Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Clara sempat terdiam beberapa detik ketika pelayan meletakkan makanan di atas meja mereka. Aroma steak hangat dan saus lada hitam langsung memenuhi area restoran. Lampu-lampu berwarna keemasan membuat suasana malam terasa lebih tenang dan romantis. Di luar jendela, gemerlap kota mulai terlihat jelas. Sementara di dalam restoran, Clara justru merasa jantungnya berdegup jauh lebih keras dibanding biasanya. Ironis sekali. Seorang wanita yang tumbuh di keluarga konglomerat malah gugup hanya karena makan malam bersama pria yang disukainya. Manusia memang makhluk yang aneh.
Tony mengambil gelas minumnya lalu menatap Clara dengan senyum tipis.
“Kau terlihat cantik malam ini, Clara.”
Clara yang sedang memotong makanannya langsung salah tingkah. Dia menundukkan wajah sambil tersenyum kecil.
“Terima kasih... Anda juga terlihat sangat menawan malam ini.”
Tony tertawa pelan mendengar jawaban itu.
“Menawan? Jarang ada yang mengatakan itu padaku.”
“Itu karena mereka tidak memperhatikan Anda dengan baik.”
Jawaban Clara membuat Tony menatapnya cukup lama. Tatapan pria itu terasa hangat, tenang, dan sulit ditebak. Clara sampai harus berpura-pura sibuk meminum air hanya untuk menghindari rasa gugupnya sendiri.
Beberapa saat keduanya menikmati makanan dalam diam. Namun anehnya suasana itu tidak terasa canggung. Clara justru merasa nyaman. Dia sudah lama menyukai Tony, bahkan sejak pertama kali melihat pria itu memimpin rapat direksi dengan tenang dan tegas. Baginya, Tony adalah sosok pria sempurna. Tampan, cerdas, berwibawa, dan selalu terlihat mampu mengendalikan keadaan.
Tony kemudian meletakkan alat makannya perlahan.
“Clara, boleh aku bertanya sesuatu?”
Clara langsung mengangguk cepat.
“Tentu.”
Tony terlihat berpikir sejenak sebelum berbicara.
“Selama ini... apakah ada pria yang dekat denganmu?”
Pertanyaan itu membuat Clara sedikit terkejut. Namun dia segera menggeleng.
“Tidak ada.”
“Tidak ada sama sekali?”
Clara tersenyum kecil.
“Ayah terlalu protektif. Selain itu aku juga tidak terlalu tertarik dengan pria-pria yang mendekat.”
Tony memperhatikan ekspresi Clara dengan serius.
“Jadi selama ini kau belum pernah memiliki pacar?”
Clara menggeleng lagi.
“Belum.”
Tony tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku cukup terkejut mendengarnya.”
“Kenapa?”
“Karena banyak pria pasti tertarik padamu.”
Clara menahan senyum malu.
“Mungkin saja. Tapi aku tidak pernah benar-benar menyukai mereka.”
Tony mengangguk pelan seolah memahami sesuatu.
“Lalu bagaimana dengan sekarang?”
Clara mengangkat wajahnya.
“Sekarang?”
Tony menatap tepat ke matanya.
“Apakah sekarang ada pria yang kau sukai?”
Jantung Clara kembali berdetak tidak karuan. Dia tahu arah pembicaraan ini mulai berubah. Tangannya bahkan terasa sedikit dingin.
Namun perlahan Clara memberanikan diri.
“Ada.”
Tony tampak tersenyum samar.
“Boleh aku tahu siapa pria beruntung itu?”
Clara menatap Tony beberapa detik sebelum akhirnya berbicara pelan.
“Pria itu sedang duduk di depanku.”
Untuk pertama kalinya malam itu Tony terlihat benar-benar terdiam. Clara bahkan bisa melihat ekspresi terkejut kecil di wajah pria tersebut.
Clara langsung panik sendiri.
“Maaf... aku mungkin terlalu jujur.”
Namun Tony justru tertawa pelan.
“Tidak. Aku hanya tidak menyangka kau akan mengatakannya secara langsung.”
Wajah Clara memerah sepenuhnya.
“Aku tidak pandai menyembunyikan perasaan.”
“Itu justru hal yang bagus.”
Tony kemudian menatap Clara dengan jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
“Sejujurnya... aku juga tertarik padamu.”
Clara langsung membeku beberapa detik.
“Benarkah?”
Tony mengangguk pelan.
“Sejak lama.”
