Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Diikuti dan Diawasi
Tatapan Leon langsung berubah dingin begitu menyadari pria di dalam mobil hitam itu memperhatikan Rachael.
Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat.
Sementara Rachael yang berjalan di samping Leon perlahan mulai menyadari perubahan kecil pada laki-laki itu.
Langkah Leon melambat, bahunya sedikit menegang dan tatapannya terus mengarah ke seberang jalan.
“Ada apa?” tanya Rachael pelan.
Leon langsung mengalihkan pandangan. “Nggak ada.”
Bohong lagi. Dan kali ini Rachael semakin yakin.
Ia mengikuti arah pandangan Leon secara diam-diam. Mobil hitam, kaca gelap, Mesin menyala sejak tadi.
Perasaan tidak nyaman langsung muncul di dadanya. Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.
Tetapi Rachael terlalu terbiasa memperhatikan detail-detail kecil di sekitarnya. Mobil itu sudah ada sejak mereka keluar gerbang sekolah.
Mobil itu mulai bergerak perlahan mengikuti arah mereka berjalan.
Jantung Rachael langsung berdetak lebih cepat, namun ekspresinya tetap tenang. Ia membenci situasi seperti ini, terlalu banyak kemungkinan hal negatif yang akan terjadi di kepalanya mulai bermunculan sekaligus. Tanpa sadar jemarinya mulai bergerak kecil di sisi tasnya.
Leon menyadari gerakan itu. Tatapannya sedikit turun ke arah tangan Rachael sebelum kembali melihat jalan depan.
“Mereka ngikutin kita ya?” tanya Rachael tiba-tiba.
Langkah Leon berhenti sepersekian detik.
Rachael menatap lurus ke depan. Tetapi nada suaranya terdengar sangat serius.
Leon akhirnya menghela napas pelan. “Kamu sadar juga.”
Rachael langsung menoleh. “Kamu tahu siapa mereka?”
Leon diam beberapa detik.
Mobil hitam itu masih bergerak pelan sekitar lima belas meter di belakang mereka. Lampu jalannya menyala redup.
“Orang dari dunia keluargaku,” jawab Leon akhirnya.
Nada suaranya rendah.
Suasana mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Jadi selama ini...” Rachael menggigit bibir bawahnya pelan. “Cerita tentang keluargamu memang benar?”
Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan. “Aku pernah bilang kan.”
“Dunia keluargaku nggak cocok buat orang biasa.”
Kalimat itu membuat dada Rachael terasa sesak aneh.
Karena sekarang ia mulai melihat sendiri sisi dunia yang selalu disembunyikan Leon. Dan itu jauh lebih menyeramkan dari yang ia bayangkan.
Mobil hitam tadi perlahan kembali mendekat.
Leon langsung mengambil keputusan cepat. “Kita belok.”
Leon menarik pergelangan tangan Rachael pelan menuju jalan kecil di samping pertokoan.
Rachael sedikit terkejut. “Hei—”
“Jangan banyak tanya dulu.” Nada suara Leon tetap tenang.
Tetapi langkahnya jauh lebih cepat sekarang. Mereka masuk ke gang kecil yang lebih sepi.
Lampu jalan di sana redup dan suasananya jauh lebih sunyi dibanding jalan utama.
Rachael bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia membenci rasa panik seperti ini. Tangannya mulai dingin. Kepalanya terasa terlalu penuh, namun ia terus memaksa dirinya tetap fokus. “Leon.”
“Hm?”
“Kalau mereka benar orang berbahaya...” suara Rachael sedikit melemah, “kenapa mereka ngikutin aku?”
Langkah Leon melambat sebentar. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Karena orang-orang itu bukan sedang mengincar Rachael. Mereka mengincar kelemahan Leon.
Rachael perlahan memahami semuanya.Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti kenapa Leon selalu menjaga jarak dari orang lain.
Suara mesin mobil terdengar lagi dari ujung jalan, mereka masih mengikuti.
Leon langsung menyipitkan mata tajam. “Sial.”
