Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual pertukaran jiwa (episode 1)
Sorenya Rania pulang kerumah, sebelum menuju rumah Professor Cipto. ia pulang kerumah dulu untuk ganti pakaian dan menikmati makanan sang mama yang setiap hari sudah tersedia diatas meja.
Rania memarkirkan motor besarnya di carport, lalu ia membuka pintu dan melongok kedalam ruangan yang tampak sepi.
"Dimana Ibu? kenapa ibu tidak menyambut ku. biasanya kalau mendengar suara motorku Ibu langsung keluar rumah."
Tidak ingin banyak menerka-nerka, Rania masuk kedalam rumah mencari sosok sang ibu. Ia masuk kedalam kamar untuk menaruh tas ransel dan meraih handuk dari hanger.
"Bu...."
"Ibu dimana?" seru Rania sambil mencari kebelakang rumah.
Hamparan kebun yang luas dan rimbun, terdapat di belakang rumah Rania yang sederhana. suasananya terlihat sangat sejuk dan nyaman. Ia membuka pintu dari bambu dan berjalan kearah kebun.
"Bu...!" apa ibu ada di kebun?"
Rania terus berjalan dan melangkah dengan cepat, menyusuri jalanan tanah setapak. Ia menatap pepohonan yang semakin besar dan tinggi.
"Sudah sangat lama aku tidak bermain di kebun ini. sekarang pohon-pohon ini sudah besar."
Rania semakin melangkah masuk kedalam, ia teringat akan pohon akasia. Tempat ia bermain waktu kecil, Rania menuju pohon tersebut.
"Dimana pohon akasia? Aku sangat lupa posisi tanaman itu."
Rania menoleh kekiri dan kekanan, tanpa sadar Rania menginjak suatu di bawah pohon tinggi dan rindang.
"Apa ini? Ada gundukan di bawah pohon ini.'
"Gundukan apa ini?" ia yang begitu penasaran meraih sebuah batang pohon dan menggalinya. Lalu muncul dari dalam tanah sebuah boneka panda.
"Boneka siapakah ini? siapa yang menguburnya di sini?"
Saat Rania menatap boneka kecil itu, tiba-tiba seperti ada yang menarik energinya. Tanpa sadar Rania dapat melihat bayangan masa lalu.
Bayangan dua orang wanita sedang berbincang, seorang wanita cantik bergaun putih menggendong seorang bayi perempuan yang di lilitkan kain lurik.
"Bawa anak ini pergi, dia tidak boleh tetap disini. Bila tidak anakku akan di bunuh oleh Kelurga suamiku. Ayah mertua ku menginginkan anak laki-laki sebagai pewaris nya. Tapi aku melahirkan anak perempuan."
Wanita itu menyerahkan bayinya pada seorang wanita yang usianya sekitar 30 tahunan. "Bawa anakku pergi, jaga dia seperti anak mu sendiri."
"Nyah, kemana saya harus membawa bayi ini? Ia baru saja di lahirkan."
"Bawalah pergi sejauh mungkin, suatu saat kita akan bertemu lagi."
Ibu bayi itu mengambil sesuatu dari lemari dan memberikannya pada wanita setengah baya itu "Bawa kotak perhiasan ini, bila ia sudah besar berikan padanya. Bawa juga boneka panda ini, ini boneka kesayangan ku, sebagai ikatan batin ku pada anakku Bintang.'
"Baiklah nyah, saya akan menjaga Bintang seperti anak kandung saya sendiri, dan membawanya ke kampung halaman saya."
Wanita cantik itu mengusap pucuk kepala bintang dan menciumnya sebelum ia berpisah dengan anak kandungnya.
"Rania...!"
Suara panggilan sang ibu, seperti menyadarkan Rania dari lamunannya, bayangan yang ia lihat seketika hilang begitu saja. Rania menoleh melihat Rianti berjalan kearahnya.
"Apa yang sudah aku lihat tadi seperti nyata, aku sedang tidak bermimpi bukan?" bayi itu bernama Bintang. Siapa dia? kenapa aku seperti memiliki ikatan batin dengan boneka ini?"
"Rania..'
"Ibu tidak boleh tahu kalau aku menemukan boneka ini. Aku harus menguburnya kembali."
Dengan cepat Rania mengubur boneka itu kembali.
