Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 makan siang yang terpaksa
"Pagi pak Dimas," sapa Cindy pada Dimas yang sedang berdiri di koridor depan ruangannya.
"Pagi," balas Dimas tersenyum tipis pada Cindy.
Di belakang Cindy terlihat Ratih yang sedang berjalan menuju ke arah ruang kantornya juga.
"Pagi," ucap Ratih datar pada Dimas yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.
"Pagi juga," balas Dimas menatap Ratih yang terus berjalan melewatinya.
Dimas menatap Ratih yang sedang berjalan itu sampai dia menghilang dari pandangan matanya, setelah itu Dimas beranjak dari tempatnya berdiri masuk ke dalam ruang kantornya juga.
Dimas merebahkan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambi menyandarkan kepalanya di punggung kursi itu, dia sedang memikirkan sesuatu tentang Ratih.
"Aku tahu Rat, kamu masih sangat membenci aku karena sikapku yang sudah membuat hatimu kecewa, tapi entah kenapa setiap ke kantor kalau aku belum melihat dirimu hatiku jadi cemas, dan setelah melihat kamu hatiku jadi tenang," Dimas menghela nafas panjang.
Di koridor depan ruang kantor Ratih terlihat Bu Bella sedang berjalan sambil menggendong beberapa berkas-berkas, dia berjalan masuk ke dalam ruang kerja Ratih.
Sesampainya di dalam ruangan itu Bu Bella terus saja berjalan ke arah meja kerja Ratih yang bersebelahan dengan Cindy.
Ratih terlihat sedang sibuk menatap tulisan-tulisan yang terpampang di lap top yang ada di hadapannya itu.
Tiba-tiba Bu Bella berhenti dan meletakkan beberapa map di samping Ratih sambil berkata padanya.
"Rat, kamu kerjakan segera dokumen ini dan setelah selesai semuanya kamu berikan pada pak Dimas di ruangannya sana," ucap Bu Bella tegas pada Ratih.
Sesaat Ratih menatap beberapa dokumen yang ada di atas mejanya itu lalu dia berkata pada Bu Bella.
"Baik Bu, akan saya kerjakan sekarang juga," ucap Ratih.
"Bagus," ucap Bu Bella yang kemudian pergi meninggalkan Ratih dan keluar dari ruang kantor itu.
"Rat, banyak banget dokumen yang harus kamu kerjakan," ucap Cindy yang sedari tadi melihat tumpukan dokumen yang di berikan Bu Bella pada Ratih tadi.
"Gak apa-apa Cin, aku masih sanggup kok," kelakar Ratih tersenyum pada Cindy.
"Eh Rat. Sebenarnya kamu sama pak Dimas udah saling kenal ya?" tiba-tiba saja Cindy menanyakan tentang Dimas padanya.
"Emmm enggak kok," elak Ratih pada Cindy.
Cindy mengerutkan keningnya menatap Ratih tak percaya,"masak sih," ucap Cindy pada Ratih.
"Iya," Ratih mencoba meyakinkan Cindy.
"Kalau aku lihat-lihat setiap kali pak Dimas bertemu kamu tatapannya itu seperti.....orang yang sudah kenal kamu lama....banget," ucap Cindy masih penasaran.
"Ah itu perasaan kamu aja mungkin," Ratih mencoba mematahkan kecurigaan Cindy sahabatnya itu.
Beberapa jam berlalu dan Ratih sudah menyelesaikan tugas yang tadi di berikan Bu Bella padanya, tinggal mengantarkan ke ruangan Dimas.
Ratih merapikan dokumen-dokumen itu lalu dia pun beranjak dari kursi tempatnya duduk dan berjalan keluar ruang kantornya menuju ke ruang kerja Dimas.
Dengan perasaan sedikit berdebar Ratih mulai mengetuk pintu kantor Dimas ," tok tok tok," Ratih menunggu jawaban dari dalam dan tak berapa lama terdengar suara Dimas yang menyuruh Ratih masuk.
"Masuk," perintah Dimas.
