NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

flashback singkat

​Deru motor Sugeng perlahan menghilang, ditelan oleh keheningan malam Desa Sukomaju yang ganjil. Di kamar lantai atas yang megah itu, Ratri masih berdiri mematung di depan jendela besar. Cahaya rembulan yang masuk menembus kaca menyapu wajahnya, memberikan kesan pucat yang mistis. Suanggi di dalam tubuhnya telah tenang setelah mencicipi sedikit "sari pati" dari Sugeng, meninggalkan rasa hangat yang menjalar di rahim Ratri.

​Namun, kehangatan itu tidak mampu mencairkan hatinya yang sekeras batu es.

​Kepergian Sugeng, dengan segala kesombongan dan nafsu menjijikkannya, justru membuka keran memori yang selama ini dikunci rapat oleh Ratri. Ia teringat masa-masa di mana ia bukan seorang "Nyonya" yang ditakuti, melainkan seorang gadis kota yang penuh harapan. Gadis yang percaya bahwa dunia ini adil jika kita berbuat baik.

​Ratri memejamkan matanya. Seketika, dinding-dinding mewah rumah gedong itu memudar. Ia terseret kembali ke sepuluh tahun yang lalu, ke sebuah kota metropolitan yang bising, tempat di mana takdirnya pertama kali bersilang dengan seorang pemuda desa bernama Bayu.

​Flashback: Cinta yang Disangka Murni

​Di sebuah kawasan di Jakarta, Ratri adalah kembang di lingkungannya. Sebagai putri seorang pegawai BUMN, kecantikannya yang lembut dan kulitnya yang bersih menjadikannya incaran banyak pria. Mulai dari anak pengusaha kaya yang datang dengan mobil mewah, hingga rekan sekantornya yang menjanjikan kehidupan mapan di apartemen mentereng. Namun, Ratri selalu menolak mereka dengan halus. Baginya, pria-pria kota itu terasa palsu. Tutur kata mereka manis, tapi tatapan mata mereka selalu menghitung untung-rugi.

​Sampai suatu sore, di sebuah kedai kopi kecil dekat kantornya, ia bertemu Bayu.

​Bayu saat itu adalah seorang pemuda yang baru merantau. Ia bekerja di sebuah perusahaan distributor bangunan. Penampilannya sederhana, jauh dari kesan glamor. Namun, yang membuat Ratri jatuh hati adalah ketulusan yang terpancar dari matanya yang cokelat tua. Bayu bicara dengan logat desa yang kental, sopan, dan tampak sangat menghargai wanita.

​"Kenapa kamu pilih aku, Bayu? Padahal di kota ini banyak perempuan yang jauh lebih modis," tanya Ratri suatu malam di sebuah taman kota, sesaat setelah Bayu menyatakan cintanya.

​Bayu menggenggam tangan Ratri dengan gemetar. Tangannya kasar karena kerja keras, namun sentuhannya terasa hangat bagi Ratri. "Karena bagiku, Mbak Ratri itu seperti embun di tengah panasnya kota ini. Aku ini cuma orang desa, Mbak. Di desaku, kalau kami mencintai seseorang, kami menjaganya seperti menjaga nyawa sendiri. Tidak ada tipu-tipu."

​Kata-kata itu meruntuhkan pertahanan Ratri. Murni. Itulah kata yang tertanam di benak Ratri. Ia yakin bahwa cinta pemuda desa lebih suci, lebih tulus, dan tidak akan pernah berkhianat. Ia membayangkan masa depan yang damai, jauh dari hiruk pikuk kepalsuan kota.

​Setahun kemudian, mereka menikah. Orang tua Ratri sempat ragu,karena melihat latar belakang keduanya sangatlah jauh, namun melihat kegigihan Bayu dan kebahagiaan putri mereka, mereka akhirnya merestui.

​Tahun-tahun pertama pernikahan mereka di kota adalah masa-masa yang indah. Bayu adalah suami yang sangat baik. Ia bekerja keras, bahkan nekat membuka usaha distributor material kecil-kecilan. Ratri membantunya dengan setia. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang kecil.Orang tua Ratri membelikan sebuah rumah,tapi Ratri menghargai Bayu agar tidak menyinggung kehormatan nya sebagai laki-laki dia menolak pemberian rumah itu,

Setiap pagi, Ratri menyiapkan sarapan dan kopi kesukaan Bayu. Sebelum berangkat kerja, Bayu selalu mencium keningnya dan membisikkan janji-janji manis.

​"Sabar ya, Cah Ayu. Kalau usaha kita ini sukses, aku akan membawamu hidup mulia. Kamu tidak perlu kerja keras lagi," bisik Bayu sambil membelai rambut Ratri.

​Ratri tersenyum manja. "Aku tidak butuh kemewahan, Mas. Selama ada kamu di sampingku, itu sudah cukup."

​Hingga badai itu datang.

​Usaha yang mereka rintis dengan tetesan keringat ditipu oleh rekan bisnis kepercayaan Bayu. Dalam semalam, modal mereka ludes, hutang menumpuk, dan penagih hutang mulai mendatangi rumah mereka. Bayu yang biasanya tegar, mulai berubah menjadi pemurung. Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga di kota yang kejam itu.

Ratri yang notabene keluarga mampu, berapa kali ingin membantu finansial suaminya,tapi harga diri Bayu sebagai laki-laki terlalu tinggi.

