Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7- CKOD 7
Dari jendela kaca yang ukurannya sangat besar itu, Vivian dan Desy melihat ke arah teras samping, dimana Bella masih berlutut disana dengan kesal.
"Bu, kenapa coba kita tidak buah dia menyusul kakaknya di penjara saja. Kita rekayasa apa gitu? dia itu menyebalkan sekali! aku tidak suka melihatnya di sini. Aku lihat tanda merah di lehernya. Leo jelas masih menyentuhnya, apa mungkin itu tidak berbahaya? maksudku bagaimana kalau Leo nanti jadi lemah padanya?" tanya Desy pada ibunya.
Vivian dengan tatapan tajam itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kalau soal itu, kamu jangan khawatir. Leo sangat menyayangi Lusi. Lusi bikin salah apapun, Leo selalu memaafkannya hanya dengan satu kata maaf dari Lusi. Adiknya yang saat dia sayangi itu meninggal. Dia pasti tidak akan memaafkan Bagas dan Bella. Leo kan seorang pria, dia juga butuh pelampiasan. Biarkan saja, kita sendiri tahu seperti apa dia memperlakukan Bella. Biar saja! wanita itu bukan fisiknya yang akan sakit kalau diperlakukan seperti itu. Tapi mentalnya. Bagus begini kan? kita menyiksa fisiknya, Leo menyiksa batinnya!"
Desy menganggukkan kepalanya. Benar juga, bagi seorang istri, orang yang paling dia harap melindunginya kan sudah tentu suaminya. Tapi, kalau suaminya memperlakukannya seperti orang asing, dan hanya butuh tubuhnya saja. Sudah pasti hatinya akan hancur berkeping-keping.
"Jangan buang waktu memperhatikan adik pembunuhh itu. Lebih baik kita pergi ke salon. Besok ada undangan dari tuan gubernur!"
"Ibu benar, aku akan ajak Davin. Dia pasti senang main di mall!"
Dua wanita itu meninggalkan rumah. Mereka bahkan tidak perlu memberikan peringatan pada Bella. Atau memberikan instruksi pada pelayan. Mereka sudah tahu, Bella bahkan tidak akan pernah berdiri sebelum waktu hukumannya selesai.
Dan tidak akan ada juga yang membantunya. Karena semua pelayan di rumah ini pasti takut di pecat kalau sampai membantu Bella.
Mobil mewah itu sudah keluar dari pintu gerbang. Bibi Okta ingin sekali menemani Bella, dan bertanya apakah nonanya itu sudah sempat kabur atau belum. Tapi, dia malah di beri tugas merapikan kamar Davin yang memang sengaja di buat berantakan sekali.
Siang semakin terik, saat matahari malah mulai condong ke arah barat. Tepat di depan wajah Bella.
Pandangannya sudah berkunang-kunang. Tapi, dia tidak mau membuat keluarga Alexander marah padanya. Kakaknya sudah dihajar habis-habisan seperti itu oleh Leo. Jika dia membuat masalah, kakaknya mungkin akan di bawa keluar dari rumah sakit. Dan tidak diobati lagi.
Bella hanya diam, dengan pandangan mata ke lantai paping batu kasar berwarna abu-abu itu. Dia sudah melihat lantai itu setiap harinya. Terkadang ada rasa ingin menyerah. Tapi, setelah apa yang dia lihat terjadi pada kakaknya itu. Bella sungguh tidak akan pernah berpikir seperti itu lagi. Jika dia menyerah, bagaimana dengan kakaknya. Mereka bisa menghabisii kakaknya kapan saja.
Bella juga bingung, bagaimana dia harus bertahan setelah ini. Bahkan ponsel saja dia tidak punya. Dia bisa minta bantuan pada siapa?
Tak lama berselang, sebuah mobil mewah masuk ke area kediaman Alexander. Bukan mobil Bima Alexander, bukan pula mobil yang tadi digunakan Leo.
Seorang pria dengan koper besar berjalan masuk ke arah rumah.
"Tuan Sony, selamat siang!" sapa Dini yang memang suka cari muka.
"Desy ada di rumah?" tanya pria yang adalah suami Desy itu.
Sony Hermawan, seorang pengusaha yang merupakan suami Desy, ayah dari Davin.
