Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kebugaran dan Sinyal Tersembunyi
Pagi itu, aroma ozon sisa pembersihan kota masih terasa di udara. Arthur berdiri di tengah lapangan sekolah yang dilapisi rumput sintetis berteknologi tinggi. Di sekelilingnya, murid-murid kelas dua lainnya tampak bersemangat, mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna biru cerah dengan sensor detak jantung di lengan mereka.
Hari ini adalah Hari Evaluasi Kebugaran Nasional. Di dunia yang setiap saat bisa diserang monster, pemerintah mewajibkan setiap warga negara, termasuk anak-anak, untuk dipantau potensi fisiknya. Bagi GDC, ini adalah cara untuk menemukan bibit pahlawan sejak dini. Bagi Arthur, ini adalah mimpi buruk birokrasi.
"Baiklah, anak-anak! Baris yang rapi!" teruk Bu Hera sambil memegang tablet digital. "Kita akan mulai dengan tes lari sprint lima puluh meter. Ingat, lakukan yang terbaik agar skor kalian masuk ke dalam basis data nasional!"
Arthur menatap lintasan lari di depannya dengan tatapan kosong. Masalahnya bukan tentang seberapa cepat ia bisa berlari, melainkan seberapa lambat ia harus berlari. Di dalam otaknya, Arthur sedang melakukan kalkulasi rumit.
Jika ia berlari terlalu cepat, ia akan dikirim ke akademi militer khusus pahlawan. Jika ia berlari terlalu lambat, ia akan dipaksa mengikuti kelas tambahan kebugaran yang akan memakan waktu menonton animenya di sore hari.
Kecepatan rata-rata anak usia tujuh tahun adalah sepuluh detik untuk lima puluh meter, batin Arthur. Aku harus menyentuh garis finis di detik ke-10,2. Itu akan membuatku tampak sehat namun sama sekali tidak berbakat.
"Arthur! Giliranmu!" teriak Bu Hera.
Arthur bersiap di garis start. Di sampingnya, Leo anak yang kemarin membawa bola energi ilegal tampak menyeringai sombong. Leo mengenakan sepatu lari bermerek mahal yang memiliki pendorong pegas mekanik.
"Lihat saja, Arthur. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana calon pahlawan peringkat S berlari!" bisik Leo dengan penuh percaya diri.
Dor!
Suara pistol elektronik berbunyi. Leo melesat seperti anak panah, sepatu mekaniknya mengeluarkan bunyi klik-klik yang cepat. Namun, bagi Arthur, gerakan Leo tampak seperti siput yang sedang merayap di atas lem. Dunia di sekitar Arthur seolah melambat hingga hampir berhenti.
Arthur mulai melangkah. Ia harus sangat berhati-hati. Setiap pijakan kakinya memiliki potensi untuk menghancurkan beton di bawah lapisan rumput sintetis ini. Ia secara sadar mengunci 99,9999% energi kinetik nya ke dalam dimensi batinnya.
Ia membiarkan Leo mendahuluinya. Ia mengatur napasnya agar tampak sedikit terengah engah, sebuah akting yang menurutnya cukup melelahkan. Saat mendekati garis finis, Arthur melihat jam digital besar di ujung lintasan.
9,8 detik... 9,9 detik...
Arthur sedikit memperlambat langkahnya, berpura-pura hampir tersandung. Ia menyentuh garis finis tepat saat angka di layar menunjukkan 10,21 detik.
"Bagus, Arthur. Kau cukup stabil," ujar Bu Hera sambil mencatat di tabletnya tanpa melihat ke arah Arthur.
Arthur berjalan menuju pinggir lapangan, menyeka keringat palsu di dahinya. Ia merasa puas. Namun, ia menyadari sesuatu yang janggal. Di balkon gedung sekolah lantai tiga, Silas berdiri dengan kacamata hitam, memperhatikannya dengan saksama.
Meskipun Silas tampak tenang, Arthur bisa merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan dari jarak seratus meter. Silas tidak sedang mengawasi anak-anak lain, matanya terkunci pada Arthur mencoba mencari satu celah kecil yang membuktikan bahwa bocah ini adalah monster yang ia temui kemarin.
Sementara itu, di pusat komando Markas GDC, Valerius sedang duduk di ruang pribadinya yang megah. Ia menatap tumpukan laporan di meja holografik nya. Salah satunya adalah laporan rahasia yang dikirim oleh Silas sebelum kunjungannya ke sekolah pagi tadi.
Laporan itu berjudul: Analisis Anomali Subjek: Arthur. Potensi Ancaman: Tak Terbatas.
Valerius tahu ia harus bertindak. Jika laporan ini sampai ke meja dewan pusat, seluruh armada GDC akan mengepung apartemen Arthur dalam hitungan jam. Dan jika itu terjadi, Valerius tidak yakin Sektor Tujuh atau bahkan benua ini akan tetap ada di peta besok pagi.
Valerius menekan sebuah tombol merah di bawah mejanya. Pintu ruangan terkunci secara otomatis, dan sistem pengacak sinyal diaktifkan. Ia memanggil ajudan pribadinya melalui jalur terenkripsi.
"Bawa Silas ke ruangan ini sekarang," perintah Valerius. "Gunakan protokol Keamanan Nasional. Jangan biarkan dia berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk istrinya sendiri. Dan... hapus semua data cadangan di perangkatnya secara permanen."
