NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Racun dan Rencana Palsu

Malam semakin larut. Angin malam di Kota Qingyun terasa menusuk tulang, namun Lin Fan dan Lin Yue tidak merasa dingin. Adrenalin yang mengalir di pembuluh darah mereka lebih panas daripada api mana pun.

Mereka berada di belakang kandang kuda penginapan "Awan Terbang", tempat puluhan kuda perang Clan Yan ditambatkan. Hewan-hewan itu besar, berotot, dan memiliki aura elemen Api yang lemah—tanda bahwa mereka adalah keturunan beast api tingkat rendah. Mereka gelisah, menghentakkan kaki ke tanah dan mengeluarkan uap dari hidung mereka.

"Ini dia," bisik Lin Yue, menyerahkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat kepada Lin Fan. "Ekstrak Akar Pencahar Ganda. Satu tetes saja bisa membuat kuda dewasa mengalami diare parah selama dua hari. Aku mencampurnya dengan air biasa agar baunya tidak terlalu menyengat."

Lin Fan menerima botol itu. Tangannya stabil. Ia tahu risikonya. Jika ketahuan meracuni hewan tunggangan klan musuh, hukumannya bukan cambuk, melainkan pemenggalan kepala di depan umum.

"Aku akan mengalihkan perhatian penjaga," kata Lin Yue. "Kau punya waktu tiga menit. Jangan lebih."

Lin Yue melemparkan batu kecil ke arah tumpukan jerami di sisi lain kandang.

Plak.

Dua penjaga yang sedang duduk malas-malasan di pos jaga langsung berdiri, tangan mereka meraih gagang pedang.

"Siapa di sana?"

Sementara perhatian mereka teralih ke sumber suara, Lin Fan bergerak seperti bayangan. Dengan Teknik Napas Besi yang memperkuat kakinya, ia melompati pagar kayu setinggi dua meter tanpa suara. Ia mendarat di dalam area kandang dengan lembut.

Ia mendekati ember air minum utama yang digunakan untuk mengisi ulang tempat minum kuda-kuda. Dengan cepat, ia menuangkan setengah isi botol ungu itu ke dalam ember, lalu mengaduknya perlahan dengan sendok kayu agar racun tersebar merata.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Penjaga mulai curiga karena tidak menemukan siapa pun di balik tumpukan jerami.

"Mungkin hanya tikus," gumam salah satu penjaga.

Mereka kembali ke pos jaga.

Lin Fan segera melompat keluar dari kandang, bergabung kembali dengan Lin Yue di kegelapan semak-semak. Mereka tidak menunggu untuk melihat hasilnya. Mereka sudah melakukan bagian mereka.

Besok pagi, ketika Clan Yan mencoba mengerahkan pasukan atau kereta mereka untuk ekspedisi pencarian Biji Api, kuda-kuda mereka akan terlalu sibuk dengan masalah perut untuk berlari cepat. Itu akan memberikan Lin Fan dan Lin Yue waktu berharga.

Keesokan paginya, suasana di penginapan berubah menjadi kacau balau.

Teriakan marah, derap kaki panik, dan bau tidak sedap memenuhi udara. Lin Fan, yang sedang menyapu halaman depan, menyaksikan kekacauan itu dengan wajah datar.

"Apa-apaan ini?!" teriak seorang komandan pasukan Clan Yan, wajahnya merah padam. "Kuda-kuda kita sakit semua! Mereka lemas dan terus-menerus buang air! Bagaimana kita bisa mengejar target jika tunggangan kita seperti ini?!"

Yan Lie keluar dari kamarnya dengan wajah gelap. Aura membunuhnya begitu kuat hingga membuat para pelayan Clan Lin gemetar ketakutan. Ia menatap kuda-kudanya yang terlihat menderita, lalu matanya menyipit tajam, menyapu area sekitar.

Untuk sesaat, pandangannya tertuju pada Lin Fan yang sedang menyapu.

Lin Fan tidak menunduk kali ini. Ia menatap balik dengan ekspresi polos dan bingung, seolah bertanya:

'Ada apa, Tuan Muda?'

Yan Lie mendecakkan lidah. Dia tidak punya bukti. Menuduh pelayan tanpa bukti hanya akan membuatnya terlihat lemah. Selain itu, dia punya urusan yang lebih penting.

"Siapkan kereta cadangan!" perintah Yan Lie kasar. "Dan panggil tabib! Jika kuda-kuda ini mati, aku akan menuntut kompensasi dari Kepala Klan Lin!"

Lin Hu, yang tampak pucat karena takut dimarahi, segera membungkuk-bungkuk meminta maaf.

"Maaf, Saudara Yan! Pasti ada wabah penyakit mendadak! Kami akan menggantinya dengan biaya kami!"

Sementara kekacauan berlangsung, Lin Fan menyelinap pergi. Ia memiliki janji palsu untuk ditepati.

Di perpustakaan tua Clan Lin yang jarang dikunjungi, Lin Fan bertemu dengan Lin Yue. Perpustakaan itu berdebu, penuh dengan gulungan naskah kuno yang sebagian besar sudah rusak dimakan rayap.

"Apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Lin Yue.

Lin Fan menggeleng.

"Tidak ada peta asli. Seperti yang kuduga, itu hanya mitos. Tapi aku menemukan ini."

Ia mengeluarkan sebuah gulungan kulit yang sudah usang. Judulnya samar:

"Catatan Geologi Lembah Hitam."

"Lembah Hitam?" tanya Lin Yue.

"Ya. Tempat di utara kota. Tanahnya tidak stabil, penuh dengan gas metana alami dari dalam bumi. Jika ada ledakan api besar di sana..." Lin Fan tersenyum tipis. "...itu akan memicu reaksi berantai. Ledakannya akan sepuluh kali lebih besar dari yang direncanakan Yan Lie, tapi arahnya akan ke atas, menuju langit, bukan ke bawah menuju fondasi kota."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan yang paling penting, Lembah Hitam adalah sarang bagi Koloni Lebah Batu Raksasa."

Lin Yue memejamkan mata, membayangkan skenarionya.

"Jadi, kita akan mengarahkan Yan Lie ke sana. Saat mereka mencoba menggali atau menggunakan api, lebah-lebah itu akan menyerang. Dan ledakan gas akan menciptakan kekacauan visual yang sempurna untuk menutupi saat kita kabur."

"Tepat," kata Lin Fan. "Kita akan membuat peta palsu yang menunjukkan 'Biji Api Abadi' terkubur di pusat Lembah Hitam. Kita akan meninggalkan petunjuk yang cukup meyakinkan agar Yan Lie percaya itu adalah bocoran informasi dari dalam klan."

Mereka menghabiskan sisa pagi itu untuk memalsukan peta. Lin Yue menggunakan tinta khusus yang bisa berubah warna seiring waktu agar terlihat kuno, sementara Lin Fan menambahkan noda-noda darah dan lipatan strategis agar peta itu terlihat seperti barang curian yang telah melalui banyak tangan.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Lin Fan diam-diam menyelipkan peta palsu itu ke dalam saku jubah salah satu pengawal Yan Lie yang sedang mabuk karena frustrasi akibat kuda-kuda mereka yang sakit. Pengawal itu tidak menyadari benda asing masuk ke sakunya.

Tugas pertama selesai.

Namun malam itu, Lin Fan tidak bisa beristirahat. Ia harus menyiapkan tahap kedua: pencurian.

Saat seluruh penghuni penginapan tertidur atau sibuk mengurus kuda yang sakit, Lin Fan mengenakan pakaian hitamnya lagi. Kali ini, tujuannya bukan kamar Yan Lie, melainkan gudang penyimpanan logistik Clan Yan di sayap timur bangunan.

Gudang itu dijaga oleh empat prajurit.

Tapi Lin Fan tidak berencana bertarung.

Ia berencana menggunakan trik lama: alih perhatian.

Ia mengambil beberapa batu kerikil dan mengikatnya dengan tali tipis. Ia melemparkannya ke atap gudang di sisi seberang, menciptakan suara gaduh seolah-olah ada pencuri lain yang sedang berusaha masuk.

"Hei! Ada suara di atap!" teriak salah satu penjaga.

Empat penjaga itu langsung berlari ke arah suara, meninggalkan pintu gudang utama untuk sesaat tanpa pengawasan ketat.

Itu celah yang dibutuhkan Lin Fan.

Dengan kecepatan maksimal, ia menyusup masuk melalui jendela ventilasi kecil di bagian belakang. Di dalam, tumpukan kotak kayu tersusun rapi.

Lin Fan tidak mengambil senjata atau baju zirah—itu terlalu berat dan mencurigakan. Ia mencari sesuatu yang kecil, bernilai tinggi, dan mudah disembunyikan.

Matanya jatuh pada sebuah peti kecil bertanda:

"Pil Grade Menengah."

Ia membuka peti itu.

Isinya adalah dua puluh Pil Kondensasi Qi Grade Menengah dan lima Pil Pemulih Luka.

Bagi Lin Fan, ini adalah harta karun. Dengan kemampuan pemurniannya, pil-pil grade menengah itu bisa ditingkatkan kualitasnya hingga hampir setara grade tinggi. Nilainya berkali-kali lipat.

Dengan tangan cepat, ia memasukkan semua pil ke dalam kantong kain yang sudah ia siapkan. Ia juga mengambil beberapa Batu Spirit Rendah yang berserakan di meja kasir gudang.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat.

Penjaga kembali.

Lin Fan panik sejenak, tapi ia segera bersembunyi di balik tumpukan karung beras.

Pintu gudang terbuka.

Dua penjaga masuk sambil membawa obor.

"Sepertinya hanya angin," kata salah satu penjaga, meski ia tampak curiga.

Ia mengendus udara.

"Tapi... baunya aneh. Seperti ada orang di sini."

Jantung Lin Fan berdebar kencang. Ia menahan napas, mengalirkan Qi Teknik Napas Besi ke seluruh tubuhnya untuk menekan detak jantung dan suaranya.

Penjaga itu berjalan mendekat ke tempat persembunyian Lin Fan. Cahaya obornya menerangi karung-karung beras.

Tepat saat penjaga itu akan memeriksa balik karung tempat Lin Fan bersembunyi, suara teriakan terdengar dari luar.

"Tuan Muda Yan Lie memanggil! Cepat! Ada perkembangan baru!"

Penjaga itu berhenti.

"Sial. Ayo pergi. Jangan tinggalkan gudang tanpa kunci."

Mereka keluar dan mengunci pintu dari luar.

Lin Fan menunggu lima menit penuh sebelum berani bergerak. Ia menghela napas lega.

Ia berhasil.

Ia tidak hanya selamat, tetapi juga membawa pulang sumber daya yang bisa mengubah nasib kultivasinya.

Saat ia kembali ke gubuknya melalui jalur rahasia, ia merasa seperti pemenang lotre. Namun, ia tahu permainan ini belum selesai.

Yan Lie masih berbahaya.

Dan besok, rencana palsu di Lembah Hitam akan dijalankan.

Lin Fan duduk di atas tikarnya, membuka peti kecil hasil curiannya. Cahaya pil-pil itu berpendar lembut dalam kegelapan.

"Terima kasih, Yan Lie," bisiknya sambil tersenyum sinis. "Kekayaanmu sekarang menjadi bahan bakar kekuatanku."

Ia memakan satu Pil Kondensasi Qi Grade Menengah. Rasanya jauh lebih murni daripada pil sampah kemarin. Energi yang masuk ke tubuhnya hangat dan nyaman.

Dengan bantuan Manik Giok, energi itu dimurnikan secara instan, menambah ketebalan Qi-nya secara signifikan.

Level 3-nya semakin kokoh.

Level 4 sudah di ambang pintu.

Lin Fan memejamkan mata.

Besok adalah hari penentuan.

Jika rencananya berhasil, Clan Yan akan dipermalukan dan diusir dari kota.

Jika gagal... Lin Fan tidak ingin memikirkan alternatifnya.

Dia harus tidur.

Dia membutuhkan kekuatan penuh untuk pertunjukan besok.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!