Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Valerius tentu saja tidak membiarkan serangannya berhenti di situ saja. Ia segera melompat dan menginjak pangkal ekor monster yang sedang meronta-ronta gila itu, mematikunya kuat-kuat di tanah berlumpur.
Monster buas yang sangat ditakuti itu kini hanya bisa menggelepar tak berdaya di bawah kaki seorang manusia. Mata kuningnya yang tadi memancarkan arogansi seorang pemangsa puncak, kini sepenuhnya digantikan oleh kepanikan hewan lemah yang terpojok maut.
Makhluk itu mencoba memutar lehernya untuk menggigit kaki Valerius dengan sisa tenaganya, namun rahangnya hanya mengatup pada udara kosong. Valerius merespons dengan menendang keras moncong monster itu, mematahkan beberapa taring tajamnya hingga darah menyembur keluar.
"Lihatlah dirimu yang menyedihkan sekarang," ejek Valerius dengan senyum dingin yang kejam. "Makhluk agung dari perbatasan iblis yang ditakuti manusia, kini merangkak merana di bawah kakiku seperti anjing jalanan yang cacat."
Valerius mengangkat pedang bajanya perlahan-lahan ke udara, membiarkan cahaya bulan memantul di bilahnya yang berdarah. Ia sama sekali tidak mengincar organ jantung atau otak untuk memberikan sebuah pembunuhan cepat yang penuh belas kasihan.
Ia justru menusukkan pedangnya ke bagian paru-paru monster itu, memastikan bilah bajanya tidak mengenai organ vital secara langsung yang mematikan seketika. Darah hitam menyembur deras keluar dari dada makhluk itu, diiringi suara napas parau yang terputus-putus dan menyakitkan.
Cakar Malam itu tersedak darahnya sendiri, kedua matanya melotot menatap wajah Valerius yang tersenyum iblis. Rasa sakit luar biasa yang perlahan-lahan membunuhnya mulai menggerogoti sisa-sisa kewarasan binatang buas tersebut.
Valerius menikmati setiap detik penderitaan yang terpancar dari makhluk di hadapannya seperti menyesap anggur kualitas terbaik. Ia sengaja memutar bilah pedangnya sangat perlahan di dalam luka menganga itu, memperluas kerusakan internal secara sadis dan terencana.
Keputusasaan absolut dan rasa sakit tak tertahankan terpancar jelas dari aura monster yang sedang menanti ajal itu. Valerius merasakan getaran ketakutan sang monster mengalir memberikan kepuasan yang mengenyangkan kebahagiaan batinnya yang paling gelap.
Akhirnya, setelah melewati siksaan penderitaan yang terasa bagai keabadian, cahaya kehidupan benar-benar padam dari sepasang mata kuning tersebut. Tubuh raksasa monster bersisik itu berhenti mengejang selamanya, mati dalam keadaan agoni yang tak terbayangkan oleh pikiran manusia.
Layar sistem holografik langsung muncul kembali dengan warna merah yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
[Target Dieliminasi: Cakar Malam (Monster Tingkat Menengah - Penjaga Lembah).]
[Kondisi Mental Sebelum Kematian: Ketakutan Absolut dan Keputusasaan. Hadiah: +300 Poin Dosa.]
[Level Up! Host kini mencapai Level 4. Seluruh atribut fisik dan Mana meningkat secara signifikan.]
[Skill Baru Berhasil Terbuka: 'Langkah Bayangan'. Memungkinkan Host bergerak senyap tanpa suara di area gelap.]
Valerius mencabut pedangnya dari bangkai monster itu dengan gerakan kasar yang merobek lebih banyak daging. Ia mengibaskan darah hitam kental yang menempel di bilah baja tersebut hingga bersih sebelum menyarungkannya.
Otot-otot di seluruh tubuhnya kini terasa jauh lebih kuat, padat, dan sangat mematikan dari sebelumnya. Kekuatan murni Mana di dalam tubuhnya beriak kencang bagai ombak lautan yang siap menghancurkan tebing karang hingga menjadi debu.
Ia melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, menyusuri jalan setapak di sisa-sisa area Lembah Tengkorak. Mayat raksasa Cakar Malam itu dibiarkan membusuk begitu saja, menjadi monumen peringatan mengerikan bagi monster lain yang berniat mencoba peruntungan mereka.
Berkat skill Langkah Bayangan yang baru didapatnya, pergerakannya kini jauh lebih cepat, ringan, dan sama sekali tidak bersuara. Monster-monster malam yang lebih lemah di sekitarnya dengan cerdas memilih untuk bersembunyi rapat-rapat begitu merasakan aura kematian pekat yang mengelilingi pria ini.
Setelah terus berjalan tanpa henti selama beberapa jam yang sangat sunyi, udara pekat dan lembap di lembah perlahan mulai terasa sedikit lebih ringan. Kabut beracun yang sedari tadi menutupi pandangan akhirnya menipis, digantikan oleh sapuan embun pagi yang dingin dan menyegarkan.
Langit malam berwarna ungu mengerikan di atasnya mulai memudar perlahan, memberikan jalan bagi warna biru keabu-abuan pertanda fajar yang menyingsing. Valerius akhirnya telah melangkah keluar dan mencapai batas terluar dari zona kematian mematikan tersebut.
