Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 31b
Untuk beberapa saat Arkan hanya diam.
Pandangannya menyapu ruangan.
Ruangan yang tampak mewah. Namun, menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak ingin didengar siapa pun.
"Semenjak bisnis ini berada di tangan kakakku ... " Suara Arkan terdengar rendah. "Terlalu banyak orang yang menderita."
Wanita itu tidak lagi tersenyum.
"Banyak orang memilih menutup mata." Arkan melanjutkan. "Banyak yang tahu apa yang terjadi tetapi pura-pura tidak melihat. Semua demi memenuhi ambisi Julian untuk mendapatkan keuntungan lebih besar."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap wanita itu lurus-lurus.
"Mereka tidak perlu melakukannya lagi."
Cangkir kopi di tangan wanita itu hampir terlepas.
Untuk pertama kalinya, topeng santai yang ia kenakan retak.
Sudah bertahun-tahun mereka hidup seperti ini.
Terjebak.
Bukan oleh tembok.
Melainkan keadaan.
Setiap malam mereka menjual senyum.
Menjual keramahan.
Menjual ilusi, sebagian bahkan menjual harga dirinya sedikit demi sedikit. Semua demi membayar utang yang sebenarnya tidak seberapa.
Utang yang terus bertambah.
Utang yang tidak pernah benar-benar lunas.
Mimpi-mimpi mereka terkubur di tempat ini.
Harga diri mereka terkikis setiap hari, dan saat bercermin, yang mereka lihat bukan lagi diri mereka sendiri. Melainkan orang asing yang dipaksa bertahan hidup di kandang penuh predator.
"Aku tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi." Suara Arkan menariknya kembali ke kenyataan. "Tapi aku bisa mulai memperbaikinya."
Tatapan pria itu tetap tenang.
"Aku berharap kau mau bekerja sama."
Wanita tersebut menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip ejekan pada dirinya sendiri.
"Klub ini..." Ia memutar cangkir kopinya perlahan. "Hanya satu dari sekian banyak aib Julian yang berhasil disembunyikan."
Tatapannya berubah dingin.
"Sejak Julian meninggal, ada banyak orang yang sibuk membersihkan namanya." Ia terkekeh pelan. "Tapi mereka lupa kalau kotoran itu tak akan pernah bersih."
Arkan tidak bertanya siapa yang dimaksud, karena ia juga tahu siapa yang wanita itu bicarakan.
"Tak perlu peduli pada kami." Wanita itu melanjutkan. "Kami sudah terlalu terbiasa menerima aturan yang menjerumuskan."
Nada suaranya terdengar getir.
"Kadang harapan adalah jurang paling dalam."
"Tidak." Arkan meyakinkan . "Aku hanya membutuhkan seseorang yang bisa memberiku informasi."
Wanita itu mengangkat alis.
"Aku akan menyerahkan tempat ini padamu." Untuk pertama kalinya wanita itu benar-benar terlihat terkejut. "Semua aturan di sini bisa kau ubah."
Arkan menyandarkan tubuhnya.
"Buat sistem yang adil."
"Buat semua orang mendapatkan apa yang memang menjadi hak mereka."
Wanita itu terdiam cukup lama, kemudian tertawa pelan.
"Tuan Arkan..." Tatapannya menajam. "Apa kau sedang menjadikanku kambing hitam?"
"Jelas tidak," jawab Arkan tanpa ragu. "Aku sudah bilang, aku hanya ingin memperbaiki semuanya semampuku."
Wanita itu menatapnya beberapa detik.
Mencari kebohongan.
Mencari keraguan. Namun, tidak menemukan apa pun. Senyumnya perlahan berubah. Kali ini lebih tulus. Meski hanya sedikit.
"Kau bisa memperbaikinya." Ia berkata pelan. "Tapi seseorang bisa menghancurkannya dalam satu malam."
Tubuhnya mencondong ke depan, Arkan langsung memalingkan wajahnya ke samping. Membuat wanita itu terkekeh geli.
Gadis itu mengulurkan tangan.
"Namaku Fio." Ia tersenyum. "Tentu saja itu bukan nama asliku. Tetapi semua orang di sini memanggilku begitu."
Tatapannya berubah halus, jauh lebih lembut daripada sebelumnya.
"Aku akan membantumu."
"Aku akan memastikan orang itu tidak menemukan apa pun."
Senyum Fio melebar, senyum yang membuat ruangan terasa lebih dingin.
Fio menyandarkan tubuhnya kembali.
"Dia punya segalanya, tapi aku punya sesuatu yang sepadan dengannya."
"Apa itu?"
Fio terkekeh, lalu mengetuk pelipisnya pelan.
"Otak."
------
Aroma rempah memenuhi seluruh dapur.
Seorang wanita sedang berdiri di depan kompor dengan wajah serius, seolah tengah mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Sesekali Sophia menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan. Uap panas dari beberapa panci yang menyala bersamaan membuat ruangan itu terasa jauh lebih gerah dari biasanya.
Setelah hampir sebulan terjebak di rumah Damian tanpa bisa pergi ke mana-mana, Sophia mulai kehabisan cara untuk mengusir kebosanan.
Awalnya ia hanya berniat membuat rendang.
Namun entah bagaimana, niat sederhana itu berubah menjadi proyek besar.
Di atas meja berjajar berbagai bahan masakan. Ada sayuran yang sudah dipotong rapi, beberapa bumbu yang telah dihaluskan, serta beberapa hidangan lain yang bahkan tidak pernah direncanakannya sejak awal.
Yang lebih mengherankan, Sophia memilih memasak rendang dengan cara yang paling lama.
Ia sebenarnya bisa merebus daging terlebih dahulu agar lebih cepat empuk.
Tetapi tidak.
Sophia justru memasukkan semuanya dari awal dan membiarkan dirinya berdiri berjam-jam di depan kompor.
Eva yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Semakin lama mengenal Sophia, semakin ia menyadari satu hal.
Wanita itu benar-benar tidak bisa diam.
Jika orang lain berada di posisi Sophia, tinggal di rumah semewah ini, diberi kartu tanpa batas, pakaian mahal, kamar besar, dan segala fasilitas yang bisa dibayangkan, mungkin mereka akan menikmati semuanya.
Bahkan mungkin menghabiskan uang Damian tanpa rasa bersalah.
Namun Sophia berbeda.
Alih-alih bersantai, wanita itu justru sibuk membuat dirinya lelah.
Hari ini berkebun.
Besok merapikan gudang.
Lusa memasak.
Seolah tubuhnya menolak untuk beristirahat.
"Apa yang sedang dilakukan Nona Sophia?"
Eva terlonjak.
Ia menoleh dan mendapati Jack berdiri di belakangnya.
Di samping pria itu, Damian berdiri dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana.
Tatapannya langsung tertuju ke arah Sophia.
"Nona sedang membuat rendang."
"Rendang?"
Jack menunjuk ke arah dapur dengan wajah tidak percaya.
"Itu bukan rendang."
Eva mengikuti arah jarinya.
Dapur memang sudah berubah seperti medan perang.
Ada panci di mana-mana.
Wadah di mana-mana.
Bumbu di mana-mana.
Bahkan beberapa pelayan tadi sudah mulai menyelamatkan bahan makanan yang tersisa sebelum semuanya diambil Sophia.
"Nona Sophia berencana menghabiskan seluruh isi dapur," bisik Jack.
"Kalau begini terus, saya curiga beliau ingin membuka warteg."
Eva menahan tawanya.
Damian melirik mereka sekilas.
"Kalian pergi."
Seketika senyum keduanya menghilang.
"Baik, Tuan."
Tidak ada yang berani membantah.
Eva dan Jack segera mengundurkan diri.
Mereka berjalan cepat meninggalkan dapur.
Siapa yang cukup berani menjadi orang ketiga di tengah suasana seperti itu?
Mereka masih menyayangi nyawa masing-masing.
Setelah ruangan menjadi lebih sepi, Damian melangkah masuk.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Sophia.
Wanita itu begitu fokus mengaduk rendang hingga tidak menyadari kehadirannya.
Beberapa helai rambut menempel di pipinya karena keringat.
Wajahnya sedikit memerah akibat panas.
Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih menarik daripada semua pesta mewah yang pernah Damian hadiri.
Pria itu berhenti tepat di sampingnya.
Lalu mengangkat tangan.
Dengan gerakan alami, ia mengusap keringat yang menetes di dahi Sophia.
Sophia langsung terlonjak.
Sendok kayu di tangannya hampir terlepas.
Bahkan panci rendang yang sedang diaduknya nyaris tumpah.
"Kenapa kau di sini?"
Ia menatap Damian dengan kaget.
Damian hanya tersenyum tipis.
Senyum yang membuat Sophia semakin waspada.
Alih-alih menjawab, pria itu melangkah lebih dekat.
Kemudian mematikan kompor.
Klik.
Mata Sophia langsung membelalak.
"Hei!"
Ia buru-buru hendak menyalakannya kembali.
Namun tatapan Damian berhasil menghentikannya.
Sophia mendadak kehilangan keberanian untuk bergerak.
Damian berdiri terlalu dekat.
Terlalu dekat hingga aroma parfum pria itu memenuhi indra penciumannya.
"Aku sedang memasak."
"Aku bisa melihat itu."
"Lalu kenapa dimatikan?"
"Karena aku mulai curiga kau berniat mengambil pekerjaan seluruh koki di rumah ini."
Sophia mendengus pelan.
Namun sebelum sempat membalas, Damian kembali melangkah maju.
Tanpa sadar Sophia mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai punggungnya menyentuh meja dapur.
Tidak ada lagi ruang untuk menghindar.
Damian menatapnya beberapa saat.
Lalu meraih tangan Sophia yang masih menggenggam sendok kayu.
Sentuhannya jauh lebih lembut daripada yang diperkirakan Sophia.
"Daripada menjadi koki..."
Suara Damian terdengar rendah.
"...lebih baik kau berkeliaran di sisiku seperti nyamuk."
Sophia langsung mengerutkan kening.
"Aku bukan nyamuk."
"Benarkah?"
"Aku manusia."
Damian terkekeh pelan.
"Kalau begitu jadilah manusia yang berdiri di sampingku."
Tatapan mereka bertemu.
Sophia tidak menyukai fakta bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kau ingin apa?" tanya Damian.
"Sebutkan saja."
"Aku tidak menginginkan apa-apa."
"Kau bohong."
Damian mengusap punggung tangannya perlahan.
"Jika kau menginginkan sesuatu, aku bisa memberikannya."
Tatapan pria itu tidak bergeser sedikit pun.
"Jadi berhentilah bersembunyi dariku."
Suara Damian menjadi lebih pelan.
Hampir seperti bisikan.
"Kau paham?"
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (◍•ᴗ•◍)❤