Kalimat singkat itu terasa seperti ledakan besar di kepala Clara. Selama ini dia hanya berharap diam-diam. Dia tidak pernah benar-benar berpikir Tony juga memiliki perasaan yang sama.
Clara bahkan sampai menahan napas sesaat.
“Aku kira Anda tidak pernah memikirkan hal seperti itu.”
Tony tersenyum tipis.
“Aku tetap pria normal, Clara.”
Clara tertawa kecil mendengar jawaban itu.
“Kalau begitu... apa artinya kita mulai berpacaran?”
Namun pertanyaan itu justru membuat ekspresi Tony berubah sedikit serius.
“Aku ingin membicarakan hal itu.”
Clara mulai merasa gugup lagi.
Tony menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
“Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tetapi aku tidak ingin hubungan ini menjadi bahan pembicaraan di perusahaan.”
Clara perlahan memahami arah pembicaraan Tony.
“Anda ingin menjaga profesionalitas?”
Tony mengangguk.
“Benar.”
Clara mencoba tersenyum walaupun ada sedikit rasa kecewa di hatinya.
“Aku mengerti.”
“Ayahmu adalah pemilik perusahaan. Sedangkan aku bekerja di bawahnya. Jika kita langsung berpacaran sekarang, semua orang akan berpikir aku mendekatimu demi jabatan.”
“Tapi aku tidak peduli dengan pendapat mereka.”
“Aku peduli.”
Jawaban Tony terdengar tenang tetapi tegas.
“Aku ingin berdiri di hadapan ayahmu sebagai pria yang benar-benar layak untukmu. Bukan pria yang memanfaatkan putri pemilik perusahaan.”
Clara terdiam.
Jujur saja, sebagian dirinya kecewa karena dia berharap malam itu Tony akan resmi menjadi pacarnya. Namun di sisi lain, kata-kata pria itu justru membuatnya semakin kagum.
Tony bukan hanya memikirkan perasaannya sendiri.
Pria itu memikirkan harga diri dan masa depannya.
Tony kembali berbicara pelan.
“Aku ingin dekat denganmu. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Tetapi aku tidak ingin terburu-buru menjalani hubungan yang justru bisa merusak posisimu di perusahaan.”
Clara menatap Tony lama sekali.
“Lalu bagaimana nanti?”
Tony tersenyum kecil.
“Suatu hari nanti, saat aku sudah bisa berdiri tegak di hadapan ayahmu tanpa rasa malu... aku akan langsung melamarmu.”
Clara langsung merasa matanya memanas.
Kalimat itu jauh lebih serius dibanding sekadar ajakan berpacaran.
Tony tidak berbicara soal hubungan main-main.
Pria itu berbicara soal pernikahan.
Clara sampai harus menundukkan wajah karena terlalu terharu.
“Kenapa menangis?”
“Aku tidak menangis.”
“Kau jelas hampir menangis.”
Clara tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya.
“Aku hanya senang.”
Tony memperhatikan Clara dengan tatapan lembut.
“Jadi... apakah kau bersedia menungguku?”
Clara langsung mengangguk tanpa ragu.
“Aku akan menunggu.”
“Sungguh?”
“Karena aku tidak bisa membayangkan diriku bersama pria lain.”
Tony tersenyum puas mendengar jawaban itu.
“Mendengar itu membuatku cukup bahagia.”
Clara kemudian menatap Tony sambil tersenyum malu.
“Aku tidak sabar melihat hari ketika Anda melamarku.”
Tony tertawa kecil.
“Berarti aku harus bekerja lebih keras.”
Malam itu akhirnya terasa begitu sempurna bagi Clara. Mereka melanjutkan makan malam sambil berbicara banyak hal ringan. Untuk pertama kalinya Clara merasa begitu dekat dengan pria yang selama ini hanya bisa dia kagumi dari kejauhan.
Namun di balik suasana romantis itu, badai lain sebenarnya mulai bergerak di dalam Darmawan Group.
Keesokan paginya suasana berbeda terlihat di ruang kerja utama milik Agung Darmawan.
Pria paruh baya itu duduk tenang di balik meja besarnya sambil membaca beberapa laporan keuangan perusahaan. Wajahnya terlihat serius. Sementara di hadapannya, Doni berdiri sambil membawa beberapa map tebal.
Doni menarik napas panjang sebelum berbicara.
“Pak Agung, saya rasa kita tidak bisa terus membiarkan Tony melakukan ini.”
Pak Agung menutup map di tangannya perlahan.
“Pengurangan anggaran lagi?”
Doni mengangguk.
“Bukan hanya satu divisi. Hampir semua divisi mulai terkena dampaknya.”
