NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalinan Jiwa di Ambang Batas

Di antara batas tipis yang memisahkan ketiadaan dan eksistensi, terdapat sebuah wilayah tanpa nama di mana waktu tidak berjalan linier. Tempat itu adalah kekosongan kelabu yang pekat, sebuah samudera metafisika tempat jiwa-jiwa yang belum tuntas urusannya di dunia fana terapung sebelum ditarik kembali oleh poros reinkarnasi. Di dalam pusaran kosmis inilah, sebuah jangkar emas yang ditempa oleh sumpah mati abad ke-14 bergerak melesat, membelah kabut waktu dengan kecepatan yang tak terukur oleh akal manusia.

Jiwa Nyai Kencana tidak pernah benar-benar beristirahat. Selama lebih dari enam ratus tahun, kesadarannya terkunci di dalam rapalan doa sucinya sendiri kepada Sanghyang Tunggal. Janji darah untuk menjadi pengawal yang tak lengah, untuk menebus kegagalannya menjaga raga Putri Dyah Pitaloka di Lapangan Bubat, telah bermutasi menjadi energi spiritual yang konstan bergetar, mencari muara tempat ia harus ditunaikan.

Lalu, semesta menangkap sebuah frekuensi yang sama. Sebuah getaran keputusasaan yang melahirkan tindakan ekstrem dari abad ke-21.

Di bawah jembatan layang Jakarta yang dingin, sisa kesadaran Citra Kencana modern sedang meredup dengan sangat cepat. Raganya yang hancur akibat benturan keras dengan batu kali mulai melepaskan haknya atas kehidupan. Detak jantungnya melambat hingga ke titik nadir, meninggalkan pola-pola dingin yang menjalar dari ujung jari kaki menuju rongga dadanya. Jiwa Citra yang rapuh, yang selama dua puluh tahun hidup dalam cengkeraman ketakutan, minder, dan trauma perundungan, kini melayang keluar dari raga kaku itu, siap menyerah pada kegelapan abadi yang menawarkan ketenangan tanpa rasa sakit.

Namun, di titik nol pertemuan antara hidup dan mati tersebut, sebuah benturan spiritual yang mahadahsyat terjadi.

Dua garis takdir yang terpisah oleh ratusan tahun malam mendadak saling mengunci. Jiwa Nyai Kencana yang membawa energi bela pati purba menangkap pancaran energi bela pati yang serupa dari sisa raga Citra. Itu adalah frekuensi orisinal dari darah yang menolak untuk merangkak di kaki kebiadaban; sebuah kesamaan esensi kehormatan yang melampaui sekat zaman.

Dalam dimensi antara yang sunyi, kedua kesadaran itu bertemu sekejap mata. Jiwa Citra yang rapuh seolah melihat kilasan bayangan seorang wanita berzirah kulit dengan tatapan elang, sementara jiwa Nyai Kencana mengenali gurat-gurat kepiluan yang sama dengan mutiara Sunda yang gagal ia lindungi di masa lalu. Doa kuno sang pengawal bersambut dengan takdir tragis sang mahasiswi modern. Tanpa ada penolakan, sisa hak hidup yang ditinggalkan oleh Citra ditarik dan diserap sepenuhnya oleh energi sumpah Kencana yang haus akan pembuktian diri, mengunci keduanya ke dalam satu wadah raga yang sama.

BOOM!

Sebuah ledakan energi tak kasat mata berdentang di dalam rongga dada Citra Kencana, memicu terjadinya proses penyatuan memori dan kesadaran yang luar biasa dahsyat. Jiwa Nyai Kencana merasuki setiap jengkal sel tubuh modern tersebut, mengunci dirinya di dalam struktur DNA yang sedang sekarat.

Seketika itu juga, benturan ingatan dari dua garis waktu yang berbeda berputar acak seperti badai pasir di dalam benak barunya. Kilasan Padang Bubat yang bersimbah darah, desing anak panah, dan wajah pualam Putri Dyah Pitaloka yang tersenyum di ambang ajal, berbaur kasar dengan ingatan Citra tentang wajah sinis Natasha di koridor kampus, tumpukan buku diktat akuntansi yang berserakan, serta dinginnya malam metropolitan Jakarta. Dua identitas yang bertolak belakang itu saling mengikis, menyaring bagian-bagian yang rapuh, hingga akhirnya menyisakan satu kesadaran dominan: Nyai Kencana kini mengendalikan raga bernama Citra Kencana.

Bersamaan dengan menguncinya jiwa purba tersebut, proses penyembuhan fisik secara mistis mulai bermanifestasi secara internal di dalam tubuh Citra. Energi kanuragan tingkat tinggi, hawa murni hasil latihan olah napas Pajajaran masa lalu, yang tersimpan di dalam inti jiwa Kencana mendadak meledak keluar, mengalir deras melalui pembuluh-pembuluh darah Citra yang semula tersumbat oleh trauma fisik.

Rasa hangat yang menjalar laksana aliran lava cair mulai menyapu sisa-sisa hawa kematian. Di dalam jaringan tubuhnya, keajaiban biologis yang tidak rasional sedang berlangsung dengan kecepatan makro. Tulang-tulang rusuk Citra yang patah dan menusuk organ dalam perlahan bergerak kembali ke posisi semula, saling mengunci dan menyambung dengan suara gemertak halus yang diredam oleh daging. Keretakan pada tengkorak belakangnya menutup rapat seiring dengan membaiknya jaringan sel otak yang sempat membeku.

Aliran darah Citra yang semula terputus-putus kini kembali berdetak dengan ritme yang jauh lebih kuat, stabil, dan bertenaga dari sebelumnya. Setiap sel otot yang semula lemah dan tidak terlatih, kini dipaksa meregang, menyerap energi spiritual kuno yang mengubah densitasnya menjadi lebih padat, fleksibel, dan responsif. Luka menganga di pelipis dan sudut bibirnya berhenti mengalirkan darah; sel-sel kulit baru tumbuh dengan cepat, menutup robekan tersebut tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun, hanya menyisakan noda merah pekat sisa benturan yang mulai mengering di atas kulitnya yang kuning langsat. Tubuh yang semula hancur itu kini telah direstrukturisasi total oleh kekuatan sumpah yang melompati batas nalar manusia.

Suasana malam di sekitar jalur hijau bawah jembatan layang mendadak terasa bergeser secara metafisika. Angin malam yang semula bertiup gerah kini berembus dengan frekuensi yang lebih berat, memutar dedaunan kering di sekitar raga Citra dalam pola melingkar yang simetris, seolah-olah alam sedang memberikan penghormatan terendah bagi kembalinya seorang kesatria agung ke muka bumi.

Sret.

Jemari tangan kanan Citra Kencana bergerak lambat. Sentuhan pertamanya bukan lagi pada kain sutra pasanggrahan, melainkan pada tanah kering berdebu dan kerikil tajam di bawah jembatan Jakarta. Jemari itu menekuk, mencengkeram permukaan tanah dengan kekuatan mencengkeram yang begitu kokoh, meninggalkan bekas guratan yang dalam di atas tanah kering.

Kedua kelopak matanya terbuka pelan, tanpa ada keraguan atau sisa rasa pening akibat gegar otak.

Jika ada orang yang berdiri di sana pada detik itu, mereka akan merasakan kengerian yang teramat sangat hanya dengan melihat sepasang mata tersebut. Perubahan mendasar telah terjadi secara absolut. Tidak ada lagi tatapan mata Citra Kencana yang rapuh, pemalu, penuh minder, dan selalu menunduk ketakutan dari ancaman dunia luar. Yang ada sekarang adalah sepasang manik mata yang bulat, hitam pekat, memancarkan sorot yang teramat tajam, dingin, waspada, dan sarat akan wibawa seorang panglima pengawal kerajaan kuno. Itulah sorot mata Nyai Kencana yang telah kembali dari kematian.

