... punya pacar atau tunangan pun nggak ada. Bersih total."

Aku tertegun di tempat. Alisku berkerut heran menatap Pak Gavin. Aneh banget. Kenapa tiba-tiba pria di depanku ini menyuplai data pribadi top tier mengenai Direktur Utama perusahaan ini kepadaku?

"Kenapa... Pak Gavin tiba-tiba ngasih tahu saya soal hal itu?" tanyaku bingung sekaligus curiga.

Pak Gavin cuma mengedikkan bahunya acuh tak acuh sambil tersenyum misterius. "Gak apa-apa, mau ngasih tahu aja. Siapa tahu bermanfaat buat lo."

Aku mendengus pelan di dalam hati. Gengsi dong kalau aku harus mengaku di depan Pak Gavin bahwa sebenarnya informasi itu sukses membuat rasa penasaranku pada sang bos langsung melonjak drastis.

Otakku mendadak berhenti bekerja seketika. Aku berdiri mematung di tengah ruangan Pak Gavin, kembali terjerumus ke dalam mode bengong andalanku hari ini.

Pak Adrian umur 35 tahun? Serius? Wajahnya emang matang dan tegas banget sih, tapi badannya yang tegap dan auranya yang seksi—eh, maksudnya auranya yang kuat—bikin dia kelihatan kayak masih awal tiga puluhan.

Kalau dia umur 35, berarti... kami beda delapan tahun dong? Secara umurku sekarang kan baru dua puluh tujuh tahun.

"Aruna? Halo? Malah bengong lagi lo," teguran Pak Gavin buyar mengembalikan kesadaranku.

"E-eh, iya, Pak! Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan dulu! Terima kasih, Pak!" seruku panik, langsung berbalik dan buru-buru kabur dari ruangan Pak Gavin dengan jantung yang berdebar makin karuan.

Di sepanjang koridor luar ruangan Pak Gavin, kepalaku rasanya mau pecah. Aku masih tidak percaya kalau bos diktator yang luar biasa tampan tapi menyebalkan itu umurnya sudah 35 tahun dan masih single! Bersih dari pacar ataupun tunangan pula. Gila, apa dia terlalu sibuk menyiksa karyawannya sampai lupa caranya pacaran?

Begitu melirik jam tangan di pergelangan tanganku, aku langsung tersentak. Mampus! Aku sudah menghabiskan waktu hampir dua puluh menit di luar!

Aku pun langsung berlari kecil kembali ke ruangan Adrian. Untung saja, begitu aku masuk dan kembali duduk di sofa, Pak Adrian tidak menanyakan kenapa aku lama sekali. Dia cuma menatapku datar sebelum akhirnya meruntuhkan duniaku dengan pengumuman kalau hari Sabtu besok aku harus masuk kerja bakti sendirian nemenin dia.

Kesalku makin menumpuk saat dia menyuruhku pulang duluan, tapi pas aku ragu-ragu karena tidak enak hati meninggalkan atasan yang masih lembur, dia malah menawariku pulang bareng dengan nada menjebak.

"Atau... kamu sengaja mengulur waktu karena mau saya antar pulang?"

Gimana aku gak panik setengah mati?! Aku langsung kabur dari ruangannya seperti dikejar setan.

Sekarang, di dalam lift yang bergerak turun menuju lobi, jantungku masih berdegup tidak karuan. Sial, memori beberapa menit lalu saat aku menabrak dada bidangnya tepat di depan pintu ruangan langsung berputar otomatis seperti film dokumenter.

Aroma parfum mahalnya yang maskulin seolah masih tertinggal di indra penciumanku. Sialnya lagi, aku baru ingat kalimat terakhirnya sebelum kami masuk ruangan tadi.

"Kalau kamu memang masih bingung memikirkan besok mau bawa makanan apa untuk saya... bawa saja masakanmu sendiri. Apapun itu."

"Ih, dasar Bos Sableng! Narsis! Menyebalkan!" rutukku kesal sendiri sambil menghentakkan kaki di dalam lift.