"Tapi Komandan," suara ajudannya terdengar ragu. "Silas adalah kepala investigasi. Dia memiliki hak imunitas tingkat dua."
"Aku tidak peduli!" bentak Valerius, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Lakukan saja, atau kau yang akan menanggung akibatnya saat anomali itu memutuskan untuk menghancurkan kota ini!"
Kembali ke lapangan sekolah, tes kebugaran berlanjut ke sesi Uji Kekuatan Pukulan. Sebuah mesin berbalut karet tebal diletakkan di tengah lapangan. Murid-murid diminta memukul bagian tengahnya untuk mengukur kekuatan dalam satuan kilo pascal.
Leo baru saja memukul mesin itu dengan kekuatan penuh, menghasilkan angka 45. "Wow! Rekor baru untuk kelas dua!" puji anak-anak lain.
Kini giliran Arthur. Ia menatap mesin itu dengan cemas. Baginya, mesin ini seperti selembar kertas tisu. Jika ia memukulnya dengan kekuatan biasa, mesin itu akan hancur, dan mungkin akan menciptakan lubang di tanah yang menembus hingga ke inti bumi.
Arthur mengepalkan tangan kecilnya. Ia berkonsentrasi penuh pada hukum fisika di sekitarnya. Ia menciptakan lapisan peredam udara tipis di sekitar kepalan tangannya untuk membatasi dampak tabrakan.
Pluk.
Pukulan Arthur terdengar sangat lemah, hampir seperti tepukan tangan. Angka di layar mesin berkedip pelan, menunjukkan angka 12.
"Hahaha! Arthur, kau lemah sekali!" Leo tertawa terbahak bahak. "Kau benar-benar hanya bocah peminum susu!"
Arthur hanya tersenyum sopan. Di dalam mesin tersebut, sensor-sensor sebenarnya sedang mengalami malfungsi internal karena Arthur baru saja mengirimkan energi statis yang membekukan sistemnya agar tidak membaca kekuatan aslinya.
Tiba-tiba, langit di atas sekolah yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu gelap dalam hitungan detik. Bukan karena awan mendung, melainkan karena sebuah distorsi optik yang sangat besar.
Arthur mendongak. Indranya menangkap sebuah objek yang berada jauh di luar atmosfer bumi sebuah satelit pengintai organik milik The Architects. Mereka sedang memindai planet ini, mencari frekuensi energi yang menghapus utusan mereka kemarin.
"Sial," bisik Arthur pelan. "Mereka lebih cepat dari yang kukira."
Getaran halus mulai terasa di permukaan tanah. Hewan-hewan di sekitar sekolah mulai bertingkah aneh. Burung-burung terbang menjauh, dan anjing penjaga sekolah mulai melolong ketakutan.
Arthur menyadari bahwa jika ia tidak melakukan sesuatu, pemindaian Architects akan menemukan jejak energinya yang tersebar di Sektor Tujuh. Ia perlu menciptakan umpan.
Secara diam-diam, Arthur menjatuhkan kelereng kecil dari sakunya ke tanah. Melalui kelereng itu, ia menyuntikkan sedikit energi kosmik yang telah dimodifikasi agar bergetar dengan frekuensi yang sama dengan monster kelabang kemarin.
Kelereng itu terkubur jauh ke dalam tanah, mengirimkan sinyal palsu sejauh lima puluh kilometer ke arah pegunungan tak berpenghuni di utara.
Seketika, tekanan di langit berpindah. Distorsi optik itu bergerak menjauh dari pemukiman, menuju pegunungan mengikuti umpan yang dibuat Arthur. Para murid dan guru hanya mengira itu adalah fenomena cuaca yang aneh.
Namun, Silas yang masih memperhatikan Arthur dari balkon, menyadari bahwa Arthur sempat menatap langit tepat sebelum cuaca berubah. Silas mencatat sesuatu di buku kecilnya secara manual, karena ia sadar perangkat digitalnya sering mengalami gangguan saat berada di dekat Arthur.
"Dia tidak hanya kuat," gumam Silas dengan tangan gemetar. "Dia mengendalikan sekitarnya."
Saat jam istirahat tiba, Arthur duduk di bawah pohon sintetis favoritnya, meminum susu stroberi yang ia bawa. Ia merasa lelah, bukan secara fisik, melainkan secara mental karena harus terus menerus melakukan sandiwara ini.
Seorang pria dengan jubah laboratorium putih mendekati Arthur. Dia bukan Silas, bukan juga Valerius. Pria itu tampak seperti teknisi sekolah yang sedang memeriksa sistem irigasi, namun ada aura tenang yang tidak biasa terpancar darinya.
"Susu yang enak, Nak," ujar pria itu sambil tersenyum ramah. "Kau tahu, di tempat asalku, mereka tidak memiliki minuman semanis ini."
Arthur berhenti minum. Ia merasakan suhu di sekitar pohon itu turun drastis hingga mencapai titik beku, meskipun sinar matahari masih menyinari mereka. Arthur menatap pria itu dan menyadari bahwa di balik pupil matanya, tidak ada cahaya manusia.
"Sudah berapa lama kau bersembunyi di sini, Sang Sovereign?" tanya pria itu dengan nada santai, namun mematikan.