NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Mobil hitam itu terparkir di bawah lampu jalan yang redup. Mesinnya masih menyala, hanya lampunya yang dimatikan. Han tiba-tiba berhenti berjalan begitu melihat ada siluet pengemudi di balik kaca depan. Nara hampir menabrak punggungnya.

“Kenapa berhenti?”

Han tidak menjawab, ia hanya menatap ke depan. Arga yang ikut menyusul belakangan, masih sedikit terengah engah tapi begitu ia melihat mobil itu, wajahnya langsung berubah.

“Oh s-shit!.”

“Kamu kenal?” tanya Nara pelan.

“Gue kenal tipe mobilnya.” Sahut Arga sambil menelan ludah. “Biasanya orang kaya, polisi rahasia… atau pembunuh.”

“Menyenangkan sekali.” Ujar Nara sarkas.

Han mengamati sekitarnya dengan cepat. Jalan utama hanya berisi beberapa kendaraan lewat. Minimarket di ujung blok masih buka, tapi tidak cukup ramai untuk jadi tempat perlindungan. Kalau mereka lari sekarang, orang di dalam mobil itu pasti bergerak mengejar. Dan Han tidak suka dikejar di area yang terbuka.

Tiba-tiba, seorang pria keluar dari dalam mobil itu. Perawakannya tinggi dan tidak terlalu kekar. Rambutnya pendek dan rapi. Mantelnya berwarna hitam gelap. Tangannya kosong tapi ia melangkah dengan tenang.

Han langsung mengenalinya.

Sial.

Pria itu berhenti hanya beberapa meter dari mereka, membiarkan hujan tipis yang turun membasahi pundaknya. Ia memandang wajah Han terlebih dulu, lalu ke pistol yang samar di balik jaket Han.

Ia tersenyum tipis dan dingin.

“Kamu memang susah untuk mati ya.”

Arga langsung mundur berlindung dibalik Han dan Nara.

“Han…?!”

Han tetap diam. Nara memperhatikan keduanya bergantian. Ada sesuatu aneh, mereka saling mengenal.

Pria itu menatap Han beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“Aku baru dengar kabar kalau kamu mulai bikin masalah lagi,” tatapannya berpindah ke Nara, “…oh, ternyata karena ini.”

Nara tidak suka cara pria itu melihatnya, seperti sedang menilai harga barang pajangan. Han melangkah sedikit kedepan, menghalangi pandangan ke Nara.

“Jangan lihat dia.”

Pria itu terkekeh kecil. “…nah, ini baru menarik.”

Arga berbisik pelan ke Nara.

“Kalau Han mulai protektif, biasanya bakal ada yang berdarah darah.”

Nara mulai sadar kalau Arga punya bakat aneh, yang bisa membuat situasi mencekam terasa sedikit lebih ringan. Sedikit banget.

Pria di depan mereka memasukkan satu tanganya ke saku mantel. Han langsung mengencangkan rahangnya, dan mengenggam pistol di balik jaketnya. Namun pria itu hanya mengeluarkan sebungkus rokok.

“Tenanglah…,” katanya santai. “Kalau aku mau bunuh kalian, aku ngga perlu nemuin kalian.”

“Itu bukan kalimat menenangkan,” gumam Nara.

Pria itu tersenyum tipis, “…gadis pintar.”

“Apa maumu?” tanya Han yang belum menurunkan kewaspadaannya.

Pria itu menyalakan rokoknya pelan.

“Jujur? Aku cuma penasaran.”

“Bohong.”

“Ya, sedikitlah.”

Gerimis kecil mulai turun lagi di sekitar mereka. Mobil-mobil yang lewat pun tidak  peduli pada ketegangan kecil di atas trotoar itu. Pria itu menghembuskan asap rokoknya pelan.

“Nama dia, Nara kan?”

Nara langsung menegang. Han maju setengah langkah ke depan membentengi Nara.

“Aku bilang jangan…”

“Relaks.” Pria itu memotong santai. “Kalau aku bagian tim pemburu, kalian sudah mati dari tadi.”

Sunyi beberapa detik diantara mereka. Han tahu itu benar. Dan justru itu yang membuat situasi semakin rumit. Karena orang ini jarang bergerak tanpa alasan kuat.