​"Kita pulang saja ke desaku, Ratri," ucap Bayu suatu malam dengan suara parau. "Di Karang Jati, kita masih punya tanah peninggalan orang tuaku. Kita bisa buka toko kelontong kecil-kecilan. Di sana hidup lebih murah, dan orang-orang desa itu saudaraku semua. Mereka pasti akan membantu kita."

Keraguan sempat menghampiri keyakinan Ratri,bahkan orang tua nya juga melarang Ratri untuk ikut ke kampung ,Mereka ingin membantu perekonomian anaknya yang di ujung tanduk,tapi lagi lagi Ratri masih enggan untuk menerima.

​Ratri, sebagai istri yang berbakti dan masih memegang teguh keyakinannya bahwa "orang desa itu tulus", menyetujui ajakan itu tanpa ragu. Ia rela meninggalkan kenyamanan kota, meninggalkan orang tuanya, dan menjual sisa-sisa perhiasannya untuk biaya pindah dan modal awal di desa.

​Ia membayangkan Karang Jati adalah tempat yang damai, di mana ia akan diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga besar suaminya. Ia membayangkan hidup sederhana dengan menanam sayur di halaman dan melayani tetangga yang ramah di toko kelontongnya.

​Namun, kenyataan yang ia temui di Karang Jati adalah racun yang dibungkus madu.

​Kepulangan mereka disambut dengan tatapan aneh. Para pria di desa itu menatap Ratri seolah-olah ia adalah barang pameran yang langka. Sementara para wanita, termasuk saudara-saudara Bayu, menatapnya dengan rasa iri yang kental. Mereka membisikkan fitnah di belakang punggungnya: " "Sok cantik, paling nanti juga tidak betah hidup susah."

​Bayu, yang semula sangat memujanya, perlahan mulai terpengaruh oleh atmosfer desa yang sempit. Tekanan ekonomi dan bisikan-bisikan miring warga membuat Bayu mulai sering melamun. Ia mulai merasa minder memiliki istri sesempurna Ratri di tengah kemiskinan mereka.

​Ratri tetap mencoba bersabar. Ia bangun sebelum subuh, menimba air di sumur, memasak dengan kayu bakar, dan menjaga toko kelontong dari pagi hingga malam. Ia tidak pernah mengeluh. Setiap kali ada laki-laki desa—termasuk Pak RT Hardo—yang mencoba menggodanya dengan ucapan kurang ajar saat berbelanja di toko, Ratri selalu menepisnya dengan tegas namun tetap sopan.

​Ia menjaga kesetiaannya pada Bayu seperti menjaga api di tengah badai.

​Hingga sampailah pada malam jahanam itu. Malam di mana "kemurnian" orang desa yang ia puja-puja berubah menjadi kebiadaban yang tak terbayangkan. Malam di mana suaminya sendiri, yang seharusnya menjadi pelindungnya, justru menjadi orang pertama yang melemparkannya ke lubang kenistaan hanya karena secuil video fitnah.

​Kembali Ke Masa Sekarang

​Ratri membuka matanya. Air mata yang sempat menggenang kini telah menguap, digantikan oleh kilat amarah yang dingin di dalam manik matanya yang hitam legam.

​"Murni, katamu, Mas?" bisik Ratri pada kesunyian kamar. "Tulus, katamu?"

​Ia tertawa getir. Tawa yang membuat bulu kuduk Mbok Nah yang sedang membersihkan lantai bawah meremang. Ratri kini menyadari bahwa tidak ada yang namanya kemurnian. Yang ada hanyalah nafsu yang tersembunyi di balik keramahan, dan pengkhianatan yang menunggu waktu untuk meledak.

​Ia berjalan menuju meja riasnya, mengambil sebilah keris kecil dengan gagang emas—pemberian dari Nenek Minah di Bukit Weling. Ia mengusapkan jari telunjuknya ke mata keris itu, merasakan ketajamannya.

​"Sugeng sudah merasa menang malam ini. Besok, dia akan memamerkan dosanya pada Hardo dan Bambang," gumam Ratri. "Biarkan mereka semua merasa hebat. Biarkan mereka bermimpi tentang tubuhku sekali lagi."

​Ratri duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Ia melihat susuk emas yang tertanam di bawah kulitnya seolah berdenyut, memancarkan aura merah yang halus. Suanggi di dalamnya kembali menggeliat, seolah merespons kebencian majikannya.

​"Sugeng akan menjadi benih kedua yang membusuk di desa itu," desisnya.

​Ia teringat betapa Sugeng sangat bangga bisa "meniduri" Ratri tadi sore. Sugeng tidak tahu bahwa setiap desahan napas yang ia keluarkan di atas ranjang tadi adalah pertukaran nyawa dengan Suanggi.

​Ratri bangkit dari kursi riasnya, mematikan lampu kamar, dan membiarkan kegelapan menyelimutinya.

​"Sepuluh laki-laki," hitung Ratri dalam hati. "Satu sudah gila, satu sedang menunggu kehancuran. Tersisa delapan... dan satu pengkhianat bernama Bayu."

​Di kejauhan, di batas Hutan Weling, suara anjing hutan melolong panjang, seolah menyambut dimulainya musim panen nyawa yang akan dilakukan oleh sang Ratu Suanggi. Ratri merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, menutup mata dengan senyuman yang paling manis, namun paling mematikan yang pernah ia miliki.

​Malam itu, di Desa Karang Jati, Sugeng tidur dengan mimpi indah tentang Ratri.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!