Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Permohonan Dean
Pagi pun menjelang dengan tenang. Vyan sedang memanaskan mesin motornya di depan rumah saat sebuah sedan hijau metalik berhenti di depan gerbang. Vyan segera turun dan membukakan pintu pagar.
Mobil itu masuk, dan seorang wanita berusia sekitar 36 tahun keluar dari kursi pengemudi. Ia tampak cantik, anggun, dengan aura wibawa yang tenang. Vyan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
"Aku tahu Bunda pasti datang," ucap Vyan sambil mencium tangan ibunya, Bu Dinda.
Kenapa kamu masih memperlakukan aku seolah aku ibu yang baik, Vyan? batin Bu Dinda saat menatap putranya yang kini sudah lebih tinggi darinya. Ia tersenyum tipis, menyembunyikan rasa bersalah yang masih tersisa.
"Tentu saja, Vyan. Aku ga takut lagi. Sekarang, kamu adalah yang terpenting," ujar Bu Dinda lembut.
Vyan merangkul bahu ibunya. "Akhirnya kita bisa kembali bersama. Itu yang terpenting bagi Vyan. Yuk, kita ke sekolah."
"Apa kamu yakin pihak sekolah akan menerimaku begitu saja?"
"Tenang saja, Bun," Vyan mengedipkan sebelah matanya dengan percaya diri. "Waktunya sangat tepat. Mereka sedang butuh guru Fisika kompeten, dan Bunda adalah jawabannya."
"Oke deh. Kamu berangkat dulu aja. Nanti aku jalan sebentar lagi."
Vyan mengangguk lalu berangkat mengendarai motornya dengan hati riang.
...****************...
Ruang OSIS siang itu terasa lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap melalui sela-sela jendela, menyinari tumpukan kertas laporan dan aura kepemimpinan yang terpancar dari ujung meja. Agil diam-diam memperhatikan Vyan. Wajah sahabatnya itu tampak berseri-seri, jenis kegembiraan yang jarang terlihat belakangan ini.
Agil sempat ragu apakah Vyan benar-benar mendengarkan laporan Dean tentang persiapan Hari Kartini, namun keraguan itu sirna begitu Vyan mulai bicara.
"Ide itu bagus, lebih inovatif dari Hari Kartini tahun lalu. Aku setuju saja," ucap Vyan, suaranya tenang namun berwibawa. "Tapi, bagaimana dengan dananya? Kita harus realistis. Jika anggaran terlalu besar, sekolah pasti akan menahan proposal kita. Kecuali... kita berani mencari sponsor atau donatur luar untuk menutupi sebagian."
"Kami sudah memikirkan kemungkinan itu, Kak," jawab Dean cepat.
"Iya, Yan. Tapi mendapatkan dana tambahan dari luar itu belum seratus persen pasti," tambah Agil, mencoba menjaga ekspektasi.
"Proposal untuk sponsor sedang dalam proses pembuatan," sela Fifi, salah satu anggota inti OSIS lainnya.
Vyan manggut-manggut, jemarinya mengetuk meja dengan ritme teratur. "Oke. Apa semua divisi sudah siap dengan tugas masing-masing?"
"Tentu saja, Kak," sahut Dean penuh semangat. "Kami sudah membagi kelompok untuk mengorganisir lomba busana tradisional, tari daerah, lagu daerah, hingga pemilihan Kartini SMA. Ekskul Teater dan Band juga sudah menyiapkan penampilan khusus."
Vyan mengernyit tipis, otaknya bekerja cepat menghitung durasi. "Apa kalian sudah memperhitungkan waktu? Hari Kartini bukan hari libur resmi. Meski jam belajar dikurangi, terlalu banyak kegiatan justru akan membuat orang kehilangan fokus. Mereka akan lelah sebelum acara inti."
"Lalu sebaiknya bagaimana, Kak?" tanya Dean.
"Bagaimana kalau pemilihan busana terbaik dilakukan oleh tim juri keliling? Mereka akan menilai penampilan seluruh siswa secara langsung saat acara berlangsung. Itu jauh lebih hemat waktu daripada harus meminta peserta lomba naik ke catwalk seperti peragaan busana. Lagipula semua orang akan senang kalau dengan menonton saja mereka bisa menang lomba," usul Vyan.
"Tapi... apa menilai ratusan siswa tidak akan merepotkan?" Dean tampak ragu. Lagipula siswa di sekolah mereka hampir berjumlah seribu.
"Jangan melihat jumlah orangnya. Penilaian seperti ini memang subjektif, tapi jauh lebih organik. Apa menurutmu ada yang akan protes setelah juri mengumumkan pemenangnya?"
Seluruh anggota rapat terdiam, mencerna logika Vyan yang selalu praktis.
"Tentu saja, kita tidak akan memakai juri amatir. Cari orang yang punya selera mode tinggi—mungkin beberapa guru muda atau alumni yang berkecimpung di sana," tambah Vyan. "Satu lagi, kita harus disiplin waktu. Termasuk jatah sambutan Kepala Sekolah. Kita harus punya trik supaya Pak Wiguna tidak berpidato sampai satu jam."
