NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Celah di tengah Isak tangis

Isak tangis Aluna di ruang VVIP itu tidak benar-benar sunyi. Meskipun pintu tertutup rapat dan Anwar berjaga di depan, celah kecil di bawah pintu kayu jati itu membiarkan suara kesedihan Aluna merambat keluar ke koridor rektorat yang sepi.

Rio berdiri mematung beberapa meter dari sana. Ia sengaja mengikuti Aluna sejak dari kelas, bersembunyi di balik pilar besar, menunggu kesempatan kecil di tengah kepungan pengawal yang menyerupai agen rahasia itu. Mendengar suara tangis Aluna yang tersedu-sedu, hati Rio mencelos. Ia tidak pernah melihat Aluna sehancur ini. Gadis yang biasanya ceria dan penuh semangat itu kini terdengar seperti burung kecil yang sayapnya dipatahkan paksa.

Kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan. Anwar, yang sejak pagi tidak meninggalkan posisinya, tampak menerima panggilan di earpiece-nya. Ia mengangguk beberapa kali, menoleh ke kiri dan kanan, lalu memberi kode pada seorang petugas keamanan kampus di dekatnya untuk berdiri di depan pintu selama dua menit sementara ia bergegas menuju toilet di ujung lorong.

Rio tahu, ini adalah satu-satunya celah. Dengan langkah cepat namun tenang, ia mendekat. Petugas keamanan kampus itu tidak sekaku Anwar; ia hanya mengenal Rio sebagai mahasiswa biasa.

"Maaf, Pak. Saya hanya ingin memberikan buku referensi yang tertinggal tadi di kelas. Ini penting untuk tugas siang ini," ujar Rio dengan wajah polos yang meyakinkan.

Petugas itu ragu, namun sebelum ia sempat menolak, Rio sudah mengetuk pintu pelan dan masuk ke dalam. Di sana, Aluna tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar, matanya yang sembap menatap Rio dengan keterkejutan yang luar biasa.

"Rio?! Apa yang kau lakukan di sini? Pergi! Anwar akan membunuhmu kalau melihatmu!" bisik Aluna panik. Ia melirik ke arah pintu dengan ketakutan yang nyata.

Rio tidak membuang waktu. Ia tidak bicara sepatah kata pun karena ia sadar—entah bagaimana caranya—Bram mungkin bisa mendengar mereka. Dengan gerakan cepat, ia meraih tangan kiri Aluna, lalu menyelipkan secarik kertas kecil yang dilipat rapi ke dalam telapak tangan gadis itu.

Matanya menatap Aluna dalam-dalam, sebuah tatapan yang penuh dengan janji dan tekad yang belum pernah Aluna lihat sebelumnya. Rio menggenggam tangan Aluna sekilas, memberikan kekuatan, lalu berbisik sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.

"Baca itu nanti. Aku tidak akan membiarkanmu terjepit seperti ini."

Tanpa menunggu jawaban, Rio berbalik dan keluar tepat saat Anwar kembali dari toilet. Anwar menyipitkan mata, tangannya refleks meraba pinggangnya—tempat ia menyembunyikan alat komunikasi—saat melihat Rio baru saja keluar dari ruangan Aluna.

"Apa yang kau lakukan di sana, Mahasiswa?" suara Anwar menggelegar, dingin dan penuh ancaman.

Rio tidak menunduk. Ia tidak gemetar. Sebaliknya, ia berhenti tepat di depan Anwar, hanya terpaut beberapa sentimeter. Rio menegakkan bahunya, menatap langsung ke mata Anwar yang tertutup kacamata hitam. Sebuah senyum meremehkan tersungging di bibir Rio.

"Hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Aluna, Pak. Anda tidak perlu secemas itu. Atau... apakah majikan Anda memang se-paranoid itu?" jawab Rio santai, nadanya mengandung provokasi yang berani.

Anwar menggerakkan rahangnya, otot-otot di lengannya menegang. "Kau sedang bermain api, Nak. Kau tidak tahu siapa yang sedang kau tantang."

Rio tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Anwar. "Aku tahu siapa dia. Tapi aku juga tahu bahwa Aluna punya hak untuk bernapas. Permisi."

Rio melenggang pergi dengan gaya menantang, meninggalkan Anwar yang hampir meledak karena amarah. Di dalam ruangan, Aluna masih tertegun. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan kertas kecil itu di bawah meja, memastikan posisinya tidak tertangkap oleh sensor cahaya mana pun.

Tulisan di sana singkat, namun sanggup meruntuhkan pertahanan Aluna:

"Aku akan menyelamatkanmu, Aluna. Bersabarlah. Aku tidak takut pada 'Daddy'-mu. Kamu tidak sendirian."

Aluna meremas kertas itu dan menyembunyikannya di dalam saku roknya yang terdalam. Perasaan takut dan harapan bercampur aduk menjadi satu. Ia menatap gelangnya. Ia tahu Bram pasti merasa ada yang aneh, karena detak jantung Aluna saat ini sedang berpacu tidak karuan.