"Non Desy dan nyonya sedang keluar, bersama tuan muda juga!" jawab Dini.
Arah pandangan Sony pun segera tertuju ke teras samping. Jendela kaca itu memang memungkinkan semua yang ada di ruang tengah dan ruang tamu bisa melihat langsung ke teras samping.
"Ck, mereka masih menggunakan hukuman itu untuk Bella. Memangnya apa salahnya? ya ampun!" gumam Sony.
Pria itu menarik tangannya dari koper yang dia pegang. Dan berjalan perlahan ke teras samping.
Dini yang melihat itu, tentu saja segera mengikuti Sony.
"Tuan, tuan Sony. Kata nona Desy, jangan di suruh berhenti berlutut dulu nona Bella -nya sampai jam 5..."
Dini menghentikan ucapannya, karena Sony berbalik dan melotot tajam ke arah Dini.
"Dari jama berapa dia berlutut seperti itu?" tangan Sony lantang.
"Jam 1, tuan" sahut Dini cepat.
"Sekarang sudah jam 3, apa kalian membunuhnya?" tanya Sony.
Dini hanya tertunduk, dia mana tahu harus menjawab apa. Dia kan hanya pelayan yang akan mengikuti apa kata majikannya saja. Lagipula dia juga tidak seberapa senang dengan Bella. Ya makanya dia biarkan saja.
Sony kembali berbalik dan berjalan dengan cepat ke arah teras samping. Begitu dia berada dekat dengan Bella. Sony segera meraih lengan adik iparnya itu.
"Bella, sudah..."
Bella mendongak, melihat dengan mata sendunya ke arah Sony.
"Mas Sony..." lirihnya.
"Bangun saja Bella. Desy dan ibu tidak ada di rumah. Kamu juga tidak perlu seperti ini!" Sony berusaha membantu Bella berdiri, tapi Bella malah menepis tangan Sony.
Bella menggelengkan kepalanya perlahan. Bibirnya sudah sangat kering, wajahnya juga begitu pucat. Arah pandangan Sony, segera tertuju pada punggung tangan Bella yang terlihat terluka.
"Itu tangan kamu kenapa?" tanya Sony menunjukkan kekhawatirannya.
"Tidak apa-apa. Mas Sony masuk saja, di luar panas..."
"Sudah tahu panas begini, kenapa masih berlutut disini? Bella masuklah, ibu dan Desy tidak ada. Tidak akan ada yang menghukum mu..."
"Mas, aku harus berlutut sampai jam 5. Aku tidak mau membuat mas Leo marah. Aku tidak apa-apa. Aku sudah biasa, terima kasih banyak mas Sony sudah perduli padaku"
Sony mendengus pelan.
"Bella, jangan seperti ini. Kamu bisa pingsan nanti. Atau duduklah sebentar, setelah itu kamu bisa berlutut lagi sampai jam 5!"
Bella berusaha mendengarkan Sony. Tapi semakin dia mendongak, kepalanya semakin terasa sakit. Wajah Sony yang tadinya masih terlihat samar, semakin lama semakin menjadi sangat samar. Hingga rasanya di penglihatan Bella, semuanya berubah menjadi putih.
Brukkk
"Bella!" panggil Sony kaget.
Dini juga terkejut.
"Ambil air minum, Din. Bawa ke kamar Bella!" kata Sony yang langsung mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke dalam kamar Bella dan Leo.
Setelah membaringkan Bella. Sony minta Dini memanggil bibi Okta. Sony juga tidak mau ada salah paham, jadi dia minta bibi Okta yang menyuapi Bella dengan air minum. Bibir Bella sudah sangat kering.
"Kenapa dia pucat begini, bi?" tanya Sony.
"Non Bella tadi pagi tenggelam, tuan. Di bawa ke klinik, tapi setelah kembali malah disuruh berlutut lagi. Belum minum, belum makan..."
"Bibi Okta ini, ngaduan sekali!" sela Dini.
"Diam kamu, Dini. Keluar sana, buatkan bubur!" ujar Sony.
"Baik tuan!" jawab Dini sambil merengut tapi langsung keluar dari kamar itu dengan cepat.
Sony menatap Bella. Dia sebenarnya kasihan, tapi dia yang hanya menantu juga tidak bisa berbuat banyak.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