Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hanna tidak bisa lagi berpikir jernih, wanita hamil itu berpegangan pada pembatasan jembatan dan mulai menaikinya
Entah apa yang berada dalam pikirannya saat ini, yang jelas ia tidak ingin melihat orang-orang yang telah menyakitinya
Hanna meyakinkan dirinya untuk mengakhiri hidupnya, saat dirinya hampir menjatuhkan diri, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik
"Lepaskan aku! Lepaskan aku biarkan aku mati" Hanna memberontak dalam dekapan seseorang
"Kamu gila? Apa kamu ingin mati konyol disini?" Bentak seseorang yang ternyata seorang pria
Hanna mendongak, matanya terasa berat. Namun ia tetap bisa melihat sosok yang sudah menyelamatkannya
"Lepaskan!"
"Mbak!" Pria itu mengguncang tubuh wanita hamil yang kini sudah tidak sadarkan diri itu "Bangun mbak!"
Tidak ingin mendapat masalah, pria tinggi itu mengangkat tubuh wanita hamil yang baru saja akan bunuh diri itu lalu masuk kedalam mobilnya
Sementara itu Rizal tiba di tempat dimana mobilnya berada, ia mendapatkan informasi dari salah seorang sahabat yang juga adalah seorang hacker
Rizal tersenyum saat melihat mobilnya terparkir disana. Pria itu segera turun dan membuka pintu pengemudi
"Hanna"
Rizal kembali menutup pintu saat tidak melihat keberadaan istrinya disana. Ia semakin dilanda kekhawatiran karena kehilangan jejak istrinya
"HANNA!" Rizal terus berteriak memanggil nama istrinya "Dimana kamu sayang?"
Rizal menarik rambutnya frustasi. Ia kehilangan jejak saat ini karena ponsel milik Hanna juga ia tinggalkan didalam mobil
Ditempat lain, tepatnya dirumah sakit. Seorang pria tengah menggendong tubuh seorang wanita hamil sambil terus berteriak memanggil para tenaga medis
"Dokter Rama? Ada apa ini dokter?" Tanya seorang perawat
"Saya tidak tahu, segera bawa ke IGD! Saya akan menyusul nanti!"
Beberapa tenaga medis mendorong brankar berisi seorang wanita yang baru saja diselamatkan
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya dokter Rama saat ia hendak memasuki Instalasi Gawat Darurat setelah membersihkan diri
"Tekanan darah pasien sangat tinggi! Kita harus mengeluarkan janinnya untuk menyelamatkan nyawa pasien!" Ujar seorang wanita yang juga berprofesi sebagai seorang dokter
"Siapkan ruang operasi nya kalau begitu!" Ujar dokter Rama pada seorang perawat wanita
"Apa anda sendiri yang akan melakukan operasinya?" Tanya seorang wanita pada dokter Rama
Dokter tampan itu mengangguk "Kita harus bergerak cepat! Terima kasih dokter Jullie!"
Dokter tampan itu lalu meninggalkan rekan sesama dokternya itu dan memasuki ruang IGD demi memeriksa sendiri keadaan wanita hamil yang hendak menghabisi nyawanya sendiri
Rizal kembali ke rumah dengan wajah lesu, ia kehilangan jejak Hanna. Entah dimana dan bagaimana keadaannya saat ini
Bagaimana jika Hanna bertemu orang jahat dan bersikap buruk. Bagaimana jika calon anak kedua mereka tidak selamat
Rizal berjalan gontai menuju kamarnya, saat ini dirinya hanya membutuhkan ketenangan dan kembali mencari keberadaan istrinya
Rizal memasuki kamarnya, kenangan Hanna masih ada disana. Suara tawa dan rengekan manja yang selalu ia suka
Andai saja dirinya tidak pernah melakukan hal itu. Andai ia selalu menjaga cinta nya untuk tetap suci, semua ini tidak akan pernah terjadi
Mereka tengah berbahagia karena tengah menyambut kehadiran bayi perempuan kecil yang akan membuat rumah ini kian berwarna
Tapi tidak, di saat hari bahagia itu kian dekat, ia malah kehilangan Hanna. Wanita itu pergi entah kemana
"Kamu dimana Hanna?" Lirih nya sambil menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya disana
"Aku mohon maafkan aku!"
Arum masuk, sebenarnya ia sudah mengetuk namun Rizal tidak menjawab. Wanita itu duduk diatas ranjang lalu menyentuh bahu kekasihnya
Arum merasakan bahu Rizal bergetar, untuk pertama kalinya pria ini menangis "Mas!"
"Keluar Arum! Saya ingin sendiri" Ujarnya tanpa mengangkat wajahnya
"Biar aku temani mas, kamu juga belum makan apapun!" Bujuk Arum
"Pergilah Arum! Tolong!"
Mendengar itu, Arum memutuskan untuk keluar. Saat ini Rizal sedang tidak bisa diajak bicara
***
Sementara itu, di sebuah rumah sakit diatas ranjang pesakitan, seorang wanita baru saja terlepas dari maut
"Apa tidak ada petunjuk tentang keberadaan keluarga nya?" Tanya dokter Rama pada seorang perawat yang bertugas diruang perawatan
"Tidak ada dokter, pasien bahkan tidak memiliki kartu pengenal apapun!" Jawab perawat wanita itu
Dokter tampan itu mengangguk "Baiklah, kita tunggu sampai pasien sadar, bagaimana dengan bayinya?"
"Bayinya sudah stabil"
"Kalau begitu saya pergi dulu! Segara kabari saya jika ada perkembangan" Dokter muda itu pergi setelah menitipkan keadaan wanita yang ia selamatkan pada seorang perawat
Sepi menyelimuti kediaman Rizal pagi ini, Pria itu merasa seluruh tubuhnya pegal-pegal mungkin karena dirinya yang tidur dalam posisi duduk
Rizal menghela napasnya, ia berharap saat bangun pagi ada Hanna yang menyambutnya dengan senyum manisnya
Namun kejadian semalam bukanlah mimpi, hari ini tak ada Hanna yang menyambut paginya
Rizal membersihkan diri, ia keluar dan tidak mendapati pakaian gantinya. Dengan wajah lesu, Rizal membuka lemari meraih sebuah kemeja berwarna cream dan mengenakannya
Saat turun pun tak ada senyum istrinya yang menyambut, ruang makan terasa sepi walaupun semua orang ada disana
"Papa" Sapa Fathan "Mama dimana pah? Kok Fathan gak liat mama dari kemarin?" Tanya Fathan pada sangat ayah
"Papa" Rizal menatap sang putra yang memanggilnya
"Ya sayang?"
"Mama dimana?"
Rizal menarik napasnya panjang, ada rasa sesak karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan putranya
"Mama masih marah sama Papa, nanti Papa akan bawa Mama lagi kerumah" Ujar Rizal
"Mama marah juga sama Fathan?" Tanyanya dengan wajah sedih
Rizal duduk lalu membawa Fathan dalam pelukannya "Mama gak marah sama Fathan kok, nanti Papa bujuk Mama biar pulang kerumah lagi"
"Kenapa Tante Hanna pergi om?" Kali ini Hafiz yang bertanya
"Tante Hanna masih marah nak, nanti Om bujuk dulu"
"Kasih eskrim saja om, Kalau Hafiz merajuk, Ayah pasti kasih eskrim jadi Hafiz tidak marah lagi" Rizal tersenyum mendengar celotehan bocah delapan tahun itu
"Biar Fathan bicara juga sama Mama! Mama pasti mau dengerin Fathan!" Ujar bocah tujuh tahun itu
"Nanti yaa sayang! Fathan harus sekolah dulu!"
Setelah mengantarkan putranya sekolah, Rizal mengunjungi sebuah tempat yang pasti didatangi oleh istrinya
Ia menatap bangunan minimalis didepannya. Rizal lebih dulu mengatur detak jantungnya, entah bagaimana reaksi keluarga istrinya saat ini
Rizal menekan bel, pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mertuanya
"Assalamualaikum Bu" Rizal menyalami ibu Hanna
"Waalaikumsalam, ada apa nak? Tumben kamu kesini?" Tanya Hanum pada menantunya
Rizal diam, melihat reaksi ibu mertuanya sepertinya mereka tidak mengetahui apa yang terjadi kemarin
Lalu dimana istrinya? Apa Hanna tidak kembali kerumah keluarganya? Rizal semakin khawatir pada istrinya itu
kl wanita kuat pasti gk akn sperti ini pasti akn berpikir sblm bertindak.
semoga byk yg baca