AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 27
Setelah ngeteh dan mengobrol ringan, Omaya menyuruh Wira membawa Audrey ke kamar nya. Kamar yang biasa dia gunakan jika menginap dirumah Omaya.
"Kak! Seharusnya kakak nggak langsung setuju pas omaya nyuruh kita nginep ? Sekarang gimana coba, pasti Omaya marah kalau tau selama ini kita tidur terpisah,"
"Yasudah, mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur." Dengan enteng nya Wira mengatakan itu. Padahal inti masalah ada pada Wira sendiri.
"Sini.." Wira menepuk sisi tempat tidur. Menyuruh Audrey untuk duduk di samping nya.
Audrey menurut meski dengan wajah yang cemberut.
"Bantu aku. Aku akan mencobanya malam ini."
Wajah Audrey berbuah kaku dengan mata yang menatap Wira penuh tanda tanya.
"Malam ini kita akan tidur di sini, di kamar dan di kasur yang sama." Mata Wira terlihat sendu membuat Audrey merasa iba mengingat trauma Wira dimasa lalu.
Audrey menyentuh punggung tangan Wira, "Jangan dipaksakan, Kak. Aku takut nanti kakak malah tersiksa."
Wira menggenggam tangan Audrey, "Bantu aku." Hanya itu yang bisa Wira ucapkan.
Masuk waktu makan siang..
"Wah, banyak sekali lauknya, Omaya ?" Audrey duduk di kursi meja makan tepat di samping Wira.
"Ini spesial untuk menjamu cucu menantu Omaya."
Setelah makan siang, Omaya dan Audrey duduk di ruang tengah sambil bercerita. Sedang Wira, lelaki itu malah ke kamar, mau istirahat katanya.
"Omaya, aku boleh tanya ?" Audrey memulai percakapan
Omaya mengangguk, dengan senyum tipis.
"Omaya itu artinya apa, sih ? Aku baru denger loh ada yang manggil neneknya dengan sebutan Omaya. Ya, yang sewajarnya aku dengar paling Nenek, kalau nggak nenek ya Oma."
Omaya menyuruh pelayan mengambil sebuah album foto dengan sampul keras tebal berbahan khusus yang memberikan kesan eksklusif dan mewah.
"Kamu tau ini siapa ?" tanya Omaya ketika membuka lembaran pertama dari buku berisi puluhan foto kenangan di masa lalu.
"Mama Adriana ?"
Omaya tersenyum tapi tergambar jelas ada luka di mata tua nya.
"Dia adalah menantu terbaik bagi Omaya." Omaya mengusap foto Mama Adriana yang tersenyum sambil menggendong bayi laki-laki yang Audrey yakin bayi itu adalah Wira.
"Pertama kali Adriana yang menyebut Omaya dengan panggilan itu. Katanya 'Omaya, tolong jaga Wira sebentar ya. Aku mau ke toilet'." Ucap Omaya sambil menirukan cara bicara Mama Adriana. Persis sama dan itu masih Omaya sampai sekarang.
"Kata Adriana, Omaya itu artinya OMa kAYA."
Audrey menahan senyumnya ketika tau arti dari kata Omaya. Audrey yakin pasti mendiang Mama Adriana itu orang yang seru dan humoris. Ah, seandainya saja Mama Adriana masih hidup, mungkin mereka akan menjadi pasangan menantu dan mertua yang kompak. Sama-sama receh.
"Aku yakin Omaya dan Mama Adriana dulunya selalu akur dan kompak, ya ?!"
Omaya menghapus sisa cairan bening di sudut matanya, "Tentu saja. Kami punya banyak kesamaan. Kami suka belanja, suka masak dan kami juga suka berenang." Untuk pertama kali nya setelah dua puluh tahunan Mama Adriana pergi Omaya menemukan kembali orang yang bisa memberikan kenyamanan saat di ajak bicara.
"Wah, seru sekali. Semoga aku dan Bunda Santi bisa seperti Omaya dan Mama Adriana, ya?!"
Omaya mendengus, "Tidak usah. Kamu jangan dekat-dekat dengan si Santi itu."
"Loh, kok gitu Omaya ?"
"Dia itu kawin sama anak Omaya cuma karena harta, bukan cinta. Asal kamu tau ya, sayang, sampai detik ini Omaya belum bisa menerima kehadiran dia sebagai menantu. Bagi Omaya, menantu Omaya cuma Adriana, nggak ada yang lain termasuk si Santi!!"
Audrey tertegun. Dia tidak menyangka sama sekali kalau hubungan Omaya dan Bunda Santi tidak baik-baik saja.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kamu istirahat saja, nanti kalau sudah waktunya makan Omaya suruh pelayan panggil kalian."
Audrey menatap Omaya yang lebih dulu meninggalkan ruang keluarga sambil kursi rodanya di dorong suster pribadi.
"Kenapa hubungan Omaya dan Bunda Santi buruk sekali ?!" Batin Audrey bertanya-tanya.
Dikamar..
Ketika Audrey masuk ke dalam kamar, ternyata Wira sedang duduk di sofa sambil bekerja lewat ponselnya.
"Kak ?!"
"Hem ?" Wira menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Sebenarnya Omaya itu bagaimana orang nya ?" Audrey sengaja bertanya ke Wira langsung, dari pada dia mencari tau ke orang lain yang bisa saja dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan.
Wira mengangkat kepalanya, menatap Audrey.
"Maksudnya ?"
"Kakak pasti tau maksud aku."
"Apa tadi kamu bertengkar dengan Omaya ?"
Audrey menggeleng cepat, "Tentu saja tidak!" Tegas Audrey.
"Ya terus kenapa kamu bertanya seperti itu ?"
"em...Tadi aku habis lihat-lihat foto Mama Adriana saat Kak Wira masih bayi sampai balita. Omaya sangat antusias menceritakan kenangan nya bersama mendiang Mama Adriana."
"Lalu ?"
Audrey diam sejenak, "Tapi Mama Adriana langsung berubah saat aku menyebut nama Bunda Santi."
Wira melepaskan kaca mata bacanya, lalu berdiri, berjalan ke arah Audrey.
"Mama dan Omaya memang sangat dekat. Bahkan Omaya sering menginap di mansion agar bisa sering mengobrol dengan Mama. Tapi, setelah Mama meninggal dan Ayah memutuskan untuk menikah lagi, sejak saat itu Omaya berubah sikapnya pada Ayah, terutama pada Bunda Santi yang di anggap hanya menginginkan harta Ayah."
"Kasian ya Bunda Santi." Ucap Audrey tanpa sadar membuat Wira mengerutkan keningnya.
"Kasihan ?" Beo Wira dengan pandangan meremehkan, "Tidak. Aku rasa yang Omaya lakukan sudah benar. Bunda Santi hadir di tengah-tengah kami ketika hati kami belum sepenuhnya sembuh atas kehilangan jantung rumah kami. Kedatangannya membuat keluarga besar Bimasena marah, terutama Omaya."