Ia memutuskan untuk mendaki sebuah bukit karang berbatu yang curam demi mendapatkan sudut pandang observasi yang jauh lebih baik. Angin pagi yang bertiup tajam dari arah utara menerpa wajahnya, mengeringkan sisa-sisa noda darah monster di pipinya.
Dari puncak bukit karang tersebut, pandangannya menyapu sebuah hamparan dataran hijau yang membentang sangat luas. Di kejauhan, terlihat deretan dinding batu tinggi dan kokoh yang melindungi sebuah pos perbatasan militer berskala besar.
Itu adalah Benteng Besi Hitam yang terkenal, pos pertahanan terdepan milik Orde Cahaya sekaligus pintu gerbang satu-satunya menuju wilayah peradaban manusia. Asap tipis dari cerobong perapian terlihat mengepul ke udara pagi, menandakan adanya kehidupan prajurit di balik tembok kokoh tersebut.
Mata hitam Valerius menyipit tajam, mengamati sebuah bendera berlogo pedang suci bersayap yang berkibar gagah di atas menara pengawas utama. Itu adalah bendera musuh bebuyutan dari pemilik tubuh aslinya, namun sekaligus tiket masuk eksklusifnya untuk kembali ke panggung politik ibu kota.
Ia tentu saja tidak bisa melenggang masuk ke sana dengan pakaian compang-camping yang berbau darah monster dan mayat manusia. Ia membutuhkan sebuah rencana yang sangat matang, sebuah manipulasi psikologis sempurna untuk meruntuhkan kewaspadaan penjaga benteng tersebut dari dalam ke luar.
Sistem kembali memberikan notifikasi misi baru yang berkedip di sudut matanya.
[Misi Baru Tersedia: 'Domba Berbulu Serigala'. Infiltrasi Benteng Besi Hitam tanpa terdeteksi sebagai sosok pengkhianat.]
[Batas Waktu Pelaksanaan: 24 Jam. Hukuman Jika Terjadi Kegagalan: Pengurangan 500 Poin Dosa.]
Valerius tersenyum sinis membaca layar itu, tangannya perlahan mengusap ukiran pada cincin naga hitam di jarinya. "Sebuah benteng pertahanan yang dipenuhi oleh para prajurit suci yang aslinya sangat korup dan busuk hingga ke tulang," gumamnya pelan.
Ini adalah jenis lingkungan sosial yang sangat ia kuasai dan cintai di masa lalunya sebagai narapidana terkejam. Ia akan membuat para penjaga gerbang itu menyambut kedatangannya dengan penuh hormat layaknya pahlawan.
Mereka sama sekali tidak akan menyadari bahwa mereka sedang membukakan pintu rumah mereka sendiri untuk seorang malaikat maut. Permainan manipulasi berskala besar miliknya baru saja dimulai, dan papan caturnya kini sudah digelar.
Valerius duduk di atas batu karang itu, menyilangkan kakinya dengan tenang sambil menatap benteng di kejauhan. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya berpacu gila membedah setiap kemungkinan, skenario, dan kebohongan yang akan ia rangkai.
Di kehidupan lamanya yang fana, sebuah benteng sebesar itu bisa ia hancurkan hanya dengan memutus jalur suplai air selama satu bulan penuh. Keputusasaan perlahan selalu terbukti menjadi senjata yang jauh lebih tajam daripada sebilah pedang baja terbaik yang pernah ditempa manusia.
Namun saat ini situasinya berbeda, ia belum memiliki pasukan pribadi, harta kekayaan, maupun sekutu yang bisa ia kendalikan. Satu-satunya modal mematikan yang ia miliki hanyalah otak kotornya dan identitas tubuh seorang bangsawan yang seharusnya sudah membusuk.
Ia mencoba mengingat kembali kepingan memori Valerius asli tentang komandan benteng tersebut, seorang pria bernama Baron Kaelos. Sang Baron sangat terkenal di kalangan elit bangsawan sebagai pria licik yang sangat rakus akan kekayaan materi dan ambisi status sosial.
Keserakahan manusia adalah jenis kelemahan psikologis yang paling indah untuk dieksploitasi oleh seorang manipulator sepertinya. Orang yang dikuasai keserakahan akan selalu dengan senang hati menutup mata terhadap bahaya, asalkan bahaya tersebut dibungkus dengan kepingan emas yang mengkilap.
Valerius membuka matanya kembali, menatap tajam cincin stempel Keluarga Draken yang melekat pas di jari telunjuknya. Benda kecil ini adalah kunci utama untuk memicu ledakan keserakahan di dalam dada sang Baron.
Ia akan merancang sebuah cerita tragis dan menyayat hati tentang pangeran yang selamat dari penyergapan brutal pasukan iblis. Sebuah dongeng kebohongan yang akan membuat Baron Kaelos merasa bisa memanfaatkan Valerius sebagai bidak untuk memeras dukungan dari Keluarga Draken.
Valerius berdiri dari duduknya, meregangkan otot-ototnya yang kaku sambil menarik napas dalam-dalam. Ia sudah sangat siap meninggalkan sisa-sisa kemanusiaan di lembah ini, dan melangkah ke dunia manusia sebagai sosok monster yang sesungguhnya.