NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 7: "Dinding Dingin dan Gemuruh yang Tak Terucapkan"

​Pagi di Jombang menyisakan aroma tanah basah dan sisa-sisa badai semalam yang masih menggelayut di pucuk-puncak pohon mahoni. Setelah berpamitan dengan keluarga Kiai Mansur dengan senyum yang dipaksakan seanggun mungkin, Shania melangkah masuk ke dalam SUV hitam itu.

​Ia melirik Zain. Pria itu tampak tenang—terlalu tenang. Wajahnya bersih setelah wudhu subuh, rahangnya tetap tegas, dan matanya lurus menatap kaca depan. Namun, ada satu hal yang berbeda: tidak ada teguran tentang doa kendaraan pagi ini.

Zain langsung memutar kunci kontak, memindahkan tuas persneling, dan memacu mobil keluar dari gerbang pesantren tanpa sepatah kata pun.

​Keheningan di dalam kabin mobil terasa lebih mencekam daripada gemuruh petir semalam. Shania menyandarkan kepalanya ke jendela, memerhatikan hamparan sawah yang mulai menguning di sepanjang jalan raya Jombang-Mojokerto.

Jantungnya masih berdegup aneh setiap kali ia teringat kejadian di kamar tamu itu.

'​Dia, marah banget ya?' batin Shania.

​Ia mencuri pandang ke arah tangan Zain yang memegang kemudi. Urat-urat di punggung tangan pria itu tampak menonjol, mencengkeram setir dengan tekanan yang konstan. Shania menggigit bibir bawahnya. Biasanya, Zain akan memulainya dengan ceramah singkat tentang adab, atau setidaknya menyindir tentang pentingnya rasa malu bagi seorang wanita. Tapi hari ini? Zain seolah-olah menganggap Shania tidak ada di kursi sebelah.

​"Mas..." suara Shania mencicit pelan, memecah kesunyian setelah hampir satu jam perjalanan.

​Zain tidak menoleh. Hanya helaan napas pendek yang terdengar.

​"Soal semalam... aku cuma mau ngetes kamu aja kok. Kan kita udah deal soal tantangan itu," lanjut Shania, mencoba mengembalikan keberaniannya yang biasanya meluap-luap.

​Zain tetap bungkam. Ia justru meraih sebuah kaset murrotal Al-Qur'an dan memutarnya. Suara Syekh Mishary Rashid Al-Afasy mengalun merdu, mengisi kekosongan di antara mereka. Bagi Shania, suara itu seperti tamparan halus. Zain sedang membentengi dirinya sendiri dengan ayat-ayat suci, seolah-olah kehadiran Shania adalah godaan setan yang harus diusir dengan dzikir.

​"Mas Zain! Aku ngomong lho ini!"

Shania mulai kesal. Ia benci diabaikan. Ia lebih suka Zain membentaknya atau mengurungnya di perpustakaan daripada didiamkan seperti benda mati.

​Zain akhirnya mengecilkan volume suara murrotal, namun pandangannya tetap fokus pada aspal di depannya.

​"Fokuslah pada jalanmu menuju taubat, Shania. Bukan fokus pada bagaimana cara meruntuhkan iman suamimu," ucap Zain dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan menusuk hingga ke tulang.

​"Halah, sok suci! Semalam aja Mas diem aja pas aku cium. Berarti Mas juga nikmatin, kan?" tantang Shania, meski sebenarnya ia merasa malu setengah mati.

​Mobil tiba-tiba melambat. Zain meminggirkan SUV itu di bahu jalan yang sepi, di bawah deretan pohon trembesi yang rimbun. Ia menginjak rem dalam-dalam, lalu memutar tubuhnya menghadap Shania.

​Tatapan Zain kali ini tidak datar. Ada api yang berkilat di sana—sebuah kemarahan yang tertahan, namun juga ada guratan luka yang dalam.

​"Kamu, pikir saya batu, Shania?" tanya Zain, suaranya bergetar menahan emosi.

"Kamu, pikir karena saya seorang ustadz, saya tidak memiliki syahwat? Saya ini pria dewasa, Shania. Dan kamu adalah istri sah, saya!"

​Zain mendekatkan wajahnya, membuat Shania refleks mundur hingga punggungnya menempel erat pada pintu mobil.