“Aku nggak punya waktu buat permainanmu, Kai!.”

Nara mengernyit kecil.

KAI!.

Akhirnya ada nama yang keluar.

Pria itu…. Kai, tertawa pendek.

“Sudah lama aku ngga dengar namaku disebut oleh mulutmu.”

Arga menatap Nara pelan,  “Nah. Sekarang situasinya mulai jelek deh.”

Tapi Nara mengabaikan ucapan Arga.

“Kalian dulu kerja bareng?” tanya Nara lebih lanjut.

Kai mengangkat bahunya sesaat..

“Kurang lebih.”

“Dia hampir bikin aku mati tiga kali,” kata Han datar.

“Dan kamu masih hidup, artiya aku nggak terlalu buruk kan.”

Han tidak tertarik akan nostalgia lama.

“Apa maumu, Kai?”

Kai mematikan rokok dengan ujung sepatunya.

“Aku cuma mau kasih saran.”

“Saranmu jarang gratis.”

“Kali ini gratis.”

Han diam menunggu. Kai menatap Nara lagi sebentar sebelum kembali ke Han.

“Kalau Helios sudah turun langsung…” suaranya mengecil sedikit, “…berarti perempuan itu memang penting.”

Nara memeluk lengannya sendiri tanpa sadar.

“Aku bahkan nggak ngerti apa yang kulakukan.”

Kai tersenyum tipis.

“Biasanya sih memang seperti itu.”

Han mulai kehilangan kesabaran.

“Kai!.”

“Oke, oke.” Kata Kai sambil mengangkat tangannya. “Intinya, kalian sudah ngga punya banyak waktu.”

“Karena?”

“Karena orang yang tadi turun tangan bukan unit biasa.”

Han sudah menduganya. Tetap saja mendengarnya langsung terasa buruk.

Kai melanjutkan,

“Mereka mulai nyari sampai level jalanan. CCTV bakal diperiksa. Stasiun dijaga. Rumah sakit dipantau.”

Arga langsung memaki pelan.

“Hebat. Kita resmi jadi kecoak buronan.”

Han menatap Kai tajam.

“Kenapa bantu aku?”

Untuk pertama kalinya sejak tadi, senyum Kai sedikit memudar.

“Aku nggak bantu kamu.” Tatapan berubah tajam sesaat. “Aku cuma nggak suka mereka mulai bergerak terlalu jauh.”

Kalimat itu terdengar seperti punya arti lain. Tapi Han tidak sempat menggali lebih jauh karena tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dari ujung jalan.

Kai langsung menoleh. Wajahnya berubah sinis.

“Nah.” Ia mundur pelan. “Itu tandanya aku harus pergi.”

Han ikut melihat ke arah jalan. Ia melihat dua mobil hitam masuk perlahan ke area itu. Terlalu pelan. Seperti mencari seseorang. Kai berjalan mundur menuju mobilnya sendiri. Sebelum masuk, ia menatap Han sekali lagi.

“Kalau kamu masih punya insting survival…” katanya pelan, “…jangan bawa dia ke tempat lama.”

Han tidak menjawab. Kai melirik Nara sebentar, lalu berkata,

“Dan jangan percaya penuh sama Han.”

Nara tertegun ia menatap Kai yang sedang masuk ke mobilnya. Mesin langsung meraung pelan sebelum mobil itu bergerak pergi, melewati dua mobil hitam yang baru datang. Tidak ada yang menghentikannya. Han sadar, kalau…

“Mereka saling kenal.”

“Aku nggak suka kalimat itu,” kata Arga cepat.

Dua mobil hitam tadi kini melambat di ujung jalan. Han menggenggam pistol di balik jaketnya. Matanya mengawasi dengan tajam.

“Kita jalan sekarang.”

Nara masih sempat melirik ke arah mobil Kai yang menjauh. Lalu ke Han. Pria itu tetap tenang seperti biasa. Tapi sekarang, Nara sadar kalau banyak masa lalu di sekitar Han yang belum ia ketahui.

Dan semuanya terlihat sangat berbahaya.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!