“Apa bagian pemasaran juga kembali dipotong?”
“Lumayan besar.”
Pak Agung menghela napas pelan.
Dia sebenarnya sudah mengetahui hal itu sejak beberapa bulan terakhir. Tony terus melakukan efisiensi anggaran dengan alasan stabilitas perusahaan. Di atas kertas semuanya terlihat masuk akal. Bahkan beberapa direktur mendukung kebijakan tersebut karena dianggap mampu menjaga keuangan perusahaan tetap stabil.
Namun hanya sedikit orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
Dan Doni adalah salah satunya.
Doni membuka salah satu map lalu menunjukkannya pada Pak Agung.
“Setiap kali ada pengurangan dana, aliran uangnya selalu berakhir di perusahaan-perusahaan kecil yang terhubung dengan orang dekat Tony.”
Pak Agung memperhatikan dokumen itu tanpa banyak bicara.
“Namun semuanya dibuat sangat rapi,” lanjut Doni. “Tidak ada bukti langsung yang benar-benar mengarah kepadanya.”
Pak Agung tersenyum tipis.
“Tony memang cerdas.”
“Itulah yang membuatnya berbahaya.”
Doni lalu duduk perlahan di kursi depan meja kerja Pak Agung.
“Jika ini terus dibiarkan, kerugian perusahaan akan semakin besar.”
Pak Agung menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat tangan.
“Aku sudah mencoba menyelidikinya diam-diam.”
“Dan hasilnya?”
“Semua bukti selalu berhenti di bawahannya.”
Doni mengangguk kesal.
“Itu yang saya takutkan. Dia menggunakan orang lain sebagai tameng.”
Ruangan itu mendadak sunyi beberapa saat.
Pak Agung sebenarnya sudah lama memperhatikan Tony. Sebagai pemilik perusahaan, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres pada pria itu. Namun Tony terlalu pintar memainkan citra.
Di mata sebagian besar pegawai, Tony adalah direktur operasional yang luar biasa.
Tegas.
Disiplin.
Efisien.
Berwibawa.
Tidak banyak orang tahu bahwa di balik semua itu, pria tersebut perlahan menggerogoti perusahaan dari dalam.
Pak Agung lalu menatap Doni.
“Aku sudah menyiapkan rencana untuk mengatasinya.”
Doni sedikit terkejut.
“Rencana?”
Pak Agung mengangguk pelan.
“Tony sudah terlalu percaya diri. Orang seperti dia biasanya mulai melakukan kesalahan ketika merasa tidak tersentuh.”
Doni tersenyum tipis.
“Kalau begitu kita hanya perlu menunggu dia lengah.”
“Tepat sekali.”
Pak Agung kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong, iklan terbaru divisi pemasaran cukup bagus.”
Doni langsung terlihat sedikit canggung.
“Terima kasih, Pak.”
“Aku dengar kau sendiri yang menjadi modelnya?”
Doni tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepala.
“Anggaran kami terlalu kecil untuk menyewa artis.”
Pak Agung ikut tersenyum.
“Dan hasilnya justru cukup berhasil.”
“Saya hanya tidak mau kalah karena keterbatasan dana.”
Pak Agung memandang Doni beberapa detik.
Dia tahu pria di hadapannya bukan orang sempurna. Doni keras kepala, sering membantah, dan terkadang terlalu emosional. Namun satu hal yang membuat Pak Agung menghargainya adalah loyalitasnya pada perusahaan.
Berbeda dengan beberapa direktur lain yang mulai berpihak pada Tony demi keuntungan pribadi.
Doni kembali berbicara dengan nada serius.
“Tony pasti akan mencoba menyingkirkan saya.”
Pak Agung mengangguk tenang.
“Karena kau adalah penghalang terbesar baginya.”
“Dia tahu saya terus memperhatikan gerak-geriknya.”
“Dan kau juga tahu terlalu banyak.”
Doni tersenyum miring.
“Sayangnya saya bukan tipe orang yang mudah takut.”
Pak Agung tertawa kecil mendengar itu.
“Itulah alasan aku masih mempertahankanmu di perusahaan ini.”
Di luar ruangan, suasana kantor tetap berjalan normal seperti biasa.
Para pegawai bekerja.
Telepon berdering.
Rapat berlangsung.
Semua terlihat tenang di permukaan.
Namun sebenarnya pertarungan besar mulai terbentuk diam-diam di dalam Darmawan Group.
Dan tanpa disadari Clara berada tepat di tengah permainan berbahaya itu.