Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
..."Jika harapanmu berharap kepada orang yang kamu cintai, Berarti kamu salah karena harapan yang sebenarnya adalah milik Sang Pencipta bukan yang di ciptakan-Nya"....
Tak terasa sudah satu minggu aku dirumah. Rasanya masih tetap sama dengan 6 tahun yang lalu sebelum aku ke Jakarta.
"Ning Moza".panggilnya Mas Haidar
"Iya Mas. Wonten nopo?". Tanyaku pada Mas Haidar
"Ke bawah Ning. Sudah di tunggu".Beritahunya Mas Haidar
"sudah di tunggu? Bukannya makan malam nya nanti 1 jam lagi?" tanyaku dalam hati
"Nggh".tanpa berpikir panjang akhirnya aku turun bersama Mas Haidar
Loh kok ke ruang tamu?
"makannya di ruang tamu ya Mas?"tanyaku polos hingga membuat Mas Haidar tersenyum ke arah ku
"Ya mboten leh".
." Terus?".
"Sudah yuk ikut Mas wae".kata Mas Haidar, aku hanya menurut
Sampainya di ruang tamu, loh kok rame banget?. Ku edarkan pengihatan ku kesemua orang yang ada dalam ruangan ini. Aku sungguh terkejut dengan sosok laki-laki yang tersenyum ke arah ku.
"Nauval" gumam ku kecil
Nauval tersenyum ke arah ku. Lalu ia tundukkan kepalanya saat sepasang mata menatapnya dengan tajam. Alvaro Genta Al-farisi. Ya Gus Alvaro. Seseorang yang tengah menjemputku waktu aku pulang dari Jakarta. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa selalu olah ada pertemuan antar keluarga atau apa ini?. Tapi kalo memang iya kenapa hanya keluarga dari Gus Alvaro? Keluarga nya Nauval mana?. Aish. Sudahlah.
"Síni nduk" kata Umik menarik lengan ku dan membawaku duduk di tengah-tengah antara Abah dan Umik.
"Langsung saja kalo begitu. Nak Nauval apa tujuan Nak Nauval datang kemari?".tanya Abah membuka keheningan yang tercipta beberapa detik lalu.
"Jadi begini Om, Tante. Sebelumnya saya minta maaf jika mengganggu kediaman Om dan Tante. Maksud kedatangan saya kemari, saya ingin mengkhitbah Nada" jelasnya Nauval dengan berani.
Seketika aku tersadar dengan ucapanku satu minggu yang lalu. Ketika Nauval. mengungkapkan perasaannya dan kujawab jawaban ada di Abah dan Umik. Ternyata Nauval bukan main main dan bukan hanya omong kosong. Nauval membuktikannya sendiri. YaAllah. Sungguh hatiku bergetar tak karuan. Apa jawaban Abah dan Umik?. Apakah beliau setuju? Atau bahkan menolak khitbah Nauval?. Aku tak bisa berharap lebih, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukku dan untuk Nauval. Semoga jawaban Abah tak menyakiti hati kami berdua.
"Maksud nak Nauval. Nada itu Mozayyanah Qotrunnnada?" tanya Abah memastikan
"Njihh Om leres" jawab Nauval
"Sebelumnya saya minta maaf Nak. Moza sudah saya jodohkan dengan laki-laki lain" kata Abah. Mampu membuat air mataku lolos jatuh tanpa sungkan nya.
Kugengggam tangan Umik dengan penuh kekuatan. "Umik" lirih ku ketika Umik memelukku. Dengan erat Umik memelukku hingga kusembunyikan wajahku di bahu Umik. Sebelum kusembunyikan wajahku kutatap Nauval yang tengah tersenyum ke arah ku. Kenapa harus tersenyum? Di situasi yang seperti ini Nauval masih bisa-bisa nya tersenyum? YaAllah. Terbuat dari apakah hatinya Nauval? Hingga di situasi yang seperti ini ia masih mampu tersenyum. Namun tiba-tiba kepalaku terasa sangat pening sekali hingga membuat ku tak sadarkan diri.
"Nduk".panggilan Umik masih terdengar samar samar
"Nduk. Moza bangun Nduk ".panggilan Umik masih terdengar. Lagi lagi kepalaku semakin pusing hingga kesadaranku hilang. Semua nya terlihat gelap.
"Astagfirullahalazim.Bah Moza pingsan".khawatirnya Umik
"Haidar.siapkan mobil" kata Abah tak kalah khawatir. Dengan cepat Mas Haidar menyiapkan mobil.
Dengan sigap Abah menbopongku ke dalam mobil. Untuk beliau bawa kerumah sakit.
*****
"Dimana ini?".kataku ketika baru sadar dari pingsan ku.
Ku edarkan pandangan ku. Sepertinya ini dirumah sakit. Sudah kentara bau obat obatan menyeruak di indra penciuman ku.
Ku edarkan lagi pandangan ku. Dan kulihat seseorang yang sedang duduk di balik pintu dengan memejamkan matanya. Mungkin dia sedang tidur.
Kenapa ada dia disini?? Apa jangan jangan. Tidak!?. Tidak!?. Ini tidak mungkinnnnnnn!!!".kataku dengan setengah berteriak hingga membuat dia terbangun dari tidurnya.
Gus Alvaro menghampiriku dengan wajah khawatirnya. Ya Gus Alvaro lah yang tidur di balik pintu tadi.
"Jangan mendekat!!" teriakku ketika Gus Alvaro mulai dekat dengan ranjang ku
"Ning. Astagfirullahalazim".
"Jangan mendekat!!! ".kataku dengan dengan berteriak
"Ning. Istighfar Ning".
" pergiiiiiiiii!!!! ".
"Ning Moza istighfar Ning" katanya mencoba menenangkanku
"pergi!!! ".usirku lagi. Kutarik infus yang menempel di lengan ku dengan kasar. Hingga darah segar keluar dari lengan ku yang kutarik infus nya dengan kasar.
"Astagfirullahalazim. Ning Moza! Apa apaan njenengan?! ".marahnya Gus Alvaro
*****