Rachael menoleh cepat.
Mobil hitam itu muncul lagi di ujung gang. Meski jalannya sempit, mobil tersebut tetap bergerak perlahan seperti sengaja menekan mereka.
Jantung Rachael langsung menegang. Di tengah rasa takut itu, emosinya justru mulai naik. Ia tidak suka diperlakukan seperti target, tidak suka merasa dikendalikan. Dan rasa marah itu perlahan mulai mengalahkan rasa takutnya.
"Apa-apaan sih mereka?" Rachael berdecak kesal.
Leon sedikit menoleh.
Rachael berhenti berjalan mendadak lalu menatap mobil itu tajam. “Kenapa mereka ngikutin terus sih?!” Nada suaranya terdengar jauh lebih tinggi dari biasanya.
Leon sedikit terkejut. Karena selama ini Rachael selalu terlihat tenang.
Tetapi sekarang, emosi gadis itu benar-benar terlihat. Dan tanpa sadar jemarinya mulai mengepal lagi karena pikirannya mulai terlalu penuh.
Leon langsung berjalan mendekat sedikit. “Rachael.”
“Aku benci situasi kayak gini.” Napas Rachael mulai tidak teratur.
Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri tetapi suara mesin mobil dan tekanan situasi membuat kepalanya semakin kacau.
Leon langsung menyadari sesuatu. Rachael bukan hanya marah, tapi gadis itu mulai overwhelmed. Tatapan Leon berubah serius.
Ia melangkah lebih dekat lalu berkata pelan namun tegas, “Lihat aku.”
Rachael terdiam. "Kenapa? Kenapa kau santai sekali? Memangnya hal ini hanya lelucon bagimu?"
“Tarik napas, tenang saja... Kita akan aman.” Nada suara Leon jauh lebih lembut sekarang tidak dingin seperti biasanya. “Fokus sama suaraku aja.”
Gang sempit itu terasa semakin sunyi.
Suara mesin mobil hitam di ujung jalan masih terdengar pelan, seperti ancaman yang sengaja dibiarkan hidup.
Namun perhatian Leon sepenuhnya tertuju pada Rachael.
Napas gadis itu mulai tidak beraturan, tatapannya terlihat kacau, jemarinya mencengkeram tanpa sadar di sisi tasnya.
Leon tetap berdiri di depannya, sedikit menghalangi pandangan Rachael dari mobil hitam di ujung jalan.
Dan anehnya— suara Leon perlahan mulai menenangkan pikirannya. “Bagus.”
Rachael memejamkan mata sebentar.
Satu napas.
Dua napas.
Perlahan dadanya mulai terasa lebih ringan, meski kepalanya masih penuh.
Leon menatapnya diam-diam. Sekarang ia semakin yakin, ada sesuatu yang selama ini disembunyikan Rachael.
Suara pintu mobil tiba-tiba terdengar terbuka.
Tatapan Leon langsung berubah dingin dalam sekejap.
Seorang pria berpakaian hitam turun dari mobil lalu berjalan beberapa langkah mendekat.
Leon langsung berdiri sedikit di depan Rachael.
Gerakan refleks dan protektif.
Pria itu mengangkat kedua tangan santai. “Tenang aja. Kami cuma mau bicara.”
Leon tersenyum tipis tanpa emosi. “Kalau begitu bicara dari sana.”
Tatapan pria itu bergeser ke arah Rachael sebentar sebelum kembali ke Leon. “Bos kami cuma penasaran.”
“Aku nggak.”
Suasana kembali hening. Angin malam bertiup pelan melewati gang sempit itu.
Pria tadi terkekeh kecil. “Kamu berubah ya, Leon.”
Tatapan Leon langsung tajam.
“Dulu kamu nggak peduli siapa pun.”
Kalimat itu membuat Rachael sedikit menoleh ke arah Leon. Namun Leon tidak membalas tatapan itu.
Pria tadi kembali melanjutkan, “Tapi sekarang...” matanya melirik Rachael lagi, “akhirnya kamu punya sesuatu yang bisa hilang.”
