Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.Cahaya di Balik Kegelapan
Matahari mulai merendah, menyebarkan warna oranye keunguan yang dramatis di cakrawala Kota Kuoh. Bayangan bangunan sekolah memanjang, menciptakan garis-garis gelap yang kontras di atas lapangan rumput. Ren berjalan menyusuri selasar terbuka yang menghubungkan gedung utama dengan area taman belakang. Suasana sekolah sudah jauh lebih sepi; hanya terdengar sayup-sayup suara teriakan dari klub olahraga yang masih berlatih di kejauhan.
Ren berhenti di depan air mancur tua yang sudah tidak berfungsi, tempat yang disebutkan oleh sistem sebagai lokasi artefak suci yang terkubur. Ia memasukkan tangannya ke saku celana, berdiri tegak sambil menatap air mancur yang dipenuhi lumut tipis itu. Di balik kacamata hitamnya, Six Eyes mendeteksi pendaran energi suci yang tertimbun di bawah lapisan tanah dan beton—sebuah fragmen kecil namun memiliki kemurnian yang cukup untuk menarik perhatian makhluk supranatural mana pun.
[SISTEM: Deteksi keberadaan individu di belakang pohon oak besar. Jarak: 15 meter. Identitas: Rias Gremory.]
[REN: Akhirnya dia muncul. Aku sudah menunggu pemilik rambut merah ini sejak tadi pagi.]
Ren tidak berbalik. Ia justru mengambil sebuah koin kecil dari sakunya dan melemparkannya ke dalam kolam air mancur yang kering. Denting logam yang beradu dengan batu terdengar nyaring di tengah kesunyian sore.
"Bersembunyi di balik bayangan pohon bukanlah gaya yang cocok untuk seorang putri dari keluarga Gremory yang agung, bukan begitu?" ucap Ren, suaranya mengalun tenang namun merambat jelas melalui udara yang mulai mendingin.
Hening sejenak. Kemudian, langkah kaki yang anggun terdengar di atas rumput. Rias Gremory melangkah keluar dari balik bayangan pohon oak, rambut merahnya yang menyala tampak semakin kontras di bawah cahaya lembayung senja. Ia tidak tampak terkejut karena keberadaannya diketahui; sebaliknya, tatapannya penuh dengan martabat dan otoritas seorang bangsawan Iblis.
"Kau memiliki indera yang sangat tajam, Saiba Ren," Rias berhenti dalam jarak yang cukup aman, tangannya terlipat di depan dada. "Sona menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang 'variabel' yang tidak bisa ia hitung. Dan setelah melihatmu sendiri, aku mengerti kenapa dia merasa terganggu."
Ren perlahan memutar tubuhnya, menghadap Rias sepenuhnya. Ia tidak melepaskan kacamata hitamnya, namun senyum tipis yang penuh teka-teki menghiasi wajahnya. "Ketua Sona terlalu banyak berpikir. Dunia ini tidak selalu tentang matematika dan logika, Rias-san. Terkadang, hal-hal terjadi hanya karena memang seharusnya terjadi."
Rias menyipitkan matanya. Ia bisa merasakan tekanan udara di sekitar Ren sedikit berbeda—seolah-olah ruang di sekitar pemuda itu lebih padat. "Aku tidak percaya pada kebetulan. Seorang manusia yang bisa mendeteksi kehadiranku tanpa alat bantu, dan memiliki keberanian untuk berbicara sesantai ini di hadapan Iblis... Kau bukan sekadar murid pindahan, bukan?"
Ren terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat, satu langkah yang lambat namun penuh tekanan. "Iblis, Malaikat Jatuh, atau manusia... bagi saya, itu hanyalah label yang membatasi potensi. Pertanyaan yang sebenarnya adalah, apa yang diinginkan oleh seorang Gremory dari orang asing seperti saya?"
Rias tidak mundur. Ia justru memancarkan sedikit energi Power of Destruction miliknya, membuat udara di sekitar mereka terasa panas dan berat. "Aku ingin tahu apakah kau adalah ancaman bagi kedamaian kota ini. Atau mungkin... kau adalah seseorang yang bisa menjadi rekan yang berharga bagi kelompokku."
[SISTEM: Tawaran rekrutmen terdeteksi. Peringatan: Menjadi Pion Iblis akan membatasi kebebasan Ruang-Waktu Anda.]
[REN: Jangan konyol. Aku tidak akan pernah menjadi pion siapa pun, apalagi di bawah kendali seorang gadis remaja, seberapa pun cantiknya dia.]
"Rekan?" Ren berhenti tepat di hadapan Rias, tinggi badannya membuat Rias harus sedikit mendongak. "Maaf mengecewakanmu, Rias-san. Tapi saya bukan tipe orang yang suka memakai 'bidak' di punggung saya. Saya lebih suka bermain di luar papan catur."
Mata Rias berkilat marah sejenak mendengar penolakan yang begitu terang-terangan, namun ia segera menekan emosinya. Ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi dari Iblis Kelas Tinggi mana pun yang pernah ia temui.
"Sombong sekali," bisik Rias, suaranya rendah namun tajam. "Tapi aku suka tantangan. Jika kau memang sehebat yang kau tunjukkan, kita akan segera bertemu lagi. Di dunia ini, tidak ada rahasia yang bisa terkubur selamanya."
Rias berbalik, membiarkan rambut merahnya berkibar tertiup angin sore saat ia melangkah pergi menuju gedung Klub Ilmu Gaib. Ren menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu kayu gedung tua itu.
[SISTEM: Hubungan karakter diperbarui—Rias Gremory. Status: Sangat Penasaran / Tertantang.]
[SISTEM: Quest Utama Diperbarui—Membangun Fondasi. Tujuan: Ambil fragmen suci di bawah air mancur saat tengah malam.]
Ren kembali menatap air mancur di depannya. Langit sekarang sudah hampir sepenuhnya gelap, menyisakan bintang-bintang yang mulai bermunculan. Ia menarik napas dalam, merasakan energi dunia ini yang mulai bergejolak seiring dengan pergerakan para bidak supranatural.
"Mainkan saja permainanmu, Rias," gumam Ren sambil kembali memasang kacamata hitamnya dengan benar. "Tapi jangan terkejut jika pada akhirnya, akulah yang memegang kendali atas semua aturanmu."
Ren berjalan meninggalkan taman dengan langkah santai, bersiul kecil seolah-olah ia baru saja menyelesaikan percakapan biasa dengan seorang teman sekelas.