Dengan segera Ratih membuka pintu kantor itu dan berjalan masuk ke dalam, terlihat Dimas sedang duduk di kursi kerjanya sambil menatap Ratih yang berjalan ke arahnya.
"Ini dokumen yang di perintahkan Bu Bella tadi," ucap Ratih sembari menyodorkan beberapa dokumen itu diatas meja kerja Dimas.
Dimas diam tidak berkata apa-apa dia hanya mengangguk dan menatap Ratih begitu juga dengan Ratih dan untuk sesaat tatapan mereka beradu tapi buru-buru Ratih mengalihkan pandangannya sambil berkata pada Dimas.
"Kalau tidak ada tugas lagi aku keluar," ucap Ratih.
"Ya," kata Dimas sembari terus menatap Ratih.
Ratih jadi salah tingkah di tatap terus sama Dimas, akhirnya dengan terburu-buru dia keluar dari ruangan Dimas.
"Kenapa sih Dim....," ucap Ratih setelah berada di depan pintu ruang kantor Dimas sambil menghela nafas panjang.
Ratih kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kerjanya lagi, tiba-tiba Cindy berkata padanya ," Rat, siang ini pak Dimas mengajak kita makan siang bareng," ucap Cindy.
"Makan siang? kita berdua?" tanya Ratih sedikit kaget menatap Cindy.
"Bukan kita, tapi seluruh departemen keuangan di ajak makan siang sama pak Dimas," Cindy menjelaskan pada Ratih.
"Ohhh," ucap Ratih lega.
"Kamu kenapa kok histeris gitu," tanya Cindy menatap Ratih heran.
"Enggak gak apa-apa," kata Ratih berusaha menyembunyikan perasaannya.
Siang ini seluruh orang di departemen keuangan menerima undangan pak Dimas untuk makan siang bareng di resto dekat kantor mereka.
Semua kursi sudah penuh terisi oleh teman-teman Ratih, Ratih bingung mencari tempat duduk dan di saat itulah Bu Bella memanggil Ratih untuk bergabung di mejanya.
"Ratih duduk di sini saja gabung sama kita," ajak Bu Bella yang duduk semeja dengan Dimas.
"Gak usah Bu, saya cari tempat lain aja," ucap Ratih menolak.
Mata Dimas menatap Ratih yang sepertinya tidak mau duduk semeja dengan dirinya, Dimas bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ratih dan Cindy yang masih berdiri di dekat meja tempat dia duduk tadi.
"Duduk lah sama Bu Bella, aku yang akan cari tempat lain," ucap Dimas pada Ratih.
Ratih terdiam sementara Cindy yang mendengar hal itu sontak saja berkata pada Dimas.
"Pak, pak Dimas jangan pindah biar kami duduk di sana juga bareng Bu Bella dan pak Dimas," ucap Cindy pada Dimas sambil mencolek lengan Ratih.
Ratih menatap Dimas yang masih berdiri di sampingnya itu dan dengan terpaksa Ratih berkata pada Dimas ," iya pak Dimas jangan pindah, biar kita yang duduk disana juga," ucap Ratih.
"Oke," ucap Dimas yang kemudian kembali lagi dan duduk di kursi tempatnya tadi.
Cindy menatap Ratih dan mengajaknya untuk segera duduk juga, Cindy duduk di samping Bu Bella sementara Ratih duduk di samping Cindy sedangkan Dimas duduk di seberang mereka tepat berhadapan dengan Ratih.
Suasana ini membuat Ratih tidak nyaman tapi dia harus tetap bertahan di situ agar Cindy tidak curiga padanya.
"Silahkan," ucap Dimas pada mereka bertiga.
Cindy dan Bu Bella pun mulai mengambil makanan yang ada di atas meja itu dan menyantapnya begitu juga dengan Ratih yang sedikit enggan.
Dimas menatap Ratih yang terlihat tidak senang dengan acara makan siang ini tapi Dimas tidak marah dia berusaha untuk sabar menghadapi sikap Ratih karena Dimas sadar Ratih bersikap seperti itu juga karena dia dulu pernah menyakiti hati Ratih.