"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Sepulang dari kampus, langit sudah berubah warna menjadi jingga keabu-abuan. Meysa berjalan pelan meninggalkan gerbang fakultas..
Ia tidak langsung pulang ke apartemen. Kakinya membawanya menyusuri trotoar yang ramai, melewati deretan warung makan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah apotek kecil di pinggir jalan.
Meysa berdiri di depan pintu apotek itu cukup lama. Tangannya gemetar saat mendorong gagang pintu. Bel kecil di atas pintu berbunyi, menyambut kedatangannya.
"Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" sambut seorang wanita paruh baya di balik meja kasir.
Meysa membuka mulutnya, tapi kata-kata terasa berat untuk keluar, lalu akhirnya beerkata"Saya mau beli... test pack."
Wanita itu tersenyum ramah. Ia tidak bertanya apapun, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari rak di belakangnya, lalu meletakkannya di atas meja kaca.
"Ini, Mbak. Yang bagus ini."
Meysa mengangguk. Ia membayarnya dengan uang receh yang dihitung satu per satu, lalu memasukkan kotak kecil itu ke dalam tasnya..
"Semoga hasilnya sesuai harapan, Mbak," ucap wanita itu sambil tersenyum.
Meysa hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu apa yang menjadi harapannya. Ia keluar dari apotek, dan di perjalanan pulang, tangannya terus memegang perutnya yang masih rata.
Sesampainya di apartemen, Meysa segera masuk ke kamar mandi.
Ia duduk di lantai keramik yang dingin, dengan kotak kecil itu terbuka di sampingnya. Panduannya dibacanya berulang kali, meskipun matanya kabur oleh bayangan air mata yang tidak kunjung jatuh.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Ketika jarum detik menunjukkan waktu yang ditentukan, Meysa mengangkat alat itu dengan tangan yang masih gemetar.
Meysa terdiam beberapa saat..
"Gak mungkin. Ini pasti salah."
Meysa menggumamkan kalimat itu berulang kali, seperti mantra yang bisa membatalkan kenyataan. Dua garis merah yang tidak akan pernah bisa ia sangkal.
Tangannya gemetar hebat. Test pack itu hampir terlepas dari genggamannya. Ia meletakkannya di lantai, di samping lututnya yang tertekuk, lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Mungkin saja alat ini rusak!"
"Bagaimana ini?" bisiknya, suaranya pecah. "Kalau aku bilang, dia pasti tidak akan mau mengaku. Dia bahkan tidak pernah menyentuhku dengan sadar. Bagaimana mungkin dia percaya kalau ini anaknya?"
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Lalu berdiri. Kakinya terasa lemas, tapi ia paksa untuk melangkah.
Meysa melepas pakaiannya. Ia berganti dengan kemeja putih lengan panjang dan celana jins, ia berdiri di depan cermin kamar. Menatap bayangannya sendiri.
"Seandainya aku bisa kembali ke masa sebelum malam itu, mungkin aku akan mencegahnya"
Meysa mengambil tas selempangnya. Ia memasukkan dompet, ponsel, dan beberapa lembar uang. Lalu ia melangkah keluar apartemen, menuju parkiran, dan memanggil ojek online.
"Ke RS Harapan Bunda, Pak," ucapnya pada pengemudi yang datang beberapa menit kemudian.
Pengemudi itu mengangguk. "Siap, Mbak."
Sepanjang perjalanan, Meysa hanya diam. Angin sore menerpa wajahnya, mengeringkan air mata yang masih tersisa di sudut matanya. Pikirannya tidak berhenti bekerja. Ia akan ke rumah sakit bukan untuk menjenguk Rangga, tetapi gadis itu akan memastikan hasil yang sebenarnya.
"Tuhan," ucapnya dalam hati, matanya menatap langit. "aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi apapun hasilnya nanti, aku pasrahkan semuanya padamu"
*
Rumah sakit mulai terlihat dari kejauhan. Lampu-lampunya menyala terang, kontras dengan langit senja yang perlahan berubah menjadi gelap. Meysa menarik napas panjang...
Tangannya kembali meraba perutnya. Halus. Lembut. Seolah-olah ia bisa merasakan detak jantung kecil di sana.
"Jangan takut," gumamnya. "Aku harus cari tahu kebenarannya dulu."
Meysa duduk di ruang tunggu poli kandungan. Tangannya masih menggenggam erat tas selempangnya...
"Nomor tiga, silakan masuk."
Meysa berdiri. Kakinya terasa berat, tapi ia memaksa melangkah. Pintu ruangan itu terbuka, dan seorang dokter kandungan dengan jas putih menyambutnya dengan senyum ramah.
"Selamat sore, Mbak. Silakan duduk."
Meysa duduk di kursi di hadapan dokter itu. Tangannya masih gemetar.
"Ada keluhan apa, Mbak?"
