Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS
Pelan, ia duduk. Ponsel kembali ia genggam. Mengingat pesan yang dikirim ayahnya, ia masih bisa mengingatnya dengan jelas, setiap kata, setiap jeda.
Jangan percaya siapa pun.
Cari sepatu kacamu.
Jika ayahnya masih hidup, maka pesan itu bukan peringatan terakhir. Itu instruksi. Dan jika itu instruksi berarti ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sesuatu yang belum selesai.
Sepatu kaca itu terasa dingin di telapak tangan Ella.
Kecil. Ringan. Terlihat tidak berarti, hanya pajangan biasa yang selama ini ia simpan tanpa pernah benar-benar dipikirkan. Hadiah dari ayahnya, beberapa waktu setelah ibunya meninggal. Saat itu, Ella tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menerimanya, menganggapnya sebagai cara sederhana ayahnya menghibur.
Sekarang benda itu terasa berbeda.
Ella memutarnya perlahan di bawah cahaya. Permukaannya bening, halus, hampir sempurna. Tapi ia tahu, ini bukan sekadar pajangan. Ia sudah melihatnya. Celah kecil. Sambungan yang terlalu rapi untuk sekadar hiasan.
Di dalamnya ada sesuatu. Flashdisk.
Jantung Ella berdetak lebih cepat. Jika benar ada data di dalamnya maka mungkin di situlah semua jawaban berada. Tentang ayahnya. Tentang tuduhan korupsi itu. Tentang kenapa semuanya terasa seperti disusun.
Tapi ia tidak bisa membukanya di sini. Tidak di rumah ini. Komputer yang biasa digunakan ada di ruang kerja ayahnya. Dan untuk masuk ke sana sekarang, setelah semua yang terjadi, setelah sikap Bu Vero yang semakin menekan, terlalu berisiko. Satu langkah salah, dan semuanya bisa hilang sebelum ia sempat memahami apa pun.
Ella menggenggam sepatu kaca itu lebih erat. Ia butuh tempat lain. Tempat yang aman. Tempat di mana ia bisa membuka ini tanpa diawasi.
Tapi di mana?
Ia tidak bisa mempercayai siapa pun. Belum. Tidak sebelum ia tahu dengan pasti apa yang sedang ia hadapi. Pikirannya beralih. Ke sesuatu yang sejak tadi mengganggunya. Pernikahan ayahnya.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, sepatu kaca itu masih di tangannya, sementara pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini terasa janggal.
Terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba. Ayahnya menikah tanpa benar-benar memberinya waktu untuk memahami. Tidak ada proses. Tidak ada perkenalan. Bahkan Ella tidak pernah melihat Bu Vero sebelumnya berada di lingkungan ayahnya. Tidak pernah muncul di acara kantor. Tidak pernah disebut dalam percakapan sehari-hari. Seolah ia datang dari luar. Dan langsung masuk ke dalam hidup mereka.
Kenapa? Untuk apa? Napas Ella melambat, tapi pikirannya justru semakin tajam. Malam setelah akad. Semuanya masih terasa asing. Dan keesokan paginya ayahnya langsung berangkat dinas keluar kota. Begitu saja. Tanpa waktu. Tanpa jeda. Seolah pernikahan itu bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Seolah itu hanya formalitas.
Ella mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya kosong, tapi penuh perhitungan. Bagaimana mungkin seseorang yang baru menikah langsung pergi? Tanpa alasan yang jelas? Kecuali memang ada sesuatu yang lebih penting dari pernikahan itu sendiri. Atau pernikahan itu justru bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sepatu kaca di tangannya terasa semakin berat. Semua mulai terhubung. Pesan ayahnya. Kecelakaan. Tuduhan. Penggeledahan. Dan pernikahan yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan.
Ella menutup matanya sejenak. Lalu membukanya kembali. Lebih yakin.
Lebih waspada. Jika semua ini memang dirancang maka ia sudah berada di tengahnya sejak awal. Dan satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan menemukan kebenaran terlebih dahulu.