Sementara itu, di kantor pusat Bramasta Group, Bram berdiri dari kursinya. Ia baru saja mendengar suara pintu terbuka dan tertutup melalui earpiece-nya, namun ia kehilangan audio selama beberapa detik karena gangguan sinyal atau mungkin suara yang terlalu rendah.

Ia melihat grafik detak jantung Aluna di monitornya melonjak tajam ke angka 120 bpm.

"Anwar," panggil Bram melalui perangkat komunikasinya, suaranya parau oleh amarah yang tertahan.

"Ya, Tuan Besar?"

"Siapa yang masuk ke ruangan itu tadi?"

"Rio, Tuan. Hanya sebentar. Saya kecolongan saat ke toilet. Tapi dia sudah saya peringatkan."

Bram menghantam meja kerjanya hingga vas bunga kristal di atasnya bergetar. "Peringatan tidak cukup, Anwar! Anak itu mulai berani menantang otoritas kita secara terang-terangan. Dia masuk ke zona merahku."

Bram berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Matanya berkilat penuh rencana gelap. Ia merasa kendalinya atas Aluna mulai goyah karena keberadaan "nyamuk" kecil bernama Rio.

"Dia pikir dia pahlawan?" gumam Bram sambil meremas ponselnya. "Aku akan tunjukkan padanya bahwa di dunia ini, pahlawan selalu berakhir tragis jika mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milikku."

Sore itu, saat Aluna keluar untuk pulang, Rio sengaja berdiri di koridor utama, bersandar pada dinding sambil memainkan kunci motornya. Saat Aluna lewat dengan pengawalan Anwar, Rio dengan sengaja mengedipkan mata pada Aluna dan memberikan senyum kemenangan pada Anwar.

Rio benar-benar melanggar semua batas. Ia seolah menabuh genderang perang tepat di depan wajah sang penjaga. Aluna hanya bisa menunduk, antara takut akan keselamatan Rio dan rasa haru karena akhirnya ada seseorang yang berani melawan kegelapan yang mengepungnya.

"Kita pulang sekarang, Nona," desis Anwar sambil menarik lengan Aluna sedikit lebih kasar dari biasanya, ingin segera menjauhkan gadis itu dari pengaruh Rio.

Namun di dalam mobil, Aluna tidak lagi menangis. Tangannya meremas kertas di sakunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki senjata rahasia melawan Daddy-nya yang posesif.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
ini sebenarnya gimana hubungan para pemain..kakak yg dimaksud vanya , bram? bukankan mereka berteman? vanya dan rehan bersaudara bukan? si aluna juga manggil vanya kakak, pdhl pantasnya tante. trus si rehan ngomong kek orng sumuran dengan bram. trus si adiguna kan ayahnya bram, ada chapter sebelumnya dia manggil kakek..Tuan adiguna sebenarnya ada brp?
ollyooliver🍌🥒🍆
tamu kesayangan? yg punya rumah bukannya bram?
Senja_Puan: betuul kak. coba dibaca baik-baik
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ini kenapa bram gk menampar rehan, dia tuan rumah bukan? terlepas mungkin rehan tau hubungan lebih aluna dan bram..ya bram berhak atas aluna. knp bram disini sangat bodoh, masa anak kecil didiamin, percuma dibentuk jadi karakter seorang penguasa kalau si rehan aja gk bisa ditangani😌
ollyooliver🍌🥒🍆
jangan menunggu nekatnya, dari dia berani menantang bram dengan menyentuhmu itu sdh kelewatan..lu aja yg dasarnya lonte😌
Mita Paramita
kasian aluna 🤣🤣🤣
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna udah gk lembek lagi😍😍
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna bisa jg lawan si clarajing, udah deh Aluna gk usah terlalu di lembek2in gitu dah
ollyooliver🍌🥒🍆
gw yg deg"an...biarin aja kalau ketahuan mah🤧
ollyooliver🍌🥒🍆
kek maling aja🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
waduuuhhh
Yasa
heeeei, bisa-bisamya anda Bram. gimana kalau lolos tuh desahannya/Sob/
Yasa
😍
Yasa
semangat thor
Yasa
Halah Halah emang akal-akalan Bram. Mencari kesempatan dalam kesempitan
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
ollyooliver🍌🥒🍆
kakek? harusnya yg disebut ayahnya bram 🤔
ollyooliver🍌🥒🍆
kok diupload ulang
Senja_Puan: wah iya kak, salah masukin draft
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
oh pake alarm ya..instan🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
pdhl sikap aluna yg beginilah yg membuat clara sangat pintar menjatuhkan lawan😄
ollyooliver🍌🥒🍆
nah dri caramu mencari simpatilah, kau dikatakan bayi...mencari perlindungan dri orng lain bukan mengandalkan diri sendiri. pake otaklah dikit😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!