NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HINAAN

Elena berhasil melewati ujian pertama, tapi tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa Arlon ke sini tanpa membuat semua orang curiga, terutama Raja dan Ratu, bahwa nyawa pangeran itu sebenarnya ada di genggaman tangannya.

"Saya akan menjemput Pangeran Arlon, Yang Mulia," ucap Elena sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ratu Selena yang sedang meremas kipasnya hingga patah karena geram.

Elena segera berbalik dan melangkah keluar dari aula utama yang menyesakkan itu, dia bisa merasakan tatapan tajam Ratu Selena yang seolah ingin melubangi punggungnya, namun dia tak peduli, karena pikirannya hanya satu, yaitu dia harus menyiapkan Pangeran Arlon.

Begitu sampai di Paviliun Bintang, Elena menemukan Pangeran Arlon sedang duduk di tepi ranjang, wajahnya kembali pucat pasi karena jarak mereka yang terlalu jauh dalam waktu lama.

"Raja memanggilmu," ucap Elena singkat sambil, menyambar tangan Arlon.

"Hah...Ayahanda ingin melihatku? Dia pasti ingin memastikan apakah aku benar-benar hampir mati atau sedang merencanakan sesuatu," ucap Pangeran Arlon menghela napas lega saat energi hangat Elena kembali mengalir ke tubuhnya.

"Dengarkan aku," ucap Elena menarik dagu Arlon agar menatapnya.

"Jangan tunjukkan kalau kamu sehat, tetaplah menjadi si pangeran sampah yang mereka tahu, biar mereka terus menghinamu. Semakin mereka meremehkan mu, semakin mudah bagi kita untuk menghancurkan mereka dari dalam," lanjut Elena, penuh penekanan.

Arlon menyeringai, meski bibirnya masih terlihat membiru.

"Aku sudah ahli dalam hal itu selama bertahun-tahun, Elena, tapi sepertinya kali ini akan sulit, karena rasanya aku ingin sekali mematahkan leher Arkan saat ingat, dia menendang ku tadi malam," jawab Pangeran Arlon, mendengus.

"Tahan insting monster mu itu. Sekarang, ayo jalan," ucap Elena, menggenggam tangan Pangeran Arlon.

Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju aula istana, dengan akting yang begitu sangat meyakini, Pangeran Arlon tampak sangat lemas, membuat para pelayan istana berbisik-bisik saat melihat mereka berdua.

Elena kembali ke aula utama, namun kali ini dia tidak berjalan tegap, dia terlihat bersusah payah memapah tubuh Pangeran Arlon yang terkulai lemas di bahunya.

Pangeran Arlon berakting dengan sangat sempurna, padahal sebenarnya dia sangat sehat, apalagi mendapatkan energi dengan sentuhan tangan Elena, sesuai perkataan Elena, dia harus tetap pura-pura jadi pengeran sampah yang tidak berani berguna.

Kepala Pangeran Arlon terkulai, dan napasnya terdengar berat dan tersendat, seolah-olah setiap langkah adalah perjuangan hidup dan mati.

Begitu mereka masuk ke tengah aula, suara tawa kecil dan bisik-bisik merendahkan mulai terdengar dari para bangsawan.

"Lihatlah... pangeran kita tercinta, masih hidup, tapi lebih mirip mayat berjalan," ejek Lady Clarissa yang berdiri di barisan depan, menutup mulutnya dengan kipas sambil tertawa sinis.

"Kenapa tidak mati saja sekalian semalam? Merepotkan sekali harus melihat pemandangan menjijikkan ini di pagi hari," timpal seorang bangsawan lain dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Pangeran Arkan maju satu langkah, dengan sengaja dia menjegal kaki Pangeran Arlon saat mereka lewat.

Sebenarnya Pangeran Arlon menyadari, tapi dia memilih mendalami akting nya.

Bruk

Pangeran Arlon terjatuh tersungkur di lantai yang dingin.

"Pangeran!" seru Elena refleks hendak membantu, namun dia teringat rencana mereka.

"HAHAHAHAHAHAHAHAA!"

Semua orang tertawa melihat Pangeran Arlon yang terjatuh.

Sementara Elena hanya bisa berdiri diam dengan wajah yang dipasang ekspresi ketakutan dan sedih, padahal tangannya sudah gatal ingin mencabut belati di pinggang nya, dan menusukkan ke mata Arkan.

"Maaf Kakak, aku tidak sengaja, habisnya, kamu berjalan terlalu lambat, seperti siput yang sedang sekarat," ucap Arkan sambil tertawa terbahak-bahak.

Raja Alaric hanya diam di singgasananya, menatap pemandangan itu dengan mata dingin yang tak terbaca.

Sementara Ratu Selena tersenyum puas melihat putra kandungnya menghina Arlon habis-habisan, di depan semua petinggi kerajaan.

"Sudah cukup, Arkan!" ucap Raja Alaric akhirnya terdengar, memutus tawa di aula.

"Arlon, mendekat lah!" perintah Raja Alaric, tegas.

Elena membantu Arlon bangkit dengan perlahan, saat tangannya menyentuh punggung Arlon, dia sengaja memberikan tekanan kecil, sebuah kode rahasia.

Uhuk

Uhuk

Uhuk

Arlon terbatuk-batuk hebat, membuat keadaan nya terlihat sangat menyedihkan.

"Yang Mulia... Ayahanda..." ucap Arlon terdengar sangat lemah.

Raja Alaric turun dari singgasana, berdiri tepat di depan putra sulungnya itu.

"Kau beruntung semalam ada yang menyelamatkanmu, Arlon, tapi lihatlah dirimu saat ini, kamu bahkan tidak bisa berdiri tanpa bantuan wanita rendahan ini," ucap Raja Alaric dengan nada penuh kekecewaan.

"Apa kamu tidak merasa malu tetap bernapas dalam kondisi seburuk ini?" tanya Raja Alaric, dingin.

Penghinaan itu begitu menyakitkan, bagi Elena, sementara Arlon sudah biasa .

"Bisa-bisa nya dia menghina darah daging nya sendiri seperti ini, istana ini benar-benar tempat para manusia gila dan hilang akal," batin Elena, menggeleng kan kepala nya.

Elena menunduk dalam, matanya menatap lantai, namun bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan tersembunyi.

Dari posisinya yang sedang memegang tangan Arlon, dia menyalurkan energi yang stabil agar Arlon tidak benar-benar pingsan karena tekanan aura sang Raja.

"Maafkan... ketidakmampuan saya... Ayahanda," bisik Arlon dengan mata yang berkaca-kaca.

"Akting yang luar biasa," batin Elena, melirik suamimu.

"Yang Mulia, bukankah sudah jelas? Pria berjubah hitam itu pasti hanya merasa kasihan. Siapa pun orangnya, dia pasti merasa jijik melihat pangeran kita ini mati dengan cara yang menyedihkan, dia membiarkan Arlon hidup hanya untuk memperpanjang penderitaannya," ucap Ratu Selena, berdiri dari kursinya dengan anggun.

"Mungkin benar," jawab Raja Alaric dingin.

"Bawa dia kembali ke paviliunnya, dan kamu, Elena, pastikan dia tetap bernapas. Setidaknya sampai pesta penobatan Arkan sebagai Putra Mahkota bulan depan. Aku tidak ingin ada aroma kematian yang merusak pesta itu!" ucap Raja Alaric, berpaling dari Arlon seolah pria itu adalah kotoran yang merusak pemandangan

"Baik, Yang Mulia Raja," jawab Elena.

"Pria yang kalian hina hari ini, tentu tidak akan mati, sebelum kalian semua hancur lebih dulu," lanjut Elena di dalam hati nya.

Saat Elena memapah Arlon keluar, dia harus melewati Lady Clarissa yang sengaja menumpahkan sisa tehnya ke arah kaki Elena.

Byur

"Aduh, tanganku licin, bersihkan itu nanti di kamarmu, ya, Pengantin Sampah," bisik Clarissa dengan nada meremehkan.

Elena tidak membalas, bukan karena takut, tapi dia tidak punya waktu meladeni wanita berhati busuk seperti Clarissa itu.

Elena terus berjalan lurus, memapah suaminya keluar dari aula penghinaan itu, begitu pintu aula tertutup dan mereka sudah berada di lorong yang sepi menuju Paviliun Bintang, pegangan Elena pada lengan Arlon mengencang.

"Tahan sedikit lagi, Pangeran," bisik Elena, dingin.

"Biarkan mereka tertawa sekarang, karena saat waktunya tiba, aku sendiri yang akan memastikan Lady itu meminum air bekas cucian kakimu," lanjut Elena, pelan.

Pangeran Arlon yang tadinya pura-pura lemas, perlahan mengangkat kepalanya, dan seringai tipis muncul di bibirnya yang masih berdarah.

"Aku tidak sabar melihat wajah Ayahanda saat tahu bahwa sampah ini, sedang menggenggam leher kerajaannya lewat tanganmu, Elena," ucap Arlon, tersenyum miring.

Dua hati yang penuh api itu kini berjalan dalam diam, menyimpan rahasia besar di balik debu dan darah, siap untuk membakar istana Belmont saat dunia sedang tertidur lelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!