​"Apa yang kamu lakukan semalam... itu bukan sekadar 'tes'. Itu adalah penghinaan terhadap kehormatan saya sebagai imammu. Kamu menggunakan kesucian pernikahan kita sebagai alat permainan untuk memuaskan egomu yang ingin bebas."

​Shania tertegun. Ia melihat jakun Zain naik turun dengan cepat. Pria kaku ini benar-benar terguncang.

​"Jika saya tidak memiliki rasa takut kepada Allah, Shania... semalam saya tidak akan melepaskanmu. Saya bisa saja mengambil hak saya sepenuhnya dan membuatmu tidak berdaya. Tapi saya ingin kamu berubah karena kesadaran, bukan karena paksaan biologis semata."

​Zain kembali memutar tubuhnya ke depan, memegang setir dengan kedua tangan yang gemetar.

​"Jangan pernah ulangi lagi. Jangan jadikan ibadah nikah ini sebagai bahan taruhan murahmu. Jika kamu ingin bebas, lakukan dengan cara yang terhormat: buktikan bahwa kamu bisa menjadi wanita yang lebih baik, maka saya sendiri yang akan melepaskanmu tanpa rasa berat."

​Shania terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti penjahat yang sesungguhnya. Ia mengira ia sedang bermain peran sebagai penggoda yang cerdik, namun ternyata ia sedang mengacak-acak hati seorang pria yang sedang berjuang menjaga integritas jiwanya.

​Sisa perjalanan menuju Kediri—lokasi Pesantren Al-Muammar—berlangsung tanpa suara. Shania tidak berani lagi menyentuh ponselnya atau mengajak Zain bicara. Ia hanya menatap jemarinya yang saling bertautan di pangkuan.

“​Kembali ke Al-Muammar: Dinding yang Semakin Tinggi”

​Begitu sampai di gerbang pesantren, suasana langsung berubah. Zain kembali mengenakan topeng wibawanya. Ia menyapa para santri penjaga gerbang dengan senyum tipis yang sopan, seolah tidak terjadi apa pun antara dia dan Shania selama perjalanan.

​"Turunlah. Masuk ke rumah, bersihkan diri, dan bersiap untuk kelas sore di asrama putri. Umi sudah menunggumu," perintah Zain saat mereka sampai di depan rumah mungil mereka.

​Zain tidak ikut masuk. Ia justru membawa tas kitabnya dan berjalan menuju masjid utama. Shania berdiri di ambang pintu, menatap punggung Zain yang menjauh. Punggung itu tampak begitu kokoh, namun Shania kini tahu, di balik jubah koko dan sarung itu, ada hati yang sedang terluka hebat karenanya.

​Di dalam rumah, Shania merasa hampa. Ia melempar gamis hijaunya ke atas ranjang—ranjang yang kemarin malam menjadi saksi bisu kenekatannya. Ia teringat kata-kata Zain:

“'Jika seorang Zain Malik sudah mencintai sesuatu, dia tidak akan pernah melepaskannya. Selamanya!'”

​"Apa dia beneran mulai cinta sama aku? Atau dia cuma marah karena aku ganggu dzikirnya?" gumam Shania sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

​Sore harinya, dengan langkah gontai, Shania menuju asrama putri. Ia mengenakan mukena serta cadar putih yang senada dengan mukenanya dan membawa kitab dasar yang diberikan Zain. Di sana, ratusan santriwati sudah duduk rapi. Saat Shania masuk, bisik-bisik kagum terdengar di antara mereka.

​"Masya Allah, itu Ning Shania, istri Ustadz Zain. Cantik banget ya walau hanya terlihat matanya saja ..."

​"Dengar-dengar beliau pinter banget lho, langsung diajar sendiri sama Ustadz Zain tiap malam."

​Shania ingin tertawa miris mendengar itu. Pinter? Ia bahkan masih bingung membedakan huruf kha dan ha. Namun, di depan Umi Zainab, ia berusaha tetap menjaga sikap.

​"Nak Shania, matamu terlihat sayu. Apa kecapekan dari Jombang?" tanya Umi Zainab lembut saat kelas selesai.

​"Nggak apa-apa kok, Umi. Cuma kurang tidur aja," jawab Shania jujur—meski alasannya bukan karena mengaji.

​Umi Zainab tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Shania.

"Zain, itu memang kalau sudah fokus pada sesuatu suka lupa waktu. Tapi ingat, Nak, dia sangat peduli padamu. Tadi sebelum ke masjid, dia mampir ke dapur ndalem, minta Umi masakan tumis kangkung dan ayam bakar tanpa cabai... katanya istrinya nggak kuat pedas."

​Deg!

Jantung Shania mencelos. Zain masih memikirkannya? Setelah apa yang ia lakukan semalam? Setelah ciuman paksa dan aksi nakalnya yang membuat pria itu murka?

“​Malam di Rumah: Perang Dingin yang Sesungguhnya”

​Malam kembali menyapa Pesantren Al-Muammar. Suara santri yang menghafal nadhom Alfiyah terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Shania duduk di tepi ranjang, menunggu Zain pulang dari mengajar kelas malam.

​Pukul sembilan, pintu terbuka. Zain masuk dengan wajah lelah. Ia meletakkan tasnya, melepas peci, dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu. Begitu keluar, ia melihat Shania masih duduk di sana.

​"Kenapa belum tidur?" tanya Zain singkat.

Ia tidak menatap mata Shania.

​"Aku, nungguin Mas... mau setor hafalan," ucap Shania pelan.

​Zain mengambil mushaf di nakas, lalu memberikannya pada Shania.

"Silakan. Juz 1, dari ayat yang kemarin berhenti."

​Shania mulai membaca. Suaranya masih terbata-bata, namun kali ini ia berusaha sangat keras untuk benar. Ia ingin menunjukkan pada Zain bahwa ia tidak hanya bisa membuat masalah. Namun, setiap kali ia melakukan kesalahan tajwid, Zain tidak lagi membetulkannya dengan bisikan lembut di telinganya seperti malam sebelumnya.

​Zain hanya mengetuk meja dengan pulpennya setiap kali ada kesalahan, memberitahu tanpa harus mendekat.

​"Cukup sampai di situ," potong Zain setelah Shania membaca setengah halaman.

"Lanjutkan besok. Saya capek, mau istirahat."

​Zain mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang redup. Ia tidak menuju kasur. Ia justru mengambil bantal dan selimut, lalu berjalan menuju sofa panjang di pojok kamar—kembali ke posisi awal mereka saat hari pertama menikah.

​Shania terkejut.

"Mas... kok tidur di situ lagi? Kan semalam... maksudku, kita udah sepakat tidur di satu ranjang."

​Zain yang sudah merebahkan diri membelakangi Shania menjawab dengan suara dingin yang mematikan.

​"Ranjang itu terlalu berbahaya bagi saya jika penghuninya tidak tahu cara menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Tidurlah di sana. Saya lebih tenang di sini."

​Shania merasakan matanya memanas. Rasa sesak yang aneh memenuhi dadanya. Ia telah memenangkan egonya—Zain terganggu, Zain goyah, Zain tergetar olehnya. Tapi entah mengapa, kemenangan ini terasa seperti kekalahan yang paling memalukan dalam hidup Shania.

​Ia berbaring di ranjang yang luas itu sendirian, menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Ia menyadari satu hal: ia merindukan aroma sandalwood dari tubuh Zain yang biasanya berada di sampingnya. Ia merindukan bisikan tegas namun sabar saat membetulkan bacaan Qur'annya.

​"Mas Zain..." panggil Shania pelan, suaranya hampir hilang tertelan suara jangkrik.

​"Tidur, Shania," jawab Zain tanpa menoleh.

​Di pojok kamar, dalam kegelapan yang sama, Zain sebenarnya tidak memejamkan mata. Ia menggenggam pinggiran sofa dengan erat. Bayangan bibir Shania, sentuhan lembut istrinya di perutnya semalam, terus berputar di kepalanya seperti film yang tak bisa dihentikan.

​Zain beristighfar dalam hati. Ia sedang menghukum Shania dengan jarak, namun sebenarnya, ia juga sedang menghukum dirinya sendiri. Karena ia tahu, benteng pertahanannya mulai retak. Satu langkah lagi, satu godaan lagi yang tidak bisa ia tahan, maka ia akan benar-benar jatuh—dan ia takut, jika ia jatuh cinta sekarang, Shania hanya akan menjadikannya bahan tertawaan untuk kebebasannya.

​Pertempuran malam itu bukan lagi antara "Ustadz" dan "Gadis Liar". Tapi antara dua hati yang sama-sama takut akan kehilangan, namun terlalu gengsi untuk mengakui bahwa mereka mulai saling membutuhkan.

​BERSAMBUNG ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!