Dimulai dari benda kecil di tangannya. Sepatu kaca. Yang mungkin menyimpan alasan kenapa semuanya terjadi.
"Ayo berpikir cepat Ella, apa yang harus kamu lakukan?" Ella mencoba memacu otaknya untuk berpikir cepat. Tetapi belum juga ada jalan keluar yang ditemukan.
Ella hanyalah gadis berusia delapan belas tahun yang baru lulus SMA dan sepekan lagi akan menjadi mahasiswi hukum di salah satu perguruan tinggi negari terbaik di kotanya.
Ia memang suka dengan komik-komik misteri, tetapi Ella tak yakin otaknya mampu berpikir cepat, memecah teka-teki ini. Tetapi sekarang ia dituntut harus melakukan itu semua.
"Ahhhh, apa aku bisa?" Ella memicingkan matanya.
***
Rumah itu kini terasa seperti tempat yang sama sekali berbeda.
Bukan karena bentuknya berubah, dindingnya masih sama, lorongnya masih panjang dan dingin seperti biasa, tapi karena sesuatu yang tak terlihat telah bergeser. Hangat yang dulu pernah ada, meski sederhana, kini hilang tanpa sisa. Yang tersisa hanya ketegangan yang menggantung di setiap sudut, seolah rumah itu sendiri sedang menahan sesuatu.
Ella merasakannya sejak langkah pertama ia keluar kamar. Tatapan Bu Vero. Tidak lagi sekadar dingin, tapi penuh penilaian.
Setiap gerak Ella diperhatikan, setiap kata ditimbang, seolah ia bukan lagi anak di rumah itu, melainkan seseorang yang harus diawasi. Tidak ada bentakan, tidak ada kemarahan yang meledak, justru itu yang membuatnya lebih menekan. Segalanya dibungkus dalam nada halus, tapi penuh kontrol.
“Kamu sebaiknya tidak keluar-keluar dulu,” kata Bu Vero suatu sore, sambil menyusun cangkir di meja makan. “Kondisi sedang sensitif. Banyak orang memperhatikan.”
Kata-kata itu terdengar seperti nasihat. Tapi tidak terasa seperti kepedulian. Lebih seperti pembatasan.
Ella tidak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan cara perempuan itu bergerak tenang, rapi, seolah sudah sangat terbiasa berada di rumah ini.
Terlalu terbiasa. Sisil bahkan lebih sulit dibaca. Ia tidak menekan secara langsung seperti ibunya. Tapi kehadirannya terasa mengganggu. Selalu muncul di waktu yang tidak tepat. Selalu tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Dan selalu tersenyum tipis, seolah menyimpan sesuatu.
“Masih mikirin soal ayahmu?” tanyanya suatu malam, tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ella tanpa suara.
Ella menoleh cepat. “Apa?”
Sisil mengangkat bahu, berjalan santai melewati Ella menuju meja. “Berita ayahmu masih saja memenuhi televisi.” Nada bicaranya ringan. Tapi matanya mengamati.
Ella menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. “Wajar aja, kan? Kasusnya baru terjadi, jadi wajar beritanya muter-muter di sana."
“Hmm.” Sisil tersenyum kecil. “Kamu tahu sesuatu yang mereka cari?” Kalimat itu dilontarkan begitu saja. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka menegang.
Ella menatapnya beberapa detik, mencoba membaca maksud di baliknya. “Kalau aku tahu,” jawab Ella pelan, “nggak mungkin aku diam aja.”
Sisil tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum lagi. Senyum yang sama yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Dan di situlah Ella sadar yang membuat rumah ini terasa tidak aman bukan hanya karena apa yang terjadi di luar. Tapi karena orang-orang di dalamnya. Ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Atau apakah ada yang bisa dipercaya sama sekali.
Bahkan setiap langkah kecil kini terasa harus diperhitungkan. Meninggalkan kamar terlalu lama bisa menimbulkan kecurigaan. Masuk ke ruang tertentu bisa memancing pertanyaan. Bahkan sekadar membawa sesuatu bisa diperhatikan.