Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Kamu Ingat Aku?
"Bang, menurut kamu aku harus pakai baju apa?"
"Hah?" Roni, yang baru membuka mata gara-gara Althan membangunkannya dengan paksa hanya bisa terbengong bengong. "Memangnya kamu mau kemana, Than?"
"Ya nggak kemana mana sih," Althan menggaruk tengkuknya, tampak salah tingkah. "Menurut abang, aku bagusnya pakai baju warna apa?"
Roni tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap heran ke arah Althan yang sedang mematut beberapa pakaian di depan cermin. Lalu, saat tatapannya tertuju ke arah jam dinding, ia sontak berteriak.
"Astaga, Althan! Ini masih jam empat subuh! Kamu sebenarnya mau kemana sih? Kita kan hari ini nggak ada schedule apa apa,"
"Ya aku kan cuma minta pendapat aja bang," Althan mengangkat bahu, tak merasa bersalah.
"Nggak bisa besok aja, apa? Di jam yang normal, Althan? Lagian besok kan mbak Vivi kesini, kamu tanya aja sama dia. Kan dia personal stylish kamu,"
Althan tampak terdiam beberapa saat, lantas matanya terbelalak dan ia langsung menjentikkan jari. "Oh iya juga ya! Makasih idenya yang bang!" ucapnya sembari buru buru keluar dari kamar Roni. Roni hanya terheran-heran dibuatnya.
Dua jam kemudian, Roni terbangun lagi karena ia mendengar ada suara berisik dari luar. Merasa heran, ia pun akhirnya bangkit dari kasur dan melihat ada keributan apa yang terjadi.
"Lima puluh empat, Lima puluh lima,"
Roni terbelalak, saat melihat Althan sedang melakukan push up di pinggir kolam renang.
"Than, kamu ngapain sih?"
"Eh, bang, kok udah bangun? Aku olahraga bang, supaya badan lebih sehat," kata Althan masih sambil melanjutkan push up.
"Iya, Althan, aku tau kamu olahraga biar badan sehat. Tapi, kenapa harus pagi pagi begini? Kamu kan sudah ada jadwal nge-gym sendiri tiap seminggu tiga kali,"
"Yah, cuma pengen aja sih bang, nggak bisa tidur sebenarnya," Althan bangkit dari posisinya. Meraih handuk yang ia sampirkan di kursi dekat kolam untuk mengelap keringat.
"Abang mau jus? Aku buatin,"
"Nggak usah, Than. Nanti aku bikin sendiri," geleng Roni.
"Oh, oke," ujar althan sembari berjalan menuju dapur.
"Aneh banget deh dia," Roni masih terus menatap Althan dengan perasaan heran. "Kenapa tiba-tiba jadi rajin begini? Coba kuingat ingat, kayanya hari ini nggak ada schedule apa apa, kecuali.. ketemu sama Mbak Vivi itu. Ah, tapi apa hubungannya? Haish, sudahlah, jadi pusing sendiri aku dibuatnya sama anak itu,"
Sementara Roni sibuk dengan pikirannya sendiri, Althan juga sibuk dengan kegiatannya. Ia menghaluskan beberapa buah buahan dengan blender, lalu meminumnya, setelah itu ia pun pergi ke kamar.
Di kamar, tingkahnya pun menjadi semakin aneh. Althan berdiri cukup lama di depan cermin, sembari mengusap perutnya sendiri.
"Aduh, harusnya aku lebih banyak olahraga dari kemarin kemarin, jadi biar otot perutku makin kebentuk," keluhnya.
Sedang asyik asyiknya bercermin, tiba tiba Ia mendengar suara bel pintu.
Althan terbelalak kaget.
"Apa dia udah datang? Bang, tolong bukain pintu, aku lagi mandi!" teriaknya sebelum masuk ke kamar mandi.
"Iya!" Roni menjawab teriakan Althan, lalu berjalan ke arah pintu. Bel dipencet sekali lagi.
"Iya, iya, sebentar," ujarnya sembari membuka kunci.
"Oh, mbak Vivi ya? Masuk mbak,"
Dari dalam kamar mandi, Althan bisa mendengar suara Roni dengan jelas. Hal itu membuat jantungnya berdebar kencang.
"Iya Mas," suara wanita itu menyahut kemudian.
