NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Tatapan yang Siap Membunuh

Hujan turun deras di belakang tubuh Arsen.

Angin malam masuk dari pintu gudang yang hancur, membawa udara dingin dan aroma tanah basah.

Lampu gudang berkedip samar, membuat suasana terasa seperti mimpi buruk.

Namun yang paling menyeramkan bukan tempat ini.

Melainkan tatapan Arsen.

Dingin.

Gelap.

Dan penuh amarah.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Nadira benar-benar takut melihat wajah pria itu.

“Lepasin dia.”

Suara Arsen rendah.

Pelan.

Tapi justru itu yang membuat suasana makin mencekam.

Rafael tersenyum kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana.

“Cepat juga.”

Arsen melangkah masuk perlahan.

Air hujan masih menetes dari rambut dan jas hitamnya.

“Aku nggak suka ngulang omongan.”

“Nah, ini Arsen yang terkenal itu.”

Rafael tertawa kecil.

“Dingin, kaya, dan selalu kelihatan kayak mau bunuh orang.”

“Aku emang mau bunuh lo.”

Kalimat itu keluar datar.

Tanpa emosi.

Dan Nadira langsung menegang.

Karena Arsen terdengar serius.

Sangat serius.

Rafael masih tersenyum santai, tapi matanya mulai waspada.

“Gara-gara cewek?”

“Gara-gara lo nyentuh milikku.”

Deg.

Napas Nadira langsung tercekat.

Rafael langsung tertawa keras.

“Milikmu?”

Tatapannya bergeser ke Nadira.

“Wah gawat.”

“Diam.”

“Tunangan saudara kembar sendiri aja belum selesai, sekarang udah claim perempuan lain?”

Rahang Arsen mengeras.

Nadira bisa merasakan udara di ruangan itu berubah makin panas.

Berbahaya.

Sangat berbahaya.

“Aku kasih pilihan terakhir,” kata Arsen dingin.

“Lepasin Nadira, atau gue hancurin hidup lo malam ini.”

Rafael menyipitkan mata.

“Berani banget.”

Lalu pria itu mendadak mengeluarkan pistol kecil dari belakang tubuhnya dan mengarahkannya ke kepala Nadira.

“Kalau nggak?”

“NADIRA!”

Arsen langsung berhenti bergerak.

Tubuh Nadira membeku total.

Jantungnya seperti berhenti.

Rafael tersenyum tipis di dekat telinganya.

“Sekarang kita ngomong baik-baik.”

Gudang tua itu mendadak terasa sangat sunyi.

Hanya suara hujan di luar yang terdengar samar.

Nadira bahkan bisa mendengar napasnya sendiri yang mulai kacau.

Pistol dingin di pelipisnya membuat tubuhnya gemetar.

“Aku nggak suka diancam,” ujar Rafael santai.

Sedangkan Arsen berdiri beberapa meter di depan mereka dengan tatapan tajam.

“Apa maumu?”

“Nah.” Rafael tersenyum puas. “Gitu dong.”

“Jawab.”

“Uang.”

Arsen tertawa kecil tanpa humor.

“Cuma itu?”

“Dua ratus miliar yang hilang bukan angka kecil.”

“Kamu udah pakai setengahnya.”

Rafael mengangkat alis.

“Cepat juga kamu cari tahu.”

“Aku tahu lebih banyak dari yang lo kira.”

Tatapan Rafael sedikit berubah.

Untuk pertama kalinya pria itu terlihat serius.

Sedangkan Nadira mulai bingung.

“Apa maksudnya?”

Arsen tidak mengalihkan pandangan dari Rafael.

“Dia bukan penipu biasa.”

Rafael tertawa pelan.

“Akhirnya ketahuan juga.”

“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Nadira lirih.

Pria itu menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Harusnya kamu nggak usah tahu.”

Namun Arsen menjawab lebih dulu.

“Dia anak mantan partner bisnis ayahku.”

Deg.

Nadira langsung membeku.

“Apa?”

“Dulu ayahnya kerja sama sama keluarga Wijaya.”

Rafael mendadak kehilangan senyumnya.

Tatapannya berubah dingin.

“Dan ayah lo menghancurkan keluarga gue.”

Arsen tidak membantah.

“Bisnis ayah lo gagal sendiri.”

“Bohong!”

Bentakan Rafael menggema di gudang.

Tangannya makin kuat mencengkeram pistol.

“Bokap lo yang nyusun semuanya!”

Nadira mulai mengerti.

Ini bukan sekadar soal uang.

Ini dendam.

“Ayah gue bunuh diri gara-gara keluarga Wijaya!” suara Rafael bergetar marah. “Dan sekarang kalian hidup enak seolah nggak terjadi apa-apa!”

Arsen tetap tenang.

Namun tatapannya makin gelap.

“Jadi lo manfaatin Nayla buat balas dendam.”

“Aku cuma ambil yang harusnya jadi milik keluargaku.”

“Kamu manipulasi dia.”

Rafael tertawa kecil.

“Dia gampang banget ditipu.”

Kalimat itu membuat Nadira langsung marah.

“Jangan ngomong gitu tentang dia!”

Rafael menoleh.

Dan entah kenapa tatapannya sedikit melunak saat melihat Nadira.

“Lihat?” gumamnya pelan. “Makanya aku bilang kamu beda.”

“Aku nggak sama kayak kamu.”

“Aku tahu.”

Rafael mendekatkan wajahnya sedikit.

“Kamu masih punya hati.”

Arsen langsung bergerak cepat.

“Jangan sentuh dia.”

Namun Rafael segera menarik Nadira mundur lagi sambil mengokang pistol.

“Berhenti di tempat.”

Situasi kembali tegang.

Nadira bisa merasakan tangan Rafael sedikit gemetar.

Pria itu mulai terdesak.

Dan orang terdesak biasanya paling berbahaya.

Di luar gudang, beberapa mobil hitam mulai berdatangan.

Anak buah Arsen diam-diam mengepung area.

Nayla turun dari salah satu mobil sambil memegang jaket erat.

“Aku mau masuk.”

“Tidak bisa, Nona.”

“Itu saudara aku!”

Namun sebelum siapa pun bisa menghentikannya, Nayla sudah berlari masuk ke dalam gudang.

“NAYLA!” teriak salah satu penjaga.

Terlambat.

Begitu Nayla masuk, semua langsung menoleh.

Dan wajah Rafael langsung berubah.

“Nayla…”

Suara itu berbeda sekarang.

Bukan dingin.

Bukan manipulatif.

Tapi… rumit.

Sedangkan Nayla berdiri dengan mata merah menatap pria yang dulu ia cintai habis-habisan.

“Jadi ini semua cuma balas dendam?”

Rafael diam.

“Kamu deketin aku cuma buat uang?”

Sunyi.

Hanya suara hujan.

Lalu Rafael tertawa kecil pahit.

“Awalnya iya.”

Deg.

Mata Nayla langsung berkaca-kaca.

“Awalnya?”

Tatapan Rafael goyah sesaat.

Dan itu cukup jadi jawaban.

Nadira langsung menyadari sesuatu.

Pria ini mungkin memang manipulatif.

Tapi perasaannya pada Nayla tidak sepenuhnya palsu.

Sayangnya semuanya sudah terlambat.

“Aku benci kamu,” bisik Nayla sambil menangis.

Rafael menatapnya lama sekali.

Wajahnya yang selama ini tenang mulai retak.

“Aku tahu.”

Nayla tertawa kecil sambil menangis lebih keras.

“Kalau tahu kenapa kamu lakuin ini…”

“Aku nggak punya pilihan.”

“KAMU PUNYA!”

Bentakan Nayla menggema.

Tubuhnya gemetar hebat.

“Aku would've helped you…”

Kalimat itu keluar lirih.

Patah.

Dan untuk pertama kalinya…

Rafael terlihat menyesal.

Benar-benar menyesal.

Namun semuanya berubah dalam satu detik.

Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Rafael langsung tersadar.

“Sial.”

Tatapannya berubah dingin lagi.

Ia menarik Nadira lebih dekat.

“Nggak ada yang gerak.”

Arsen melangkah maju sedikit.

“Udah selesai.”

“Belum.”

“Lo kalah.”

Rafael tersenyum tipis.

“Kalau aku kalah…” tatapannya jatuh ke Nadira, “aku nggak akan jatuh sendirian.”

