“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Misi Pertama berhasil
Joran bambu di tangan Beni melengkung tajam hingga mengeluarkan suara derit yang kritis, nyaris patah menjadi dua. Ada sesuatu di bawah sana yang menarik pancingnya dengan kekuatan yang luar biasa besar!
"B-Brengsek! Kuat sekali!" Beni terkejut. Kedua kakinya langsung mengambil posisi kokoh, menahan bobot tubuhnya di atas perahu yang bergoyang hebat.
Ia berusaha menariknya dengan susah payah. Otot-otot lengannya yang lebam menegang hingga urat-uratnya menonjol keluar.
Rasa sakit di punggungnya akibat keroyokan warga kembali berdenyut, namun Beni menolak untuk melepas genggamannya. "Jangan harap aku akan melepaskanmu! Maju kau, makhluk sialan!"
Dengan satu sentakan terakhir yang menguras seluruh sisa tenaganya, Beni menarik joran itu ke atas.
BYAARRRR!
Air laut tepercik tinggi. Seekor ikan berukuran sebesar lengan orang dewasa melompat keluar dari air dan mendarat di atas dek perahu.
Ikan itu sangat aneh, seluruh sisiknya murni berwarna emas berkilauan, dan tubuhnya memancarkan hawa murni yang menenangkan, sangat kontras dengan kegelapan di sekeliling mereka.
Saat ikan itu menggelepar di atas papan kayu, layar biru di depan Beni meledak dalam cahaya keemasan.
DING!
[Misi Selesai!]
[Anda berhasil menangkap: Ikan Spiritual Sisik Emas (Tingkat Rendah)!]
[Hadiah Misi sedang dikirim: 100 Emas dan Kail Pancing Perunggu telah ditambahkan ke inventaris!]
Detik berikutnya, sebuah aliran energi hangat yang sangat murni tiba-tiba muncul dari udara kosong dan langsung meresap masuk ke dalam pori-pori kulit Beni.
"Ah..." Beni mendesah pelan.
Sensasi itu luar biasa nyaman. Energi hangat itu mengalir ke seluruh pembuluh darahnya, menuju ke tulang-tulang dan organ dalamnya. Secara ajaib, rasa perih di wajahnya mereda.
Lebam-lebam biru di sekujur tubuhnya mulai memudar, dan rasa lelah yang menghimpit jiwanya lenyap seketika. Ia merasa jauh lebih segar dan bertenaga daripada sebelum ia dikeroyok.
Beni menatap kedua tangannya dengan rasa tidak percaya. "Luka-lukaku... berkurang? Sialan, ini nyata! Energi apa ini? Aku merasa... aku merasa benar-benar hidup kembali!"
Namun, kegembiraan Beni tidak berlangsung lama. Layar sistem tiba-tiba berubah warna menjadi merah menyala, berkedip-kedip dengan cepat diiringi suara alarm yang memekakkan telinga.
DING! DING! DING!
[Peringatan Darurat! Aroma darah dari Ikan Spiritual telah memicu perhatian predator lokal!]
[Lautan ini penuh dengan harta karun, namun juga dipenuhi oleh Monster Laut! Harap Tuan Rumah segera bersiap atau melarikan diri!]
Beni membeku, rasa ngeri menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. "M-Monster laut? Apa maksudmu—"
ROOOOAAAAAARRRRRR!!!
Belum sempat Beni menyelesaikan kalimatnya, sebuah raungan dahsyat yang memekakkan telinga membelah keheningan malam dari balik kabut tebal.
Suara itu begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang membuat air laut berguncang hebat.
BYUURRR! BYUURRR!
Ombak setinggi tiga meter mendadak tercipta, menghantam perahu kecil Beni hingga miring ekstrem, nyaris terbalik. Beni terlempar ke sudut dek, berpegangan erat pada tiang layar dengan wajah pucat pasi.
Di kejauhan, menembus kabut keperakan yang tebal, air laut bergolak seperti mendidih. Perlahan, sepasang mata raksasa berwarna merah darah, masing-masing berukuran sebesar rumah warga desa, muncul dari dalam permukaan air.
Tatapan dari mata merah itu begitu dingin, kejam, dan penuh dengan rasa lapar yang tak terbayangkan.
Beni menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya, bahkan lebih mengerikan daripada saat berhadapan dengan kemarahan warga desa, Beni tahu... ia sedang berdiri tepat di ambang pintu kematian yang sesungguhnya.