Althan segera menghidupkan shower. Ia basahi seluruh tubuhnya, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak lupa ia memakai sabun bermerk mahal yang diklaim penjualnya punya wangi orang kaya. Setelah selesai, ia meraih handuk dan melilitkannya ke pinggang.
Awalnya, Althan berniat untuk keluar begitu saja. Tapi ia memutuskan untuk mematut dirinya sebentar di depan cermin wastafel.
"Apa perlu cukuran dulu, ya?" gumamnya. Ia pun tanpa berpikir panjang segera meraih pisau cukur.
"Eh, tunggu, kenapa aku harus repot repot melakukan itu? Memangnya aku mau ketemu siapa?"
Menyadari hal itu, Althan langsung meletakkan kembali pisau cukurnya.
"Haha, Althan, kamu gila. Buat apa kamu deg deg an sekarang? Nggak, nggak, aku sama sekali nggak deg deg an karena mau ketemu dia, tapi aku deg deg an karena tadi habis olahraga. Iya, pasti begitu. Hahha, mana mungkin aku pengen terlihat ganteng di mata dia. Buat apa? Aku kan memang sudah ganteng, aku cuma mau menjaga penampilan ku saja sebagai seorang aktor terkenal. Iya, pasti begitu," Althan bergumam sendiri. Bertanya sendiri, menjawab sendiri. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan. Meski begitu, ia tampak ragu ragu untuk membuka pintu. Setelah menghela napas panjang, Ia pun memutuskan keluar dari kamar.
"Sudah datang?"
Vivi yang semula sedang melihat lihat ke sekeliling ruangan langsung menoleh ke arahnya dan berdiri.
Tatapan mata mereka bertemu.
Althan menelan ludah. Apa-apaan ini? Kenapa dia kelihatan cantik sekali? Sialan.
Mata Vivi juga terbelalak. Astaga, kenapa dia berpenampilan seperti itu? Apa dia gila?
Althan memperhatikan tatapan Vivi, dan entah kenapa, reaksi wanita itu yang kelihatan terkejut membuatnya merasa sedikit bangga. Kamu terpesona dengan tubuhku, kan? Huh, mengaku saja. Kamu menyesal sudah meninggalkan aku, kan?
"Sudah menunggu lama, ya? Maaf, tadi saya mandi dulu," Althan mendekati Vivi dan duduk di atas sofa. Sengaja ia menyilangkan kakinya dengan wajah angkuh. "Kamu terlambat dua menit,"
Vivi melirik jam tangannya. Di sana tertulis pukul tujuh lewat lima belas menit.
"Saya sudah sampai sini pukul tujuh tepat, Pak," jawab Vivi dengan nada sopan.
Althan menggeleng. "Salah, kamu menekan bel pintu ini pertama kali pukul tujuh lewat dua menit, saya bisa pastikan itu,"
Vivi menghela napas panjang. Apa apaan bocah ini? Apa dia sengaja mempersulit aku?
"Baiklah Pak, saya minta maaf," Vivi menundukkan kepala singkat. "Saya berjanji tidak akan terlambat lagi,"
"Bagus," Althan menganggukkan kepala. Ia lalu meraih salah satu batang rokok yang ada di atas meja. Lalu mulai menyalakannya.
Vivi yang melihatnya kembali keheranan. "Anda merokok?" ia bertanya dengan spontan.
Gerakan Althan yang hendak menyelipkan batang rokok ke bibir terhenti. "Kenapa? Kamu mau melarang saya?"
Vivi sontak menggeleng. "Ah, nggak, soalnya seingat saya..."
"Apa?" Althan tiba tiba sudah berdiri dan mendekati Vivi, membuat wanita itu seketika menahan napas. "Apa yang kamu ingat tentang saya, Vivi?"
Vivi memundurkan langkah. Jantungnya berdebar kencang.
"Kenapa diam saja, Hm? Coba bilang, apa yang kamu ingat tentang saya?"
Suara rendah Althan membuat bulu kuduk Vivi meremang. Ia masih terus memundurkan langkahnya, sampai punggungnya terbentur dinding. Sialnya, Althan bukannya menjauh malah makin mendekat, sehingga Vivi perlu menahan dada pria itu.
"Vivi, jadi akhirnya kamu sudah ingat siapa aku? Sudah nggak pura pura bisu lagi?
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara