NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keserakahan Sang Baron

Matahari pagi merangkak naik perlahan dari ufuk timur, memancarkan sinar pucat yang mengusir sisa-sisa bayangan malam. Cahaya itu menyorot wajah Valerius yang kini tengah bersimbah lumpur dan darah kering.

Ia berdiri di tepi hutan, menatap tajam ke arah gerbang kayu raksasa Benteng Besi Hitam. Rencananya membutuhkan sebuah panggung sandiwara yang sangat meyakinkan.

Valerius menanggalkan jubah bulu serigala yang ia rampas dari Kaelen semalam. Ia melempar jubah hangat itu ke dalam jurang beracun tanpa sedikit pun penyesalan.

Pakaian bangsawan aslinya yang terbuat dari sutra hitam sudah robek dan kotor. Namun itu belum cukup untuk menceritakan sebuah tragedi pembantaian yang dramatis.

Dengan menggunakan ujung pedang bajanya, Valerius menggores lengan kirinya sendiri. Ia tidak meringis sama sekali saat darah segar berwarna merah terang mengalir membasahi lengan bajunya.

Ia membiarkan rasa perih itu menjalar, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk aktingnya. Darah segar itu ia usapkan ke wajah dan lehernya, menciptakan ilusi luka parah yang mengerikan.

Ia lalu mengotori rambut peraknya dengan tanah basah dan sisa abu dari pepohonan mati. Penampilannya kini persis seperti seorang bangsawan malang yang baru saja merangkak keluar dari neraka.

Valerius mengambil napas panjang, menata ulang ritme detak jantungnya menjadi lebih cepat dan acak. Ia memanipulasi postur tubuhnya, membungkukkan bahunya seolah memikul beban trauma yang sangat berat.

Langkah kakinya yang semula tegap dan mematikan kini diubah menjadi gontai dan menyeret. Ia mulai berjalan tertatih-tatih melintasi padang rumput terbuka menuju gerbang benteng.

Setiap langkahnya diiringi oleh embusan napas parau yang sengaja ia buat-buat. Dari atas menara pengawas, suara nyaring terompet peringatan tiba-tiba memecah kesunyian pagi.

"Berhenti di sana! Identifikasi dirimu atau kami akan memanahmu hingga tembus!" teriak seorang penjaga dari atas tembok. Tiga anak panah baja langsung diarahkan tepat ke dada Valerius.

Valerius merespons peringatan itu dengan sebuah jatuh tersungkur yang sangat teatrikal. Ia menabrak tanah berdebu, batuk berulang kali hingga mengeluarkan sedikit ludah bercampur darah.

"T-Tolong..." rintih Valerius dengan suara serak yang memilukan. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara, memperlihatkan cincin stempel Keluarga Draken yang memantulkan cahaya matahari.

Mata penjaga di atas menara seketika membelalak lebar melihat kilauan emas dan ukiran naga hitam tersebut. "Tahan tembakan! Itu... itu lambang bangsawan dari ibu kota!"

Suara derit rantai besi terdengar keras saat gerbang raksasa itu mulai dibuka perlahan. Lima orang prajurit bersenjata tombak berlari keluar menghampiri Valerius yang masih terkapar.

Mereka mengepungnya dengan formasi defensif, mata mereka mengamati sekeliling mencari potensi penyergapan. Komandan regu penjaga, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pipi, berlutut di samping Valerius.

"Demi Dewa Cahaya, dia masih hidup," gumam komandan itu dengan nada tak percaya. Ia meraih tangan Valerius, memeriksa keaslian cincin bangsawan tersebut dengan teliti.

Valerius mencengkeram lengan komandan itu dengan sisa tenaga yang ia manipulasi sedemikian rupa. "P-Pasukan iblis... mereka membantai pengawalku... kakakku..."

Air mata buaya mengalir mulus dari sudut mata Valerius, membasahi wajahnya yang kotor. Keputusasaan palsu yang ia pancarkan begitu nyata hingga membuat para prajurit veteran itu merinding.

"Bawa dia ke dalam segera! Panggil tabib benteng!" perintah komandan regu dengan suara lantang. Dua prajurit berbadan besar segera memapah tubuh Valerius yang pura-pura lemas tak berdaya.

Saat Valerius dibawa melewati lorong gerbang utama, ia menggunakan skill Mata Penilai Iblis secara pasif. Ia memindai setiap prajurit dan struktur pertahanan yang ia lewati dalam sekejap mata.

Aura kebosanan dan kepuasan semu mendominasi pikiran para penjaga benteng ini. Mereka sudah terlalu lama tidak mencicipi peperangan sejati, membuat kewaspadaan mereka tumpul.

Valerius dibawa masuk ke sebuah ruang perawatan yang berbau tajam oleh ramuan herbal dan alkohol. Ia dibaringkan di atas ranjang kayu yang beralaskan kain linen kasar.

Seorang tabib tua yang gemetar mulai membersihkan luka-lukanya dengan kain basah. Valerius sesekali mengerang kesakitan, memainkan perannya sebagai korban dengan sangat sempurna.

Layar sistem holografik berkedip redup di sudut matanya, menampilkan notifikasi yang hanya bisa ia lihat.

[Tahap Infiltrasi Awal Berhasil. Tingkat Kecurigaan Target: 0%.]

Suara langkah kaki sepatu bot berlapis emas terdengar bergema dari luar koridor ruang perawatan. Pintu kayu ruangan itu didorong terbuka dengan kasar, menampilkan sesosok pria berbadan tambun.

Pria itu adalah Baron Kaelos, sang penguasa absolut di Benteng Besi Hitam ini. Ia mengenakan jubah sutra merah yang terlalu ketat untuk perut buncitnya.

Jari-jarinya dipenuhi oleh cincin permata murahan yang ia pamerkan dengan penuh kesombongan. Wajahnya berkeringat, matanya yang sipit memancarkan kilatan keserakahan yang tak bisa disembunyikan.

"Minggir, tabib bodoh!" bentak Baron Kaelos sambil mendorong pria tua itu hingga tersungkur. Ia melangkah mendekati ranjang Valerius dengan napas terengah-engah akibat timbunan lemaknya.

Sang Baron menatap wajah Valerius yang kotor, mencoba mencocokkannya dengan rumor yang pernah ia dengar. "Jadi, desas-desus itu benar. Putra kedua Keluarga Draken benar-benar dibuang ke wilayah perbatasan ini."

Valerius membuka matanya perlahan, memancarkan tatapan kosong dan penuh trauma ke arah sang Baron. Ia sengaja membuat tubuhnya gemetar ketakutan, bertingkah layaknya pemuda naif yang hancur mentalnya.

"Tuan Baron... Anda harus menolongku," bisik Valerius dengan nada memohon yang menyayat hati. "Kakakku... Aldrich... dia menjebakku di Lembah Tengkorak."

Baron Kaelos menyeringai lebar, deretan giginya yang kuning terlihat menjijikkan. Ia menarik sebuah kursi kayu dan duduk di samping ranjang Valerius dengan angkuh.

"Sebuah tragedi keluarga bangsawan yang sangat klasik," ucap Kaelos dengan nada mengejek yang merendahkan. "Tapi, Tuan Muda Draken, kenapa aku harus mempertaruhkan posisiku untuk melindungimu dari kakakmu sendiri?"

Di balik ekspresi ketakutannya, Valerius tertawa sinis di dalam hati. Pertanyaan sang Baron ini adalah pintu masuk menuju jebakan psikologis yang sudah ia siapkan.

Valerius mencoba duduk, namun pura-pura gagal dan kembali bersandar dengan napas memburu. "K-Karena... aku mengetahui rahasia terbesar milik ayahku, sang Duke."

Kalimat itu bagaikan sihir yang langsung membekukan pergerakan Baron Kaelos seketika. Mata sipit sang Baron melebar, ketertarikan yang luar biasa meledak di dalam dadanya.

"Rahasia?" Kaelos memajukan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan rakus. "Rahasia macam apa yang bisa membuat seorang putra mahkota ingin membunuh adik kandungnya sendiri?"

Valerius menatap ke sekeliling ruangan dengan pura-pura panik. "Suruh mereka keluar... ini bukan konsumsi untuk telinga para prajurit rendahan."

Baron Kaelos langsung menoleh ke arah tabib dan para penjaga di ruangan itu. "Keluar kalian semua! Jangan ada yang berani mendekat ke ruangan ini tanpa perintahku!"

Para bawahan itu bergegas keluar, menutup pintu kayu tersebut dengan rapat dari luar. Kini hanya tersisa sang predator sejati dan mangsa tambunnya di dalam ruangan kedap suara itu.

Valerius menurunkan nada suaranya, memancarkan aura kerahasiaan yang sangat memikat. "Ayahku menyimpan setengah dari kekayaan keluarga Draken di sebuah brankas rahasia di bawah tanah ibu kota."

Ia melihat jakun Baron Kaelos naik turun menelan ludah dengan susah payah. Kata 'kekayaan' bagi sang Baron adalah mantra mutlak yang mengendalikan setiap denyut nadinya.

"Aldrich menginginkan kunci brankas itu, tapi ayahku memberikannya kepadaku sebelum dia jatuh sakit," lanjut Valerius dengan kebohongan yang sangat lancar. "Itulah alasan mengapa Aldrich membuangku, agar dia bisa mengklaim kunci itu secara paksa dari mayatku."

Baron Kaelos mencondongkan tubuhnya semakin dekat, napasnya yang bau anggur murahan menerpa wajah Valerius. "Dan di mana kunci itu sekarang, anak muda?"

Valerius tersenyum lemah, sebuah senyuman yang menyembunyikan bisa mematikan di baliknya. "Aku menyembunyikannya di suatu tempat yang aman sebelum Aldrich menangkapku."

Ia menatap lurus ke dalam mata Kaelos, membiarkan sang Baron merasakan keputusasaannya yang palsu. "Bantu aku kembali ke ibu kota secara diam-diam, Tuan Baron."

"Sediakan aku pasukan pengawal pribadi dan sedikit dana untuk menyuap para bangsawan netral," ucap Valerius memelas. "Sebagai imbalannya, aku bersumpah atas nama ibuku, aku akan memberikan sepertiga dari isi brankas itu padamu."

Sepertiga dari kekayaan Duke Draken adalah jumlah yang bisa membeli seluruh Benteng Besi Hitam ini sepuluh kali lipat. Pikiran Kaelos langsung dipenuhi oleh bayangan lautan koin emas dan harem wanita cantik di istana pribadinya kelak.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!