NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik tragedi sang ayah

BAB 7 — Dibalik tragedi sang ayah

Aku tidak langsung pulang setelah meninggalkan kantor Dimas. Aku tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus melakukan apa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar kehilangan arah. Selama ini aku selalu berpikir bahwa rasa sakit terbesar adalah kehilangan seseorang yang kita cintai, tapi ternyata aku salah. Yang lebih menyakitkan adalah menyadari bahwa orang yang kita cintai tidak pernah mencintai kita sejak awal. Aku mengemudikan mobil tanpa tujuan, membiarkan roda berputar mengikuti alur jalan, sampai lampu-lampu kota mulai menyala dan akhirnya aku berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat familiar: rumah sakit. Tempat di mana Papa terbaring selama hampir dua tahun. Aku mematikan mesin mobil, lalu menatap lantai atas tempat ruang perawatan khusus berada. Dua tahun sudah berlalu—dua tahun Papa terbaring koma, dua tahun aku memikul semuanya sendirian, dan selama dua tahun itu pula Arga selalu berada di sisiku, atau setidaknya itulah yang aku kira. Kini aku tidak lagi yakin dengan apa pun.

Di dalam ruang perawatan VIP yang terlihat tenang, hanya terdengar bunyi mesin monitor yang berirama pelan. Papa masih terbaring seperti biasa, tidak bergerak, tidak membuka mata, tidak memberikan respons apa pun. Aku duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang terasa hangat, dan suaraku bergetar saat aku memanggilnya.

“Papa…”

Air mata langsung mengalir begitu saja.

“Aku baru tahu semuanya. Aku baru tahu kalau selama ini aku hidup bersama monster.”

Ruangan tetap sunyi, Papa tidak menjawab, tapi aku tetap berbicara seperti yang selalu kulakukan selama dua tahun terakhir.

“Aku menemukan bukti perselingkuhan mereka—Arga dan Eliana. Mereka sudah bersama jauh sebelum aku menikah.”

Dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas, dan aku menunduk membiarkan air mata jatuh membasahi punggung tangan Papa.

“Kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat?”

Tidak ada jawaban, hanya suara mesin monitor dan kesunyian yang terasa begitu menyakitkan hingga menusuk ke tulang sumsum.

Saat hendak meninggalkan rumah sakit, aku berpapasan dengan dokter utama yang menangani Papa, pria yang sudah mengenal keluargaku selama bertahun-tahun. Kami berbincang sebentar mengenai kondisi Papa, dan jawabannya masih sama seperti biasanya—belum ada perubahan signifikan, belum ada tanda-tanda kesadaran penuh. Namun sebelum berpisah, dokter itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti melangkah.

“Ngomong-ngomong, saya masih ingat hari kecelakaan itu.”

Aku langsung menoleh, jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Hari kecelakaan? Maksud Dokter?”

“Iya.”

Entah kenapa, perasaan tidak enak langsung menyelimuti hatiku.

“Mungkin saya salah ingat.”

“Tidak apa-apa, katakan saja.”

Ia mengangguk pelan.

“Saat Pak Surya pertama kali masuk rumah sakit, ada seseorang yang sangat memaksa ingin melihat kondisi beliau.”

Aku mengernyit.

“Siapa?”

“Pak Arga.”

Aku membeku sesaat.

“Tentu saja dia datang.”

“Bukan begitu maksud saya,” jawab dokter sambil menggeleng. “Beliau datang bahkan sebelum keluarga lain tiba.”

Aku langsung menatapnya dengan mata terbelalak.

“Apa?”

“Beliau datang sangat cepat, hampir bersamaan dengan ambulans.”

Tubuhku langsung menegang.

“Seberapa cepat?”

“Hampir tidak ada jeda waktu. Seolah-olah beliau sudah menunggu di dekat lokasi kejadian.”

Itu tidak masuk akal sama sekali. Kecelakaan terjadi di luar kota, berita baru menyebar sekitar satu jam setelah kejadian, bahkan aku sendiri baru tiba hampir dua jam kemudian. Lalu bagaimana Arga bisa sampai secepat itu? Seolah ia sudah mengetahui kecelakaan itu sebelum semua orang.

Malam itu aku tidak bisa tidur, aku kembali membuka berkas lama tentang kecelakaan Papa—berkas yang selama ini tidak pernah benar-benar kuperiksa karena aku terlalu percaya, terlalu sibuk, dan terlalu hancur saat itu. Namun sekarang semuanya berbeda. Aku membaca setiap halaman dengan teliti: laporan polisi, dokumen asuransi, catatan medis, keterangan saksi, semuanya. Awalnya tidak ada yang mencurigakan, tertulis jelas bahwa itu adalah kecelakaan tunggal akibat rem blong, mobil keluar jalur dan jatuh ke jurang, kasus ditutup dan dianggap selesai. Namun semakin lama aku membaca, semakin banyak hal aneh yang menarik perhatianku, salah satunya adalah nama sopir pribadi Papa, Bambang. Pria yang selama belasan tahun bekerja setia untuk keluarga kami, tertulis dalam laporan bahwa ia meninggal di tempat kejadian. Namun saat aku mencoba mencari data lanjutan tentang keluarganya, tidak ada apa-apa—tidak ada alamat keluarga, tidak ada data pemakaman, tidak ada santunan yang pernah diklaim, seolah pria itu menghilang begitu saja dari dunia ini. Aku langsung menghubungi sekretaris.

“Tolong cari semua informasi tentang Bambang, sopir yang kecelakaan bersama Papa.”

“Yang meninggal di lokasi kejadian itu, Bu?”

“Ya, dia. Cari data keluarganya, data pemakaman, dan apakah ada klaim santunan yang diajukan atas namanya.”

“Baik, akan saya cek secepatnya.”

Telepon ditutup, tapi perasaan tidak nyaman di dadaku semakin kuat.

Keesokan harinya laporan dari sekretaris datang, dan isinya membuatku semakin curiga.

“Bu, ada yang sangat aneh dengan data Bambang.”

“Apa maksudmu?”

“Keluarga atau kerabatnya tidak pernah menerima santunan kematian. Kami menelusuri semua berkas klaim asuransi dan dana perusahaan, tidak ada satu pun nama yang tercatat mengajukan hak atasnya.”

Aku langsung duduk tegak.

“Itu tidak mungkin. Pasti ada kesalahan pencatatan.”

“Itulah masalahnya, Bu. Seolah tidak ada keluarga yang mencarinya sama sekali, tidak ada yang menanyakan nasibnya, tidak ada yang mengurus pemakamannya. Semua jejaknya hilang begitu saja.”

Jantungku berdebar kencang. Orang tidak mungkin menghilang begitu saja, apalagi seseorang yang sudah bekerja lama dan dikenal banyak orang. Kecuali ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Sore harinya aku memutuskan menemui Dimas lagi, menyampaikan semua kejanggalan yang aku temukan: ucapan dokter, hilangnya jejak Bambang, dan ketidakwajaran laporan kecelakaan. Dimas mendengarkan dengan saksama tanpa menyela, dan setelah aku selesai bercerita, raut wajahnya terlihat sangat serius.

“Dari semua yang Anda sampaikan, ada satu kemungkinan yang harus kita pertimbangkan.”

“Kemungkinan apa?”

“Bahwa kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.”

Aku langsung terdiam, kalimat itu membuat bulu kudukku meremang karena itulah yang sebenarnya sejak tadi berputar di kepalaku, meski aku tidak berani mengucapkannya.

“Aku butuh bukti yang kuat, Dimas. Aku tidak mau menuduh sembarangan.”

“Akan saya telusuri setiap sudutnya, Bu. Saya janji.”

Dimas membuka laptopnya dan mulai mengetik berbagai data, beberapa menit kemudian ekspresinya berubah menjadi tegang dan serius.

“Ada apa? Apakah kamu menemukan sesuatu?” tanyaku segera.

Ia menatap layar, lalu perlahan menggeser laptop ke arahku.

“Coba Anda lihat ini.”

Aku membaca data transfer bank yang muncul di layar: puluhan transaksi dengan jumlah yang sangat besar, dilakukan sekitar tiga minggu sebelum kecelakaan Papa. Pengirimnya tercatat sebagai perusahaan cangkang yang tidak kukenal, sedangkan penerimanya bernama Rendi Prakoso.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Menurut catatan yang saya miliki,” jawab Dimas pelan, “dia mantan mekanik yang pernah terlibat dalam beberapa kasus modifikasi kendaraan yang mencurigakan dan kemudian menghilang dari peredaran.”

Dadaku langsung terasa sesak. Mekanik, rem, kecelakaan—semuanya mulai terhubung dalam benakku.

“Apakah ada bukti yang menghubungkannya dengan kejadian itu?”

“Masih saya selidiki, tapi tunggu dulu, ada satu hal lagi yang jauh lebih penting.”

Dimas membuka dokumen lain, dan saat itulah dunia seolah runtuh kembali di hadapanku. Di salah satu catatan transfer itu tercantum nama yang sangat kukenal, nama yang membuat darahku terasa membeku di dalam tubuh: Arga Pratama. Aku menatap layar tanpa berkedip, membacanya berulang kali berharap aku salah lihat, tapi nama itu tetap ada, tetap jelas, tetap nyata.

“Mustahil…” suaraku hampir tidak terdengar.

Dimas tidak menjawab karena ia tahu apa artinya. Jika nama Arga muncul dalam aliran uang yang diberikan kepada orang yang diduga merusak kendaraan Papa, maka ini jauh lebih mengerikan daripada perselingkuhan, jauh lebih kejam daripada sekadar pengkhianatan. Aku menatap layar dengan tangan gemetar, air mata perlahan mengalir bukan karena patah hati, melainkan karena sebuah pertanyaan yang tumbuh perlahan di dalam hatiku—pertanyaan yang begitu mengerikan hingga aku takut mengetahui jawabannya. Bagaimana jika bukan hanya hidupku yang ingin dihancurkan Arga? Bagaimana jika sejak awal, target mereka juga adalah Papa?

1
Ayudya
jangan jangan sherkan tau akan kehidupan ke dua violet😍😍😍😍😍
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kan kan kan kena jawaban sendiri
vj'z tri
kedekatan iniiiiii janganlah cepat berlalu uuu ...kedekatannn iniii ingin ku kenang selaluuuu ,hati ku damai jiwa ku tenang di samping muuuu ahayyyyy aselole🤭🤭🤭
vj'z tri
wes langsung termo jari ku 🤣🤣🤣🤣🤣
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!