Citra bangkit berdiri. Gerakannya tidak lagi canggung atau dipenuhi erangan kesakitan seperti manusia yang baru saja jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Ia bergerak dengan kelenturan yang luar biasa luwes, seimbang, dan tegap, sebuah refleks beladiri tingkat tinggi dari masa lalu yang kini telah terintegrasi sempurna dengan memori otot raga modernnya. Tubuhnya berdiri tegak, membusung lurus tanpa ada sisa pembawaan membungkuk yang biasa ditunjukkan oleh Citra asli.

Ia menundukkan kepala, menatap pakaian yang melekat di tubuhnya dengan kening bertaut erat. Kain flanel pudar yang robek di bagian dada, kaos dalam putih yang kotor oleh debu tanah, serta celana jin biru kain kasa yang terasa asing di kulitnya. Ia melangkah satu demi satu, merasakan sensasi sol sepatu kets yang aneh di telapak kakinya.

Citra mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling. Matanya menyipit demi melihat deretan gedung-gedung tinggi pencakar langit di kejauhan yang memancarkan lampu-lampu neon beraneka warna, jalanan aspal raksasa yang bertingkat-tingkat, serta raungan kendaraan bermesin yang terdengar asing namun memorinya dari sisi Citra modern menjelaskan semua benda itu sebagai "mobil" dan "kota Jakarta".

Ia mengangkat kedua telapak tangannya di depan wajah, membalik-baliknya perlahan di bawah temaram lampu merkuri jalanan yang kini tak lagi berkedip, seolah takjub dengan raga baru yang kini ia huni.

"Ratusan tahun telah berlalu..." bisik Citra, suaranya kini terdengar berbeda; tidak ada lagi nada cicit yang ragu, melainkan vokal yang jernih, berat, dan penuh penekanan yang berwibawa. "Ini bukan lagi tatar Sunda. Bukan lagi Wilwatikta."

Ia memejamkan mata sejenak, mengakses memori tersisa dari Citra Kencana asli yang kini telah melebur dengan jiwanya. Ia melihat semua penderitaan gadis ini, melihat ketakutannya, dan yang paling penting, ia melihat wajah Natasha serta tiga preman yang telah menyudutkannya hingga ke tepi kematian. Sebuah tarikan napas panjang diambilnya, merasakan dada barunya dipenuhi oleh pasokan oksigen yang stabil dan kuat.

Ketika matanya kembali terbuka, kilatan dingin laksana bilah pedang sabet kembali memotong kegelapan malam. Ia menyadari satu kebenaran mutlak: Sanghyang Tunggal tidak mengabaikan doanya di Lapangan Bubat. Sumpah matinya telah dikabulkan secara paripurna. Ia telah diberikan kehidupan kedua, sebuah raga baru, dan sebuah medan laga baru yang tak kalah kejam di tengah belantara beton ini.

"Kau telah mati untuk menjaga kesucianmu, Citra Kencana," ucapnya lirih, menujukan kalimat itu pada sisa-sisa eksistensi jiwa asli yang kini telah meluruh bersamanya. "Dan aku, Nyai Kencana, bersumpah demi sisa darah di masa lalu... di kehidupan ini, raga ini tidak akan pernah merangkak di hadapan siapapun lagi. Aku tidak akan pernah lengah selangkah pun."

Citra memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kegelapan bawah jembatan layang dengan langkah kaki yang mantap dan kepala yang tegak sempurna. Sosok gadis beasiswa yang penakut telah mati di atas retakan beton malam itu; digantikan oleh bangkitnya seorang pengawal kuno yang tangguh, mematikan, dan siap menuntut balas pada setiap tangan yang berani mengusik kehormatannya.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!