Agil menahan senyum. Ia tahu betul bagaimana Pak Wiguna kalau sudah memegang mikrofon. Vyan benar-benar memikirkan segalanya, hingga detail yang paling menyebalkan sekalipun.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, kita lanjutkan besok. Jam berapa, Gil?"
"Besok jam dua siang," jawab Agil sigap.
Rapat resmi ditutup. Satu per satu anggota OSIS keluar ruangan, menyisakan Vyan, Agil, dan Dean di dalam kesunyian yang mendadak terasa sedikit tegang.
"Proposalnya harus siap besok pagi, Gil," ucap Vyan sambil merapikan tumpukan kertasnya.
"Beres. Pekerjaanku memang membuat proposal sejak kita masih kelas sepuluh," sahut Agil santai.
Vyan kemudian melirik Dean yang masih berdiri di sana, tampak ragu-ragu seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. "Ada apa, Dean? Ngomong saja. Gosip apa lagi yang sedang berputar di sekolah?"
Dean menarik napas panjang, tampak sangat berhati-hati dengan kata-katanya. "Bukan gosip, Kak. Saya melihat sendiri Kak Vyan pulang bersama Yasmin. Banyak orang di sekolah membicarakan hal itu."
Agil terlonjak, menatap Dean tak percaya. Vyan justru tertawa ringan, seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat lumrah.
"Memang benar. Terus, masalahnya di mana?" tanya Vyan santai.
Ternyata Dean juga mengkhawatirkan citra Vyan, batin Agil.
"Saya pernah sekelas dengan Yasmin saat SMP," ucap Dean, suaranya merendah. "Dia anak yang sangat baik dan lugu. Saya... saya hanya berharap Kak Vyan tidak sedang mempermainkannya."
Agil tertegun. Ia tidak menyangka Dean akan seberani itu menghadapi Vyan. Di sisi lain, Vyan menatap Dean dengan pandangan penasaran yang tajam.
"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Vyan tenang.
"Maaf, Kak... tapi sepertinya Yasmin bukan tipe Kak Vyan. Yasmin itu terlalu polos, dia tidak tahu apa-apa tentang permainan media sosial atau politik sekolah. Saya harap Kak Vyan mengerti maksud saya."
Vyan menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kamu sangat memperhatikan Yasmin. Kamu naksir dia, ya?"
Wajah Dean memerah seketika. "Bukan begitu! Kami hanya teman lama."
"Begitu saja?" kejar Vyan.
"Mungkin Kak Vyan tidak mengerti," suara Dean sedikit bergetar. "Dia itu benar-benar baik, dan dia... dia tidak punya siapa-siapa untuk membantunya jika dia terluka."
"Kalau kamu memang sepeduli itu," suara Vyan mendadak berubah dingin dan menusuk, "kenapa tidak melindunginya dari dekat? Aku lihat dia sama sekali tidak punya teman di kelasnya. Ke mana kamu saat dia dikucilkan?"
Dean seperti terpaku di tempatnya. Pertanyaan Vyan telak mengenai titik terlemahnya. "Tidak mungkin... Kak Vyan tahu sendiri situasinya. Jika saya mendekatinya secara terang-terangan, itu hanya akan membuat Yasmin semakin diserang oleh siswi lain. Saya tidak mau lebih menyusahkan dia."
"Kalau kamu punya caramu sendiri untuk 'melindungi' dia dari jauh, aku juga punya caraku sendiri untuk melindunginya dari dekat," balas Vyan tegas.
Dean terdiam, kehilangan kata-kata untuk mendebat sang Ketua OSIS. "Kalau begitu... saya harap Kak Vyan benar-benar menjaganya. Masalah ini, anggap saja saya tidak pernah membicarakannya."
Setelah Dean pergi, Agil menatap Vyan dengan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. "Gue nggak nyangka, Yan. Si Dean sampai berani ngomong begitu. Gimana kalau kabar ini makin liar? Gimana kalau Dean tiba-tiba memberontak?"
"Agil, lu kebanyakan menonton film drama," Vyan tertawa sambil menyampirkan tasnya di bahu. "Dean itu anak baik. Dia tidak akan melakukan apa-apa. Lagipula, apa yang salah? Gue dan Yasmin tidak melakukan hal yang dilarang."
"Iya, tapi pandangan orang lain, Yan! Para siswi, misalnya. Mereka yang memujamu pasti kecewa berat. Ingat ancaman mereka? Mereka bilang akan mengucilkan siapa pun cowok yang mendekati Yasmin."
"Mengucilkan gue?" Vyan tertawa keras kali ini, suaranya menggema di ruang OSIS yang kosong. "Memang sih ada yang nanya kenapa gue mendekati Yasmin, tapi apa ada yang berani melakukan sesuatu?"
Agil tertegun. Ia memikirkan semua siswi di sekolah itu. Cewek-cewek di kelas Yasmin mungkin bisa menindas Yasmin atau mengancam cowok-cowok kelas sepuluh. Tapi menghadapi Vyan? Menghadapi si jenius yang memegang kendali penuh atas organisasi sekolah?
"Ya sih," gumam Agil akhirnya. "Kayaknya ancaman mereka nggak mempan sama sekali kalau lawannya itu elu."
Vyan hanya tersenyum memikirkan rencana selanjutnya.