Jantung Leon langsung menegang. Aura di sekitarnya berubah gelap. Bahkan Rachael bisa merasakannya dengan jelas.
“Jangan libatkan dia.” Nada suara Leon terdengar rendah dan dingin sampai membuat suasana terasa membeku.
Pria itu tersenyum miring. “Itu bukan keputusanmu.”
Leon melangkah maju satu langkah. Dan untuk pertama kalinya— Rachael melihat sisi berbahaya Leon yang sebenarnya. Tatapannya benar-benar berbeda sekarang.
“Aku bilang,” suara Leon pelan namun penuh tekanan, “jangan libatkan dia.”
Pria itu tersenyum tipis sebelum melanjutkan dengan nada santai yang justru terasa lebih mengerikan. “Kamu tahu aturan dunia ini, Leon.”
“Kalau seseorang berhasil masuk ke kepala seorang de Arther...” matanya menyipit pelan ke arah Rachael, “orang itu nggak akan hidup tenang.”
Namun pria itu belum berhenti. “Bayangin aja...” ia terkekeh kecil, “suatu hari dia pulang sekolah seperti biasa, lalu tiba-tiba menghilang.”
"Atau mungkin...” pria itu memiringkan kepala sedikit, “dia ditemukan dalam keadaan terluka cuma karena terlalu dekat sama putra kedua keluarga de Arther.”
“Diam.” Suara Leon rendah dan berbahaya.
Tetapi pria itu justru tersenyum lebih lebar. “Kenapa marah?” katanya santai. “Kami bahkan belum melakukan apa-apa.”
“Aku bilang...” suara Leon terdengar sangat pelan sekarang, namun justru itu yang membuatnya semakin mengerikan, “jangan pernah sentuh dia.”
Beberapa detik hening. Sampai akhirnya pria itu tertawa kecil lalu mundur pelan. “Tenang saja.”
“Kalau begitu lindungi dia baik-baik, Leon.” Ia berhenti sebentar sebelum tersenyum tipis.
“Karena dunia keluargamu akan jadi alasan dia menangis suatu hari nanti.” Ia membuka pintu mobil kembali. “Untuk sekarang seperti itu, tapi kedepannya... kau bisa saja tidak akan melihatnya lagi.”
Mobil hitam itu akhirnya pergi meninggalkan gang.
Suasana langsung kembali sunyi. Namun ketegangan di udara masih terasa sangat jelas.
Leon tetap berdiri diam beberapa saat memastikan mobil itu benar-benar pergi. Barulah ia menghela napas panjang pelan.
Rachael masih berdiri di belakangnya. Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Tetapi sekarang pikirannya justru dipenuhi hal lain, Leon.
Cara laki-laki itu berdiri di depannya tadi.
Cara Leon melindunginya tanpa berpikir dua kali.
Dan cara suaranya berubah saat mengancam orang tadi. Rachael perlahan menunduk. “Leon.”
"Keluargamu sebenarnya...” ia berhenti sebentar. “Seberbahaya itu ya? Sampai-sampai menggunakan segala cara untuk mengalahkannya.”
Leon terdiam cukup lama.
Lampu jalan memantulkan bayangan samar di wajahnya.
“Aku udah bilang dari awal buat jangan terlalu dekat sama aku.” Nada suaranya kembali tenang, tapi kali ini terdengar lebih lelah.
Rachael menggenggam ujung tasnya pelan. “Kalau aku tetap dekat? Aku benar-benar akan di bunuh?”
Leon langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu di tengah gang yang sunyi itu. Leon benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Leon memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya mengatur napas. Saat kembali membuka mata, ekspresinya sudah jauh lebih tenang.
“Aku antar kamu pulang.” Nada suaranya terdengar datar lagi.
Namun Rachael tahu laki-laki itu sedang menahan sesuatu. “Aku masih bisa pulang sendiri.”
“Tidak malam ini.” Jawabannya cepat dan tegas. Ia tidak memberi ruang untuk dibantah.