Meysa menarik napas. "Saya... saya ingin memastikan, apa saya hamil atau tidak."
Dokter itu mengangguk. Ia mulai bertanya tentang siklus, tentang kapan terakhir kali, tentang hal-hal yang membuat Meysa semakin gugup..
"Baik, saya periksa."
Pemeriksaan berlangsung beberapa menit. Meysa terbaring di tempat tidur pemeriksaan, matanya menatap langit-langit putih yang bersih, berdoa dalam hati. Ia tidak tahu harus berharap apa. Positif atau negatif, keduanya sama-sama menakutkan.
Dokter itu melepas sarung tangannya, lalu tersenyum.
"Selamat, Mbak. Hasilnya positif. Usia kandungan sekitar tiga minggu."
Seketika tubuhnya lemas. Ia duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan dengan pandangan kosong..
"Mbak? Mbak sehat?" tanya dokter itu, sedikit khawatir.
Meysa tersadar. "I—iya, Dok. Saya sehat. Maaf."
Dokter itu tersenyum. Ia menulis resep di secarik kertas, lalu menyerahkannya bersama sebuah buku kecil berwarna pink—buku catatan kesehatan ibu hamil.
"Ini resep vitamin. Jangan lupa diminum rutin. Dan ini buku pink, nanti dibawa setiap kontrol. Jaga kesehatan, jangan kecapekan, banyak-banyakin makan yang bergizi ya, supaya calon bayinya sehat."
Meysa menerima semuanya. Tangannya masih gemetar saat memasukkan resep dan buku pink itu ke dalam tas.
"Terima kasih, Dok."
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah yang pelan..
Di apotek rumah sakit, Meysa mengantre untuk menebus obat. Ia berdiri di antara ibu-ibu hamil lain yang datang bersama suaminya. Mereka berpegangan tangan, saling tersenyum, sesekali berbicara tentang nama bayi atau warna baju yang akan dibeli.
Ia menebus vitamin itu...
Lalu kakinya membawanya ke ruang rawat inap Rangga. Pria itu akan pulang hari ini. Meysa sudah janji akan menjemputnya, meskipun ia tahu Rangga tidak pernah memintanya.
Saat ia tiba di depan pintu, ia mendengar suara dokter dari dalam.
"Kondisi pasien sudah stabil. Luka di kepala mengering dengan baik. Pasien sudah boleh pulang hari ini."
Meysa masuk. Rangga sedang duduk di tepi tempat tidur, perban di kepalanya sudah dilepas, hanya tersisa plester kecil di pelipis kanan...
Dokter itu menoleh ke arah Meysa. "Ini istrinya, ya?"
Rangga tidak menjawab. Meysa hanya tersenyum tipis.
"Baik, saya serahkan perawatan selanjutnya di rumah. Kontrol seminggu lagi," ucap dokter itu, lalu meninggalkan ruangan.
Pak Soerya berjalan mendekat. Wajahnya yang semalam suntuk tegang kini mulai menampakkan garis-garis lega. Ia menepuk pundak Rangga, lalu menatap Meysa.
"Terima kasih, Nak. Kamu sudah sabar merawat Rangga selama ini."
Meysa mengangguk "Ini sudah menjadi tugas Meysa, Yah."
Mereka berjalan keluar ruangan, menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi. Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai yang mengkilap. Pak Soerya berjalan paling depan, diikuti Rangga yang langkahnya masih sedikit hati-hati, dan Meysa di paling belakang..
Sampai di parkiran, Pak Soerya membuka kunci mobil. Rangga duduk di kursi depan. Meysa memilih duduk di belakang..
Mobil melaju pelan meninggalkan rumah sakit.
Pak Soerya memecah keheningan. "Rangga, Ayah sudah bicara dengan Pak Bambang. Emily sudah mengakui semuanya. Bahwa dia yang memfitnah kamu, dia yang mengambil dan menyebarkan foto itu, dia yang membuat cerita palsu."
Rangga diam. Tangannya di pangkuan mengepal.
"Kamu bisa kembali ke kampus, Nak. Namamu sudah bersih."
Rangga menghela napas panjang. Wajahnya yang sedari tadi datar, kini sedikit berubah. Ada binar di matanya, bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi kelegaan yang perlahan merayap. Setelah berminggu-minggu terpuruk, kini ada secercah harapan.
"Terima kasih, Ayah," ucapnya lirih.
Pak Soerya tersenyum. "Ini bukan karena Ayah, tapi ini berkat usaha teman-temanmu."
Di kursi belakang, Meysa mendengar semuanya, tak apa namanya tidak disebut, tapi setidaknya ia merasa senang, mendengar suaminya bisa kembali meraih impiannya.
Meysa memejamkan mata.
"Ayahmu baru saja mendapat kabar baik, Nak, batinnya.."Tapi ibu belum punya keberanian untuk memberinya kabar tentangmu."
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey