🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12. Garut dan senyum Galang
Pukul sebelas lewat lima belas menit, mobil hitam milik Galang melaju perlahan meninggalkan halaman rumah mereka di daerah Tarogong. Matahari siang belum terlalu terik. Udara Garut masih terasa sejuk dengan angin tipis yang sesekali masuk dari celah jendela mobil.
Sekar duduk di kursi penumpang sambil memangku tas kain kecilnya. Hari itu ia mengenakan blouse krem lengan panjang dengan rok cokelat muda yang jatuh longgar hingga mata kaki. Wajah cantiknya di bingkai kerudung yang senada dengan pakaian yang ia kenakan.
Sedangkan Galang tampak tenang dibalik kemudian.
Pria itu tampak tampan dengan kaus sederhana pendek dengan warna abu-abu, jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajah tampan nan manis itu tetap datar seperti biasa, fokus memandang jalanan desa yang membentang di depan.
Rumah mereka perlahan tertinggal.
Deretan pohon bambu, pagar-pagar rumah warga, sawah yang mulai menguning, juga beberapa ibu-ibu yang berjalan sambil membawa keranjang belanja tampak memenuhi sisi jalan.
Di kejauhan, gunung Guntur berdiri megah. Puncaknya terlihat jelas hari itu karena langit sedang cerah. Sekar menatap ke arah gunung itu cukup lama.
Cantik sekali.
Berbeda dengan Bandung yang padat dan penuh kendaraan, Garut terasa lebih tenang. Lebih lambat. Bahkan suara motornya pun seperti tidak terlalu bising.
"Gunungnya kelihatan sangat jelas, ya..." gumam Sekar pelan.
Galang melirik sekilas ke arah yang sama.
"Lagi gak mendung."
Sekar mengangguk kecil.
Matanya masih sibuk memperhatikan pemandangan luar. Sawah, warung kecil dengan spanduk mie instan, anak-anak berseragam SD yang berjalan sambil bercanda, hingga bapak-bapak yang duduk di gardu sambil merokok.
Entah mengapa semuanya terasa asing sekaligus hangat.
Padahal baru beberapa hari ia tinggal di rumah itu setelah menikah dengan Galang.
Rumah yang masih terasa terlalu sunyi untuk disebut rumah.
Dan laki-laki di sampingnya pun masih terasa seperti seseorang yang belum benar-benar ia kenal.
Mobil berbelok ke jalan yang lebih ramai.
Beberapa angkot berwarna hijau melintas cepat. Pedagang buah berjajar di pinggir jalan. Dari kejauhan terdengar samar adzan dzuhur dari pengeras suara mesjid.
Sekar kembali melirik ke luar jendela.
"Aa tiap hari lewat sini?"
"Iya."
"Mau ke rumah sakit?"
"Hm."
Jawaban Galang tetap singkat.
Namun kali ini Sekar tidak merasa canggung seperti sebelumnya. Justru ia mulai menikmati mendengar suara pria itu meskipun satu dua kata.
"RSUD dr. Selamet jauh gak dari rumah?"
"Nggak terlalu."
"Kira-kira berapa menit?"
"Kalau jalan normal...lima belas menit."
Sekar mengangguk kecil lagi.
Lalu tanpa sadar membayangkan kehidupan Galang sebelum ia datang.
Pagi berangkat ke rumah sakit. Menangani pasien. Pulang malam. Lalu hidup sendirian bersama Bu Rahman yang semakin menua. Tiba-tiba dada Sekar terasa sedikit sesak. Ia terlambat mengenal kehidupan pria ini.
Bahkan pernikahan mereka teradi terlalu cepat di tengah napas terakhir Bu Rahman.
Mobil melambat ketika melewati lampu merah.
Dari sisi kanan jalan tampak penjual bunga di depan pemakaman umum. Sedangkan di sisi kiri berdiri deretan ruko dan toko pakaian.
Garut ternyata tidak sesepi yang Sekar bayangkan.
"Aa lahir di Garut?" tanyanya pelan.
"Iya."
"Sekolah juga di sini?"
"Sampai SMA."
"Habis itu?"
"Kuliah di Bandung."
Sekar menoleh cepat sedikit terkejut.
"Bandung?"
Galang mengangguk.
"UNPAD."
Sekar tiba-tiba tersenyum kecil. "Pantesan..."
"Pantesan apa?"
"Aku kira Aa gak bakal betah di Bandung."
Galang mengembuskan napas pendek samar seperti menahan senyum. "Kenapa emangnya?"