Rachael akhirnya diam. Leon benar-benar menghantar pulang sampai depan gedung apartemen Rachael.
...----------------...
Malam itu.
Mansion keluarga de Arther terlihat jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
Leon baru saja memasuki area mansion saat salah satu pengawal segera mendekat. “Tuan Leon.”
“Ada apa?”
“Bos besar menunggu Anda di ruang kerja.”
Tatapan Leon langsung berubah dingin. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Arthur pasti sudah mendengar sesuatu.
Leon berjalan melewati lorong mansion yang panjang tanpa banyak bicara.
Lampu-lampu besar di rumah itu membuat suasana terasa megah sekaligus dingin.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, Leon langsung melihat ayahnya berdiri di dekat jendela sambil memegang segelas whiskey.
Arthur tidak langsung menoleh. “Kau membuat masalah.”
Leon menutup pintu pelan. “Orang Moretti yang mulai.”
Arthur tertawa kecil tanpa humor. “Dan sekarang mereka tahu tentang gadis itu.”
Suasana ruangan langsung membeku. Tatapan Leon berubah tajam. "Kau mengawasi ku?”
Arthur akhirnya menoleh perlahan. Tatapan matanya dingin dan penuh tekanan. “Aku mengawasi semua yang bisa menjadi ancaman bagi keluarga.”
Leon mengepalkan tangan. “Dia nggak ada hubungannya dengan ini.”
“Sekarang ada.” Jawaban Arthur langsung menusuk.
Leon berjalan mendekat beberapa langkah. “Mereka sengaja mendekatinya buat mancing aku.”
Arthur menatap putranya tajam. “Dan mereka berhasil.”
Kalimat itu membuat Leon diam, karena ayahnya benar.
Malam ini Leon kehilangan kendali emosinya hanya karena ancaman terhadap Rachael.
Arthur berjalan mendekat perlahan. “Kau tahu apa kelemahan terbesar seorang pemimpin?”
Leon tidak menjawab.
“Perasaan.” Nada suara Arthur rendah. “Keluarga Moretti membunuh orang hanya untuk mengirim pesan.”
Tatapannya berubah semakin tajam. “Dan sekarang kau memberi mereka target yang sempurna.”
Leon langsung menatap ayahnya dingin. “Kalau mereka menyentuh dia—”
“Apa?” potong Arthur cepat. “Kau akan membunuh mereka?”
Suasana mendadak terasa menekan.
Arthur berdiri tepat di depan Leon sekarang. “Akhirnya kau mulai terdengar seperti putra keluarga de Arther.”
Leon membenci kenyataan itu, karena ayahnya benar lagi.
Malam ini untuk pertama kalinya Leon benar-benar ingin menghancurkan seseorang.
Arthur memperhatikan ekspresi putranya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Putus hubungan dengan gadis itu.”
Leon langsung mengangkat pandangan.
“Tidak.” Jawabannya cepat, tanpa ragu.
Dan itu justru membuat Arthur sedikit terdiam.
Karena Leon Knight de Arther biasanya tidak pernah membantah secara langsung. “Kau mulai berubah.”
Leon menatap ayahnya tajam. “Aku cuma nggak mau orang lain kena masalah karena keluarga ini.”
Arthur tersenyum tipis. “Kau pikir menjauhkan diri akan menyelamatkannya?”
Arthur berjalan kembali ke mejanya lalu meletakkan gelas whiskey pelan. “Sudah terlambat sejak orang Moretti melihatnya bersamamu.”
Jantung Leon langsung menegang.
Arthur melanjutkan dengan suara rendah, “Sekarang hanya ada dua pilihan.”
Tatapan Leon berubah dingin.
“Lindungi dia.” Arthur berhenti sebentar. “Atau hancurkan sendiri perasaannya sebelum dunia kita yang melakukannya.”
Suasana ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Leon benar-benar merasa terjebak. Karena apa pun pilihannya, Rachael tetap akan terluka.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe