NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8 Sumpah Di Bawah Hujan

Pagi ini, rumah Sukma dipenuhi para pelayat. Mereka menghaturkan belasungkawa dan ingin turut mengantar almarhum Hamdan ke peristirahatan terakhirnya.

Sesuai janjinya, Aluna kembali datang bersama keluarganya, serta jajaran pengurus BEM Cakrawala.

Tak berselang lama, Ayu rekan announcer Aluna sekaligus teman sefakultas Sukma--datang bersama Arjuna, suaminya. Tampak hadir pula para dosen serta para mahasiswa Sastra Inggris Universitas Cakrawala.

Ayu melangkah mendekat, lalu duduk berbaur dengan Sukma dan Aluna. Ia memberikan pelukan hangat sebagai wujud empati.

"Sukma, yang sabar, ya. Yang kuat. Insya Allah di balik ujian berat ini ada hikmah dan hadiah manis yang sedang Allah siapkan buat kamu," ucap Ayu tulus sembari perlahan mengurai pelukannya.

Sukma hanya mengangguk lemah. Sebutir kristal bening yang sedari tadi tertahan di kelopak mata akhirnya luruh membasahi pipi.

"Setelah ini, aku harap kamu tetap melanjutkan kuliah dan jadi Sukma yang lebih hebat. Tegar dihantam badai ujian dan tetap ceria seperti Sukma yang aku kenal," lanjut Ayu.

Sukma menghela napas berat, sebisa mungkin menguatkan jiwanya yang rapuh. "Aku... mau berhenti kuliah, Kak. Bukannya aku nggak mau lanjut, tapi ada hal besar yang harus aku perjuangin untuk saat ini: kewarasanku. Lagipula, sekarang udah nggak ada Kak Hamdan yang membiayai kuliahku," ujarnya berterus terang.

Ayu dan Aluna meraup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Keduanya saling melempar tatap, seolah tengah berbicara lewat bahasa mata.

Sebagai istri dari CEO Amerta Group, Ayu sengaja tidak menawarkan bantuan beasiswa. Ia sangat paham maksud ucapan Sukma. Ia mengerti bahwa bukan sekadar alasan finansial yang membuat gadis itu ingin mundur dari kampus Cakrawala, melainkan karena marwahnya yang telah ternoda--hancur lebur akibat kebodohan Xavier.

Meski sudah mengetahui kemalangan yang menimpa Sukma, Ayu memilih untuk tetap diam di depan Aluna. Namun, diamnya bukan berarti ia tak berempati. Ayu hanya sedang memilih cara yang diyakininya bisa membantu Sukma di kemudian hari: bergerak dalam senyap.

"Sukma, kalau kamu berkenan, mulai hari ini tinggallah di rumahku. Di sana ada Papa, Mama, dan Kak Vier yang akan menjaga dan menemanimu, biar hidupmu nggak sepi lagi," Aluna turut bersuara. Ia mengusap lengan Sukma, menatap netra wanita malang itu dengan penuh kasih.

"Anggap saja keluargaku itu keluargamu juga. Jadilah bagian dari kami. Jangan biarkan kesedihan mendekapmu terlalu lama. Bangkit, Sukma. Tunjukkan pada dunia kalau kamu mampu melewati ujian ini."

Sukma tersenyum getir, membalas tatapan hangat Aluna. "Tinggal di sana bersama Xavier? Laki-laki bejat yang tega merenggut segalanya dariku?" batinnya menjerit perih.

"Terima kasih banyak, Lun. Tapi aku nggak mungkin bisa jadi bagian dari kalian. Aku... cuma ingin menepi. Menjauh dari orang yang udah tega menghancurkan hidupku."

Aluna mengernyit tipis mendengar kalimat terakhir Sukma. "Maksud kamu siapa, Sukma? Apa mungkin... aku mengenalnya?"

Sukma kembali tersenyum getir, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Bibirnya terkunci rapat, namun batinnya berteriak penuh amarah dan kebencian; "Kakakmu, Lun! Kakak kandungmu sendiri! Xavier!!!"

.

.

