NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 SEBUAH PERTEMUAN (Bagian Keenam)

Di tengah rasa rindu, rasa bahagia, rasa sakit, dan semua memori masa lalu orang tua di dalam kepala Zaki berubah menjadi rasa amarah yang cukup kuat di dalam hatinya itu, tiba-tiba...

Energi Sekar Mayang terasa mengalir dalam diri Zaki...

"Astaghfirulloh..." gumamnya dalam hati saat menyadari energi Sekar Mayang mulai merasuk perlahan.

Zaki memejamkan ke dua matanya sesaat, sambil tetap wajahnya mengarah ke jendela gerbong. Angin yang terasa sejuk dari sela-sela jendela, berubah perlahan menjadi hawa panas menerpa wajahnya.

Dan hanya dirinya sendiri yang bisa merasakan itu semua...

Lalu, obrolan dimensi ghoib antara ke duanya terjadi...

"Aku tak suka jika wanita itu membuatmu kembali teringat dengan semua perbuatan orang tuamu Zaki..." suara Sekar Mayang terdengar jelas di pendengaran ghoib tuannya itu.

"Sudahlah, biarkan saja..." jawab Zaki melalui batinnya kepada Sekar Mayang.

"Apa urusan wanita itu mempertanyakan ke dua orang tuamu? Dia bukan siapa-siapa di dalam hidupmu..."

"Sudahlah, kamu diam saja Sekar Mayang. Tak usah ikut campur." jawab Zaki dengan sedikit kesal.

"Kenapa kamu selalu seperti ini Zaki? Kenapa kamu selalu membiarkan orang lain mencampuri urusan pribadimu?"

"Sudah! Diamlah Sekar Mayang! Lagian juga dia bertanya seperti itu tidak ada maksud untuk ikut campur masa laluku!" jawab Zaki.

"Baiklah... Jika kamu masih saja seperti ini... Hihihi..."

Seketika, Zaki merasakan bahwa Sekar Mayang akan melakukan sesuatu, tanpa perintah apapun darinya. Tapi ia tak bisa menerka hal apa yang akan dilakukan Sekar Mayang, perewangan miliknya itu.

"Tolong ya, kamu jangan berbuat sesuatu yang aku tak suka!" tegas Zaki kepada Sekar Mayang melalui dimensi ghoibnya.

"Hihihi... Kita lihat saja... Tuan Zaki ku sayang... Hihihi..."

Sontak, jawaban akhir dari Sekar Mayang itu membuat batin Zaki menjadi khawatir dan cemas.

--------------------

Dan di titik inilah, para pembaca bisa mengetahui keterbatasan manusia. Meskipun memiliki kemampuan untuk hidup bersama satu sosok perewangan, namun bukan berarti secara otomatis bisa mengendalikan sepenuhnya kehendak dari sosok perewangan itu.

--------------------

Tiba-tiba... Dimensi ghoib antara Zaki dan Sekar Mayang memudar cepat, ketika Nisa kembali berkata padanya.

"Mas Zaki... Maafin saya ya..."

Zaki mencoba mengendalikan batinnya yang kini khawatir dan cemas itu dengan cepat, lalu menjawab Nisa, "Enggak apa-apa Mbak Nisa, wajar kok kamu tanya itu."

"Beneran Mas?"

"Iya... Emang kenapa sih?" Zaki mulai bertanya, karena sebab rasa khawatir dan cemas itu.

Jangan-jangan, Nisa mulai merasakan sesuatu...

Jangan-jangan, Sekar Mayang akan berbuat sesuatu pada diri Nisa...

Dan untungnya semua itu segera terjawab dengan tenang oleh Nisa, "Em, saya jadi gak enak sama Mas..."

"Hehehe... Santai aja Mbak Nisa..."

Sejenak kemudian, mereka berdua kembali saling mengalihkan pandangan ke luar jendela. Entah apa yang dirasakan oleh Nisa, sudah pasti berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Zaki.

Namun, beberapa saat kemudian, sensor ghoib dalam diri Zaki kembali merasakan sesuatu. Tapi kali ini bukan berasal dari dirinya sendiri. Melainkan berasal dari tubuh Nisa.

Zaki jadi mengalihkan pandangannya ke arah Nisa. Mencoba melihatnya dengan kemampuan penglihatan ghoibnya.

Dan ternyata...

Dalam penglihatannya itu, di sekitar tubuh Nisa muncul aura bercahaya merah cerah terpancar, namun secara samar-samar...

Dan sepersekian detik itu pula, Zaki sadar...

Sekar Mayang... Hendak melakukan sesuatu pada Nisa...

"Em, kenapa Mas?" tanya Nisa yang melihat Zaki sedari tadi menatapnya lebih dalam, tanpa senyuman, seolah melihat sesuatu pada dirinya.

"Eh, enggak, enggak kenapa-kenapa Mbak..." jawab Zaki, dan sudah jelas jawaban itu adalah sebuah kebohongan.