Rania, kenapa kamu disini? sedang apa sore-sore di kebun?" tanya Rianti
"Aku baru saja pulang, dan mencari ibu kemana-mana. ku kira Ibu ada di kebun."
"Iya nak, ibu tadi ke supermarket depan jalan, ibu lupa memberitahu mu. Ayo kita masuk.".
Rania berjalan bersama sang ibu. Sesekali ia menoleh kebelakang. Melihat kearah pohon, di mana boneka itu di kubur
"Aku harus pecahkan teka-teki ini, aku harus menemui Professor Cipto." Rania membatin.
Didalam rumah, seperti biasanya sehabis pulang kuliah Rania nikmati masakan sang ibu. Mereka makan bersama sambil mengobrol
"Bu, malam ini aku mau kerumah Professor Cipto, ada tugas yang melibatkan beliau."
"Kamu masih berhubungan dengan Professor itu? Apa kamu tidak takut dengan desas-desus pria tua itu? yang dianggap tidak waras oleh orang-orang."
"Ibu selalu mendengar ucapan orang, jangan pernah menilai buruk tentang Professor Cipto." kata Rania sambil menghabiskan makanannya.
Selesai makan, Rania menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah mandi ia mengenakan pakaian casual. Kaos oblong hitam dan jeans hitam berbalut jaket hitam.
"Bu, Rania pergi dulu."
"Rania, kenapa perasaan ibu tidak enak. Ibu takut terjadi apa-apa dengan mu."
"Ibu tidak usah khawatirkan aku, aku ini sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri." Rania mencium kening sang ibu. Lalu naik keatas motor besar.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan pulang terlalu malam."
"Baik Bu!"
Motor melaju meninggalkan rumah Rianti. Namun, ia berhenti di bahu jalan. Rania meninggalkan motornya dan berjalan kerumah sang ibu kembali. Ia berjalan memutar untuk sampai di kebun belakang.
Dengan menggunakan senter, Rania kembali berjalan kearah kebun dan menggali kembali Bonek panda tersebut.
Ia kembali naik keatas motor dan melaju dengan cepat. Menempuh perjalanan satu jam, Rania sudah masuk kedalam halaman rumah Professor Cipto yang tampak sepi.
Dalam ketukan tiga kali, pintu di buka dari dalam. Muncul pria paruh baya dengan tatapan tak bisa di tebak.
"Prof, saya bersedia untuk melakukan uji coba."
"Masuklah, dinding pun bisa mendengar." tukasnya dingin.
Pria Jenius itu membawa Rania ke lantai atas dan masuk kedalam ruangan laboratorium.
"Prof, aku menemukan boneka ini di belakang rumah ku, dan aku bisa melihat kejadian masa lalu."
Rania menceritakan kejadian yang baru ia alamin sore tadi. Pria Jenius itu memperhatikan boneka tersebut.
"Boleh aku membawa serta boneka ini, aku ingin melihat kejadian masa lalu ibuku melalui boneka panda ini."
Pria tua itu menatap Rania ragu. "Pertukaran jiwa ini sangat rumit, hasilnya Fifty-Fifty. Kamu bisa saja masuk ke jiwa orang lain dan tak akan bisa kembali."
Bola mata Rania melotot "Apa maksud Professor? Bukankah aku bisa kembali ke tubuh ku setelah pertukaran jiwa?"
"Bisa kembali lagi, asalkan jiwa yang tertukar dengan mu tidak mengalami kematian. Bila jiwa yang di tukar jiwanya meninggal. Kamu tidak akan bisa kembali lagi ke raga mu. Kamu tetap bersemayam di tubuh orang yang kamu singgahi."
"Itu resiko yang harus kamu hadapi."
Rania terdiam, Iya masih memikirkan baik dan buruknya bila tertukar jiwa. namun tekadnya sudah bulat dan ia tidak akan mundur.
"Saya siap Prof, lakukan sekarang.'
"Kamu tidak akan pernah menyesal? bila sesuatu terjadi padamu. Dan jangan menyalahkan aku."
"Saya siap apapun itu resikonya!"
"Baiklah, persiapan dirimu untuk ritual pertukaran jiwa."
TOLONG ALL BANTU LIKE, VOTE/ GIFT, RARE BINTANG 5 DAN SERTAKAN KOMENTAR KALIAN SEBAGAI PENYEMANGAT BUNDA 💜 💜
💜💜💜💜
Terima kasih
lg seru soalnya 🤣🤣😍