"Soalnya Aa pendiem."
"Bandung nggak isinya orang berisik semua."
Spontan Sekar tertawa kecil.
Suara tawanya membuat Galang melirik Sekar sebentar. Dan entah kenapa, pria itu merasa suasana mobil jadi lebih ringan dibanding pagi tadi.
Sebenarnya alasan Galang mengajak Sekar keluar hari ini bukan benar-benar soal belanja bulanan.
Ia tahu sejak telepon Melisa saat sarapan tadi, Sekar jadi lebih banyak diam. Gadis itu memang tidak bertanya apa-apa. Tetap membuatkan teh, mengupas mangga untuknya dan bahkan tetap bersikap baik dan lembut seperti biasa.
Namun Galang tahu ada sesuatu yang menggangu pikirannya.
Dan daripada membiarkan Sekar terus sendirian di rumah memikirkan hal yang tidak perlu, Galang memilih mengajaknya keluar.
Setidaknya agar perempuan itu mengenal Garut.
Mengenal kehidupannya.
Mengenal dunia yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
Mobil kembali berjalan menyusuri jalan utama Tarogong menuju pusat kota.
Semakin mendekati kawasan Ciplaz, jalanan mulai ramai oleh kendaraan. Beberapa pelajar SMA tampak keluar dari gerbang sekolah. Pedagang kaki lima mulai memenuhi trotoar.
Sekar menyaksikan semuanya dengan seksama.
"Garut tuh...." suara Galang tiba-tiba terdengar.
Sekar menoleh.
Pria itu masih fokus menyetir.
"Nggak terlalu besar. Tapi kalau udah lama tinggal di sini... orang-orangan jadi saling kenal."
"Maksudnya?"
"Kalau aku ke warung dekat rumah sakit, pasti kenal. Ke mesjid, kenal. Ke pasar juga ada aja yang nyapa."
Sekar tersenyum mendengarnya.
Entah kenapa Sekar suka mendengar Galang bicara tentang kotanya.
Ada nada yang berbeda.
Lebih hidup.
"Terus Aa suka Garut?"
Galang diam beberapa detik sebelum menjawab pelan, "suka."
"Karena rumah Aa di sini?"
"Salah satunya."
"Yang lain?"
Kali ini Galang melirik sekilas ke arah gunung Guntur yang masih terlihat dari kejauhan.
"Tenang."
Jawaban sederhana itu membuat Sekar ikut memandang ke luar jendela lagi.
Tenang.
Iya.
Garut memang setenang itu.
Tidak terburu-buru.
Tidak penuh suara klakson.
Tidak membuat dada sesak seperti kota besar.
Mobil memasuki area pusat pertokoan. Bangunan Ciplaz mulai terlihat tidak jauh di depan.
Sekar memperhatikan papan besar mall itu sambil tersenyum tipis.
"Dekat juga ya, dari rumah."
"Hm."
"Kalau bosan berarti aku boleh ke sini?"
Galang mengangguk ringan. "Bisa."
"Sendiri?"
"Kalau berani."
Sekar menoleh kesal kecil. "Aku berani kok."
Galang justru tampak tenang. "Empat hari lalu liat kecoak aja lari."
Sekar langsung mematung malu.
"Aa..."
Galang akhirnya benar-benar tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat.
Dan senyum kecil itu entah kenapa membuat wajah dinginnya berubah jauh hangat.
Sekar sampai diam beberapa detik menatapnya. Pria itu memang tidak banyak bicara.
Tidak romantis.
Tidak pandai mengungkapkan perasaan.
Namun hari ini, di sepanjang perjalanan menuju pusat kota Garut, Sekar mulai menyadari satu hal kecil--
Galang sedang berusaha membiarkannya masuk ke dalam hidupnya sedikit demi sedikit.
Melalui jalan-jalan yang setiap hari ia lewati. Melalui cerita sederhana tentang kota kelahirannya.
Melalui gunung Guntur yang selalu terlihat dari kejauhan. Dan melalui perjalanan biasa menuju Ciplaz yang diam-diam terasa lebih berarti dari pada sekadar belanja bulanan.
"Makasih, udah ngajak aku keluar." Gumam Sekar lirih seraya tertunduk.
Galang melirik perempuan itu, gadis di sisinya tampak meremas jemari-jemari lentik tangannya.
Galang tersenyum untuk pertama kalinya. "Ya, sama-sama."
.
.
.
Hai...mohon bantuannya dong
Komen, like, vote dan subscribenya. Jangan lupa follow dan bintang limanya
Bersambung...