Rintik gerimis mulai turun membasahi bumi ketika jasad Hamdan selesai dikebumikan. Satu per satu para pelayat berpamitan, menyisakan Bi Jayanti yang masih setia menemani Sukma di pemakaman.

"Kak, kenapa Kak Hamdan pergi ninggalin Sukma? Sukma takut. Sukma udah nggak punya siapa-siapa lagi," ratap Sukma lirih.

Ia menangis tergugu di samping pusara. Membiarkan tubuhnya basah kuyup diguyur air langit. Dunianya telah runtuh sepenuhnya; kehormatan yang ia jaga mati-matian, direnggut paksa oleh Xavier. Sementara kakak yang selama ini menjadi pengayom hidupnya, justru memilih mengakhiri hidup dengan cara yang tak diberkati Tuhan. Bunuh diri.

"Kak, bawa aku. Aku juga ingin mati..." Suara Sukma begitu mengiris ulu hati, mendobrak paksa tangis Bi Jayanti yang semula tertahan.

"Non Sukma, ayo kita pulang," ucap Bi Jayanti pelan sambil mengusap lembut bahu Sukma yang bergetar hebat. Ia berharap sang nona mau mengindahkan ucapannya.

"Pulang ke mana, Bi? Aku udah nggak punya siapa-siapa."

"Pulang ke rumah. Masih ada Bibi yang akan selalu menemani Non Sukma."

"Aku nggak mau pulang! Aku mau tetap di sini atau... pergi jauh," tangis Sukma kian pecah. "Hidupku udah hancur, Bi. Sangat hancur. Kehormatanku direnggut dan Kakakku..." Sukma tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Lidahnya tercekat oleh buncahan rasa sesak yang mencekik erat.

Melihat keadaan sang nona yang hancur, Bi Jayanti ikut menangis. "Non, kalau Non Sukma tidak mau pulang ke rumah itu lagi, mari ikut Bibi. Kita tinggal di desa. Membuka lembaran baru dan hidup tenang di sana."

Sukma memejamkan mata rapat-rapat. Ia memeluk erat kayu nisan yang bertuliskan nama Hamdan, menumpahkan seluruh lara dan sisa air matanya di sana.

"Sukma..."

Suara familier tiba-tiba mengusik indra pendengaran, mendorong Sukma untuk membuka mata dan perlahan melepaskan pelukannya pada nisan.

"Nara..." Bibir Sukma bergetar saat mengeja nama itu.

Nara mengulas senyum tipis yang sarat akan kepedihan. Ia berjalan mendekat, lalu ikut bersimpuh di sisi pusara, tepat di hadapan Sukma. "Maaf, aku datang terlambat," ucapnya pelan.

Butiran kristal bening mulai menggenang di pelupuk mata Nara dan siap tumpah, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

Tak ada kata lagi yang terucap di antara mereka. Tergantikan desauan semesta melantunkan lagu nestapa, mewakili segala rasa yang berkecamuk di dalam dada seiring pelukan dua sahabat yang kini saling bertaut erat.

"Ra... aku ternoda," bisik Sukma setelah pelukan mereka perlahan terurai. Suaranya serak menahan isak, memecah keheningan makam. "Dia... merenggut paksa kesucianku. Aku ingin mati. Menyusul Kak Hamdan, Ayah, dan Bundaku."

Nara seketika bergeming. Tubuhnya membeku. Pengakuan yang baru saja meluncur dari bibir Sukma serasa meremas ulu hati, mencipta denyut nyeri yang luar biasa. Menghadirkan amarah yang kini memenuhi rongga dada. Namun, Nara berusaha keras mengendalikan emosi di depan sahabatnya yang sedang hancur.

"Siapa pelakunya?" Nada suara Nara terdengar rendah, namun penuh penekanan yang menuntut jawaban pasti.

"Xavier..."

Amarah Nara seketika meletup begitu mendengar nama ketua Geng Bima Sakti itu disebut. "Bajing**! Dia harus menerima hukuman yang setimpal. Kita laporkan manusia bejat itu ke polisi, biar dia membusuk di penjara!"

Sukma menggeleng lemah. Meski Xavier sudah meminta maaf, nyatanya ia tidak sedikit pun percaya dengan ucapan lelaki bejat yang telah menodai kesuciannya itu. "Aku nggak mau lagi berurusan dengannya, Ra. Dia ketua geng yang punya kuasa, dia bisa ngelakuin apa aja sesuka hati, tanpa peduli kehancuran orang lain."

"Nggak usah takut. Ada aku yang bakal melindungi kamu."

Sukma kembali menggeleng. "Aku nggak mau kamu juga jadi korban, Ra. Biarkan aku mati atau pergi jauh ...."

"Tapi, Sukma--"

"Tolong, jangan kasih tahu siapa-siapa," potong Sukma memohon. "Aku nggak mau semua orang tahu kalau aku... ternoda. Aku belum siap dipandang rendah dan hina oleh dunia."

Nara meraup udara dalam-dalam. Ia memejamkan mata sejenak untuk meredam emosinya yang membakar dada, lalu akhirnya mengangguk pelan.

Bahasa tubuhnya terpaksa mengamini permintaan Sukma, meski di dalam batinnya, ia meneriakkan sumpah serapah untuk menghancurkan Xavier dengan cara: menjadi bagian dari Geng Black Shadow, musuh bebuyutan Geng Bima Sakti.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
mom riz
suka ceritanya
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😇🙏🏻
total 1 replies
partini
aamiin bismillah jadi juara
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😍🙏🏻
total 1 replies
Nofi Kahza
Yups! betul. sekrng bukan waktunya mencari siapa yg salah, tapi intropeksi diri.

btw dr awal kamu kan yg salah?
Nofi Kahza
udahlah, Pir. Meski Gea nggak tau juga ujung2nya meninggal. justru Geaitu harus diberi tahu, biar dosamu segera ditebus.😒
Najwa Aini
Gak semuanya salah kamu, Nara. ajal seseorang itu sudah ditetapkan dari zaman azali
partini
ga lah lebih baik Gea tau secara itu perbuatan dosa besar si kafir Gea juga kondisi kesehatan nya udah ga memungkin hidup lama
memperkosa loh ga main" itu
Najwa Aini
Nah ini..kalimat Tara yg aku suka dari sejak bab Ryuga...
Najwa Aini: Iya paham..
total 2 replies
Najwa Aini
Si kakak Partini itu kah..yg selalu nagih dibuatin kisah Xavier ya
Ayuwidia: Bukan, Kak. Kak Erida yg dulu katanya nungguin, tapi belum aku colek. Kak Partini, pembacanya Nyai
total 3 replies
Najwa Aini
Kalau di kisah Rama ada Bi Ijah. Di sini ada Bi jayanti.
The Power of bibi bibi🌹🌹
Ayuwidia: Sungkem buat mereka 😍
total 1 replies
Najwa Aini
Aku yg baca juga pingin ngakak..
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
Ayuwidia: Ada2 gajah 😆
total 1 replies
Najwa Aini
frontal amat
partini
dasar kamu kafir punya pacar pengertian kamu biadab ,,waktu merangkak minta maaf ke Sukma
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier
Ayuwidia: Semoga ya, Kak 😁
total 1 replies
Nofi Kahza
gea soalnya hapal dg karakter Sapir yang batu😒
Ayuwidia: bener banget
total 1 replies
Nofi Kahza
kebiasaan tuman! emosi didahuluin dr pada otak😒
Ayuwidia: Namanya juga Sapir 😃😆
total 1 replies
Nofi Kahza
biasanya ada yng mau terkena musibah, atau ada yang meninggal...tapi tetep takdir itu kembali dg Yang di atas🥹
Nofi Kahza
biasalah.. bawa'an orang ngidam mang gitu. Senggol bacok🤣
Ayuwidia: Gampang Esmoni 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
tapi janinmu nggak hina Sukma🥹
Nofi Kahza
baguuusss😏
Nofi Kahza
masih ingusan aja, sok2an mau jadi pembunuh😒
partini
wasiat Gea suruh nikahi Sukma bearti dia tau apa yg di lakukan vier ke Sukma ,,bikin jungkir balik dulu dunia vier Thor baru Sukma lovely doply ❤️ sama sukma
Ayuwidia: Iyes, Kak. Biar dia terpacu berjuang buat ngeluluhin hati Sukma ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!