Untuk mengalihkan kecurigaan wanita manis di depannya itu, dan juga untuk membantu menetralisir energi Sekar Mayang yang mulai hendak "menyentuh"nya, Zaki segera membuka tas miliknya.

Dan yang dikeluarkan olehnya adalah sekantong biskuit yang masih rapat tersegel. Ketika ia hendak membuka bungkusnya, dalam hati dia rapalkan bacaan mantra pelindung bagi Nisa. Berharap dengan media biskuit ini, energi Sekar Mayang bisa tertahan dan tak berhasil "menyentuh" Nisa.

Mulailah Zaki memakan duluan biskuit itu, sambil mencari celah agar Nisa mau ikut memakannya...

"Mau Mbak?" tanya Zaki sambil menyodorkan bungkusan biskuit itu.

"Hehe, gak Mas, terima kasih..." jawab Nisa. Jawaban spontan yang terasa normal, tapi tidak bagi Zaki. Jika sampai Nisa benar-benar tak memakannya, maka hampir bisa dipastikan Sekar Mayang akan "menyentuh"nya sekarang.

"Duh, gimana caranya ya?" gumam dalah hati Zaki.

Akhirnya dengan sedikit sengaja "menggombal", ia berkata pada Nisa...

"Eh, ini ambil aja, makan bareng lebih nikmat loh rasanya. Apalagi makan bareng sama Mbak Nisa yang cantik ini."

Bukannya segera memakan biskuit itu, Nisa malah tampak terkejut sambil mulai sedikit merah ke dua pipinya, sambil menatap Zaki dengan senyuman malu-malu.

🤭🤭🤭

Dan Zaki pun kembali berusaha agar jangan sampai Nisa salah mengartikan ucapannya itu sebagai sebuah gombalan atau godaan...

"Hehe, maaf Mbak, maaf, saya cuma mau suasananya jadi santai. Bukan bermaksud buat menggoda ya Mbak. Maaf..."

Ditaruhlah bungkus biskuit itu di atas meja yang menempel di dinding gerbong di antara dirinya dan Nisa.

"Ayo Mbak, dimakan aja biskuitnya. Gak apa-apa kok, gak usah malu-malu gitu... Hehehe..."

"Hehe, i-iya Mas, saya ambil satu ya..." jawab Nisa.

"Iya Mbak, ambil yang banyak juga gak apa-apa, beneran..."

Akhirnya... Dengan perlahan, Nisa mengambil satu biskuit lalu memakannya. Tanpa disadari oleh Nisa, Zaki sedang memperhatikannya dengan penglihatan ghoibnya.

Dan ketika biskuit itu dimakan oleh Nisa, seketika perasaan lega hadir dalam batin Zaki. Tampak aura cahaya merah cerah itu mulai memudar pelan, lalu menghilang total.

Dan... Zaki mulai banyak mengajak ngobrol wanita di depannya itu. Mengobrol soal dirinya, asal daerahnya di Yogyakarta, dan juga soal pekerjaannya di Jakarta. Tak lupa juga Zaki mengobrol sedikit soal pengalaman hidupnya setelah kematian ke dua orang tuanya.

Sesekali juga obrolan diselingi candaan ringan, obrolan sedikit serius, bahkan dengan bijaknya Zaki pun memberikan wejangan atau nasihat untuk Nisa yang ternyata pergi jauh ini untuk pertama kalinya.

.

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🚂🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃

.

Tak terasa, jam di layar HP menunjukkan pukul 23.52 malam...

Kereta pun untuk kesekian kalinya kembali berhenti di sebuah stasiun kecil...

Tapi kali ini, stasiunnya tampak jauh lebih sepi dari pada stasiun-stasiun sebelumnya...

Nisa pun tampak ingin ke toilet. Wajar saja, sejak pertama kali Zaki naik sampai sekarang, wanita di depannya itu tak terlihat ke toilet. Dan Nisa pun meminta izin untuk ke toilet.

Selang beberapa saat, Zaki yang masih duduk di bangku E-14 itu, justru melihat Nisa yang malah turun dari gerbong. Beserta dengan beberapa penumpang lain yang ikut turun.

"Mungkin toilet gerbongnya penuh kali ya, jadi dia sampe harus ke toilet stasiun." gumam Zaki sambil terus memperhatikan Nisa melalui jendela gerbong.

Tampak di matanya, Nisa mencari-cari di mana letak toilet stasiun kecil yang sepi itu. Sedikit tersenyum bibir Zaki, melihat tingkah polos dan kupernya wanita yang baru saja dia kenal itu.

Akhirnya, Zaki menyandarkan punggung dan kepalanya di bangku. Memejamkan sebentar matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Terasa tenang batinnya.

Tapi...

Ketenangan itu berubah...

Ketika setelah beberapa menit berlalu, Zaki kembali menatap ke arah luar jendela gerbong. Dia lihat Nisa sudah selesai dari toilet, dan sedang berjalan santai menikmati udara sejuk di sekitar stasiun itu...

Apa yang membuat ketenangan barusan berubah adalah...

Dengan jelas, sangat jelas dalam pandangan ghoibnya...

Ada Sekar Mayang yang berdiri tepat di dekat Nisa...

Seketika itu juga, mata Zaki tak berkedip. Dahinya mengerut. Dan detak jantungnya berubah lebih cepat.

Zaki melihat Sekar Mayang berdiri diam, hanya memperhatikan wanita manis itu, dengan senyumannya yang terasa seperti meledek.

Dan melalui batinnya, dari dalam gerbong, Zaki mencoba berkata pada Sekar Mayang, sosok perewangannya itu.

"Sekar Mayang?! Mau apa kamu?!"

Perewangannya itu tak menjawab pertanyaan tuannya, justru dengan perlahan, wajahnya menoleh ke arah Zaki di dalam gerbong. Menatap lurus ke arah mata Zaki dengan tatapan dingin berwarna merah cerah itu.

"Aduh, tolong deh, jangan usil lagi Sekar Mayang..." kata Zaki kepada sosok perewangannya itu melalui batinnya.

Dan kali ini, Sekar Mayang menjawabnya...

"AKU INGIN MENILAI SEBERAPA BAIK WANITA INI BAGIMU ZAKI..."

Lalu, dengan perlahan...

Sekar Mayang berjalan menuju area toilet yang tadi dimasuki oleh Nisa!

Sontak, hal itu membuat Zaki seketika menjadi panik. Khawatir. Dan cemas.

Ia langsung berdiri dari bangku E-14 nya, mencoba sekuat tenaga untuk menyusul Nisa yang tampak mulai teralihkan perhatiannya oleh Sekar Mayang di toilet itu!

Tapi, langkahnya terasa sedikit berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menahan gerakan kakinya itu.

"Astaghfirulloh! Astaghfirulloh! Mbak Nisa, sadar Mbak!" gumamnya dalam hati sambil terus melangkah melewati bangku demi bangku. Sekuat tenaga ingin menyusul Nisa.

"Mau kemana Mas?!" cegah si petugas kereta yang ternyata berdiri di depan pintu keluar gerbong.

"Em, Pak, maaf, saya mau menyusul si Mbak itu!" jawab Zaki.

"Oh ya Mas, tolong kasih tau, keretanya udah mau berangkat! Saya udah kasih tau dia dari tadi, keretanya cuma 15 menit berhentinya, gak lama-lama." jelas si petugas.

"Oh iya, baik Pak!"

Segera Zaki bergegas turun, dengan ke dua langkah kakinya yang masih terasa berat. Sedikit mencoba berlari dia menyusul Nisa.

Dan... Ketika sampai di depan area toilet wanita, Zaki melihat dengan jelas wujud Sekar Mayang sudah berubah menjadi wujud wanita bergaun merah!

Dan Nisa yang masih dibuat tak sadar oleh Sekar Mayang, hendak menyentuh pundak perewangan Zaki itu. Dengan sigap tanpa pikir panjang, Zaki menarik tangan kanan Nisa.

"Mbak Nisa!" teriaknya sambil menarik tangan kanan Nisa, menggagalkan kejahilan Sekar Mayang untuk kedua kalinya ini.

"Loh?! Mas Zaki?! Kamu ngapain di sini?!" respon Nisa yang tampak sedikit linglung sambil menatap Zaki.

"Udah! Ayok naik kereta Mbak! Keretanya mau berangkat sebentar lagi!"

"Eh? Kereta? Duh, iya! Keretanya!"

"Ayok Mbak! Buruan!"

Ketika Zaki menarik tangan Nisa sambil berjalan tergesa, Nisa malah menahan tangan Zaki sesaat.

"Eh, bentar Mas Zaki! Itu... Si Mbak itu..." kata Nisa.

"Husss! Jangan ditunjuk! Dia bukan manusia." Zaki mencoba menyadarkan Nisa.

"Bukan manusia gimana maksudnya Mas? Itu si Mbak lagi nangis! Coba aja liat di sana---" ketika Nisa hendak menoleh lagi ke arah Sekar Mayang itu, Zaki segera menatap tajam ke arah Sekar Mayang.

"Sudah! Cukup! Sudah puas kamu berbuat jahil?! Sekarang pergilah!" ucap Zaki melalui batinnya.

Dan Sekar Mayang pun menghilang...

"Loh?! Kok?!" reaksi Nisa yang kaget dan heran saat menyadari sosok yang jahil padanya itu menghilang seketika.

"Husss! Udah, jangan dihiraukan Mbak Nisa! Buruan naik kereta, udah mau berangkat lagi! Kamu mau ditinggal di sini?!"

"Eh, eng-enggak mau Mas, maaf..."

Sambil merasakan kesal pada sosok perewangannya itu, Zaki menarik tangan kanan Nisa dengan tergesa pula langkahnya...

Dan segera ia ajak Nisa untuk duduk di bangku lagi...

Lalu, beberapa detik kemudian, kereta pun kembali melaju...

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!