Nadira langsung membeku.

Dan detik berikutnya—

DUARR!

Suara tembakan menggema.

Semua terjadi terlalu cepat.

Tubuh Nadira terdorong keras.

Arsen langsung menariknya ke bawah.

Jeritan Nayla terdengar nyaring.

Nadira memejamkan mata ketakutan.

Namun…

Ia tidak merasakan sakit.

Perlahan ia membuka mata.

Dan tubuhnya langsung dingin.

Rafael berdiri limbung beberapa meter dari mereka.

Darah mengalir dari bahunya.

Salah satu sniper anak buah Arsen menembaknya dari luar.

Pistol di tangan Rafael jatuh ke lantai.

Pria itu tertawa kecil sambil memegangi luka tembaknya.

“Gila…”

Polisi mulai masuk dari segala arah.

Namun Rafael tidak melawan lagi.

Tatapannya justru mencari Nayla.

“Aku pernah serius sama kamu.”

Suara itu pelan.

Lemah.

Nayla langsung menangis lagi.

“Tutup mulut kamu…”

Rafael tersenyum kecil.

Sedih.

“Aku harap di hidup lain…” ia menarik napas berat, “aku ketemu kamu bukan buat balas dendam.”

Dan kalimat itu terasa terlalu menyakitkan untuk didengar.

Satu jam kemudian.

Gudang sudah dipenuhi polisi.

Rafael dibawa pergi dengan tangan diborgol.

Sebelum masuk mobil polisi, pria itu sempat menoleh ke arah Nadira.

Tatapannya aneh.

Kosong tapi juga tenang.

“Hati-hati sama keluarga besar,” katanya pelan.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Monster paling bahaya bukan selalu orang luar.”

Deg.

Kalimat itu membuat bulu kuduk Nadira meremang.

Namun Rafael sudah masuk ke mobil polisi dan pergi.

Meninggalkan kekacauan di belakangnya.

Nadira duduk diam di ambulans sambil diselimuti jaket milik Arsen.

Tangannya masih gemetar.

Dokter tadi bilang ia syok.

Dan memang iya.

Ia hampir mati malam ini.

“Minum.”

Arsen menyerahkan botol air padanya.

Nadira menerimanya pelan.

“Kamu luka?”

“Enggak.”

“Kepalamu kebentur tadi.”

“Aku masih hidup.”

Arsen menatapnya lama.

Lalu tiba-tiba berkata pelan,

“Jangan ngomong kayak itu lagi.”

“Apa?”

“Seolah hidup atau mati kamu nggak penting.”

Deg.

Nadira langsung diam.

Tatapan Arsen terlalu serius.

Terlalu dalam.

“Aku takut tadi,” bisik Nadira tanpa sadar.

“…”

“Waktu dia nempelin pistol…”

Suaranya mulai bergetar lagi.

“Aku kira aku bakal mati.”

Arsen langsung menarik Nadira ke pelukannya.

Pelukan itu mendadak.

Kuat.

Hangat.

Dan langsung menghancurkan pertahanan Nadira.

“Aku nggak bakal biarin siapa pun nyakitin kamu.”

Suara Arsen terdengar dekat sekali di telinganya.

Jantung Nadira langsung kacau total.

Ia bisa mencium aroma parfum pria itu.

Bisa mendengar detak jantungnya.

Dan yang paling berbahaya—

Ia merasa aman.

Sangat aman.

Perlahan Nadira memegang jas Arsen pelan.

“Arsen…”

“Hm?”

“Aku takut.”

Pria itu mengusap belakang kepalanya lembut.

“Aku tahu.”

Dan sialnya…

Nadira hampir menangis lagi karena perlakuan sederhana itu.

Namun beberapa meter dari mereka…

Nayla berdiri diam memperhatikan semuanya.

Tatapannya jatuh pada tangan Arsen yang memeluk Nadira erat.

Pada cara pria itu menatap saudara kembarnya.

Dan perlahan…

Senyum pahit muncul di wajah Nayla.

Karena sekarang ia akhirnya sadar satu hal.

Arsen Wijaya tidak pernah jatuh cinta padanya.

Yang dilihat pria itu sejak awal…

Selalu Nadira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!