Berarti besok pagi-pagi buta aku harus bangun dan masak dulu demi memuaskan perut Pak Direktur Utama yang terhormat itu. Awas saja kalau dia sampai tidak menghabiskannya!

Begitu sampai di rumah, aku langsung berganti baju santai berupa kaos oblong dan celana kulot. Karena bahan makanan di kulkas kosong melongpong, aku akhirnya mengetuk rumah Mbak Dian, mengajak senior gosipku itu untuk menemaniku belanja ke pasar tradisional terdekat yang buka sampai malam.

Di sepanjang jalan menuju pasar, aku menumpahkan seluruh kekesalan yang kupendam hari ini. Aku menceritakan semuanya tanpa sisa. Mulai dari insiden memalukan bengong di ruang rapat, disemprot di dalam lift soal pertanyaan Pak Gavin, insiden tabrakan dada di depan pintu, sampai pengumuman wajib militer hari Sabtu besok.

"Jadi, Mbak," ujarku berapi-api sambil memilih sayuran di lapak pedagang, "teori mbak yang di kantin tadi siang itu B-A-S-I dan gak mungkin banget! Gak usah ngaco deh. Mana mungkin pria sedingin, secuek, dan senyebelin Pak Adrian bisa suka sama aku? Yang ada dia itu dendam kesumat karena aku pernah tipu dia yang jadi sekertaris waktu itu!"

Mbak Dian yang sedang memegang kantong plastik berisi bawang merah langsung menghentikan gerakannya. Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan senyuman penuh arti, senyuman yang jujur saja mulai membuatku merinding karena biasanya tebakan detektif Mbak Dian ini jarang meleset.

"Oh ya? Gak mungkin?" Mbak Dian menaikkan sebelah alisnya, lalu matanya melirik ke arah keranjang belanjaan yang sedang kujinjing. "Terus, Na... ngapain lo repot-repot beli daging sapi premium, bumbu dapur lengkap, sama sayuran segar kayak gini kalau emang di antara kalian gak ada perasaan apa-apa?"

"Hah? Ya... ya kan karena dia yang minta dibawain masakan aku, Mbak! Aku cuma takut dipecat kalau besok dateng tangan kosong!" belaku defensif, mencoba mencari pembenaran logis.

"Aruna sayang, dengerin gue," Mbak Dian menepuk bahuku pelan, nadanya mendadak berubah serius. "Secara logika korporat maupun logika asmara, cowok sekelas Pak Adrian itu bisa beli makanan paling mahal pakai jentikan jari. Dia gak bakal sudi minta masakan rumahan dari orang lain apalagi sekretaris barunya kalau dia gak ada ketertarikan atau rasa suka sama orang itu. Dia itu mau ngerasain perhatian dari lo, Runa."

Mbak Dian menjeda kalimatnya, menatap mataku lekat-lekat. "Dan lo... kalau lo beneran benci dan ngerasa dia nyebelin, lo tinggal beli nasi uduk depan kosan besok pagi terus taruh di mejanya. Tapi sekarang lo malah bela-belain ke pasar malam buat masak yang terbaik buat dia. Jujur sama gue, lo sebenernya juga mulai suka kan sama Bos Sableng lo itu?"

Deg.

Pertanyaan Mbak Dian langsung mengunci mulutku rapat-rapat. Aku terpaku di depan tumpukan sayur, lidahku mendadak kelu untuk membantah.

Seketika, seluruh tubuhku merinding. Aku... suka sama Pak Adrian? Bos sableng yang hobi membuatku senam jantung setiap hari itu?

Aku menatap kosong ke arah deretan bumbu dapur di depanku, mendadak kehilangan kata-kata karena di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak bisa menolak fakta bahwa dadaku kembali berdetak aneh hanya dengan membayangkan wajah Adrian yang tersenyum tipis besok pagi saat menerima masakanku. Sialan, jangan bilang kalau teori gila Mbak Dian kali ini benar?!

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!